.1

6 0 0
                                        

Sinar mentari pagi menyinari seluruh ruangan dengan disambut kicauan burung. Astra yang sudah bangun sedari tadi pun langsung mengetuk pintu saudarinya dan mulai membangunkannya.

"Bangun!" Ucapnya singkat, namun Astri bisa terbangun dengan suara khas Kakaknya itu.

"Iyaiyaa, oh iya PR Matematika Astri belum."

"Ntar bantuin Astri ya?"

Baru juga bangun, Astri sudah bawel dengan masalah masalahnya itu.

"Ya." Jawab singkat Astra.

Astra bergegas menuju kamarnya dan memakai tasnya, sedangkan Astri baru saja masuk ke dalam kamar mandi. Setelah Astri mandi, dia langsung bergegas menyusul Astra di ruang tengah. Tetapi sesampainya di sana, Astra sudah tidak ada.

"ASTRAAAAA!!!" Teriak Astri menggema di seluruh ruangan. Para pelayan pun datang, untungnya hari ini Papa dan Mama tidak ada di rumah.

"Ada apa non?" Tanya salah satu pelayan dengan wajah bingung sekaligus khawatir.

"Ah, ini Bi.. Astra kemana ya? Katanya dia mau nungguin Astri tapi malah nggak ada!" Omel Astri dengan suara menggelegarnya itu.

"Maaf non, Astra udah berangkat dari tadi."
"Oh iya ada pesan juga non, katanya tugas matematikanya beresin sendiri." Ucap pelayan tersebut sembari menunduk.

"Oh iya gapapa Bi, bukan salah Bibi. Jelas jelas yang salah tuh Astraa!!!!" Lagi lagi Astri berteriak sembari mengeluarkan motornya dan pergi menuju sekolah.

Mungkin ini hari sial bagi Astri, gerbang sekolahnya sudah tertutup. Gerbang itu dijaga oleh Pak Joko selaku satpam SMAN Meripati. Pak Joko emang dikenal dengan sikap disiplinnya itu, makanya agak susah kalau terlambat masuk.

"Se-selamat pagi Pak!" Sapa Astri berharap mood Pak Joko sedang baik hari ini.

"Telat?" Sial! Moodnya benar benar hancurkah?

"Iya Pak, maaf Pak saya telat." Astri menjawab apa adanya.

"Kau tahu ini hari apa?" Tanya Pak Joko sekali lagi, wajahnya yang menyeramkan seperti sedang mengintrogasi seorang pelaku kejahatan.

"Iya Pak, sekarang hari Senin. Kalau ga salah Pak." Astri mengecilkan suaranya pada kalimat terakhir, bisa tambah bahaya kalau Pak Joko mendengarnya.

"Artinya--"

"Pak! Saya izin keluar Pak." Tepat sebelum Pak Joko menyelesaikan omongannya. Astra datang dan meminta izin.

"Mau kemana?" Tanya Pak Joko, Astra melihat Astri di depan gerbang. Astri tampak tersenyum berbinar.

"Ini pak." Tanpa basa basi Astra memberi Pak Joko surat Izinnya.

"Oh iya pak, siswi yang di sana gausah dimasukin sekalian." Lanjut Astra yang kemudian pergi keluar sekolah atas Izin Bu Indah.

"Astra, liat aja lo nanti hah! Cewek cantik kek gue lo giniin. Dasar kakak ga punya hati!" Bawel Astri di dalam hati.

Akhirnya Astri membayar denda 2 kali lipat karena berlaku pada hari Senin. Bukan hanya denda, Astri juga mendapat hukuman membersihkan ruang olahraga. Astri benar benar tidak habis pikir, hari ini sangat melelahkan.

"Astrii.. kok lu murung gituu?" Tanya Aninda.

Aninda Amelya Putri, teman sebangku Astri yang bisa dibilang best friendnya.

"Udahlah ga pengen bahas." Ucap Astri dengan nada malas, tapi itu tidak untuk waktu yang lama. Karena sebentar lagi juga dia bakal bawel lagi.

"Oh iyaaa lupaa! Nindaa! Nindaaa!" Tuh kan!

"Apasii! dengerr tau, gue ga budek Astri!" Sepertinya mood Aninda juga lagi buruk.

"PR MTK GUE NINDAA! Bantuin aku yuk Nindaa! Ninda kan pinterr." Pinta Astri dengan suara yang dibuat buat.

"Tumben Astra gk bantu, padahal kan dia pinter banget." Oceh Ninda.

"Nah itu dia Ninda, dia emang pinter. Tapi di rumah nggak sama sekali Ninda! Pokoknya jauh beda sama yang di sekolah." Omongan Astri sama sekali nggak di dengar oleh Ninda.

Ninda malah sibuk mencari buku matematikanya dan memberikan buku catatannya.

"Nindaa, ini mah buku catatan. Bukan buku PR! Gue pengen yang langsung Nindaaa hweee." Lagi lagi Astri bawel.

"Dengar ya Astri." Ucap Ninda dengan wajah yang serius, sangat serius sampai Astri tak bisa berkata kata.

"Seorang siswi yang baik itu.. tidak pernah mencontek!" Bahkan kata kata Ninda memakai kata baku semua.

"Menyontek yang bener! Bukan mencontek tau!" Sanggah Astri sambil memasang muka marahnya.

"KTSP tau! Lo ga pernah dengerin guru ngomong!" Ninda pun semakin kesal dengan ocehan Astri sahabatnya itu.

Pertengkaran dua sahabat itu menimbulkan kericuhan, banyak anak anak kelas lain memperhatikannya.

Terdengar suara langkah kaki mendekat. Sial! Ketua kelas emang serem!

"Ekhem, kalian berdua!" Kafa pun meleraikan pertengkaran yang terjadi, karena Kafa selaku Ketua kelas.

"Ninda bener mencontek itu gak boleh."
"Tapi! Kalian juga salah, membahas hal yang sepele sampai membuat keributan. Gak malu?" Tanya Kafa dengan muka yang menahan amarahnya dari tadi.

Namun pertanyaan Kafa tidak ada yang menjawabnya, baik Astri maupun Ninda.

"Gak malu?" Tanya Kafa sekali lagi.

"Malu." Jawan Astri dan Ninda bersamaan, kemudian mereka meminta maaf atas kejadian tadi.

Hari ini benar benar sial, batre HP ku udah habis, kena hukum beresin ruangan olahraga, dimarahin Ketua kelas. -Astri

Jam pulang pun datang, semua siswa dan siswi sudah menuju gerbang untuk berangkat pulang. Kecuali Astri..

"Astri, yuk pulang bareng!" Ajak Ninda dengan semangat, tapi Astri menolaknya.

"Eh Maaf Ninda, pulang barengnya besok aja ya? Hari ini gue sibuk banget hahahah!" Tolak Astri dengan suara yang besarnya itu. Tenang, Ninda sudah terbiasa dengan suara khasnya.

"Oh oke deh, gue duluan ya Astri!"

"Akhirnya gue sendiri, nah.. saatnya ke ruang olahraga~"

Astri pun berjalan menuju ruang olahraga, masih banyak kok siswa yang belum pulang. Mereka sepertinya ada acara club gitu. Jadi nggak terlalu sepi.

"Etdah busett! Besar amaat bangg! Perasaan ruangan olahraga ga sebesar ini deh!" Noh kan ngomel lagi dasar Astri!

Akhirnya Astri membersihkan lapangan olahraganya tak lupa mengomel di setiap waktu. Tidak terasa hari mulai gelap, untungnya Astri sudah membersihkan semuanya.

"Aah, gue lelah banget." Omel Astri.

"Dek." Panggil seseorang, Astri menatapnya agak lama, ga percaya yang manggil tuh Astra.

"Hmm." Jawab Astri dingin.

"Tangkep!" Astra pun melempar minuman soda segar yang baru dia beli.

"Eh? Buat aku Kak? Eh beneran? Ini Astra? Ga percaya guee." Lagi lagi suaranya gabisa di kecilin dikit.

"Bawel." Ejek Astra

"Gue ga ngira punya adek bawel, dapet masalah terus, untung cantik." - Astra

"Kok belum pulang? Padahal udah sore gini, khawatir yak sama gue? Gue mah udah biasa gini, gak kaya Astra!" Omel Astri yang dilanjut tertawa kecil.

"GEER! Mama sama Papa nyariin." Jawab singkat Astra.

"Astra ga punya cewek ya?" Pertanyaan Astri ini sungguh tidak nyambung.

"Kenapa?"

"Cuek bangett!" Jawab Astri dengan memamerkan wajah menjengkelkannya itu.

Akhirnya mereka berdua pun pulang, Apakah sikap seseorang itu bisa berubah?













Astra AstriOpowiadania do pokochania. Odkryj je teraz