Chapter 1

9 0 0
                                        

Aku hanya sedang kesal, aku yakin itu. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan perkataan Fajar tentang cewek itu.

----Catatan harian Ghaitsa Pasha

***

"Tsaaaaaa"

"Ghaitsaaa...."

Aku pura-pura tidak mendengar teriakan super heboh di luar sana. Aku masih kesal.

"Achaaaaa! "

Fixed. Aku paling anti dipanggil "Acha", "Caca", "Eca" apapun itu yang mengisyaratkan panggilan untuk anak kecil yang belum terlalu fasih mengeja. Bukan apa-apa, panggilan itu terdengar terlalu 'manja' untukku yang sudah berkepala dua. Pengecualian untuk ayah dan ibu tentunya. Hanya mereka berdua yang boleh memanggilku begitu.

"Oiii,,,caca marica oi oi" pria itu tampaknya tidak menyerah sebelum aku membuka jendela kamar ku

"Rainnnnnnnnnnnnnnn" Pria itu tersenyum lebar menampakkan gingsul kirinya.
Oke. Aku sedikit luluh dengan panggilan ini. Rain adalah panggilan satu-satunya dari pria di luar sana untukku yang artinya sama-sama hujan.

"Hujan kecil, keluar sebentar, aku pengen ngomong" Aku tetap bergeming. Biar saja kali ini aku mengacuhkannya. Aku tidak marah ataupun kesal pada pria itu. Namun ketika aku kesal ataupun marah, semua orang akan kena imbasnya.

"Jangan pura-pura ga denger Tsa, aku tau kamu belum tidur, nanti diambil Allah pendengaran kamu, baru tahu rasa"

Kenapa dia menyebalkan banget sih? Bawa-bawa nama Allah segala. Aku nggak bisa pura-pura tuli lagi. Dengan kesal ku buka jendela kamar ku dengan rambut sebahu yang mekar seperti singa. Kamarku yang berada dilantai atas membuat pria dibawah sana sedikit mendongak menatapku, dengan cengiran nyebelinnya, tentu saja. Pria itu mengenakan jersey Barcelona kebanggaannya dengan celana boxer berwarna senada. Jangan tanya dia pandai main bola atau tidak. Dia cuma pandai nonton, dan ngomentarin.

"Hahahaha,,,rambut mu Tsa, kayak Azlan" Kalian tau Azlan siapa? Itu si raja singa difilm Narnia. Rasanya sebentar lagi aku akan meledak. Ia menutup mulutnya dengan tawa yang tertahan setelah aku melemparkan tatapan tajam bahwa aku tidak sedang dalam mood bercanda saat ini.

"Mau ngomong apaan? Tuan putri lagi sibuk nih sama pangeran Harry" Sahut ku sewot

"Elahhh,,kamu halu mulu Tsa, sadar woyy, Pangeran Harry udah nikah sama Meghan tuh" Aku tidak menanggapi celotehannya. Lagi malas.

"Aku mau ngomong, kalau aku udah punya cemceman Tsa. Namanya Naya. Kanaya Tsaqif. Anak informatika G16. Dia ketua keputrian di UKMI lho. Besok kalo kamu zuhur nya di masjid, kamu lihat dia deh. Pasti kamu gabakalan nolak kalo sohib kamu yang ternyata adik kandung nya Fedi Nuril yang tertukar ini jodoh sama dia" Pria itu berbicara dengan mata berbinar. Dan aku belum pernah rasanya melihat dia berbicara mengenai perempuan sebahagia ini.

"Tsa, kamu dengerin gak sihhh?"

"Jadi kamu teriak-teriak manggil aku tengah malam begini, Cuma mau bilang ini?" aku tidak tahu kenapa omonganku jadi sesewot ini. Biasanya aku akan mendengar curhatan pria ini dengan semangat, kemudian aku akan memberikan nasehat-nasehat ala-ala motivator ulung. Tapi kenapa sekarang aku jadi tidak asyik begini?

"Kamu kenapa Tsa? Lagi PMS?"

"Yaudah deh,,kamu lanjut tidur sana, aku gasabar aja pengen ngomongin ini ke kamu, minta pendapat kamu. Soalnya kamu kan paling tau yang terbaik buat aku, besok berangkat bareng ya?"

Aku hanya mengangguk. Tidak tahu menggangguk untuk apa. Entah untuk mengiyakan ajakan berangkat barengnya atau untuk mengiyakan bahwa aku adalah seseorang yang paling tau mengenai dirinya?

"Dahhh,,,hujan kecil,,selamat tidur, jangan lupa sholat isyaaaaa" teriaknya lagi sebelum aku buru-buru menutup jendela kamar.

***

Pria yang menggangguku malam-malam begini namanya Fajar, lengkapnya Fajar Muhammad Husain. Anaknya Pak Husain dan Bu Maryam. Dia sahabatku sejak kami masih belum pandai mengelap ingus, sekaligus tetanggaku. Rumah kami dempetan hanya dibatasi pagar pembatas. Sekali ngesot pun rasanya aku sudah sampai ke teras rumahnya. Apaan sih Tsa, unfaedah banget deskripsi nya.

Fajar keturunan jawa batak. Nenek dari pihak ayahnya berasal dari Indramayu sedangkan kakek dari pihak ibunya berasal dari Medan bermarga Hasibuan. Fajar tidak dapat marga karena suku batak garis keturunannya patrelinial. Mereka sudah lama sekali menetap di Pekanbaru. Jadi kalau menganut asas ius soli Fajar orang Pekanbaru.

Secara fisik Fajar terbilang cukup ganteng. Karena posisi pria maha ganteng masih ditempati oleh Ayahku. Tingginya sekitar 177 cm dengan kulit sawo matang, matanya besar dan belo, bibirnya tipis sedikit gelap padahal dia tidak merokok, rambutnya dipotong pendek dan selalu disisir kesamping, kadang model cepak, kadang-kadang tidak disisir. Hidungnya lumayan mancung. Pokoknya kalau dilihat sekilas Fajar itu mirip Fahri di Film Ayat-Ayat Cinta. Tidak ganteng tapi tidak bosan dilihat. Dan berita buruknya dia jomblo dari lahir. Dengan fisik sedemikian rupa, bukan berarti dia tidak laku. Sejak SMP sudah banyak perempuan yang tertarik padanya dan sudah jelas harus lulus melalui kacamata ku dahulu. Alasan lain katanya karena dia belum menemukan perempuan yang lebih cantik dariku. Hahaha.  Namun tetap saja hingga kini, ralat setidaknya hingga beberapa jam sebelum Pria itu menceritakan gadis bernama Kanaya Tsaqif itu_tidak seorang pun yang berhasil menembus hati es nya.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Dec 15, 2020 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

GHAITSA : Hujan Pengantar Matahari TerbitStories to obsess over. Discover now