Bukan rasanya yang kucicipi, tapi akibatnya. Akibatnya yang membuatku terbang.
***
Hampir dua semester telah Diana jalani di SMA Mars. Diana bersyukur sampai saat ini ia bahkan tak pernah tersentuh masalah apapun. Mungkin semuanya difaktorkan sifat Diana yang cenderung pendiam, penutup, dan tidak pedulian.
Di kelas Diana tak punya teman yang bisa disebut sahabat, karena Diana memang tak pernah menyempatkan diri untuk seorang teman.
Diana sibuk dengan pemikiran sendiri, dan sibuk dengan eskul seni-lukis.
Diana adalah murid yang teladan, tak pernah terlambat, giat belajar dan rajin membaca.
Pagi pagi, SMA Mars masih sepi Diana sudah ada di kelas. Tak lupa dengan buku bacaan sejarah yang belum ia selesaikan.
Setelah beberapa menit berlalu akhirnya kelas mulai ramai, dan Diana dikejutkan dengan suara melengking teman satu kelasnya.
"Diana!! Nih, kamu dapat titipin."
Diana memerhatikan Alisya yang sudah berdiri di hadapannya, seraya menyodorkan sebuah kotak putih berukuran sedang. Diana melirik kotak itu sekilas, lalu menggeleng. "Kamu salah orang mungkin, aku gak pernah pesan barang online." Jawab Diana pelan dan sedikit bingung.
Alisya mengernyit, lalu ia meneliti tulisan yang ada di atas kotak itu. Tadi saat dia keluar ada murid kelas sebelah yang memberikan kotak itu dan bertuliskan.
To: Diana
"Eh ini benar kok, ditujukan untuk kamu." Alisya semakin menyodorkan kotak itu seraya menunjuk nunjuk tulisan yang menjelaskan semua itu. "Jangan dipelototin aja, nih ambil."
Dengan ragu Diana menerima kotak itu, dan dengan cepat memasukkannya ke dalam laci.
Alisya tertawa melihat Diana, "Aduh Diana, diam diam ternyata kamu punya pengagum rahasia."
Diana menatap Alisya malas, "Emang dari siapa sih?"
Alisya mengedikkan bahu, lalu berlalu begitu saja. Tak lama kemudian, teman satu kelas Diana yang duduk tepat di depannya datang.
Mereka biasa memanggilnya, Ana. Diana mengagumi cewek itu, karena Ana cantik, anggun, dan terkenal.
Bosan dengan semua itu, Diana membuka ponselnya dan memeriksa grup chat eskul seni-lukis.
Kelompok seni lukis
Kak Ilham : Nanti siang kita kumpul.
Pemberitahuan singkat yang justru Diana tunggu tunggu. Diana menyukai hal yang berbau lukisan. Diana juga punya bakat untuk itu semua.
Diana segera membalas ketikan.
Oke Kak.
Tak lama kemudian sebuah pesan masuk, Diana menekan notifikasi itu.
Kak Ilham : Aku antar pulang, nolak rugi.
***
Diana memilih cepat cepat sampai di aula mini untuk ruang obrolan seni lukis.
"Hai Kak Hana!" Sahut Diana.
Walau masih satu semester bergabung di kelompok seni lukis ini, Diana sudah sangat dekat dengan seniornya. Bakatnya membuat banyak seniornya sangat bergantung pada Diana.
"Hai Diana! Sini duduk!"
"Iya Kak!" Diana duduk di sebelah Hana. Perhatiannya tertuju pada ponsel yang dipegang Hana. "Kak Hana sama Kak Ilham, hape-nya couple-an?"
Hana memerhatikan ponsel di tangannya, "Eh enggak, ini hape Ilham."
Eh? Kak Ilham?
Benar tebakan Diana, tidak mungkin Ilham mau mengantarkannya pulang. Cowok itu sangat usil padanya, dan sering tidak peduli pada Diana. Dan satu hal yang perlu digaris bawahi.
Hana suka mencomblangkan Diana dan Ilham.
"Jadi hari ini kita mau bahas apa?"
Diana mengerutkan kening sebentar, "Aku ada ide Kak!"
"Ya silahkan!" Kata seseorang yang baru saja masuk, Raka. Dia berjalan santai ke bangku yang biasa ia duduki. Posisi bangku membulat, dan Raka duduk tepat di hadapan Diana.
Raka adalah ketua kelompok seni lukis, dan itulah faktor kenapa Diana mengagumi cowok itu kali pertama masuk ke grup seni-lukis. Sebentar jantung Diana berdetak tak karuan, sampai ia mulai menstabilkan semua itu. Walau suda sering berhadapan dengan cowok itu Diana belum punya jurus untuk menghilangkan rasa canggungnya saat bertemu Raka.
"Ehm, kelas duabelas kan mau diberangkatin. Gimana kalau kita buat tema perpisahan, di acara pemberangkatan kelas duabelas?"
Ilham tertawa mengejek Diana, "Lo kelas sepuluh satu-satunya di kelompok ini, dan kenapa lo jadi seseorang yang paling antusias mau berangkatin kita?"
"Ilham, udah deh. Benar kok apa kata Diana."
Astaga, Diana ingin memukul meja atau apapun di sekitarnya saat Raka lagi-lagi membelanya.
Untungnya Diana mudah bersandiwara, berperilaku seakan-akan dia baik baik saja dan tidak menghiraukan detak jantungnya yang tak bisa berteman.
"Jadi, apa pendapatku diterima?"
"Setuju!" Sahut kelima senior, kecuali Ilham.
"Ham? Gimana menurut lo?" Ketus Hana.
Ilham sekilas menatap tajam Diana yang nyengir tanpa dosa. "Apa sih yang engga buat Diana-ku??"
Diana tertawa, melihat ekspresi Ilham yang dibuat-buat seimut mungkin. "Makasih Kak!"
Pembentukan pasangan mulai dibagi, dan itu semua diatur oleh Hana.
"Ben sama Tia, Ilham sama Diana, gue-"
"Diana mulu pasangan gue!"
"Ya kenapa?!" Hana membentak, Ilham bungkam. Lagi lagi ia selalu tampak lemah oleh Hana. Ilham punya rasa pada Hana, rasa yang tak biasa dimiliki seorang teman. Tapi mau bagaimana, rasa itu terlanjur tumbuh. Perasaan mungkin akan mati saat dibiarkan, tapi Ilham selalu mengasah perasaan itu. Ia pikir Hana akan membalas cintanya. Sayang, Hana menyukai Ilham saat cowok itu bersama Diana.
"Gue sama Sofian."
Raka mengernyit, "Gue, sama siapa?"
Diana tampak berpikir, "Ohiya gue lupa, terserah lo aja deh. Lo mau masuk ke kelompok mana? Jumlah kita juga ganjil."
Raka tampak berpikir pikir, dan sesekali menatap bergantian kelompok itu.
"Siapa ya?..."
"Aku dong Kak, aku!"
"Iya deh, Gue pilih kelompok Diana!"
Eh?
"Lo mau ganggu gue yang mau ngusilin Diana kan?" Tebak Ilham.
"Tadi, lo ngeluh dikelompokin sama Diana." Raka mengernyit sekilas, "Gue punya cewek lain keles!"
Dan, Diana sudah sempat merasa terbang kini jatuh kembali.
---
YOU ARE READING
Terbang Dan Jatuh
Teen FictionBagaimana mendeskripsikannya? Seorang cewek sederhana tak sengaja menerima kado salah alamat. Dia diterbang dan jatuhkan. Dibuat tertawa menangis, semua rasa. Apa dia akan mendapatkan cinta si pengirim kado?
