Cahaya mentari telah menyinari kamar ardi, dan sudah biasa pagi yang tak pernah membawanya pada ketenangan. Sudah terdengar suara perdebatan dad dan momnya dibawah, lalu ardi keluar dari kamarnya menuju kamar sebelah untuk membangunkan arga.
Tok tok tok
"Arga, bangun" lalu ia membuka pintunya yang tak terkunci ia melihat adiknya itu masih terlelap dalam tidurnya, lalu membangunkannya kembali.
"Arga, bangun ga udah pagi"
"Hmm kakak" lalu perlahan matanya terbuka.
"Ayo mandi terus sekolah"
"Hmm, itu suara mom dan dad"
"Tak usah didengarkan ayo mandi, lalu kita cari sarapan diluar saja" lalu ardi keluar dari kamar arga, arga pun pergi menuju kamar mandinya.
Lalu Ardi pun menuju kamar mandinya. Setelah selesai mandi dan memakai seragam Ardi melihat ada chat masuk dan ternyata dari Sherif
Sherif |bacod|
"Ardi, gue mau ngomong sama lu nanti temuin gue di taman belakang"
"Emang ada apa??"
Sherif|bacod|
"Menyangkut tentang Lissa"
"Kenapa dia??"
Sherif|bacod|
"Sudahlah nanti ku jelaskan"
Tok tok tok
"Kak ayo aku sudah siap"
"Iya sebentar" lalu ia mengambil tasnya dan membuka pintu.
Lalu keduanya menuruni tangga, dibawah sudah terjadi keheningan tak ada seseorang pun di bawah.
"Kemana mom dan dad" tanya Arga
"Entah lah" lalu Ardi melihat
Beberapa surat diatas meja tamu lalu mengambilnya, disana sudah tertulis surat perceraian dan surat perebutan saham antara nyoya Lily dan tuan Fatir. Lalu ia meletakannya kembali.
"Surat apa itu kak?" tanya arga
"Entahlah, ayo pergi" jawabnya
Lalu keduanya masuk kedalam mobil
Sesampainya di cafe mereka memesan makanan dan minuman, setelah beberapa menit pesanannya datang.
"Kak kenapa dad sama mom berdebat terus sih"
"Sudah lah tidak usah dipikirkan, ayo habiskan nanti telat"
***
Bel istirahat telah berbunyi, lalu Ardi menuju taman belakang seperti yang dikatakan sherif, saat menuju taman ia melihat Sherif berjalan didepannya dengan arah berbeda.
"Bukan kah arah taman ke kiri" gumamnya
Lalu ia pun memanggil Sherif
"Sherif" panggil Ardi, lalu langkah Sherif berhenti
"Hei, ardi" Sherif pun menghampiri ardi
"Bukankah kau bilang ingin ke taman belakang kenapa kau ke kantin"
"Ooh iya sebenarnya ada seseorang yang ingin menemuimu jadi datanglah seseorang telah menunggu mu disana"
"Tap--"
"Sudahlah aku pergi dulu ya byee"
Ardi pun berjalan menuju taman dengan wajahnya yang datar, sifatnya dingin, penampilannya cool, tidak salah banyak wanita yang menyukainya, tangan yang di masukan dalam saku. Sudah terlihat disana ada seorang wanita yang duduk di kursi panjang yang dibawahi pohon sakura, lalu ia menghampirinya.
Wanita itu melihat sosok Ardi yang berdiri didepannya.
"Ah, Ardi duduklah"
"Ada apa??"
"Aku ingin terus terang saja padamu biar kau tidak salah paham"
"Bicaralah" jawabnya dingin
"Sebenarnya aku sudah tak ada perasaan lagi denganmu, j-jadi aku ingin kita p-putus"
Ardi hanya diam
"Apa kau marah"
"Tak, untuk apa mencintai jika salah satunya tak mencintai"
Lalu Ardi berdiri dan meninggalkan Lissa sendiri
Setelah Ardi pergi dari taman ia pergi ke perpustakaan hanya tempat itu yang membuatnya tenang karena jarang ada murid yang berkunjung ke perpustakaan.
YOU ARE READING
HIDUP TANPA BAHAGIA
General FictionArdi dan Arga memiliki keluarga yang sengsara sampai mereka dipisahkan karena harta. Tapi nasib selalu menimpa Ardi, walau dia punya segalanya tapi sayang semua itu tak bisa dibayar dengan apapun yaitu cinta dan kasih sayang.
