Aku menatap keluar jendela café, menunggu Erica, ia sudah terlambat tiga puluh menit dan ini benar-benar bukan seperti dirinya. Erica yang aku kenal adalah pribadi yang sinis, penuh dengan sarkas, dan orang yang sangat menghargai waktu. Erica biasanya sudah menunggu duluan atau datang terlambat paling lama lima menit.
Aku menatap lagi ke layar ponselku, Erica tidak menjawab teleponku dari tadi, hingga nada sambung ke ponselnya tiba-tiba mati—tanda kalau ia sengaja menolak panggilanku. Aku mengerutkan dahi, pertanyaan dan sedikit rasa khawatir yang hinggap di hatiku berganti dengan kelegaan karena pesan yang aku terima beberapa detik setelahnya.
L, sorry. I need to attend some bushitness my father told me to. I will treat you next time. Bye babe, xo.
Aku segera mengetik balasan kalau aku tidak apa-apa, aku menyeruput iced dark chocolate yang aku pesan hingga tersisa sedikit, menaruh ponselku ke dalam sling bag lalu siap untuk meninggalkan café itu kalau saja sepasang sepatu kets biru gelap dan celana kargo hijau tua itu tidak berhenti tepat di hadapanku. Aku mendongak dan aku bisa merasakan kalau aku berhenti bernapas. Kingston.
"I found you."
Tiga kata singkat itu berhasil membuat jantungku terasa diremas dan membuat pernapasanku tidak teratur. Mataku terbelalak, bertatapan dengan mata abu-abunya yang terlihat menggelap, wajahnya yang nyaris tidak berubah, hanya terlihat lebih dewasa—lebih tampan juga, aku tidak bisa memikirkan cara untuk kabur. Matanya seakan mengawasi seluruh gerak gerikku, aku tidak bisa kabur!
"Kingston?"
Suara ceria itu seperti suara malaikat—malaikat penolongku karena Tuhan memberikanku ide untuk kabur. Seorang perempuan tinggi dan langsing—ujung kepalanya sejajar dengan daun telinga Kingston—yang aku yakini seorang model. Sangat cantik, rambutnya pirang berkilau dengan mata biru gelap. Ia merangkul lengan Kingston manja sambil tersenyum cerah.
Aku sangat mengenali senyuman itu. Senyuman seorang perempuan yang sedang jatuh cinta. Gadis cantik itu mencintai Kingstonku. He? Kingstonku? Aku mengedipkan mata beberapa kali, mengambil sling bagku dan berdiri.
"Sorry, I think you've met a wrong person. Excuse me," ujarku sambil berjalan setenang mungkin—walaupun kedua tanganku gemetar hebat. Namun langkahku terhenti ketika mendengar suara dingin Kingston.
"You promised. Aku sudah menepati bagianku, Lou. Jangan harap aku akan diam saja kali ini."
Aku terhenti, jantungku berdetak dengan cepat, betapa aku merindukanmu, suara dingin Kingston itu.. terdengar begitu dingin dan mencekam, namun entah mengapa.. aku merasakan kesakitan yang sama di dalam suaranya. Dia juga kesakitan. Aku memutuskan kembali melangkah ketika aku tidak bisa lagi menahan air mataku dan membiarkannya mengalir.
****
"Apa?! Bagaimana bisa Kingston ada di Vietnam?"
Aku hampir menjawab kalau aku tidak tau dan aku sangat terkejut ketika Erica berkata, "Oh! Jangan-jangan itu adalah alasan kenapa Kingston tidak menghadiri rapat hari ini! Oh my sweet Lord. That's why my dad told me to join the meeting, Lou. Karena Kingston tidak ada."
Aku menghela nafas berat, aku sudah menangis sejak siang hingga langit berubah menjadi jingga. Aku sangat yakin kalau wajahku sekarang mirip katak—karena saking bengkaknya mataku. Bayangan-bayangan masa laluku bersama Kingston kembali berputar dan membuat dadaku sangat sesak. Setelah sekian lamanya—delapan tahun lebih—kami berpisah, bahkan air matanya ketika aku meminta ia berjanji untuk tidak akan pernah mencariku sampai takdir itu sendiri yang mempertemukan kami.
Takdir baru saja mempertemukan kami hari ini.
Aku tidak bisa menahan isakanku dan kembali menangis lagi. Delapan tahun, dan perasaan yang aku miliki masih sama. Aku masih mencintai Kingstonku. Aku masih mencintai laki-laki dengan senyuman termanis dan tawa paling menenangkan di dalam hidupku, aku masih mencintai Kingston, laki-laki yang akan membawa sekardus lays saat aku sedih, karena aku sangat menyukai lays. Aku hanya tidak menyangka, perasaan itu masih sekuat dulu, atau mungkin lebih kuat. Aku mengira.. waktu akan mengobati rasa sakit kami, delapan tahun waktu yang sangat lama untuk mengobati atau bahkan untuk menghilangkan perasaan kami. Nyatanya, Kingston masih mengingat janjiku dan sumpahnya. Dia masih menatapku dengan sorotan terluka, sorotan yang sama ketika aku memintanya untuk pergi. Ketika aku mengatakan kalau tidak ada masa depan untuk hubungan kami.
"Lou, are you crying? Ya Tuhan, maafkan aku, Lou. Harusnya aku tidak memintamu bertemu. Aku akan mengirimkan jet pribadiku, minggu depan cabang café kita akan grand opening di New York. Besok, pagi-pagi sekali, jet pribadiku akan menjemputmu di rooftop hotel yang kau tempati sekarang. Kau akan kabur lagi, Lou. Kingston tidak akan bisa menyentuhmu kalau kau berada di dekatku. I promise."
Aku hanya diam mendengarkan Erica berbicara, isakanku semakin menjadi. Kenapa hidupku seperti ini? Aku merasa benar-benar pengecut, selama delapan tahun ini, Kingston sudah menepati sumpahnya, dia tidak akan mencariku. Sedangkan aku, ketika takdir benar-benar membawa kami bertemu kembali, aku malah ingin kabur lagi.
"Lou.. maafkan aku, tapi.. apakah kau membenci Kingston sebesar itu? Sebenarnya, apa yang telah Kingston lakukan, Lou? Aku selalu merasa, Kingston berhak tau. Ini tidak adil untuk sepupuku yang bodoh itu."
Aku menghela nafas dulu sebelum berbicara, "Aku tidak pernah membenci Kingston, Rica. Bahkan setelah sekian lama, perasaan yang aku harap sudah lenyap, ternyata masih ada. Delapan tahun. Dan semuanya seperti baru kemarin. Aku sangat mencintainya hingga terasa sakit," aku membiarkan isakanku lolos lalu kembali berbicara, "Kingston berhak tau tapi aku tidak akan pernah memberi tau, Rica. Kau tau kenapa."
"Tapi, Lou. Kalau Kingston tau, dia tidak akan seperti ini. Kau tidak akan seperti ini. Kalian sama-sama tersakiti karena hal ini. Bayangkan kalau Kingston sudah tau dari awal, kalian tidak akan kacau seperti ini-"
"Aku tau," aku memotong kalimat Erica, "Aku selalu tau apa yang akan Kingston lakukan kalau aku memberitahunya sejak awal. Kami memang tidak akan seperti ini, Rica. Tapi, setidaknya dia tidak akan sesengsara aku. Dia hanya memiliki Ibunya yang ia percayai sepanjang ia hidup, Rica. Aku tidak akan membiarkan Kingston menderita lebih jauh. Aku selalu membayangkan kalau aku memberitahu Kingston, setiap hari, mungkin kami akan hidup dengan bahagia, mungkin sekarang kami sudah memiliki dua anak," aku tertawa kecil walau air mata lainnya turun dari mataku, "Tapi," aku menghirup nafas dan menghelanya, "Kingstonku tidak akan sekeren sekarang, Ya 'kan? Wajahnya selalu ada di majalah-majalah bisnis, ia hidup dengan sendok emas di mulutnya sejak ia kecil, secinta apapun Kingston padaku, aku tidak akan membiarkan Kingston hidup menderita bersamaku."
"Lou.. Kingston berhak tau kalau kau-"
"Rica, please. Jangan ini lagi.. aku hanya.. aku hanya tidak menyangka akan bertemu dengannya lagi. Disini, di Negara ku. Tapi sudah ada perempuan lain, Rica. Dan walau Kingston mengatakan ia akan mencariku ke lubang tikus sekalipun, aku yakin itu hanya sisa-sisa kenangan masa lalu. Aku melukai harga dirinya sebagai laki-laki, Rica. Kingston tidak mungkin masih memiliki perasaan yang sama. Perempuan yang tadi aku temui, sangat sempurna. Semuanya berbanding terbalik denganku."
Erica terdengar mendesah berat, "Lou, maafkan aku, tapi aku sangat mengenali sepupuku. Aku akan menelfon Miko agar mengirimkan jet ke Vietnam besok pagi. Kau harus bersiap. Okay?"
"Okay."
YOU ARE READING
Lover
RomanceSINOPSIS Jadi, apa itu kehidupan? Bagiku, kehidupan adalah lapangan perang, lapangan bertahan hidup. Kalau kau diam saja, missil atau peluru akan membunuhmu. Kau harus terus bergerak. Sejak kecil, aku sudah terbiasa terus bergerak, lahir menjadi...
