Hai! nama ku Jose Gabriel Theodore, biasa kalo di rumah dipanggil "kaka" tapi lain kalo dipanggil oleh teman-teman ku, "joe" panggil nya. oke aku mulai memperkenalkan diriku terlebih dahulu. seperti diatas tadi sudah aku jelaskan nama panjangku, aku lahir di jakarta tanggal 1 September 2003 yang artinya aku sekarang berusia 16 tahun. aku bersekolah di SMAN 1 yang ada di Kab.Bogor. Aku adalah anak pertama dari dua bersaudara. selisih umurku dengan adiku hanya 2 tahun dan adiku ini perempuan. hobi ku adalah bermain basket. jujur aku kurang suka sama yang namanya "menulis" karna itu sangat membosankan menurutku. tetapi aku dari kecil sudah diajari menulis dari sebelum aku masuk ke taman kanak-kanak tetapi, entah mengapa sampai sekarang ini tulisan tangan ku masih saja hancur, banyak guru yang menilai catatan ku itu dengan "ceker ayam" yang artinya jelek acak adul, padahal kan tulisan ku lebih mirip dengan akar tanaman yang "sembraul" itu.
Oke kita beralih ke Ayah ku. "ayah" itu lah cara aku memanggil orang tua laki-laki ku, kata "ayah" adalah kata yang lolos dari seleksi panggilan untuk orang tua laki-laki ku pada waktu kecil. begini ceritanya.... jadi, waktu aku masih berumur 4 tahun, ketika ayahku sedang mencuci motor aku sedang duduk di dekatnya karna aku bosan, jadi aku ngeliatin ayah nyuci motor aja. lalu entah mengapa aku berpikir bagaimana aku menyebut "dia" dengan enak ya? lalu akhir nya aku mulai berpikir. Aku memikirkan kata "Papa" lalu kataku dalam benak "hmm.. terlalu elite untuk orang sederhana seperti ku" sambil memanggilnya dengan sebutan itu "yaa?" jawab ayahku, lalu aku berpikir lagi,"Papi" pikirku, "norak" kataku dalam hati sambil memanggilnya kembali untuk ke dua kalinya, lalu "ayah" "nah ini cocok ni" sambil memanggil nya kembali untuk ketiga kalinya. ayah aku hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tertawa. Oh iya, ayahku ini bekerja sebagai pelaut, jadi dari kecil aku sudah di tinggal terus sama dia, pada saat ini dia menjabat sebagai kapten di kapalnya, ayah ku ini punya sifat yang sangat amat aku salut kan. "rapih" hanya itu yang ada di pikirannya ketika dia pulang kerumah. mau tidak mau dia harus melihat kondisi rumahnya dalam keadaan bersih dan rapih ketika dia pulang. makanya setiap kali dia mengabarkan mau pulang aku dan mama bakalan kelabakan buru-buru beresih rumah. dan ayah ku ini orang nya ini sangat disiplin. contohnya dia paling tidak suka melihat aku jika rambut ku panjang, "cukur itu" itu adalah kata-kata pamungkas nya jika rambut ku mulai panjang. oke kita sudahi dulu perkenalan tentang ayah ku ini.
Nah ini, wakil kapten di rumah, mama ku! Aneh ga sih jika kalian mendengar "ayah mama" kan seharusnya itu "ayah ibu" atau "papa mama" entah mengapa aku lebih enak memanggil mama ketimbang ibu atau bunda, bukan berarti aku melakukan "seleksi" lagi ya.
mama ku bekerja sebagai pendeta dan dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Teologi di Jakarta. mama ini orang nya religius beut dah aku salah apa tiba-tiba dia ngomelnya bawa-bawa ayat Alkitab kan jadi takut aku nya kalo udah kaya gitu mah. sama seperti ayah dia orang nya pengen "rapih" terus gamau berantakan dikit aja ya meskipun kadang juga lupa beres-beres.
Yah meskipun begitu aku tetap sayang mereka dengan kepribadian yang mungkin sedikit berbeda dengan ku. jujur saja aku kadang suka kesal dengan sifat orang tua ku yang agak melebih-lebihkan apalagi ayahku, aku mau sedikit cerita, jadi pernah waktu itu aku baru saja pulang dari latihan dan membawa minuman teh didalam kemasan botol, tiba-tiba ayah ku keluar dan mengomeliku hanya karna aku membeli minuman itu, padahal kan ini hanya minuman teh biasa ya, aku mengerti ini kurang sehat kalau di minum terus terusan tapi kan aku meminum nya ini hanya sekali-kali tidak setiap jam aku meminumnya. ada lagi, waktu itu aku sedang minum menggunakan tupperware yang berbahan dasar plastik lalu ayahku melihatnya, dia berkata "ga baik minum pake plastik gitu, ganti sana pakai gelas kaca pakai tupperware itu kalau bepergian keluar saja" lahhh kan sama aja dong kalau kita keluar terus kita minum pake tupperware, kan minum dari botol yang berbahan plastik juga. yah mau tidak mau aku harus mengiyakan nya.
Sekarang aku mulai mengerti kenapa mereka begitu "mengkritik" ku, mereka sayang pada ku, ingin aku jadi lebih baik dari mereka baik dari sifat sikap dan perilaku. Asal kalian tahu dulu, aku itu anaknya bisa di bilang anak rumahan banget deh. dulu aku lebih memilih main di rumah ketimbang main diluar dan bersosialisasi dengan teman-teman ku dulu. sampai orang tua ku itu membelikan ku ipad, PlayStation, membelikan mainan yang banyak hanya agar aku betah di rumah. semua itu aku syukuri tapi, saat aku mulai beranjak ke kelas 6 SD entah kenapa aku kadang sering di larang keluar rumah hanya karan alasan yang kurang logis menurut ku. angin malam lah, diculik lah, banyak hal. padahal aku hanya ingin bermain petasan di komplek perumahan ku bersama teman yang sebaya dengan ku dulu. hingga akhirnya aku memutuskan setiap kali ingin keluar bermain malam atau pun sore aku keluar diam-diam. lancar sih lancar tapi kan sepandai pandainya tupai meloncat pasti akan jatuh juga kan? Nah ada kejadian yang paling aku ingat. jadi, waktu itu teman-teman ku mengajak diri ku untuk bermain petasan, aku memutuskan untuk ikut. Lalu aku keluar mengendap-endap, itu sekitar jam 7 malam. aku berhasil keluar, tapi sesampai nya dirumah "kapten" ku ini sudah menunggu ku di depan pintu. Dengan tatapan nya yang tajam dan alisnya yang tebal itu melihat ke arah ku dengan muka yang seram. Alhasil, sapu lidi arrived di paha ku. Tidak sampai disitu saja bro and sis, aku kemudian di suruh berdiri tegak di sudut ruangan rumah ku dari jam 8-12 malam. Aku kira aku bakalan ditinggal tidur sama ayah eh, ternyata dia malah mantek in aku sambil nonton bola di tv. seneng kan baca kisah aku kalau disiksa? Yah begitu memang diri ku waktu kecil. Nakal memang, tapi mereka tetap sabar saja menghadapiku. naik ke SMP aku mulai agak sedikit dilonggarkan yah meskipun aku kalau pulang masih di larang bawa minuman kemasan botol. Joe SD bertolak belakang jauh sifatnya dengan Joe SMP dia hobi nya keluyuran keluar, entah kenapa aku jadi lebih suka bermain diluar. mungkin hanya karna aku sewaktu SMP itu banyak kerja kelompok di rumah teman ku atau dimana pun itu. aku kadang bisa pulang sekolah jam 5 atau 6 sore. yah begitulah kehidupan ku sewaktu masih jadi anak-anak. mari kita bahas Joe di SMA. hmm... mungkin menurut sebagian besar teman-teman ku itu aku orang nya pintar dan baik. Tetapi. sebenarnya aku tidak seperti yang mereka bayangkan, aku di masa-masa SMA ku ini bisa di bilang sedikit bandel ya, bukan berarti anak bandel yang merokok, minum-minum begitu deh. ya benar aku nongkrong, tapi aku menjauhi yang namanya aku sebutkan di atas. yang kusuka dari nongkrong adalah ketika aku dan teman-teman ku itu bercanda tawa, dan kesolidan kami dalam mengatasi masalah sesuatu. Jujur aku di SMA ini merasa seperti di kekang oleh kedua orang tua ku. mereka selalu menelepon ku setiap jam! hanya ingin mengetahui ku ada dimana. aku ngerti kalau ayah ku itu kan emang jauh nan disana tapi kan tidak perlu se khawatir itu. dengan jadwal latihan ku yang padat ini aku jadi jarang hang out dan nongkrong bersama teman-teman ku. Hingga suatu ketika kami ber tiga bertengkar hebat hanya karna aku ingin keluar malam dengan tujuan ke rumah teman ku untuk mengerjakan tugas. aku ini orangnya lebih senang mengerjakan tugas bersama teman-teman ku dari pada mengerjakan sendiri di rumah. Bukan karna aku ingin menyontek, tapi hanya ingin mencari teman ngobrol. lalu kami berdebat, tiba-tiba aku keceplosan menaikan nada bicara ku yang terdengar nya seperti membentak. Ayah ku spontan melotot dan menggebrak meja, aku nge down disitu. Bergegas naik ke atas dan masuk ke kamar ku. pikiran mumet dan bingung bagaimana cara ku mengerjakan tugas ku ini dengan enjoy.
Keesokan harinya di sekolah, aku melihat di story akun instagram yang menampilkan banyak info tentang daerah di tempat tinggal ku. aku melihat ada kasus pembegalan di dekat kompleks perumahan teman ku yang semalam itu ingin aku tuju. Sambil menghela nafas dan bersyukur aku berbicara dalam hati ku tentang bersyukurnya aku mendapat orang tua seperti mereka. Aku pun melanjutkan tugas yang belum sempat ku kerjakan semalam tadi.
jadi gaes, ingat setiap ucapan yang keluar dari orang tua itu adalah doa dan perintah yang sangat bermakna. yang tidak akan pernah mencelakai kita.
