Hallo selamat siang,
Perkenalkan namaku adalah malang
Tentunya tanpa dua huruf dibelakang.
Aku terlahir dari kepedihan dua insan, dimana yang satunya tak pernah menghendaki keberadaan, dan satunya depresi karena harus ditinggalkan.
Penyesalan, itulah alasan kenapa ibuku menghadiahkan nama yang terkesan pedih sebelum ayahku tanpa pamit pergi menghilang.
Perawakanku sangatlah jauh dari tampan dan rupawan. Tak seperti kebanyakan orang, aku hidup dalam kesedihan dan mental illness yang terus-terusan memperkeruh keadaan. Murungku, selalu menghiasi hari dengan sendu yang membuatku tiap hari makin tak percaya diri.
Sekarang, aku hidup ditengah kehampaan. Ditinggal ayah, dan seorang ibu yang tengah mengalami gangguan kejiwaan. Ya, seminggu setelah kelahiranku beliau stress dan depresi kenapa aku dilahirkan dan kemudian ditinggalkan. Aku menyesal dengan ada-ku, yang datang tanpa membawa kebahagiaan.
Dan tak seperti kebanyakan orang, mendengar namaku saja mereka sudah menebak bagaimana hidupku hingga saat sekarang. Sedih dan hampa selalu datang menyampaikan gelisahnya tanpa pikir panjang.
Memang, aku sudah terbiasa dengan keadaan saat ini. Sunyi, tak ada kasih sayaang kepada sang buah hati sepertiku. Aku hidup tanpa didikan, bimbingan, bahkan gagasan untuk hidup di masa depan. Benar sekali, cenderung lebih pasrah dan berserah, entah apa yang akan kuhadapi nanti, aku ikhlas.
Masuk kedalam cerita hidupku.
Aku tumbuh dalam dekap jalanan, dingin malam dan terik matahari adalah sahabat sepermainan. Lantas bagaimana aku mencari uang untuk makan ? Mungkin ini jadi pertanyaan bagi kalian yang biasa disajikan atau membeli dengan uang pemberian ditangan. Berbeda denganku yang bekerja siang dan malam. Kala siang aku berjualan koran, dan malam aku menjadi tukang sapu jalanan yang kusebut rumah indah tanpa batasan. Masih kurang bukan ? Tentu saja, akuu harus mencukupinya dengan bekerja serabutan.
Saat ini, aku tengah mengenyam bangku perkuliahan. Menjadi mahasiswa jadi-jadian dengan mengintip dari luar kelas saat dosen memberi pembelajaran. Dan, tanpa standar kompetensi yang matang, aku bertahan hingga 4 tahun mengenyam perkuliahan. Membiasakan diri dengan sebutan tadi adalah tugas sehari-hari yang tanpa beban kukerjakan.
Aku terpaksa demikian. Lingkungan menuntutku berpandai-pandai hidup dijalanan, memanfaatkan setiap kesempatan yang datang diberbagai keadaan.
Hingga suatu hari aku tertegun akan keindahan seseorang yang tampak duduk dikursi barisan depan. Membuatku berpikir panjang tuk menjadi seseorang yang lebih sukses dimasa depan. Hingga suatu hari ia menghampiriku saat kelas usai, aku yang terbiasa belajar diluar jendela pun menjadi pertanyaannya kala itu. Lalu aku menjelaskan, bagaimana aku dan mengapa aku begitu. Saat itu, aku menyadari, sepertinya ia peduli. Tak lupa pula ia mengenalkan diri, namanya adalah Rani. Kami berbincang bagai teman akrab yang sudah lama berkenalan, saling bertukar pengalaman akan kehidupan.
Rani adalah seseorang yang lahir dari keluarga kaya, namun tak pernah lagi mendapat kasih sayang dari orang tua, sibuk bekerja mencari nafkah hingga lupa siapa yang sedang mengemis cinta kasih dirumah. Sejak saat itu, aku semakin akrab dengan Rani, menjadi sepasang sahabat yang sepertinya tak akan terpisahkan. Namun, masih banyak yang belum diketahui Rani tentang kehidupanku, apa pekerjaanku, dan dimana aku berselimut beku kala bulan dengan senang hati menggantikan matahari.
*Gimana ? Sambung ke part 2 ngga ?
Tinggalkan komentar dan kritik yang membangun ya, sebab aku masih baru dan ulung dalam penulisan :) Have a nice day !
