Langit di atas kastil melayang Candradimuka berwarna merah darah.
Kastil Candradimuka yang sangat indah, melayang melintasi langit berkeliling ke seluruh dunia Paltaranix, sekarang mendekati kehancuran.
Matahari yang terbenam menambah kesan horor yang terjadi di tempat itu. Api merah membakar seluruh area luar kastil. Darah mewarnai dinding dan tanah tempat para penghuni kastil berada. Tepat di bawah dan atas kastil, terlihat sebuah lingkaran sihir raksasa berwarna ungu, sihir penyegelan tingkat tinggi yang menyebabkan semua tragedi ini.
“Nyonya, anda harus berlindung di dalam kastil..! Tolong jangan berkeliaran ke luar..”, suara seorang perempuan berteriak sembari berlari ke arah wanita yang tampak lemas sambal memegangi perutnya.
Sambil melihat sekeliling dari balkon tempatnya berdiri, tatapannya terpaku pada seseorang yang terbang di angkasa sedang menangkis beberapa panah cahaya raksasa yang mengarah ke kastil. Sayap hitam pria itu terlihat rusak di beberapa bagian membuatnya sedikit kesulitan mengendalikan laju terbangnya. Namun beberapa orang bersayap di sekitarnya ikut membantunya, tidak membiarkannya terkena serangan fatal.
“Ini…Ini tidak bisa…”, suara wanita di balkon itu sembari memegang perutnya. Tanpa dia sadari air matanya menetes dan dia menunduk dalam, “Kau bahkan belum menghirup udara bebasmu di sini”
Dia menyaksikan rumah barunya, tempat impiannya sejak kecil, kastil Candradimuka tempat tinggal para ras Dragonite, diserang oleh para ras lain yang bergabung untuk menumbangkan dominasi Dragonite. Kastil megah yang dikagumi semua ras di seluruh dunia, hancur perlahan, runtuh, menewaskan banyak warga yang tidak bersalah.
Wanita itu menatap, tercengang saat tanah di area batas kastil melayang mulai jatuh ke bawah, paras cantiknya tidak bisa menutupi kesedihannya.
“Ratu.. Tidak aman berada di sini, anda harus melarikan diri…” seorang pengawal pribadi berarmor perak mendekati wanita itu dan menunduk di depannya. Namun wanita itu, sang Ratu menggelengkan kepalanya tanpa mengalihkan pandangannya ke arah perkotaan.
“Ratu, tolong..”
“Jacko, aku adalah ratu Elf, dan sekarang menjadi istri Bahamut, Raja Dragonite. Bangsamu, yang juga adalah keluargaku yang baru sedang berjuang di sana, dan kau ingin aku melarikan diri? Jika aku bisa, aku seharusnya berada di sana Bersama mereka…”
Jacko, pengawal pribadi sang Ratu terdiam
“Rasku sebelumnya, elf, juga menjadi salah satu yang menyerang kita, aku harusnya membantu Bahamut”, lanjut sang Ratu.
Jacko terperangah saat Ratu melancarkan sihir pengekangan kuat terhadap dirinya dan mulai mencengkram kuat pegangan balkon hingga remuk. Jejak tipis darah mengalir ke mulutnya. Dia menggigit bibirnya begitu keras hingga berdarah.
Negerinya telah dihancurkan dan rakyatnya dibantai. Bahkan sekarang, keluarga barunya hampir mati terbunuh dan dia hanya bisa menyaksikannya? Dia sangat membenci kelemahannya sendiri dalam bertindak.
Saat itulah orang yang paling dikhawatirkannya muncul.
“Itu tidak akan pernah kuijinkan, Nandhari.”, tiba-tiba Bahamut, pria bersayap hitam yang sedari tadi terbang menangkis serangan-serangan panah cahaya mendarat dalam senyap ke balkon tempat sang Ratu berdiri. Kondisinya sangat memprihatinkan. Sayapnya tidak hanya lecet, namun ada beberapa bagian yang berlubang dan dia kehilangan tangan kirinya. Dengan satu ayunan tangan, dia mengoyak pengekang yang membuat Jacko tidak berdaya.
YOU ARE READING
The Last Dragonite
FantasyYoda, mahasiswa semester 7 dari sebuah sekolah tinggi di kota Semarang, mengalami serangkaian kejadian aneh setelah melihat seorang pria misterius saat tur kampusnya. Dimulai dari serangan seorang lycanthrope, hingga dipenjara dalam air di tanah kel...
