Namaku besar dan hebat diantara pertemananku, namun buruk dimata keluargaku.
***
Namaku Andi, aku hidup di kota besar yang keras yaitu Jakarta. Aku adalah salah satu dari anggota besar team Arogan. Mungkin dimata para pemuda nama itu sangat hebat, dan kemarahannya adalah sebuah petaka.
Tapi tidak dimata orangtuaku. Mereka berkata bahwa aku hanyalah brandal tak tahu diri yang liar tanpa ingat rumah. Mungkin benar kalau aku liar dan memang aku selalu pulang malam seperti orang aneh tak punya rumah, namun itu dimata mereka yang tidak tahu bahwa solidaritas itu sangat amat berharga.
Aku tahu mengapa orangtua ku tidak suka jika aku tetap melakukan itu. Mereka melarangku karena mereka tak pernah merasakan hal yang sama denganku, mereka hanya orang rumahan dan tak punya banyak teman dekat.
Berbulan bulan selalu ada pertengkaran dirumahku setiap malamnya. Sampai suatu hari, orangtuaku benar benar tak memberiku uang untuk selama beberapa bulan. Mulai dari saat itu perlahan hakku sebagai anaknya. Mulai saat itu aku belajar untuk mendapatkan uangku sendiri, dengan caraku sendiri tanpa bantuan orang tuaku.
Aku dibantu oleh temanku yang bernama leon, leon adalah anak yatim piatu yang mendapat beasiswa di sekolahku. Awal mula kita bekerja di sebuah bengkel, hingga kami mendapat kan uang untuk membangun bengkel sendiri. Saat kita membangun bengkel banyak hal yang tertinggal karena kami juga akan melakukan ujian nasional di akhir bulan.
Kami mencoba untuk meninggalkan bengkel sejenak dan belajar untuk ujian itu. Aku mencoba untuk datang kerumah setelah beberap lama tak kembali. Saat sampai di depan gerbang aku melihat ayahku sedang membaca koran seperti biasanya.
Lalu aku memberanikan diri untuk memanggil ayahku. Saat aku mengucapkan salam, seketika ayahku kaget dan berlari membuka gerbang. Gerbang terbuka ayahku seketika memelukku dengan erat seraya meminta maaf. Lalu ibuku datang dari dalam dan menangis, aku langsung berlari dan memeluknya lalu meminta maaf.
Lalu kami membicarakan semuah hal yang telah terjadi, kami saling memaafkan, dan aku meminta doa mereka untuk ujian nasional. Setelah semalaman bertemu orangtua ku aku mengatakan untuk kembali ke bengkel. Mereka bertanya mengapa aku tidak tinggal dirumah?. Aku memberitahunya bahwa aku telah mempunyai pekerjaan tetap dan akan tetap memperjuangkannya dengan leon.
***
Saat ujian nasional telah selesai aku tinggal di bengkel dengan leon, kami hanya perlu menunggu sebentar lagi untuk upacara kelulusan. Dan disaat kelulusan aku bertemu orangtuaku, aku mengenalkan leon dan teman temanku yang lain kepada kedua orangtua ku.
Lalu mereka datang ke bengkel dan memberi kami bantuan dan akhirnya kami dapat mendirikan bengkel besar dan menjadi orang sukses di saat muda
***
"ingatlah bahwa kedua orangtuamu akan selalu menginginkanmu sukses, walau seburuk apapun masalah yang telah kau lakukan"
