Mohon tinggalkan jejak. Terima kasih 😉
Happy Reading! 😄
Suara napas memburu menggema di ruangan dengan penerangan temaram. Di balik selimut, terbujur kaku mayat bersimbah darah yang berceceran di lantai dan kasur.
Empat orang bertopeng hitam saling memandang. Ada kekalutan dan rasa takut menyelimuti di antara mereka.
"Bos, kita harusnya tidak membunuhnya dengan cara seperti ini," ujar pria dengan postur tubuh paling pendek.
"Biarkan saja, dia yang melawan," sahut pria dengan tubuh kekar. Ada tato berbentuk naga di lengannya.
"Tap-tapi, Bos. Nanti sidik jari kita akan terbaca." Giliran pria bertubuh kurus berucap dengan nada bergetar.
Di lain sisi, satu orang di antara mereka hanya bungkam dengan mata menatap nanar mayat yang terbujur kaku di depannya. Rasa takut begitu kentara dari sorot mata itu.
"Sudahlah, sebaiknya kita pergi. Aku pastikan tidak ada sidik jari yang tertinggal. Buang sarung tangan kalian. Tua bangka ini tidak memberikan informasi apa pun. Apa kalian sudah menggeledah semua tempat?" tanya pria bertato naga dengan berkacak pinggang.
"Sudah, Bos. Tapi, tidak ada barang yang kita cari," jawab si pendek.
Pria bertato naga mendengkus, kesal. Dilihatnya jam dinding yang menunjukkan pukul 05.00 WIB, sudah tidak ada waktu lagi untuk membereskan kekacauan karena ulah dia dan tiga anak buahnya.
Kalau saja pria paruh baya itu mau diajak kerja sama, maka kejadiannya akan berbeda. Tidak ada yang perlu disesalkan. Untuk sekarang, lebih baik pergi dan melapor kepada tuannya.
"Ayo!" seru pria bertato naga itu.
Mereka semua pergi melalui jendela, meninggalkan mayat yang tergeletak, mengenaskan.Namun, sebelum pergi satu di antara mereka bergumam pelan, hampir tidak terdengar.
"Maaf," gumamnya seraya menatap mayat itu sebelum pergi.
***
Harum bunga Kamboja mengiringi isak tangis yang menggema di antara kerumunan pelayat di pemakaman seorang hakim.
Mereka masih tidak percaya nasib nahas telah merenggut pria yang dikenal adil dan tidak pandang bulu itu. Ternyata, keramahan dan sikap baiknya tidak menutup kemungkinan aman dari musuh dan incaran penjahat.
Di depan pusaran bertabur bunga, seorang gadis cantik bertubuh mungil hanya mampu terisak dan tertunduk dalam, meratapi kematian keluarga satu-satunya. Dia tidak menyangka akhir hidup ayahnya akan seperti itu.
Ayahnya orang yang baik, walaupun seorang hakim, tapi dia tidak pernah mau menerima suap atau bentuk apa pun untuk kelancaran satu kasus.
"Ayah, Senja sekarang sendiri. Senja harus bagaimana, Yah?" tanya gadis itu, berbicara pada nisan yang bertuliskan Wijaksana.
Bagi Senja, sang ayah adalah kehidupannya. Walaupun ditinggal ibu sedari kecil, tapi tak sedikit pun sosoknya hilang karena ayahnya yang menggantikan.
"Sen-Senja harus ke mana, Yah?" Suaranya bergetar, menahan tangis yang sudah mulai mengering.
Orang-orang yang hadir untuk mengucapkan bela sungkawa, kini mulai bepergian, meninggalkan gadis itu tanpa menawarkan sebuah pelipur lara. Hingga dua orang hadir tanpa tahu identitasnya.
Pria paruh baya berseragam polisi datang bersama seseorang dengan badan tinggi, tegap bertubuh atletik. Wajah tampan dengan potongan rambut cepak menambah kesan wibawa padanya. Pria muda itu hanya terdiam menatap Senja yang masih menangis di depan pusara sang hakim.
VOCÊ ESTÁ LENDO
My Secret Bodyguard [Open pO]
AçãoMengisahkan tentang seorang gadis yang menjalani kehidupan pasca kematian ayahnya yang tidak wajar. Kehadiran Abimanyu membuat hidup Senja berubah. Tentang misteri kematian Wijaksana, kisah cinta Senja dan identitas Abimanyu. Penasaran? kuy, baca! 😉
![My Secret Bodyguard [Open pO]](https://img.wattpad.com/cover/206344788-64-k960109.jpg)