Abu

12 2 2
                                        

Kehidupan? Apa artinya?

Dunia ini? Apa maknanya?

Manusia terlalu membesar-besarkan hal sederhana itu, membuat semesta semakin rumit saja.

Tenang, itu bukan aku. Katakanlah aku bukan manusia meski bentuk tubuhku menunjukkan ciri-cirinya, setidaknya sampai dalam beberapa saat lagi.

Kubuang segala kata-kata yang pernah mereka ucapkan. Kumentahkan semua argumen mereka, toh, tak ada lagi untungku menelan bulat-bulat kebohongan itu.

Waktu kurasakan begitu lambat di ruang pengap ini. Benar, lokasi yang sangat sempurna. Tak seorang pun akan tahu bila sesuatu sampai terjadi, tanpa jendela, tanpa lubang angin, bahkan tanpa harapan. Cukuplah dinding bata dan aku yang beralas tanah, mengucapkan selamat tinggal pada semua.

Aku menenggak cepat butiran pil biru itu. Rasanya begitu pahit di pangkal lidah ini. Bukan apa-apa, aku tahu selalu ada manis di balik pahit. Tuhan telah menyediakan surga yang menunggu setelah apa yang kutinggalkan, termasuk hidupku sendiri.

Tubuhku jatuh.

'Deg!’

***

Farhan terkesiap. Wajah kusutnya masih linglung, menangkap samar-samar langit berwarna abu dan berbingkai siluet kehitaman dahan-dahan pohon. Hawa aneh merangkulnya, bersama banyak sekali tanda tanya. Tentang apa, kenapa, dan bagaimana dia bisa ada di sini?

Lelaki itu merogoh semua saku pada pakaiannya, berharap bisa menemukan petunjuk barang sedikit, setidaknya untuk bertahan hidup. Ia yakin pasti ada. Pada akhirnya, ia menemukan selembar surat lusuh di salah satu saku, lantas membacanya.

Salam, Farhan.

Bertanyalah sepuasmu. Namun, sebuah surat tentu tak akan bisa menjawab semua itu.

Langsung saja, aku akan memulainya dengan pertanyaan pula. Kita sama-sama penuh rasa ingin tahu, sebenarnya.

Apa kau menginginkan sesuatu selain hidup?

Kenapa kau begitu mengidamkannya? Sedemikian hancurkah hidupmu sampai kau mendamba kematian?

Sudah kau jawab, bukan? Atau belum? Berbahagialah, kau akan segera mendapatkannya. Tepat di sini. Kau bisa berterima kasih nanti. Jasadmu bisa diletakkan di sudut mana saja dalam hutan ini bila kau mau, menyenangkan, bukan?

Namun, itu terlalu mudah, pun aku yakin kau berkata tidak dengan kerasnya. Sebab itu, aku masih memberimu pilihan selain sebuah kematian yang bisa menjadi pasti, teruslah membaca. Percayalah, kau pasti tertarik.

Kau hanya punya satu kesempatan untuk tetap hidup. Pergi dan carilah kabin tua di belantara hutan sebelum matahari terbenam. Tim penyelamat akan segera datang tepat setelah kau berada di dalamnya dan selama itu pula kau harus bertahan hidup. Hutan ini agak sedikit agresif ketika malam. Jadi, itu di luar perjanjian kita bila kau terlambat. Jangan sia-siakan hidupmu, anak muda.

Oh, ya, petunjuknya ada tepat di belakang telinga kananmu.

Perlahan, ia memeriksa bagian belakang telinganya. Sesuatu yang lembek dan berdenyut-denyut serasa ada di sana. Farhan spontan melepas paksa dan melempar benda itu. Darah mengalir dari tempatnya menempel.

Seekor lintah, mungkin masih baru karena tubuh hitam bergaris cokelatnya belum terlalu menggembung.

.

.

.

Oops! Bu görüntü içerik kurallarımıza uymuyor. Yayımlamaya devam etmek için görüntüyü kaldırmayı ya da başka bir görüntü yüklemeyi deneyin.


Judul : Rumah Tepi CahayaPenulis : Mudaro Kun

Oops! Bu görüntü içerik kurallarımıza uymuyor. Yayımlamaya devam etmek için görüntüyü kaldırmayı ya da başka bir görüntü yüklemeyi deneyin.

Judul : Rumah Tepi Cahaya
Penulis : Mudaro Kun

Blurb:
Kumpulan kisah dari juara lomba nasional.

Bu, aku pulang.

Aku rindu pelukan hangatmu. Jiwaku haus akan cerita-cerita luar biasa di dalam album merahmu tatkala langit menangis, tentang awan yang berubah kelabu, tentang langit yang berhenti menjadi biru.

Si Sakit ini hanya punya tujuh menit untuk merayakan berkabungnya semesta.  Di kamar empat puluh hari ia merana, menagih janji tersurat dari yang fana demi mengejar seekor kebebasan. Malam demi malam kujalani dengan menatap foto kita, mulai dari ia yang tanpa rembulan, hingga merekahnya purnama penuh kutukan.

Sedikit waktu yang tersisa, karena itulah, izinkan aku pulang dengan berjalan—tidak berlari, ke rumah di tepi cahayamu kini.

PAKET EKSKLUSIF
Bonus : Memo dan Pulpen Rumah Tepi Cahaya
Harga : Rp. 84,000

JUST NOVEL
Harga : Rp. 84,00 diskon 10 persen jadi  Rp. 75,600

PEMESANAN

1. Shopee Benitobonita
2. Tokopedia Benitobonita
3. WA 081219457018
4. IG Benitopublisher

Yayınlanan bölümlerin sonuna geldiniz.

⏰ Son güncelleme: Dec 01, 2019 ⏰

Yeni bölümlerden haberdar olmak için bu hikayeyi Kütüphanenize ekleyin!

[SUDAH TERBIT] Antalogi: Rumah Tepi CahayaBağımlısı olacağınız hikayeler. Şimdi keşfedin