Ditengah merdunya suara hujan yang berjatuhan, membuatku bernyanyi lagu rindu dengan irama yang begitu merdu. Akhir-akhir ini selalu di sibukkan dengan tugas-tugas kampus yang biasa di alami anak kuliah.
"Rai, jalan-jalan yuk. Beberapa hari belakangan ini, aku lelah sekali" Ucapku dengan mengajak Rai. Dia memang sahabatku yang paling baik, bersamanya mengingatkanku kepada dua orang sahabatku yang sedang berjauhan, mereka adalah Puji dan Salma. Bagaimana keadaan kalian sekarang? Aku jadi merindukan pertemuan kita dulu.
Senyum manis itu terpancarkan oleh Raina, meski aku tak melihat bibirnya tersenyum. Namun terlihat sangat jelas bahwa dimatanya mengiyakan ajakanku. Memang begitu, aku mengajaknya karena aku begitu nyaman bersamanya.
"Yuk Bel, sebenarnya aku juga ingin mengajakmu. Kita kepantai ya" Balas Raina dengan menarikku untuk bergerak lebih cepat. Dia memang begitu, tomboy dan pemberani. Kadang juga membuatku jengkel karena suaranya yang cempreng itu. Tapi aku menyayanginya. Katanya aku adalah wanita yang feminim, jika kami berteman, mungkin feminimku akan menular padanya. Aku hanya dapat menahan tawa untuk semua perkataannya itu.
Seperti biasa, aku duduk dibelakang dan dia menjadi sopir terfavoritku. "Rai, bisa gak sih bawa motornya pelan-pelan" Teriakku yang hampir membuat jantungku copot karena naik motor bersamanya. "Pegang aku" Hanya itu kata-kata yang keluar dari mulutnya. Sudah menjadi kebiasaannya, membawa motor dengan jiwa laki-laki. Meskipun dibelakang aku merasa ketakutan sekali. Tapi tetap saja ia tak peduli, sehingga aku hanya dapat memegangnya dengan erat.
"Turun, kita sudah sampai sekarang" Ucapnya.
"Di sini? Tempat apa ini? Aku tak pernah ke sini" Jawabku dengan keheranan.
"Karena itulah aku membawamu ke sini, jika aku membawamu ketempat yang telah kau kunjungi. Rasanya tidak asyik lagi bukan? Biarlah di sini kita menceritakan kisah persahabatan kita, keluh kesah yang selama ini mengganjal. Di sinilah tempat ternyaman untuk menceritakan semua itu" Jelasnya panjang.
Aku hanya menuruti perkataannya saja. Sikapnya kadang sering aneh, ah. Dia mulai mengeluarkan suara cemprengnya lagi.
"Bel, bagaimana dengan Adi. Dia gak marahkan kalau kita pergi berdua?" Ucapnya dengan pertanyaan konyol itu.
"Jika dia marah, aku yang akan menghadapinya" Jawabku yang tak ingin memperpanjang pembahasan.
"Ah yang benar saja. Kamu yang marah apa kamu yang akan dimarahin" Ledeknya dengan menunjukkan tawa jahatnya.
Kita menceritakan segalanya di sini. Dalam sekejab kami melupakan masalah-masalah cinta. Yang ada hanya tentang tugas kuliah.
"Di semester lima ini, rasanya pengen nikah aja" Ucapnya yang membuatku terheran dengan perkataannya.
"Kuliah dulu Raina" Jawabku singkat.
Raina sangat menginginkan nikah di usia muda, bahkan ia berkeinginan dilamar saat berusia 21 Tahun. Sahabatku yang satu ini memang aneh, jika bukan karenanya, mungkin aku tak menjadi orang yang seakrab ini.
Aku dan Raina menikmati langit senja, kami terhanyut dalam buaian angin di tepi pantai. Langit berwarna merah jingga itu tampak indah sekali. Sehingga kami tak siap untuk kehilangannya.
"Bel, anak psikologi itu pasti bisa memahami karakter orang lain bukan? Lalu kenapa kau tidak bisa mengerti tentang perasaan seseorang terhadapmu?" Tanya Raina sambil menatap senja.
"Bukankah aku sudah memahamimu?" Balasku yang dibarengi dengan senyuman kecil.
"Bukan aku, tapi dia" Sambungnya lagi.
"Dia siapa Rai, Adi maksudmu?" Jawabku dengan yakin.
"Bukan, Rian" Ucapnya yang seketika membuatku terkaget.
"Kenapa dengannya, bukankah kami baik-baik saja?" Tanyaku keheranan.
"Kau tidak tau ya, dia menyukaimu Bel" Jelasnya yang membuat mataku terbelalak sambil membayangkan apa yang baru saja dikatakannya.
"Hmmmmm.... Katamu Rian memang bersikap seperti itu pada semua wanita, kan? Kok jadi kamu yang baper?" Jelasku yang masih dalam merasa heran.
"Itu perasaanmu, selama ini dia memperlakukanmu beda. Kamu saja yang tak peka" Jelas Raina yang sedikit membentakku.
"Rai, apa-apaan sih. Kok jadi itu pembahasannya. Kamu sendiri pasti tau bahwa kita bertiga itu berteman. Tak yang paling spesial. Semuanya sama" Jelasku dengan penuh meyakinkan.
"Aku hanya menyarankan. Jangan terlalu merespon Rian, nanti dia bisa jatuh cinta beneran kekamu Bel" Ucapnya dengan menatapku serius.
"Iya Rai iya. Aku tau...
Lagipula chat kita biasa-biasa saja kok" Jelasku yang berusaha meyakinkannya.
"Yaa sudahlah, pokoknya kamu jangan pernah sakiti perasaan Adi ya. Karena dia itu temanku juga" Jelasnya yang membuatku sedikit kesal.
Bagaimana mungkin aku menyakitinya, sedang diapun telah menjadi luka sekaligus penyembuh yang paling aku suka. Aku jadi merindukannya juga. Namun kusembunyikan rasa itu agar tak menganggu pertemuan aku dan sahabatku Raina. Kita memang saling terbuka satu sama lain, dia yang telah mengetahui ceritaku. Begitupun aku yang mengetahui segala ceritanya.
ŞİMDİ OKUDUĞUN
Bisingan Senja
Genç KurguSeorang wanita yang bernama Syifa Salsabilla. Dipanggil Bella. Dia menduduki bangku kuliah di Psikologi Uin Malang. Yang penasaran, baca ceritanya :)
