putra

183 17 2
                                        

Para awan sedang berbaik hati meneduhkan terik mentari siang itu. Ribuan kaki menjajaki bumi seluas 5 Hectar, sebuah kavling di tengah kota kecil di timur pulau jawa, identik dengan slogan nya "kota santri, kota beriman". Jutaan anak diluar sana sedang bergelut dengan mimpi duniawi, jutaan lainnya mendedikasikan diri nya untuk kehidupan setelah kematian, sementara sebagian lainnya, mencari dan akan mendapatkan keduanya. Dari wanita pun pria, mereka datang dari penjuru nusantara. Lebih dari dua ribu kepala terdaftar sebagai penghuni asrama baru. Asrama itu memiliki 3 komplek gedung terpisah. Satu gedung khusus untuk santri wanita, dua yang lainnya untuk santri pria,  terpisah untuk mereka yang SMA dan SMK. Lengkap dengan landmark menara kebangga'an, puncaknya mirip sekali dengan telur paskah, indah bermandikan sorotan lampu dimalam hari.

Esok, jadi fajar pertama para santri ajaran baru. Banyak dari mereka, masih saja menyibukan diri dengan perisapan kehidupan baru nya. Penjara suci. Membeli seragam sekolah dan pengajian, peralatan menulis, buku dan kitab-kitab juga tidak terlewatkan, dan kebutuhan harian lainnya. Tak sendiri, orang tua bahkan sanak saudara ikut menemani. Niat membantu, ataupun sekedar melepas perantauan satu anggota rumah mereka. Tidak sedikit pula yang datang tanpa siapapun, tanpa sedikitpun peluk perpisahan, tanpa sedikitpun ucapan pamit.

Arta sudah beberapa hari lebih dahulu datang dan menempati kamar nya, ia pun sudah menyiapkan seluruh kebutuhannya. Semua sudah siap. Ia tak pernah siap. Ia akan menghabiskan tiga tahun hidup nya di tempat ini, bagaimana bisa? Tak pernah terfikirkan. Banyak hal-hal yang bersemayam dalam pikiran nya, akan masa depan pun masa lalu yang masih membututi nya.

Seharian ini, ia hanya berbaring di ranjang kamarnya, sesekali keluar jika adzan berkumandang, pertanda ia harus menuju surau, ataupun ketika lonceng dapur berbunyi, pertanda ia harus mengisi lambungnya dengan santapan khas asrama - yang masih belum terbiasa di lidah nya, bersama santri lainnya. Kamar itu tak besar. Berlokasi di ujung lorong lantai dua asrama 1 putra. Berkapasitas enam belas orang, kamar itu dilengkapi loker-loker yang tertempel dipenjuru sisi dinding. sebuah kipas raksasa tak lupa tergantung dan berputar tepat di tengah langit kamar.

Siang ini, sendirian, arta berusaha memejamkan matanya, berharap tertidur, berharap tuhan memberi mimpi indah untuknya, berharap hidup nya ini mudah. Tubuhnya seakan menyatu dengan busa-busa tipis ranjang yang ia beli tempo hari dengan harga yang sangat murah. Pintu terketuk dari luar, terbuka perlahan. Siluet sesosok remaja tanggumg, tubuh nya gempal, pendek, lengkap dengan seluruh barang bawaannya. Cahaya nya lambat menembus ruangan berpualam putih itu. Ia masih berdiri tegak tepat disisi pintu yang terbuka. Kulitnya hitam legam. Mata nya bulat, besar.

"Hai, aku putra.."

E S O KStories to obsess over. Discover now