Pena derita terhunus tahta
Berdansa bersama jemari
Menyastrakan tragedi
Yang menoreh luka di jantung hati
Menistakan aksara-aksara tersuci
Merancang bait-bait nurani
Riuh gemuruh, rinai airmata menghujani benakku.
Tinggal menghitung, entah hari, entah jari, entah pula waktu
Untuk segala yang kupeluk tak jadi riuh dalam kedap resah dan peluh lesu.
Saat aku memberikanmu isyarat cinta yang tulus,
Tapi kamu memberikanku isyarat untuk mengusirku pergi,
Hujan tak pernah tau ia jatuh membasahi apa,
Tapi airmata tau ia jatuh untuk siapa,
Aku ingin menjadi mawar di sudut meja,
Yang bisa melukis cinta walau tanpa terucap kata.
Desir angin meniup kegelapan malam,
Melanda hati yang gundah gulana,
Hati ini tak pernah henti inginkan dirimu,
Selalu saja kau bermain di pikiranku
Enyahlah
Enyahlah
Enyahlah. ..
Kau begitu kejam menikamku
Tetes demi tetes airmata kujatuhkan tanpa henti
Karna hati yang tersakiti
Tanpa ada yang mengerti
Tinggal lara di hati
Aku tak pernah mengerti
mengenai hati yang terus menanti tanpa henti
Akankah hati yang kunanti dapat kumiliki
Atau akan terkubur mati?
Jika aku tak pernah kautulis dalam naskah hidupmu,
Untuk apa aku mendapati peran mencintaimu?
Jika kau tak mengijinkanku menjadi pengganggumu
Jangan biarkan bayanganmu bermain di imajinasiku
Karna sukar untukku mengukir tawa dalam genangan air mata
Kamu pembunuh paling sadis
Mendekati
Mengobati lara di hati
Lalu pergi tanpa permisi
seperti yang kau katakan
"Mari rayakan Luka ini dengan penuh keriangan"
Pada akhirnya, di batas-batas waktu, aku hanya mampu memandang mu dengan keterbatasan yang ku miliki...
Teruntuk kamu yang selalu ada dalam bayang-bayang ku
Jampangkulon, 13, September 2019
✨Cahaya
