Deku merupakan salah satu siswa SMA Bangun Bakti yang tinggal di sebuah kota yang bernama kota Sendai. Dia tinggal bersama kedua orang tuanya. Dia merupakan siswa yang berprestasi di sekolahnya. Banyak siswa yang sering meminta bantuan tugas ke dia. Di sekolah tersebut Deku memiliki empat sahabat, yaitu Jimmy, Siro, Conan, dan Klein. Jimmy merupakan sahabat terbaik Deku. Mereka sudah bersahabat sangat lama layaknya seperti saudara. Kedua orang tua mereka bekerja di sebuah pabrik yang sama.
Suatu hari, pada siang hari, kedua orang tua Deku hendak pergi keluar kota selama empat hari karena ada kerjaan yang harus diselesaikan. Sebelumnya mereka berpamitan dulu kepada Deku.
“Nak, papah sama mamah mau keluar kota dulu , ya.” Ucap mamah.
“Emang mau ngapain?” Tanya Deku.
“Ada kerjaan yang harus diselesaikan, kamu baik-baik, ya di rumah.” Ucap papah sambil tersenyum.
“Iya, mamah sama papah juga hati hati, ya, di sana.” Jawab Deku.
“Kamu tinggal dulu aja sementara di rumah Jimmy, mamah udah ngomong ke mamahnya Jimmy.” Ucap mamah.
“Iya mah, tapi mamah sama papah pergi nya gak lama kan?” Ujar Deku sambil memelas.
“Engga kok, cuman seminggu aja.” Ucap mamah.
“Ya udah, mamah sama papah pergi dulu, ya.” Ucap papah.
“Iya, pah.” Jawab Deku.
Kemudian mereka bergegas pergi meninggalkan Deku sendiri di rumah. Dalam kesendiriannya, Deku bingung hendak melakukan apa. Dia bukan anak yang nyaman dalam kesendirian. Bisa dibilang, dia anak yang over extrovert. Oh, dia teringat perkataan ibunya yang tadi mengatakan, kalau ia sebaiknya pergi ke rumah Jimmy, sahabat layaknya saudara sebaya dengannya.
Lantas, ia melangkahkan kaki keluar dari rumah dia menuju rumah Jimmy menggunakan sepeda. Sepeda yang dia gunakan ialah sepeda antik. Di jalan menuju rumah Jimmy, Deku merasakan hal yang aneh. Ada angin dingin yang menelisik tengkuk deku. Padahal cuaca sedang panas-panasnya, tapi Deku merasa tidak peduli perasaannya. Tak lama setelah perjalanan yang dilakukannya selama 15 menit, Deku akhirnya sampai di halaman rumah Jimmy. Deku pun berteriak di depan halaman rumah Jimmy.
“JIMMY………. JIMMY………..JIMMY!” Deku berteriak tepat di depan pintu rumah Jimmy, seolah-olah dia tengah berada di tengah hutan.
“Apa sih Deku?! Datang-datang bukannya ngucapin salam, malah teriak teriak kayak di hutan.” Jimmy menjawab ketus teriakkan Deku.
“Sorry… sorry… sorry.” Deku meminta maaf, tertawa, seraya menepuk-nepuk pundak Jimmy.
“Iyee…… ada apa lu kesini?!!” Jimmy bertanya dengan mukanya yang ketus.
“Gua kesini karena di rumah gabut ce. Orang tua gua pergi keluar kota selama empat hari, gua di rumah sendirian.” Jawab Deku.
“Terus hubungannya ama gua apa?” Tanya Jimmy.
“Kata mamah gua, gua disuruh tinggal disini dulu, sementara mamah sama papah gua pergi keluar kota. Mamah gua udah ngomong ke mamah lu.” Deku menjawab dengan senang dan gembira.
“Lah… lah… lah, ya udah kalau kata mamah gua dibolehin, tapi lu jangan acak-acakin rumah gua, ya.” Balas Jimmy kepada Deku.
“yooo, santai bro. Ya udah sekarang mah kita main PS4 di kamar lu yukk, gua bosen nihh. Mau gak?” Tanya Deku seraya menepuk pundak Jimmy.
“Ya udah hayu, tapi bentar gua mandi dulu.” Jawab Jimmy.
“Jorok amat dah lu. Ya udah sana mandi dulu, gua tunggu di kamar lu.” Jawab Deku sembari menutup hidungnya.
Setelah selesai mandi dan memakai baju, mereka berdua pun mulai memainkan PS4. Mereka memainkan game PES 2019. Di tengah permainan, Deku bercerita tentang perjalanannya tadi kepada Jimmy. Dia bercerita bahwa saat di jalan, dia merasakan hawa ymemainka, tapi Jimmy mengabaikannya.
Tidak terasa, mereka berdua telah bermain PS selama tiga jam. Merasa kelelahan dan matanya sangat sulit untuk dibuka, lantas Jimmy memutuskan untuk tidur di kasur kamarnya. Benar-benar cepat Jimmy terlelap dalam tidurnya. Merasa tidak ada teman, Deku kembali melamun, memikirkan tentang perjalanannya menuju rumah Jimmy tadi.
***
Empat hari telah berlalu, Deku mulai merasa rindu dengan kedua orang tuanya. Karena selama empat hari ini, orang tuanya sama sekali tidak menghubungi deku. Benar-benar tidak ada kabar sama sekali. Pada pagi hari, disaat Deku sedang menunggu dan bertanya-tanya, handphone-nya pun berdering di saku celananya.
“Hallo, bisa bicara dengan saudara Deku?” Deku menerima telpon dari nomor yang dia tidak kenali.
“Iya, dengan saya sendiri. Ada apa?” Tanya Deku.
“Saya dari pegawai rumah sakit, ingin memberi tahu, bahwa ayah dan ibumu baru saja meninggal. Kini, kedua jenazah itu berada di rumah sakit Mitra Sejahtera. Mereka meningal karena sebuah kecelakaan yang sangat tragis ketika bekerja.” Jawab pegawai rumah sakit.
Handphone yang ada di tangan Deku jatuh. Keadaan pun menjadi hening. Seolah-seolah dunia terasa berhenti. Deku pun mengambil handphone yang berada di lantai dan kembali mengangkat telpon tersebut.
“Lokasi rumah sakitnya dimana, pak?” Deku bertanya sambil tergesa-gesa.
“Di kota Tokyo.” Jawab pegawai rumah sakit.
“Oke pak, saya segera kesana.” Deku menjawab sembari berburu-buru mengeluarkan Motor di garasi.
Deku pun bergegas pergi kesana dengan keadaan sedih. Di perjalanan, dia terus menangis memikirkan kedua orang tuanya. Handphone Deku tiba tiba berdering, ternyata itu telpon dari Jimmy. Deku pun mengangkatnya.
“Halo, Dek...Dek lu dimana. Gua di rumah lu tapi lunya gaada. Lu ada dimana?” Tanya Jimmy.
“Gu... gu... gua lagi mau kerumah sakit.” Deku terisak Suaranya tercekat, hendak menangis.
“Lah lu kenapa, kok tiba tiba nangis?” Jimmy bertanya sembari terheran.
“Orang tua gua meninggal, Jim.” Jawab Deku dengan keadaan dia yang sedang menangis.
“SERIUS DEKU?!!” Jimmy tidak percaya akan perkataan Deku.
“IYAA JIMMY!!” Deku menjawab pertanyaan Jimmy yang tidak percaya itu.
“Lu sekarang dimana, Dek?” Jimmy bertanya sembari tergesa-gesa menuju ke motor.
“Sekarang gua lagi menuju rumah sakit yang ada di Tokyo, tempat orang tua gua dirawat sebelum meninggal.” Jawab Deku.
“Oke sekarang gua kesana.” Ucap Jimmy.
Jimmy pun bergegas pulang kerumah dan memberitahu kepada orang tuanya, bahwa orang tua Deku meninggal. Orang tuanya Jimmy pun kaget dan menangis. Mereka bertiga pun mengeluarkan mobil dari garasi dan bergegas pergi ke rumah sakit yang diberitahu oleh Deku saat percakapan di telepon. Di perjalanan menuju rumah sakit Jimmy terus-menerus menelepon Deku, tetapi tidak pernah diangkat oleh Deku. Jimmy pun semakin khawatir dengan Deku, Jimmy takut Deku kenapa-napa dijalan, karena keadaan Deku sedang kacau dan sedih.
Di saat Jimmy bergegas pergi menyusul Deku, Deku sudah sampai di rumah sakit, tempat dimana kedua orang tuanya meninggal. Dia keluar mobil dan bergegas ke resepsionis, menanyakan ruang mayat. Saat di resepsionis, Deku bertanya kepada pegawai yang bertugas, dimanakah kamar jenazah tempat jenazah ayah dan ibunya berada. Pegawai tersebut memberi tahu dimana kamar jenazah itu. Setelah dibeitahu kamar jenazah itu, Deku bergegas pergi kesana. Deku masih tidak percaya bahwa orang tuanya telah tiada. Jimmy dan keluarganya pun sampai di rumah sakit itu. Jimmy menelepon Deku, dia ingin bertanya apakah Deku sudah sampai atau belum. Telepon Jimmy pun diangkat oleh Deku.
“Dek, lu dimana? Udah nyampe apa belum?” Jimmy bertanya dengan keadaan yang khawatir.
“Gua udah nyampe, sekarang gua ada di kamar mayat, kamarnya ada di lantai 2, Jim.” Jawab Deku.
“Oke, gua kesana.” Ucap Jimmy.
Jimmy dan keluarganya pergi kesana. Setelah sampai disana, Jimmy memeluk dan menenangkan Deku yang sedang menangis. Setelah itu, kedua orang tua Jimmuy meminta kepada pegawai untuk membawa jasad kedua orang tua Deku untuk dimakamkan. Setelah dimakamkan, kedua orang tua Jimmy menawarkan Deku untuk tinggal di rumahnya. Deku pun mau.
***
Dua bulan telah berlalu, Deku mulai bisa melupakan tentang kejadian orang tuanya yang meninggal. Selama dua bulan ini, Deku tinggal di rumah Jimmy. Diurus oleh orang tua Jimmy. Deku tetap merasakan kasih sayang keluarga, meski kedua orang tuanya telah meninggal. Karena selama ini, orang tua Jimmy memperlakukan Deku seperti anaknya sendiri.
Di sekolahpun, dia mulai bisa bercanda dan tertawa-tawa dengan teman-temannya.
“Cieee, yang sekarang saudaraan satu rumah.” Salah satu teman Deku, yaitu Siro menggoda Deku dan Jimmy yang kini tinggal serumah.
“Ogah gue punya saudara kayak si Deku.” Jimmy mendorong bahu Deku.
“Dihhh, gua juga ogah punya sodara kek lu.” Lantas mereka semua tertawa. “Ohiya, kalian mau main ke rumah lama gue enggak? Kebetulan, ada barang yang ketinggalan, baru inget gue." Tanya Deku kepada Siro, Conan, dan Klein.
“Mau dong, sambil gua pengen liat-liat rumah lama lu. Kepo gua.” Jawab Conan sembari tersenyum.
“Gua juga ikut.” Jawab Klein.
“Kalau lu, Siro?” Tanya Deku sembari menepuk pundak Siro.
“Skuyyy.” Siro menjawab Dengan lantang.
“Si Jimmy ikut kaga, dek?” Tanya Conan.
“Ikut lah, masa iya gua kaga ikut.” Jimmy menyeletuk pertanyaan dari Conan.
“Sip dah. Tapi kapan kerumah lu nya?” Tanya Klein.
“Hari ini.” Kemudian Deku bertanya. “Pada bisa kagak?”
“Bisaaaaaaa donggg.” Mereka menjawab dengan serentak.
***
Bel pulang sekolah pun berdering. Setelah itu mereka langsung pergi ke rumah Deku bersama-sama. Saat perjalanan, mereka sempat berhenti di warung karena Siro ingin membeli minuman. Pascamembeli minuman, mereka melanjutkan perjalanan lagi. Mereka pun tiba di rumah lama Deku
“Rumah lu serem juga ya, dek.” Ujar Conan.
“Iya lah serem, kan udah ditinggal, gimana sih.” Jimmy menjawab dengan raut muka kesal.
“Ehh iya, ya.” Conan menjawab sembari tertawa terbahak-bahak.
“ Udah-udah, ayoo masuk.” Semua pun masuk ke rumah itu.
Mereka pun masuk ke rumah itu. Ketika di dalam rumah itu, mereka semua merinding dan merasakan hawa yang panas, padahal di luar cuaca tidak sedang panas. Di langit-langit rumah, terdapat banyak sarang laba-laba dan genting rumah yang bocor. Di tengah perjanalan, mereka tiba-tiba berpisah. Siro, Klein dan Conan pergi living room dan dapur, Deku pergi ke kamar lamanya dan ke kamar orang tuanya, sedangkan Jimmy pergi ke loteng. Ketika di loteng, Jimmy melihat barang-barang yang tak terpakai dan kusam. Tiba-tiba, Jimmy terpaku kepada satu barang yang membuat dia tertarik untuk melihatnya. Dia menghampiri barang itu, lalu dia mengambilnya. Ternyata itu adalah permainan kuno yang menggunakan botol. Jimmy bergegas turun dari loteng dan menemui teman-temannya.Setelah mengelilingi rumah itu selama hampir 30 menit, mereka pun berkumpul di ruang tamu, lalu Jimmy memberitahu bahwa dia menemukan permainan kuno di loteng.
“Kalian, gua nemuin permainan nih.” Ucap Jimmy.
“Permainan apa tuh?” Mereke semua bertanya.
“Permainan kayak monopoli gitu, tapi menggunakan botol.” Ucap Jimmy.
“HAH?!! Jangan mainin permainan itu, permainan itu terkutuk.” Deku terkejut dan memberitahu.
“Ahh, boong kali.” Jawab Klein sembari tidak percaya omongan Deku.
“SERIUSS, permainan itu terkutuk.” Jawab Deku dengan lantang.
“Ya udah, kita buktiin aja dengan cara mainin permainan itu.” Ucap Jimmy.
“Jangannnnnnnn.” Ucap Deku dengan lantang.
“Lu kaga berani main, Dek?” Tanya Conan.
“Bukan gitu.” Jawab Deku.
“Udah lu mending ikut aja bermain.” Ucap Jimmy.
“Hmmm. Ya udh deh gua ikut.” Jawab Deku.
Mereka pun memulai permainan tersebut. Di awal permainan itu, Deku memulai duluan dengan mengocok dadu. Setelah mengocok dadu itu, Deku mendapatkan angka 6, lalu dia mengambil botol yang bertuliskan angka 6. Deku mengambil botol dengan perasaan bimbang dan takut. Kemudian dia membuka tutup botol dan mengambil kertas yang ada di dalamnya, lalu dia melihat isi tulisan dalam kertas tersebut. Deku membaca tulisan itu dan kaget karena isi d8ari tulisan tersebut, ialah “mati”. Tiba-tiba Deku pun menghilang. Siro, Klein, Conan, dan Jimmy pun kaget.
“Lah, kok si Deku tiba-tiba ilang?” Ucap Jimmy.
“Iyaa, kemana yaa si Deku?” Ucap Conan.
“ Iya ya, kemana si Deku.” Ucap Siro dan Klein.
YOU ARE READING
Permainan Terkutuk
Mystery / ThrillerGara gara botol saya dan teman saya terjebak dalam permainan berbahaya
