Masjid Sekolah yang menjadi saksi bisu.

9 0 0
                                        

Cinta pada pandangan pertama itu ada.
Aku korbannya.

Brukkk

"ah sial!" gerutuku dalam hati. Bagaimana aku tak kesal? Aku sudah terlambat lalu tersandung hingga jatuh pula.

By the way ini hari pembekalan MPLS SMK pilihanku, setelah berdebat kecil dengan orang tua ku. Kedua orangtuaku menginginkan aku sekolah di SMA,  sedangkan pilihan ku adalah SMK. Ya walaupun akhirnya orangnya ku mengalah juga hehe, kenapa ga dari dulu aja ya ngalah nya biar gak harus cape-cape debat kayak kemaren-kemaren wk:v.

Sebetulnya aku risih dengan manusia baru yang ku temui dan banyak basa basi dengan menanyakan asal sekolah ku, nama, kabar dan apalah itu. Halahhh bagiku itu hanya modus atau akal-akalannya saja agar terlihar ramah, baik hati serta rajin menabung eh nggak deng. Ya kesannya kayak biar keliat baik gituh didepan kakak OSIS.

Pembekalan MPLS berlangsung di masjid sekolah tersebut. Aku mencatat semua yang keluar dari mulut pembicara yang bicara panjang kali lebar pasal persiapan MPLS yang akan menjadi petualanganku selama 3 hari. Ya walaupun aku menulis nya dengan setengah sadar, separuh nyawaku masih diatas kasur mungkin:v. Tadi malam aku hanya tidur selama 3 jam. Jangan tanya kenapa ya gaes, itu karena aku makhluk insomnia.

Mataku yang tadinya tinggal lima watt langsung terang benderang melebihi lampu neon. Kantuk yang tadinya melanda hingga ubun-ubun, hilang seketika tanpa diusir, tanpa harus ku teguk secawan madu:v eh segelas kopi deng hehe. Kantuk itu hilang saat mataku yang kecil ini tak sengaja melihat salah seorang kakak OSIS yang berdiri ditiang masjid. Entah kenapa mataku seakan terpaku dan tak mau mengalihkan pandangan pada apapun itu.

"Siapa namanya? Kelas berapa?" pertanyaan itu terus berputar di otak ku. Bagaimana caraku mengetahuinya coba? Aku bahkan tak punya nyali untuk menanyakannya.

Aku mencari cari nametag miliknya dari jauh. Namun, tak ku jumpai nametag itu.
"woyy, nyari apaan?" suara dina  melengking sempurna mengagetkanku. Eh iya dina itu sahabatku dari SD. sekarang kami masih satu sekolah.

"apaan sih ngangetin aja. Jantung aku pindah ke lambung nih" canda ku.

"beuhh ca ae lu tong haha" dina cengengesan mendengar kalimat humor recehku.

Aku memang sudah dicap sebagai spesies makhluk yang humoris dan cengengesan sepanjang hari. Aku tak suka dengan kesedihan, dan aku rela bertingkah layaknya manusia ber-otak diagonal hanya untuk membuat orang lain tertawa.

Tak bisa ku pungkiri, aku masih memikirkan kakak kelas ku itu.

~

Pulang dengan seloyongan, dengan fikiran masih sangat penasaran tentang kakak kelas itu. Tubuh nya tidak terlalu tinggi,matanya ada dua, hidungnya satu tapi lubangnya dua dan bentuk telinganya sama sepertiku telingaku.

Aku merebahkan tubuh kecil dan pendekku diatas samudera kapuk berbungkus sarung spiderman.
Tak sabar menunggu senin tiba agar bisa menatap kakak kelas itu dari kejauhan, padahal ini baru hari sabtu.

Aku suka menatapnya dari ujung rambut hingga ujung kaki, tapi untuk menatap matanya??  Haha aku tak sanggup!

Kakak Kelas Super Di Sekolah Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang