"jaem?"
helaan nafas lelah terdengar, jaemin melirik sang kekasih yang menatapnya dengan kening mengkerut bingung. sesaat sebelum tangannya terulur menarik cangkir kopinya si manis itu menggeleng pelan seraya mengembang senyum tipis.
"tidak, aku tahu kakak sangat sibuk," ia meniup pelan permukaan air yang masih mengeluarkan embun, menunjukkan seberapa panas kopi itu.
mark tersenyum tipis, pemuda garis sembilan puluh sembilan itu mengusap pelan helai surai biru terang si manis yang sudah menyeruput kopinya, "maaf ya.. karena jadwal latihan basketku jadi begini," lantas jaemin menggelengkan kepalanya cepat, ia dengan tergesa menyimpan kembali cangkir itu di atas meja.
"aku tidak masalah kak, sungguh," ia menatap kilat raven itu, memancar kehangatan di dalam sapaan mata keduanya, "jadi jangan takut, oke? aku tidak marah."
mark terkekeh pelan, pemuda berdarah kanada itu mengusap helaian jaemin yang tak tersusun rapi, "terima kasih nana."
"sama-sama kak," senyumnya terpancar manis, saat kurva itu tak kunjung menurun sama sekali, "tapi aku punya syarat."
yang lebih tua mengangkat sebelah alisnya, "apa?" ia meneguk sebentar kopinya yang sudah mendingin.
"kakak tidak boleh dekat-dekat orang lain, aku cemburu!"
sesaat sebelum tawa dari mark terdengar mengalun di gendang jaemin, lelaki manis itu menatap tak suka dengan menekuk wajahnya dalam, "aku serius! banyak sekali yang sengaja dekat-dekat kakak tahu!"
"kalau jeno bagaimana?" tanyanya masih terkekeh, matanya menatap jaemin yang masih cemberut di depannya, "jeno kan adik aku, boleh tidak?"
"kakak!"
ah.. jaemin sekarang benar-benar marah, "iya-iya.. sudah tidak perlu marah begitu "
"janji dulu sama aku," ia mengulur jari kelingkingnya, "pinky promise!"
mark tersenyum seraya mengaitkan jemari keduanya, "iya sayang.." setelahnya kecupan singkat mendarat tepat di bibir ranum si manis yang mengembang lebar.
YOU ARE READING
Heart Burning
FanfictionJaemin benci jika Mark dekat-dekat dengan orang lain selain dirinya.
