Hari ini cuaca sangat tidak mendukung, dengan langkah gontai aku melewati jalanan yang sering kulewati. Rasanya lelah seharian mendengarkan ocehan guru yang tak ingin ku dengar.
Tak terasa air jatuh dari langit dan membasahi tubuhku hingga basah kuyup. Arrgghh, aku membencinya.
Kulihat sebuah mobil terparkir rapi digarasi rumahku. 'Sedang apa dia kesini?', pikirku meracau.
"Tumben non, nggak naik angkot" kata satpam rumahku dengan ramahnya. Aku hanya melihatnya sekilas dan berlalu tanpa membalas perkataannya.
Sudahlah, sebaiknya aku segera kekamar dan tidur. Tanpa ingin melepas pakaianku yang basah kuyup, aku segera menjatuhkan badanku ke ranjang dan tertidur.
Aku terbangun saat tubuhku mulai merasa kedinginan karena terpaan angin yang melewati jendelaku yang masih terbuka lebar.
Kudengar ketukan pintu dari dalam kamarku lalu dibukanya dan terlihat sosok tinggi, besar dengan langkah gagahnya menghampiriku.
"Kenapa ayah kemari?", tanyaku kepada ayah lalu ia mengusap kepalaku.
"Hari ini ayah menginap", jawabnya dengan tersenyum.
•••
Dimeja makan aku melihat ayahku sedang menyantap makanannya dan tak lupa benda pipih yang selalu tertempel di telinganya hingga akhirnya aku duduk dan ikut makan bersamanya.
Hanya ada suara dentingan sendok dan garpu yang beradu hingga suara ayahku memecah keheningan "Beberapa hari kedepan ayah akan tinggal disini", aku melihatnya dan hanya tersenyum. Sesegera mungkin aku memakan makananku dan pergi kekamar.
Malam ini angin bertiup kencang dan aku memutuskan untuk menutup jendelaku lalu pergi kekasur, hingga rasa kantukpun menghampiriku untuk tidur.
Kudengar ketukan pintu dari luar sana lalu dibukanya pintu itu. Terlihat sosok seperti lelaki yang menghampiriku dan aku melihatnya membawa pisau ditangannya. Saat kuamati lebih jauh, pisau itu sudah berlumuran darah.
Tubuhku mematung dan keringat dingin mulai membasahi tubuhku. Ini gila. Aku tak menyangka akan seperti ini jadinya.
Dia semakin mendekati diriku yang terduduk lemas tak berdaya diatas lantai. Aku hanya bisa menangis dan entah kapan aku tak bisa mengeluarkan suaraku untuk menjerit. Ku harap ada seseorang menyelamatkanku darinya.
Dia melayangkan pisaunya kearahku dan menusuk diperutku dengan kejamnya lalu dengan kasarnya dia menyobek perutku dengan pisau tersebut.
Aku melihat darah semakin banyak disana. Dia hanya tersenyum melihatku menangis dan menahan sakit.
Lalu dia pergi dengan meninggalkan pisau yang masih tertancap diperutku. Aku ingin menjerit sekeras kerasnya tapi tak bisa aku hanya bisa menangis.
Aku melihatnya kembali dengan senyumannya dan berkata " Hai gadis manis, aku membawakan sesuatu untukmu". Dia membawa pakaian yang sudah sobek berlumuran darah yang sudah lama kering dan melemparnya ke wajahku.
"Apa kau ingat dia? Apa aku harus membalas itu juga padamu?", lalu dia tertawa dengan kerasnya. Sungguh, aku hanya bisa menangis mengingat kejadian yang bersangkutan dengan pakaian itu.
Kejadian 3 tahun yang lalu.
Kudengar suara piring kaca yang dilempar dengan kerasnya ke lantai dan suara teriakan. Aku segera keluar dan kulihat wanita itu sudah tergeletak dilantai dengan memegang kaki lelakinya.
"Lepaskan kakiku! kau sungguh wanita yang tak tau diuntung! aku memungutmu dari orang tuamu yang miskin tapi kau tak bisa melayaniku dengan baik!", kata lelaki itu dengan terus berusaha melepaskan kakinya dari genggaman tangan wanita itu.
YOU ARE READING
The Mutter
RandomKetika kau beranggapan orang yang kau percaya bisa melindungimu tapi nyatanya dia juga ingin menyakitimu. "Kumohon jangan sakiti aku, lebih baik kau bunuh aku dengan pisau belatimu" - Rebbeca Zhafira W. "Gue sayang sama lo. Kali ini aja percaya sama...
