-17-

5.6K 568 6
                                    

Sayang, maafin aku. Aku kemarin... Sana menghapus pesan yang belum selesai ia ketik, lalu mulai menulis dari awal kembali.

Sayang ... kamu lagi apa? Masih marah? Maafin aku ya, kemarin... Sana lagi-lagi menghapus pesannya.

Sayang, sekarang aku

"Aaaaaa!!!!!!!!" Gea yang daritadi hanya bisa melihat gemas saat Sana menghapus kalimatnya, akhirnya berteriak geregetan akan sikap penulisnya itu. "Lo niat minta maaf gak, sih?!"

"Niatlah!" Sana menjawab dengan setengah berteriak. "Tapi gue bingung gimana ngomongnya!"

"Tinggal bilang maaf, kan?!" Gea meminum habis Pocari Sweat dinginnya dalam beberapa tegukan saja. Lalu ia meletakkan botol kosongnya di atas meja sofa.

"Dia mah memang begitu, Ge." Suara Rita, ibunya Sana, terdengar di belakang mereka berdua. "Dari dulu kalau disuruh minta maaf, banyak gengsinya. Kalau berantemnya besar gini, biasanya sih dia tahan nungguin Abi yang minta maaf duluan." Rita meletakkan nampan berisi gehu pedas yang masih mengepulkan asap di meja sofa.

"Gak baik, San, kayak gitu. Ntar suami lo beneran kepincut sama perempewi lain gimana?" tanya Sana, sekaligus menakut-nakuti Sana. "Suami lo kan ganteng binggo, orang-orang juga pada tahunya dia tuh single eksklusif. Gak cuma Tatiana, ada banyak high quality woman yang nungguin Abimanyu ngelirik mereka."

Sana mengambil satu gehu pedas dari piring, lalu mulai meniup-niupkan udara ke makanannya supaya dingin. Di sisi lain, Rita mengambil duduk menyerong menghadap Sana di sofa kanan Sana.

"Masih belum mau umumin hubungan kalian, Sana?" tanya Rita, menjalin kesepuluh jemarinya di atas lututnya yang berimpitan. "Ini sudah tiga tahun lebih. Waktu itu kamu bilang mau nunggu sampai waktunya tepat. Kapan waktunya tepat?"

"Dulu, Riko yang ngelarang kami mempublikasikan hubungan kami. Aku nunggu Riko kasih aba-aba."

"Tapi Riko udah gak ngelarang kalian lagi. Riko cuma minta waktu setahun sampai kontrak Abi dengan iklan sebelumnya kelar." Gea mengunyah gehu pedasnya sambil menahan panas. Ucapan Gea membawa Sana ke ingatannya tiga tahun lalu.

"Kamu ngapain?" tanya Sana, saat melihat Abimanyu berdiri di depan pintu rumahnya dengan napas tersengal-sengal. Keringatnya mengalir deras dari kening ke sisi-sisi wajahnya.

Abimanyu mengambil napas dalam-dalam, mengembuskannya panjang-panjang. Kemudian, dia merogoh saku jaket parka-nya. Sebuah kotak bening berisikan cincin emas putih ia sodorkan ke depan wajah Sana. "Tadinya, aku berniat menunda ini. Tapi, denger kamu yang bakalan dijodohin sama anak temen ayah kamu—aku—"

Sana menahan napasnya saat Abimanyu berlutut di depannya.

"Menikahlah denganku, Sana Mahira. Aku baru aja lulus casting di filmnya Hanung Bramantyo. Kali ini, aku dapat banyak scene, bukan sekedar dua-tiga kali berdialog. Riko bilang, aku juga dapat tawaran iklan sampo. Lumayan, nilai kontrak setahun—aku bisa nafkahin kamu dua tahun penuh meskipun gak bisa beliin sepatu Wakai kesukaan kamu sering-sering dulu."

Sana tertawa. Itu benar-benar lamaran romantis konyol yang bisa ia kutip untuk salah satu dialog tokoh novelnya. "Tapi kamu 'kan gak mau nikah buru-buru sama aku, Bi."

"Aku bukannya gak mau. Aku ragu karena salah satu poin kontrak aku di iklan mengharuskan aku untuk jomblo. Tapi, aku lebih takut kehilangan satu-satunya Sana yang aku mau—kecuali kamu ada kloningannya, atau cetakan kedua dan ketiganya. Aku gak bakalan setakut ini kehilangan kamu. Riko cuma minta kita menunggu setahun. Setelah itu, semua keputusan ada di tangan kita."

***

Dan setelah itu, aku terlena dalam hubungan sembunyi-sembunyi yang kita jalin.

Sana mendesah. Pada kenyataannya, semua masalah memang berakar dari dirinya sendiri. Seandainya mereka mengakui hubungan mereka di ulang tahun kedua pernikahan, mungkin semuanya tidak akan rumit seperti ini.

Sana terlalu bergantung dengan zona nyamannya. Zona nyaman di mana tidak akan ada orang yang men-judge dirinya sebagai Istri yang Terlalu Biasa untuk seorang Abimanyu. Keadaan di mana ia sendiri bebas berpergian dan melanjutkan karirnya tanpa memikirkan status mereka berdua karena status itu disembunyikan rapat-rapat. Satu hal lagi, Sana belum siap memiliki anak. Mengurus anak di saat keberhasilan pekerjaannya sedang berada di puncak akan sangat merepotkan. Dengan merahasiakan hubungan mereka, Sana bisa menunda keinginan Abimanyu untuk memiliki keturunan darinya.

Sana menundukkan kepala, sedih. Gue egois banget.

"Lo mau ke mana?" tanya Gea saat tiba-tiba Sana berdiri.

"Gue mau ke lokasi. Pak Nahran nyuruh gue ke sana buat lihat syuting terakhir. Tadinya gue nolak, gue bilang gue sibuk. Tapi, mungkin ini saat yang bagus buat gue bisa nemuin Abimanyu tanpa suami gue itu bisa menghindar dari gue." Sana melempar kunci mobil Gea ke pemiliknya. "Anterin gue."

"Ih? Kenapa lo gak pergi sendiri?"

"Karena gehu pedes buatan nyokap gue gak gratis, Ge. Buruan angkat pantat lebar lo itu."

Jarak dari rumahnya ke lokasi syuting terbilang cukup jauh. Selama perjalanan mereka, Sana berdoa di dalam hati semoga jalanan tidak macet. Biasanya akan ada perayaan kecil-kecilan untuk penutupan kegiatan syuting. Sana tidak akan sabar menunggu sampai Abimanyu pulang dari perayaan itu, jadi Sana tiada henti menjanjikan berbagai hal untuk Gea jika editornya itu berhasil mengantarkan Sana menemui Abimanyu tepat waktu. Tentu saja dalam keadaan sehat tanpa kurang satu apa pun.

"Anjrit, macet panjang bener, San!" pekik Gea, mengacak-acak rambutnya dengan kesal. Jangan sampai janji Sana yang akan membelikan Gea sepatu Kickers baru, tas Stradivarius, dan dua potong baju H&M tanpa maksimal harga pembelian melayang begitu saja. Ah, jangan lupa satu porsi steak di Holycow.

Kedua lutut Sana melemas. Dilihatnya jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Tersisa dua jam lagi sebelum syuting selesai.

"Di depan pintu exit tol, bukan?"

Gea mengikuti arah tunjuk Sana lalu mengangguk. "Iya, agak maju dikit lah. Gak depanan banget sama exit tol—eh, tunggu, lo gak berniat naik ojek sampai lokasi, kan?" Wajah Gea berubah panik saat Sana hanya diam. "San, lo gila?! Itu jauh, Bego! Banyak truk seliweran. Bahaya!"

"Hidup mati orang gak ada yang tahu, Ge. Tapi gue gak akan biarin Izrail nyabut nyawa gue sebelum gue ketemu sama Abimanyu dan minta maaf." Sana pun keluar dari mobil, tanpa memedulikan teriakan Gea yang menyuruhnya untuk tetap di mobil.


Once Upon A SecretTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang