Third Person Pov.
Seorang wanita tengah berlari di sunyinya jalan perumahan Eunhyung-dong, Sungwun. Sambil sesekali menoleh ke belakang menatap seorang pria berpakaian serba hitam, dengan topi hitam menutupi wajah dan kepalanya.
Di wajahnya menaruh kekhawatiran dan rasa takut berlebih. Ia berusaha terus meminta tolong dan menjauh darinya, namun langkah kaki itu seakan lemas untuk diajak berlari, hingga kecepatan yang bisa ia capai hanya minim.
Mencoba bersembunyi dari balik gang-gang yang bisa ia selusuri guna untuk memanipulasi dan menghilangkan jejak dirinya. Namun naas, begitu mencoba keluar dari gang tersebut seorang yang dengan cekatan menangkapnya dan tubuh itu terjatuh dengan posisi si pria menindihnya dan tangan bersarungkan itu mencekik kuat leher gadis malang itu.
Meronta berusaha untuk melepas cengkraman lawan dan memohon untuk diselamatkan. Namun sepertinya semua sia-sia, sebab wajah kejam itu tampak senang dan sesaat kemudian ….
•
Cut!
"Kerja bagus, Tuan Hwang, eh salah maksudnya, Tuan Hyun, haha!" guraunya.
"Kau ingin mati sekarang, yah?" Kedengaran mengancam.
"Haha, arraseo (알았어). Aku hanya biasa dengan nama belakangmu. Tapi apa boleh buat, kau selalu melarangku memanggilmu seperti itu."
"Intinya jangan pernah panggil nama lengkapku ataupun nama yang bersangkut pautnya dengan namaku. Cukup nama panggungku saja, mengerti!"
"Okelah, kita akan lanjut last dramanya besok. Setelah itu aku Kwak Jungheon akan liris drama baru untukmu," tawarnya.
"Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu, yah. Ini sudah malam."
"Iya, hati-hati."
Pemuda tampan bak seorang pangeran istana yang dipuja banyak penggemar berjalan menuju mobil pribadi miliknya. Fans yang begitu setianya menunggu pemuda itu di setiap shoothing yang dilakukannya, tersebar luas sejauh mata memandang.
Flash kamera membuat pria berlatar belakang aktor ternama itu memejamkan matanya dan seketika sebuah ingatan aneh muncul membuat rasa takut menghantuinya. Tiba-tiba saja dunia yang ia pijak serasa sepi tanpa ada suara dengan manusia yang seolah bisu.
Meremang dan menggelap. Bughh! Tubuh itu terjatuh membuat para fans terkejut dan spontan menjerit. Dengan segera para staff dan sahabat pribadi menolongnya.
•
Ruang 108 'Hwang Hyunjin´
Perlahan kelopak mata itu dibukanya dan semua kelihatan baik-baik saja. Hyun meletak jemarinya di pelipis dan memijatnya sedikit.
"Yak!" bentak seorang teman.
"Apa kau tidak bisa menghilangkan phobiamu?" tanyanya kasar.
Hyun hanya diam menatap langit-langit.
"Yak, Hwang … Hyunjin-ah!" hampir saja ia salah panggil.
"Aku tidak bisa. Kerlipan lampu itu membuatku takut akan semua hal."
Srep!
"Aku membencimu!"
Srep!
"Tapi aku mencintaimu." -ditepis.
"Tapi aku membencimu."
Srep!
"Aku tidak mau tinggal denganmu lagi dan rumah ini. Mulai sekarang aku akan berada di jalanku dan sebaiknya kau juga berada di jalanmu!"
Srep!
"Eomma!"
Srep!
"Lupakan aku, aku mohon, Hyunjin-ah."
Tin! Tin!
"Andwaeeeeee!"
•
"Ditinggal, dihianati, tidak dianggap. Aku takut dengan itu semua," tutur Jin.
"Hufftt! Apa kau belum bisa melupakannya?"
"Dia cinta-- pertama dan terakhirku."
"Ahh, wae? Ada banyak wanita di dunia ini. Jika dia begitu kenapa tidak cari yang lain, eoh?"
"Yunseong-ah, apa semua wanita seperti itu?"
"Kenapa?"
"Penghianat, pemberontak, pembohong, pemberi harapan palsu, juga pendusta?"
Yunseong mendengus gusar. "Tidak semua wanita seperti itu."
"Aku membenci mereka. Sifat egois mereka hanya membuat kita-- para pria selalu mengalah."
"Tidak begitu juga, Hyun. Masih ada wanita yang pengertian dan setia--"
"Siapa? Jika memang ada kenalkan padaku. Apa kau bisa membuktikan perkataanmu itu?" tukas Hyun, mengancam.
YOU ARE READING
My Wife Detective
Mystery / ThrillerMengkisahkan seorang gadis detektif yang begitu cekatan. Mampu melumpuhkan musuh dan menemukan setiap pelaku pembunuhan. Namun suatu ketika ada sebuah tragedi sungai Sungwun yang terdengar menjadi pusat perhatian pembunuhan dengan motif. Membuat gad...
