Namanya Elshe Alluna Zaqia. Orang-orang kerap memanggilnya 'El'. El adalah gadis berusia 26 tahun, berkulit putih bersih dengan tinggi badan 163 cm dan wajah khas Indonesia. Rambut hitam lurus sebahunya selalu digerai, seakan tak pernah merasa gerah meski di suasana panas sekalipun.
El bekerja di majalah 'Life' sebagai seorang editor. Ia sudah menggeluti pekerjaan ini selama 4 tahun. Sungguh menjadi editor bukanlah cita-citanya. Namun, menjadi editor masih lebih baik dibandingkan ia harus menjadi penerus bisnis orang tuanya.
Ya, El bukanlah dari keluarga yang kurang mampu. Ayahnya memiliki bisnis di bidang properti yang sudah cukup dikenal di ibu kota. Ibunya memiliki bisnis butik dan rumah makan yang selalu menjadi pilihan bagi wanita-wanita sosialita ibu kota. Hidupnya sudah penuh kenikmatan. Hanya saja berbagai kondisi membuatnya enggan melanjutkan bisnis orang tuanya.
***
Senin, 07.35
El berdiri di depan gedung 5 lantai seusai memarkirkan mobilnya. Dengan tampilan smart casual-nya, El berjalan menuju lift yang mulai dipadati para pekerja lain.
"Pagi El" sapaan dari beberapa pria disebelah kanannya membuat El menolehkan kepalanya. Membalas sapaan pagi mereka dengan anggukan dan kembali fokus menanti pintu lift terbuka. Melihat reaksi El yang tampak tak berminat, membuat para pria tadi memasang ekspresi masam. Juga dilanjutkan bisik-bisik membicarakan sikap cuek El.
El tau dan mendengar bisikan para pria itu. Namun El tak peduli. Menanggapi pria-pria itu bukan prioritas hidupnya. Lebih baik diabaikan, daripada ia merespon hanya untuk memberikan harapan pada mereka.
"Selamat pagi El!!!" Sapaan penuh semangat tepat di dekat telinga kirinya juga rangkulan pada bahunya menghancurkan fokus El pada pintu lift. El tau siapa pelakunya kali ini. El sangat amat tau.
"Stop menyapa dengan gaya berlebihan, Fris." Friska. Friska Adriana Rawnie. Rekan sesama editor El. Oh, atau mungkin hanya Friska satu satunya orang yang berhasil menjadi orang terdekat El. Baik di tempat kerja ataupun di lingkar kehidupan El.
"Berlebihan darimana sih? Gue hanya menyambut senin pagi menyebalkan dengan penuh semangat! Emang salah?" Friska menggerutu tak setuju dengan pendapat El. El menghela nafasnya dan mulai berjalan memasuki lift saat terlihat lift sudah terbuka. Friska yang melihat gerakan cepat El langsung mengikuti langkah El dan berdiri tepat disamping El.
"Udah pagi-pagi dibilang berlebihan, masuk lift ditinggal. Sedih banget senin pagi gue!" Gerutu Friska. El tertawa kecil mendengarnya dan tak berminat membalas ucapan Friska.
"Eh, El! Itu cowok-cowok pada bisik-bisik, kenapa? Ngegibahin lo lagi?" Friska berbisik setelah melihat para pria di dalam lift yang tampak berbisik-bisik seraya menatap El dengan tatapan tak suka. El adalah salah satu jenis mahluk tuhan yang paling cuek yang pernah Friska temui. Terutama pada kaum adam. El sangat amat menjaga jarak dengan pria. Bahkan terkadang tak ingin berurusan dengan pria jika bukan karena pekerjaan. Selain cuek, El juga irit bicara. Ia tidak punya banyak teman. Juga tak biasa curhat seperti apa yang Friska dan kaum wanita lainnya lakukan. El hanya cukup terbuka dengan Friska. Itupun tidak sampai pada kehidupan pribadi. El masih cukup tertutup dengan lingkungan sekitarnya. Friska paham, El bersikap demikian pasti ada alasannya. Walaupun sampai detik ini Friska tidak pernah tau alasannya.
"Kebetulan cowok-cowok yang lo omongin ada di belakang lo, kenapa gak lo tanya aja langsung!" El melangkah keluar lift meninggalkan Friska dengan ekspresi bengongnya.
"El tungguin gue!!!" Teriak Friska heboh dan berlari kecil mengejar El yang sudah hampir sampai kubikelnya.
***
"El, lo tu bisa gak sih gak usah ninggalin kayak tadi? Kalo gue diapa-apain sama cowok-cowok itu gimana coba?"
"Gak akan berani mereka. Lo galak!"
"Iih apaan sih El! Masa' gue kalem begini dibilang galak?!"
"Udah deh Fris jangan kebanyakan protes. Telinga gue panas pagi-pagi udah denger suara melengking lo. Kerjaan gue masih banyak. Udah mau menuju deadline nih kerjaan gue." El meletakkan tasnya dan mulai fokus pada laptopnya. Oh, tak lupa juga menyumpal telinganya dengan headset agar Friska tidak mengusiknya lagi. Terutama saat ia bekerja.
"Kalo udah pasang headset gitu udah pertanda banget gue disuruh diem!" Friska langsung duduk di kursinya dan mulai memfokuskan dirinya pada laptopnya.
***
"Huaaa! Pegel juga mata gue 4 jam cuma ngeliatin tulisan." Friska berujar seraya meregangkan kedua tangannya. Mencoba merilekskan tubuhnya yang terasa cukup pegal hanya duduk dan menatap layar laptop.
"Lebay. Lo bukan baru hari ini kerja sebagai editor. Udah 1400 hari kerjaan lo duduk didepan laptop. Inget itu!" El menanggapi ucapan Friska dengan jemari yang tetap asyik menari diatas keyboard dan mata yang tak terlepas dari deretan kata.
"Yaelah El. Gue tau udah 1400 hari, tapi kan sesekali melampiaskan rasa lelah, gapapa. Gue masih manusia. Masih bisa ngerasa capek dan jenuh." Friska membalas ucapan El dengan ekspresi cemberutnya. Ia membenarkan posisinya kembali dan mulai mencoba fokus pada deretan kalimat yang terdapat di layar laptop.
El melirik kearah Friska dan tersenyum kecil. Kurang lebih begitulah cara El kembali menyemangati Friska, jika Friska mulai mengeluh lelah. Kalau El merespon rasa lelahnya Friska dengan ungkapan rasa lelah juga, maka wanita itu akan semakin heboh dan enggan untuk kembali bekerja.
"El..." El yang mendengar ada yang memanggilnya langsung mendongakkan kepalanya. Itu Chika. Satu profesi dengan El. Editor. El merespon panggilan Chika dengan ekspresi yang seakan berkata 'ada apa?'
"Mbak Sarah nyuruh lo ke ruangannya tuh?" Sarah. Atau orang-orang kerap menyebutnya dengan 'Mbak Sarah', merupakan seorang Managing Editor, posisi yang lebih senior dari posisi El. Usianya berjarak 12 tahun dengan El, tapi tak ingin dipanggil dengan embel-embel 'bu'. Terlalu tua menurutnya.
"Kenapa mbak sarah panggil gue?"
Chika mengendikkan bahunya. "Gue juga gak tau. Baiknya lo langsung ke ruangannya aja." Setelah berujar seperti itu, Chika kembali ke kubikelnya.
El menghela nafasnya. Melepas headset yang sejak 4 jam tadi menyumpal telinganya. Ia mulai beranjak dari tempatnya dan mulai melangkah menuju ke ruangan Mbak Sarah.
Pikiran El sudah mulai berkecamuk. Ini antara dua hal.
Menambah pekerjaan atau pekerjaan yang di kritisi.
Tbc
Mohon maaf apabila ada kesalahan. Dimohon kritik dan saran yang membangun.
KAMU SEDANG MEMBACA
TRAUMA
RomansaNamanya Elshe Alluna Zaqia. Orang-orang kerap memanggilnya 'El'. El adalah gadis berusia 26 tahun, berkulit putih bersih dengan tinggi badan 163 cm dan wajah khas Indonesia. Berbagai macam kejadian dalam hidupnya, menjadikannya sosok wanita yang di...
