Pagi itu sang mentari mulai menampakkan mukanya ,dan di dalam balutan selimut yang hangat aku mendengar suara seorang laki-laki yang membangunkan ku secara perlahan,ya,,,dia ayahku,dia adalah sosok seorang laki-laki yang memiliki jiwa pemimpin yang pernah aku temukan, meskipun tampangnya galak tapi dia sangat baik pada semua orang,bahkan hampir setiap dia sebelum pergi kerja kami selalu bermain dan bercanda bersama dan hebatnya lagi ketika ibuku sakit,dialah yang melakukan semua pekerjaan rumah tangga,hebat bukan.
Tapi sekarang semuanya sudah berbeda,keadaan tidak seperti dulu lagi. Waktu aku berusia 5 tahun dan kakak ku 7 tahun, memang kami beda 1 tahun setengah. Ayah itu tidak pernah membuat orang di sekitarnya marah dan benci padanya. Tapi ayah selalu sabar dan iklas untuk membantu orang lain.
Kami memutuskan untuk pindah ke kampung halaman ibu di tasikmalaya,di sini aku memulai kehidupan baru dengan ibu, kakak, nenek, dan kakek, tanpa ada sosok seorang ayah yang sangat aku sayang, dan pada saat itu ibupun harus menjadi tulang punggung keluaga kecilku.
Waktupun terus berlalu dan kini usiaku sudah menginjak bangku SD kelas 1 dan kakakku kelas 2,dan di sinilah aku merindukan ayah,
”Bu,,aku rindu ayah,apa ibu juga rindu ayah?"
"Ibu juga rindu pada ayahmu”jawab ibu dengan suara serak dan berjalan menuju aku,dan akupun terus bertanya dan akhirnya kami berdoa kepada tuhan apa yang kami rindukan.
"Ya,,,Allah,,,Ampuni dosa dan salah ayah kami di massa hidupnya, jauhkan dari azab kubut mu lapangkan di dalamnya, terangilah dengan nur mu,,, ya,,,allah,,,(Dalam hati) Aminn".
Beberapa bulanpun berlalu setelah hari itu dan ibu memutuskan untuk menikah lagi,karna munkin inilah waktu yang tepat dimana ibu harus menikah lagi, mungkin ibu membutuhkan sosok yang bisa menapkahi keluarga kecilku dengan membaca bismilah ibu dan calon suaminya langkahkan kaki menuju nenek dan kakek untuk meminta restu,
" Bu,saya alek yang akan menikahi anak ibu,saya meminta restu dari kedua orang tua neni",
"Saya merestui kalian, saya gimananya neni? "
namun keputus tak pernah mengiringi ibuku dan calon suaminya terus bertanya dan bertanya lagi dan syukur Alhamdulillah ibu dan calon suaminnya direstui oleh nenek dan kakekku.
Hari demi hari keluargaku melewati dimana ibu akan menikah.
" Bu,apa ibu bener akan menikah lagi?".
"Iya, karna ibu kasian pada kalian (menangis)",
"(mengusap air mata) ibu jangan mengis, kami sayang sama ibu tolong jangan pernah menangis di hadap aku bu",
"ibu enggak menangis , ibu hanya kelilipan" hanya karna anak ibuku menahan tangisannya. Karna tidak mau melihat anaknya juga ikut menangis.
Dan hari telah tiba dimana ibu menikah lagi. Disitu aku hanya menyaksikannya didalam rumah, saat selesai ibuku melangkahkan kakinya ke arahku
" Aul, kamu kenapa?"
"Aul,,,aul gak papa ko bu."
"Aul yakin gak papa, kalo gak papah kita makan bareng ya.",
"Ayo bu udah lama kita gak makan bareng."
akhirnya aku di situ bahagia sekali melihat saat ibu tersenyum. Aku dan ibu berjalan menuju ruang makan dimana di situ ada semua ada,aku dn ibu makannanya sama. Karna hampir semua makannan kesukaan ibuku.
Beberapa bulan kemudian ibu dan suaminya minta ijin akan ikut sama suaminya ke bandung.
"Mah, neni minta ijin ikut sama alek ke bandung!"
"Neni, mamah sama bapak akan setuju kalo kamu ikut bersama alek"
Dan akhirnya semua pertanyaan mengizinkan ibu dan suaminya pindah ke bandung,karna suaminya kerja di bandung.
Hari demi hari dimana aku dan keluarga baruku meninggalkan nenek dan kakek di kampung. Dan aku da keluarga pergi pagi karna takut macet saat perjalanan
"Aul,, Nur ayo kita harus berangkat sekarang"
"Iya bu ini nur sama adek bentar lagi selesai beresin bajunya."
"Yaudah ibu tunggu di mobil ya"
"Tunggu bu ini udah selesai, ayo pergi"
"Yaudah salam dulu sama nenek dan kakek"
"Iya bu"
Akhirnya kami pergi ke bandung. Tapi saat di perjalanan macat karna saat hari minggu jadi selalu ramai oleh kendaraan. Aku tertidur lelap dan tidak sadar saat bangun sudah sampai di halaman rumah baruku😊
Tamat😊
YOU ARE READING
Ayah
Short StorySeorang anak yang merindukan sanga ayah. Tapi dia hanya bisa berdoa kepada tuhan "Ya,,,Allah,,,Ampuni dosa dan salah ayah kami di massa hidupnya, jauhkan dari azab kubut mu lapangkan di dalamnya, terangilah dengan nur mu,,, ya,,,allah,,,
