persahabatan antara perempuan dan laki-laki tak menutup kemungkinan bahwa tak ada rasa lebih diantara keduanya
"Ngh.." lenguh seorang gadis. Saat sinar sang surya menerobos jendela kamar nya.
Perlahan mata indah nya mengerjap hingga terbuka sepenuhnya menampilkan iris mata coklat madu yang berkilau karena terpaan sinar sang surya. Tangan mungilnya meraba jam yang ada dinakas seketika lansung membuatnya terpekik kaget.
"Aaa gue telat nih!" teriak sang gadis. Beranjak dari tempat tidur dengan tergesa gesa hingga membuat sang empu terjungkal ke bawah yang dahinya langsung disambut oleh dinginnya lantai.
"Awh, siapa sih yang naruh lantai disini!" omel sang gadis seraya meraba dahinya yang kemungkinan akan memerah. Tanpa memperdulikan dahinya lagi sang gadis segera berlari ke kamar mandi. Setelah siap ia segera turun kebawah.
"Pagi mommy" sapa sang gadis. Kakinya melangkah menuju meja makan mengambil roti panggang yang telah disiapkan, lalu memasukkan kemulutnya dengan secepat mungkin agar mempersingkat waktu. Hingga terdengar teguran sang mommy yang membuat sang gadis melambatkan kunyahannya.
Setelah kunyahan terakhir, langsung saja susu yang telah disiapkan ia minum sampai tandas. "Mom leta berangkat ya" pamit sang gadis seraya mencium punggung tangan sang mommy.
"Iya sayang hati hati ya! Kayaknya Raka udah nunggu didepan tuh" terang sang mommy.
Ternyata yang dikatakan sang mommy pun benar adanya bahwa dia Raka Laksmana Pramudya sang sahabat sudah stay diatas motor ninja merah kesayangan nya. Dia Raka Laksamana Pramudya anak dari sepasang suami istri yang bernama Pramudya Anggara dan Sintya ayunda.
"Hahahaha dahi lo napa ta abis disosor angsa?! ejek Raka. Sang gadis pun hanya cemberut bibirnya ia manyunkan seraya pipi nya ia gembungkan. Satu kata lucu. Ya gadis itu adalah Aleta Putri Angelica. Anak dari Carrisa Saraswati dan Damian Wijaya. Sahabat Raka Laksamana Pramudya anak dari sahabat sang Daddy.
"Rese lo ya! Gue kejedot lantai tadi gara gara bangun kesiangan" tegas Aleta. Tanpa memperdulikan ejekan dari Raka, buru buru ia menaiki motor merah kesayangan sang sahabat. Tanpa diduga Raka memalingkan wajahnya ke belakang seraya tersenyum. Menawan satu kata yang terlintas dipikiran Aleta.
"Woy kenapa bengong baik baik nih ntar kesambet loh" kata Raka seraya menoel pipi Aleta. Setelah tersadar dari lamunannya Aleta segera menepis tangan Raka. "Apaan si Lo gue gak ngelamun ya!" tegas Aleta. Tangan Raka bergerak menyetuh dahi Aleta yang memerah seraya meniupi nya.
"Kok bisa sampe merah gini sih ta, lain kali hati hati dong jangan ceroboh!" Omel Raka. Aleta mematung atas sikap yang barusan Raka lakukan. Jantungnya berpacu dengan cepat apalagi jarak wajah antara ia dengan Raka sangatlah dekat. Bahkan ia dapat merasakan hembusan nafas mint yang langsung menyeruak ke hidungnya. Dalam hati ia berdoa semoga Raka tidak mendengar detak jantungnya.
"Udah gue tiup moga lekas sembuh ya ta!" Kata Raka seraya mengelus puncak kepala Aleta. Aleta gugup yang bisa ia lakukan hanyalah menganggukkan kepalanya.
Setelah itu Raka melajukan motornya menuju SMA Harapan Bangsa. Tempat dimana mereka menimba ilmu. Butuh waktu 15 menit untuk sampai ke sekolah tersebut. Sampailah mereka didepan pintu gerbang SMA Harapan Bangsa yang telah ditutup. Ia sudah menduga. Bagi Raka itu tak masalah karna ia dapat tetap masuk lewat tembok belakang sekolah atau ia akan bolos. Tetapi bagi Aleta tidak. Saat ini wajahnya penuh dengan kekhawatiran mengingat jam pertama ia harus ulangan matematika. Dalam hal ini ia yang salah, ia menyesal karena semalam suntuk dihabiskan untuk nonton drakor. Beginilah jadinya. Mungkin ini peringatan dari Tuhan agar dapat memanfaatkan waktu untuk hal hal yang benar.
YOU ARE READING
ALETA
Teen FictionDua remaja berbeda jenis kelamin yang tumbuh bersama sedari kecil, apakah keduanya bisa dikategorikan baik baik saja? apalagi keduanya memasuki masa remaja. Yakin tidak ada benih cinta diantara keduanya? rasa nyaman antara keduanya adalah awal kisah...
