Naga Beracun 2

4.4K 16 0

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
(Lanjutan Naga Sakti Sungai Kuning)
Karya : Kho Ping Hoo
Scan djvu oleh Syaugy_ar
Ebook by Dewi KZ & Sukanta
http://kangzusi.com/
Jilid 7
"Cin Cin. jangan membikin aku marah. Engkau memang anak yang tidak mengenal budi. Selama
tiga tahun aku memperlakukan engkau seperti anak sendiri. Entah berapa banyaknya biaya yang
kukeluarkan untuk keperluanmu. Dan sekarang, sebagai ibu yang baik, aku telah mencarikan
tempat yang terhormat dan baik untukmu. Bahkan ibu kandungmu sendiri belum tentu akan
mampu mencarikan tempat yang demikian mulia untukmu. Dan engkau berani menolak?"
“Terserah pendapatmu, Cia Ma. Pendeknya, aku tidak mau diserahkan kepada pembesar itu
atau kepada siapapun. Kalau engkau sudah tidak mau aku tinggal di sini, biarlah aku pergi mencari
ibuku." Cin Cin bersikeras.
Cia Ma kini tidak berpura-pura lagi, tidak bersikap manis dan lembut seperti biasa. Ia marahmarah
dan percecokan itu segera terdengar oleh Coa Tai-Jin yang segera memerintahkan
pengawalnya untuk bersiap-siap meninggalkan tempat pelesir itu. Dia merasa malu kalau selagi dia
berada di situ terjadi percekcokan. Pengawalnya segera mendatangi Cia Ma, menegurnya karena
keributan itu.
"Tidak perlu ribut-ribut. Besok harus kauantarkan anak perempuan itu ke Lok-yang, ke gedung
Coa Tai-Jin. Beliau tidak ingin mendengar ribut-ribut. Awas, kalau sampai gagal, engkau akan
dihukum berat!"
Menggigil tubuh Cia Ma mendengar ancaman itu dan iapun mengangguk-angguk seperti ayam
makan jagung. Rombongan pembesar itu segera meninggalkan rumah pelesir Ang-hwa dan setelah
rombongan pergi, Cia Ma mengeluarkan semua rasa hatinya yang panas dan penuh kemarahan
terhadap Cin Cin. Ia mengurung gadis cilik itu di dalam kamarnya dan menyuruh tukang-tukang
pukulnya untuk menjaga agar anak itu jangan sampai melarikan diri. Kemudian, ia membuat
persiapan, menyewa sebuah kereta dan mempersiapkan pasukan pengawal yang terdiri dari
sepuluh orang, dengan Hek-gu (Kerbau Hitam) dan Pek-gu (Kerbau Putih) sebagai pemimpin.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Hek-gu dan Pek-gu memaksa Cin Cin yang sudah
didandani sebagai seorang puteri naik ke dalam kereta. Anak itu meronta dan melawan, akan tetapi
dua orang tukang pukul itu meringkusnya dan memondongnya ke dalam kereta.
Karena khawatir anak itu memberontak terus, Hek-gu lalu tinggal di dalam kereta, sedangkan
Pek-gu yang memimpin pasukan terdiri dari sepuluh orang tukang pukul itu. Kereta lalu dijalankan,
meninggalkan Cia Ma yang sambil senyum-senyum menghitung lagi uang yang ia terima dari Coa
Tai-Jin.
ooo0000ooo
"Lepaskan aku! Aku tidak sudi diberikan pembesar itu!" Cin Cin mencoba untuk meloncat keluar
dari dalam kereta, akan tetapi Hek-gu menangkap kedua lengannya. Anak itu meronta-ronta, akan
tetapi apa dayanya seorang anak perempuan berusia delapan tahun menghadapi seorang tukang
pukul yang kuat seperti Hek-gu. Kedua lengan itu dipegang oleh tangan kiri dan tidak mampu
meronta lagi, apa lagi melepaskan diri.
"Heran, setelah terdidik selama tiga tahun engkau kelihatan seperti seorang gadis cilik yang
lemah lembut dan pandai menari, ternyata pada dasarnya masih liar," kata Hek-gu dan karena tidak
ingin selama dalam perjalanan harus menjaga anak itu dan meringkusnya terus menerus, dia lalu
mengeluarkan sabuk sutera dan mengikat kedua lengan anak itu dengan sabuk sutera.
"Nah, engkau tidak akan dapat meronta lagi sekarang," katanya setelah mengikat pula kedua
kaki Cin Cin dan mendorong anak itu terduduk di sudut bangku kereta. Dia sendiri lalu melendut di
sudut lain, merasa aman karena gadis cilik itu kini tidak dapat membuat ulah lagi. Nanti kalau
sudah dekat kota raja, dia harus melepaskan ikatan kakai-tangan Cin Cin. Tentu saja tidak berani
dia menghadapkan gadis cilik itu dengan kaki tangan terbelenggu kepada Coa Tai-Jin.
Setelah tiba di tepi selatan Sungai Huang-ho, perjalanan dilanjutkan dengan penyeberangan
sungai itu, menggunakan perahu besar. Cin Cin masih dibelenggu dan belenggu kedua tangannya
baru dilepas kalau ia dipersilakan untuk makan dan minum. Akan tetapi, anak itu selalu menolak,
tidak mau makan atau minum walaupun kini ia diam saja, tidak memberontak lagi. Anak ini maklum
bahwa memberontak tidak ada artinya.
Ia harus mencari jalan untuk melarikan diri, mencari lowongan kesempatan setiap saat.
Di seberang utara, orang-orang yang disuruh oleh Cia Ma telah siap dengan sebuah kereta lain
yang akan membawa Cin Cin dan pengawalnya ke kota raja. Ketika malam tiba, rombongan itu
bermalam di sebuah rumah penginapan di kota kecil seperti direncanakan. Pada keesokan harinya,
pagi-pagi sekali mereka berangkat lagi. Perjalanan itu cukup jauh, memakan waktu tiga hari tiga
malam.
Pada hari ke tiga, kereta berjalan cepat memasuki sebuah hutan di lereng bukit. Cin Cin nampak
tertidur di sudut bangku kereta. Kaki tangannya tetap terbelenggu. Hek-gu kini diganti oleh Pek-gu
yang duduk di kereta, sedangkan Hek-gu menunggang kuda seperti pengawal lainnya. Pek-gu yang
merasa amat lelah, setelah kini mendapat kesempatan duduk di dalam kereta, apalagi melihat Cin
Cin yang dijaganya nampak pulas, diapun merasa mengantuk sekali dan melenggut di sudut
bangku yang lain. Dia sama sekali tidak tahu betapa bulu mata anak perempuan itu mulai bergerakgerak
dan sepasang mata yang bening itu mengintai dari balik pelupuk mata yang direnggangkan!
Karena Cin Cin tidak lagi memperlihatkan sikap memberontak, dan nampak lelah sekali karena
selama tiga hari ia hanya makan dua tiga kali saja, maka baik Hek-gu maupun Pek-gu menjadi
lengah. Mereka menganggap bahwa kini gadis cilik itu telah menyerah dan menerima nasib. Pula
apa yang dapat dilakukan anak itu? Melarikan diri jelas tidak mungkin!
Karena kelengahan ini, maka ikatan kedua kaki dan tangannya tidak sekuat dulu. Dengan tekun
dan sabar, Cin Cin berusaha membuka ikatan kedua kakinya dengan cara membungkuk dan
menggunakan kedua tangannya. Ia berhasil. Ikatannya terlepas. Untuk melepaskan ikatan kedua
pergelangan tangan, tidak mungkin karena jari-jarinya tidak dapat mencapai simpul di pergelangan
tangannya.
Yang penting kedua kakiku bebas, pikir anak itu. Ia harus melarikan diri sebelum kereta tiba di
tempat ramai. Apa lagi setelah memasuki kotaraja, tidak mungkin sama sekali melarikan diri.
Sekaranglah saatnya, pikirnya.
Kereta berada di jalan sunyi di tengah hutan dan kedua kakinya sudah bebas. Ia melihat betapa
Pek-gu tidur nyenyak, terbukti dari dengkurnya.
Cin Cin mengintai dari balik tirai kereta. Hek-gu bersama empat orang pengawal menunggang
kuda berada di depan kereta, sedangkan empat orang penjaga lain menunggang kuda di belakang
kereta. Kereta itu sendiri ditarik oleh dua ekor kuda, dikendalikan oleh seorang kusir. Sekaranglah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
saatnya, pikir anak itu. Sekarang atau terlambat! Ia menanti sampai kereta itu melambat karena
harus mendaki sebuah jalan tanjakan di antara semak belukar dan pohon-pohon cemara. Dengan
cekatan Cin Cin lalu meloncat keluar dari kereta, dan karena kereta itu sedang berjalan lambat, ia
dapat meloncat dengan mudah di sebelah kiri kereta. Sebagai seorang anak yang dahulu pernah
mempelajari dasar ilmu silat, loncatan itu tidak membuat Cin Cin terjatuh. Ia dapat mengatur
keseimbangan tubuhnya, dan begitu kedua kakinya menyentuh tanah, ia lalu lari menyusup ke balik
semak belukar!
"Heii! Anak itu lari.! Kejar.....!" teriak para pengawal yang berada di bekang kereta.
Teriakan itu mengejutkan Hek-gu yang berada di depan kereta. Pek-gu yang tadinya tertidur,
kini terbangun dan kagetlah dia ketika tidak melihat anak perempuan itu di depannya. Diapun
meloncat keluar dan bersama para pengawal, diapun melakukan pengejaran. Karena anak itu
mengambil jalan di antara semak dan pohon, sepuluh orang pengawal itupun berloncatan turun
dari atas kuda mereka dan melakukan pengejaran sambil berteriak-teriak.
Mereka tentu saja memandang rendah kepada anak perempuan itu, dan menganggap hal itu
seperti main-main saja. Mereka mengejar sambil berteriak dan tertwa-tawa, seperti sekawanan
anjing serigala mengejar seekor domba!
Memang amat sukar bagi Cin Cia untuk dapat meloloskan diri dari kejaran sepuluh orang tukang
pukul itu. Dalam keadaan biasa sekalipun, ia pasti akan dapat tersusul dan ditangkap kembali.
Apa lagi kini ia lari dengan kedua tangan masih terikat di depan tubuh sehingga hal ini tentu
saja mengurangi kecepatan larinya, karena gerakannya menjadi canggung. Beberapa kali ia
terjerembab, akan tetapi dengan nekat anak perempuan ini bangkit lagi dan lari sekuat tenaga.
Belum ada setengah mil Cin Cin melarikan diri, Pek-gu yang marah sekali karena anak
perempuan itu melarikan diri ketika dia menjaganya di dalam kereta, telah dapat menangkap
pundaknya dari belakang. Cin Cin membalik dan memukulkan tangannya ke arah orang yang
menangkapnya. Akan tetapi, sekali menggerakkan tangan, Pek-gu telah menangkap pergelangan
kedua tangan itu.
"Anak setan, kalau tidak ingat pesan Cia Ma, engkau sudah kupukul!" bentak Pek-gu marah dan
diapun memanggul tubuh Cin Cin di atas pundaknya, pengawal lain mentertawakan Pek-gu, akan
tetapi Hek-gu menegur kawannya.
"Apa kau ingin kehilangan kepalamu. Menjaga sampai tidak tahu anak itu lari. "
"Kujamin sekarang ia tidak akan dapat lari lagi dariku, sampai kita tiba di kota raja." kata Pek-gu
mendongkol bukan main kepada Cin Cin.
"Lepaskan aku! Kalian anjing-anjing busuk. Lepaskan aku atau bunuh saja aku.!" Cin Cin
berteriak-teriak, akan tetapi ia tidak dapat meronta lagi, kecuali menggeliat-geliat di atas
pondongan pundak Pek-gu.
Sepuluh orang itu sambil tertawa-tawa berjalan kembali ke arah jalan di mana kereta itu masih
menunggu. Tiba-tiba terdengar suara merdu tanpa kelihatan orangnya, suara seorang wanita.
"Anjing-anjing busuk, apakah kalian tuli? Ia minta dilepaskan, apakah kalian tidak
mendengarnya?"
Sepuluh orang itu tentu saja terkejut dan juga heran. Mereka memandang ke kanan kiri dan
tidak melihat seorangpun. Di antara mereka sudah menjadi takut dan merasa seram karena
menyangka bahwa yang bicara itu tentu setan penunggu hutan!
Akan tetapi, Hek-gu dan Pek-gu adalah dua orang jagoan yang tidak mengenal takut. Mereka
sudah mencabut golok masing-masing dan Hek-gu membentak, "Siapakah yang bicara tadi? Keluar
perlihatkan dirimu kalau engkau memang manusia dan bukan setan!"
Tiba-tiba terdengar suara ketawa lirih yang merdu dan nampak berkelebat bayangan putih dan
tahu-tahu di situ telah berdiri seorang wanita yang cantik dan bertubuh ramping. Sukar menaksir
usia wanita ini, nampaknya tidak lebih dari tigapuluh tahun. Rambutnya digelung seperti rambut
puteri bangsawan. Pakaiannya dari sutera putih yang halus dan bersih. Sebatang pedang
tergantung di punggung, dan pinggang yang ramping itu dililit sehelai cambuk hitam yang seperti
ular. Ia tersenyum lebar, nampak deretan giginya berkilat putih, namun sepasang matanya
mencorong dan mengandung keganasan yang mengerikan!
"Anak perempuan yang berani, mengapa engkau menjadi tawanan anjing-anjing busuk ini?"
terdengar ia bertanya kepada Cin Cin dan semua pengawal itu mengenal suaranya yang tadi
terdengar sebelum orangnya nampak.
Biarpun ia dipondong dengan muka di punggung Pek-gu, Cin Cin dapat memutar leher dan
melihat wanita cantik itu. Sekali pandang saja ia dapat menduga bahwa wanita cantik itu tentulah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
seorang yang lihai, seperti ibu Thian Ki, Sim Lan Ci. Maka, timbullah harapan baginya untuk dapat
tertolong dari tangan para tukang pukul ini.
"Bibi yang baik, kau tolonglah aku. Aku akan dijual kepada seorang pembesar di kota raja oleh
anjing-anjing buduk ini!"
Wanita cantik itu bukanlah sembarang wanita. Kalau saja Hek-gu dan Pek-gu tahu dengan siapa
mereka berhadapan tentu mereka akan lari tunggang-langgang. Nama wanita itu, yaitu nama
julukannya, sudah tersohor di seluruh daerah timur, bahkan sampai ke kota raja. Akan tetapi,
wanita ini memang jarang muncul di dunia ramai, tidak mau sembarangan memperkenalkan diri.
Padahal ia merupakan seorang datuk sesat yang memiliki kepandaian yang tinggi. Biarpun
nampaknya baru berusia tigapuluhan tahun, namun sesungguhnya usianya sudah limapuluh tahun.
Ia terkenal dengan julukan Tung-hai Mo-li (Iblis betina Laut Timur), dan namanya adalah Bhok Sui
Lan. Namanya demikian tersohor di bagian timur, sehingga semua orang kangouw mengenal nama
itu dan takut kepadanya. Oleh karena itu, ia hidup bagaikan seorang ratu di antara para tokoh
kangouw, dan dari dunia sesat ia menerima sumbangan dan hadiah yang membuat hidupnya
kecukupan sebagai orang wanita yang kaya raya.
Mendengar ucapan Cin Cin, Tung-hai Mo-li mengerutkan alisnya, "Hei, anjing muka putih,
engkau sudah mendengar ucapan anak itu? Lepaskan ia sekarang juga!"
"Bibi yang gagah, orang ini bukan anjing muka putih, melainkan Pek-gu (Kerbau Putih)." kata
Cin Cin yang timbul keberaniannya.
"Hemm, dia lebih pantas menjadi anjing daripada kerbau," kata pula wanita cantik itu.
Tentu saja Pek-gu marah sekali mendengar ejekan-ejekan itu. Akan tetapi karena yang
mengejek dan memakinya adalah seorang wanita cantik, sejak tadi ia bengong dan terkagum
kagum. Kini ia melangkah maju dan berkata, "Ha-ha,manis. Lebih baik engkau menjadi isteriku,
daripada engkau mencampuri urusan kami. Sayang kalau kulitmu yang putih mulus itu sampai
terluka oleh golokku."
Sepasang mata itu mencorong. "Engkau.. bangkai anjing!" bentaknya dan tiba-tiba tubuhnya
berkelebat ke depan.
Melihat wanita itu menyerang dengan tangan kosong, Pek-gu memandang rendah. Akan tetapi
karena dia tidak ingin Cin Cin dirampas orang, hal yang akan membuat dia dua kali kehilangan anak
yang dijaganya, dia mengelebatkan goloknya untuk membabat tangan wanita berpakaian putih itu,
tentu saja hanya dengan gerakan ancaman.
Akan tetapi, tiba-tiba saja tangan yang menggerakkan golok itu terasa lumpuh, disambar jari
tangan wanita itu dan di lain saat, entah secara bagaimana dia tidak tahu, karena gerakan wanita
itu terlalu cepat baginya, tubuh Cin Cin sudah terlepas dari atas pundaknya dan anak perempuan
itu tahu-tahu telah berdiri di samping wanita baju putih itu!
Kini Pek-gu marah sekali. Dia tidak perdull akan kecantikan wanita baju putih itu. Diputarnya
goloknya di kepala dan diapun berteriak, "Kernbalikan anak itu kepadaku!"
"Bangkai anjing!" Mo-1i (Iblis betina) berseru lembut dan ia bergerak maju memapak Pek-gu
yang menyerang dengan bacokan golok. Tangan yang kecil halus itu diangkat menyambut golok
dengan begitu saja ia menangkap golok yang nyambar kepalanya. Golok itu berhenti seperti
tersedot dan sebelum Pek-gu tahu apa yang terjadi, tangan kiri Mo-li sudah menampar dadanya.
"Plakk!" Tamparan itu kelihatannya tidak keras, akan tetapi akibatnya hebat karena tubuh Pekgu
terjengkang dan ia berkelojotan sebentar lalu terdiam. Tewas dan baju di dadanya seperti
terbakar dan nampak bekas telapak tangan di sana!
Tentu saja Hek-gu terkejut dan marah sekali, demikian pula kawan-kawannya. Sembilan orang
itu, dengan senjata masing-masing, sudah maju mengeroyok Mo-li. Bagaikan seekor kupu-kupu
menari-nari di antara bunga-bunga di taman, tubuh yang berpakaian putih itu berloncatan atau
seperti beterbangan dan berturut-turut sembilan orang tukang pukul itu roboh tanpa mengeluarkan
suara dan mereka tidak dapat bangun kembali karena setiap kali terkena pukulan, mereka roboh
dan tewas!
Semua itu terjadi dalam waktu yang amat singkat sehingga Cin Cin memandang dengan
bengong. Kemudian, anak yang cerdik itu merasa yakin bahwa wanita berpakaian putih itu adalah
seorang yang sakti, jauh lebih lihai dibandingkan bibi Sim Lan Ci yang pernah ia kagumi.
Ia cepat menghampiri wanita itu dan menjatuhkan diri berlutut di depan dua kaki wanita itu.
"Bibi, selain menghaturkan terima kasih atas pertolonganmu, aku juga mohon sudilah bibi
menerimaku sebagai murid bibi." Tanpa menanti jawaban, langsung saja Cin Cin memberi hormat
sambil berlutut sebagaimana layaknya seorang murid memberi hormat kepada gurunya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Hemm. kenapa sebelum kuterima kau sebagai murid, engkau sudah menghormatiku sebagai
gurumu?"
"Karena aku yakin subo ( ibu guru pasti akan menerimaku sebagai murid ).!" Mo-li mengerutkan
alisnya. "Eh, bagaimana engkau bisa yakin?"
"Subo telah bersusah payah menyelamatkan aku dari tangan anjing-anjing ini. Apa artinya
pertolongan itu kalau subo tidak menerimaku sebagai murid. Semua jerih payah subo tadi akan siasia
belaka. Karena itu, aku yakin bahwa subo tentu menolongku untuk menerimaku sebagai murid."
Sepasang mata yang jeli itu terbelalak, kemudian wajah cantik itu membayangkan senyum
gembira. Tung-hai Mo-li adalah seorang wanita aneh, seorang datuk sesat. Maka, melihat watak
anak perempuan yang tabah, lincah, pandai bicara dan ugal-ugalan ini, timbul rasa suka di hatinya.
Ia memang tidak pernah mau menerima murid, dan begitu bertemu dengan Cin Cin, melihat betapa
anak perempuan yang tidak berdaya itu berani memaki-maki segerombolan pengawal yang kasar
dan jahat, hatinya tertarik dan ia merasa suka sekali.
Dan ucapan anak itu memang benar. Kalau tidak tertarik dan tidak suka kepada anak itu, untuk
apa ia turun tangan menbunuh sepuluh orang pengawal tadi? Biasanya, ia tidak suka mencampuri
urusan orang dan tidak perduli apakah ada kejahatan terjadi di depan hidungnya atau tidak, selama
peristiwa itu tidak menyangkut dirinya!
"Siapakah engkau? Dan kenapa engkau menjadi tawanan mereka ini? Ceritakan semua, singkat
saja. Aku ingin mengetahui riwayatmu."
"Namaku Kam Cin, biasa disebut Cin Cin, usiaku sekarang delapan tahun. Tiga tahun yang lalu
ayahku dibunuh penjahat, ibuku diculik penjahat, seluruh keluargaku dibasmi gerombolan penjahat.
Seorang sute dari ayahku mendapat tugas untuk membawa aku pergi mengungsi, akan tetapi di
kota Ji-goan, paman yang culas itu menjual aku kepada Cia Ma, pemilik rumah pelesir Ang-hwa. Di
sana aku dipelihara dan dididik selama tiga tahun dan hari ini aku oleh Cia Ma dijual kepada
seorang pembesar Coa di kota raja. Sepuluh orang ini mengawalku ke rumah pembesar itu dan di
tempat ini, aku melihat kesempatan untuk melarikan diri."
Mo-li mendengarkan dengan kagum dan ia melihat sabuk sutera yang masih mengikat kedua
tangan gadis kecil itu. "Kenapa baru sekarang engkau melarikan diri dan sampai tiga tahun tinggal
rumah kotor itu?" tanyanya ragu.
"Begini, bibi, eh. subo. Ketika aku oleh paman jahanam itu dijual kepada Cia Ma, aku sudah
memberontak dan melawan, bahkan aku sempat melarikan diri. Akan tetapi aku tertangkap kembali
dan aku lalu menggunakan siasat untuk menurut dan tidak memberontak. Dengan demikian. selain
mendapatkan perlakukan wajar, aku diajar pula membaca, menulis dan lain kesenian, dan aku
memperoleh kebebasan. Aku selalu mencari kesempatan baik. Siapa kira, nenek gendut itu
menjualku kepada pembesar itu. Maka, dalam perjalanan aku nekat mencoba untuk melarikan diri."
Mo-li mengangguk-angguk. Ia suka kepada anak ini, tertarik melihat sikapnya, akan tetapi ia
tidak tertarik mendengar riwayatnya, tidak ingin tahu siapa keluarga anak ini yang katanya dibasmi
orang jahat. "Baiklah, kalau engkau mau belajar dengan rajin, aku mau mengajarkan ilmuku
kepadamu. Akan tetapi sekali saja engkau mengecewakan hatiku atau bermalas-malasan, engkau
akan kubunuh!"
Diam-diam bergidik juga hati Cin Cin mendengar ancaman ini, dan ia yang menjadi puteri ketua
perkumpulan orang gagah Hek-houw-pang dan banyak mendengar tentang orang-orang kangouw
yang aneh, dapat menduga bahwa wanita cantik ini tentu seorang tokoh sesat.
"Baik, subo. Aku akan selalu mentaati perintah subo."
"Nah. majulah ke sini!" kata Mo-li dan begitu Cin Cin melangkah maju, tangannya bergerak.
Cin Cin hanya merasa ada renggutan pada tali yang mengikat kedua tnngannya dan tali sabuk
sutera itupun putus! Ia semakin kagum. Gurunya itu tidak kelihatan menyentuh sabuk sutera itu,
akan tetapi sabuk itu putus.
"Mari kita pergi!" kata pula Mo-li dengan singkat.
"Nanti dulu, subo."
"Ehh?" Mo-li memandang dengan alis berkerut, matanya mencorong. Kembali Cin Cin merasa
ngeri. Ia harus berhati-hati menghadapi gurunya ini. Salah-salah sekali tangan gurunya bergerak,
belum ia tahu apa yang terjadi, ia sudah menggeletak dan tewas seperti sepuluh orang itu!
"Subo, di sana masih ada kusir kereta. Apakah dia dibiarkan saja menjadi saksi semua ini?" Ia
menuding ke arah jalan di mana nampak sebuah kereta. Pada saat itu, terdengar suara dari kereta
itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Heiii! Kenapa lama amat menangkap anak itu? Kalian cepat kembali ke sini agar dapat
melanjutkan perjalanan!" Itulah suara kusir kereta.
"Mari kita ke sana!" kata Mo-li sambil berlari ke arah jalan itu, diikuti oleh Cin Cin.
Kusir kereta memandang heran ketika melihat anak perempuan itu datang bersama seorang
wanita cantik dan tidak nampak seorangpun di antara pengawal yang melakukan pengejaran tadi.
Ketika Mo-li tiba di depannya, kusir itu memandang heran dan kagum. "Siapa engkau? Mana
mereka dan apa yang terjadi ?"
Baru saja dia menutup mulutnya, dia terpelanting roboh dari atas kereta, terjungkal dan tewas
seketika.
Dengan tenang Mo-li berpaling kepada Cin Cin. "Apakah masih ada lagi di antara mereka?"
Cin Cin menelan ludah. Kalau sepuluh orang tadi roboh dibunuh, ia tidak merasa ngeri bahkan
bersyukur karena mereka merupakan ancaman baginya. Akan tetapi selama dalam perjalanan kusir
kereta itu tidak pernah bersikap galak dan tingkah lakunya tidak seperti sepuluh orang tukang pukul
itu. Melihat dia dibunuh seperti itu oleh gurunya, mau tidak mau ia merasa ngeri juga. Gurunya ini
mengingatkan ia akan para penjahat yang mengamuk di Hek-houw-pang. Sekejam mereka, kalau
tidak lebih kejam lagi malah. Akan tetapi ia perlu mempelajari ilmu silat tinggi. Kelak ia harus
mencari para pembunuh ayahnya, dan mencari penjahat yang menculik ibunya. Tanpa ilmu yang
tinggi, ia hanya akan menjadi beban penghinaan orang lain. Ia kelak juga harus mencari Lai Kun,
untuk menghukumnya.
Mo-li memilih dua ekor kuda terbaik di antara kuda-kuda yang berada di situ, kemudian
mengajak muridnya naik kuda dan pergi dari situ. Ia sama sekali tidak bicara, dan Cin Cin juga
tidak bertanya apa-apa, hanya mengikuti gurunya.
ooo0000ooo
The Siong Ki baru berusia enam tahun, akan tetapi dia seorang anak yang cerdik dan
pemberani. Dalam usia sekecil itu, dia telah kehilangan ayah ibunya. Bahkan dalam keadaan putus
asa ditinggalkan orang tuanya, harapannya timbul ketika dia bertemu Poa Liu Hwa, istri pangcu
(ketua) Hek-houw pang dan dia diangkat murid oleh Poa Liu Hwa. Akan tetapi, harapan itu hancur
kembali ketika dia melihat betapa subo (ibu guru) itu bukan seorang wanita yang memiliki
kepandaian tinggi. Bahkan menghadapi musuhnya menjadi tidak berdaya, dan hal ini
mengecewakan hatinya. Apa lagi ketika muncul laki-laki tinggi besar bernama Lie Koan Tek itu,
yang menurut keterangan dari pria muda tampan yang menyerang subonya, adalah pembunuh
ayahnya, dia diam-diam segera meninggalkan tempat subonya berkelahi. Dia harus pergi, mencari
guru yang lebih tangguh dan dia tahu ke mana harus mencari guru yang sakti. Dia teringat akan
pendekar sakti Si Han Beng yang berjuluk Huang-ho Sin-liong (Naga Sakti Sungai Kuning), yang
bertempat tinggal di dusun Hong-cun di lembah Huang-ho. Dia tahu bahwa Kam Cin atau Cin Cin,
puteri subonya itu sendiri diantar oleh paman gurunya, Lai Kun untuk mengungsi ke Hong-cun dan
menjadi murid pendekar sakti itu. Dia akan menyusul ke sana dan dia akan mohon agar diterima
menjadi murid, bersama Cin Cin!
Untuk menjamin keselamatannya dalam perjalanan, Siong Ki sengaja membiarkan pakaiannya
compang-camping seperti seorang anak jembel. Dengan demikian tidak ada orang yang suka
mendekatinya apa lagi mengganggunya. Gangguan orang lain selalu hanya karena yang diganggu
memiliki kelebihan, yaitu keindahan pakaian dan uang, ketampanan atau kecantikan wajah,
kepandaian dan sebagainya yang menimbulkan iri hati dalam hati orang lain. Siapa yang akan
mengganggu seorang anak jembel yang kotor, miskin, bodoh dan papa? Padahal, Siong Ki
menyimpan perak cukup banyak, bahkan sedikit emas, untuk bekal.
Dengan cara menghemat, juga tidak sampai ketahuan orang lain kalau dia membelanjakannya,
dia dapat melakukan perjalan yang amat jauh itu dengan selamat. Beberapa bulan kemudian,
tibalah ia di lembah Huang-ho dan dengan bertanya-tanya, akhirnya dapat juga ia memperoleh
keterangan di mana adanya dusun Hong-cun, tempat tinggal pendekar sakti Si Han Beng itu. Tentu
saja ia cukup cerdik untuk tidak menyebut-nyebut nama pendekar itu, karena hal ini akan
menimbulkan kecurigaan dan menarik perhatian orang. Tentu mengherankan kalau seorang anak
pengemis bertanya-tanya tentang seorang pendekar sakti seperti Huang-ho Sin-liong Si Han Beng
itu!
Akhirnya, setelah melakukan perjalanan yang amat jauh dan lama karena dia mencari-cari dan
bertanya-tanya sepanjang jalan, pada siang hari itu Siong Ki berhasil tiba di pekarangan depan
rumah pendekar sakti Si Han Beng.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tentu saja setelah tiba di dusun Hong-cun, amat mudah bagi Siong Ki mencari rumah besar itu.
Semua orang mengenal keluarga Si ini. Si Han Beng adalah seorang pendekar sakti, walaupun dia
dan keluarganya hidup sederhana sebagai petani di dusun itu. Melihat keadaan keluarganya yang
hidup sederhana, tentu tidak ada orang yang menyangka bahwa dia adalah Naga Sakti Sungai
Huang-ho yang namanya pernah menggemparkan dunia kangouw, terutama di sepanjang sungai
besar itu.
Si Han Beng masih muda, baru dua puluh tujuh tahun usianya, namun dia sudah membuat
nama besar dengan sepak terjangnya yang gagah perkasa. Tubuhnya tinggi besar dan gagah,
wajahnya tampan dan sikapnya pendiam. Pakaiannya sederhana seperti petani biasa.
Satu-satunya yang menunjukkan bahwa dia seorang pendekar sakti barangkali adalah matanya.
Mata itu mencorong seperti mata seekor seekor naga! Dia telah mewarisi ilmu-ilmu dari Si Rajawali
Sakti Liu Bhok Ki, dari Raja Pengemis Sin-ciang Kai-ong, dan terakhir sekali dari pertapa sakti Pek I
Tojin. Tidak mengherankan kalau Si Han Beng memiliki ilmu kepandaian yang bebat.
Isterinya juga seorang pendekar wanita yang tingkat kepandaiannya hampir menandingi
suaminya. Isterinya bernama Bu Giok Cu, baru berusia duapuluh lima tahun. Wanita ini cantik jelita,
lincah jenaka dan cerdik. Ia pernah mewarisi ilmu-ilmu yang dahsyat dan ganas dari Ban-tok Mo-li
(Iblis Betina Selaksa Racun), kemudian digembleng oleh Hek Bin Hwesio, seorang pendeta Siauw-
Lim-pai yang suka mengembara dan yang memiliki ilmu kepandaian hebat.
Tiga tahun mereka menikah dan mereka mempunyai seorang anak perempuan yang mereka
beri nama Si Hong Lan dengan panggilan sehari-hari Lan Lan. Anak itu kini sudah dua tahun
usianya. Seorang anak yang sehat dan mungil.
Dengan jantung berdebar karena tegang, harap-harap cemas, Siong Ki berdiri di pekarangan
rumah keluarga Si.
Dia mengharapkan akan melihat Kam Cin di situ. Kalau saja Cin Cin yang lebih dahulu keluar dan
melihatnya, tentu anak perempuan itu akan mengenalnya. Karena mereka adalah kawan bermain
sejak kecil. Dan perjumpaan itu tentu akan memudahkan dia untuk menghadap pendekar sakti Si
Han Beng, untuk mohon agar diterima sebagai murid, seperti halnya Cin Cin.
Akan tetapi yang keluar adalah seorang laki-laki setengah tua yang berpakaian seperti pelayan.
Melihat seorang anak laki-laki berpakaian jembel berdiri di pekarangan, laki-laki itu menghampiri
dan menegurnya.
"Mau apa engkau berdiri di sini? Ayo cepat pergi, anak malas!"
Siong Ki mengamati orang itu. Pasti bukan pendekar sakti Si Han Beng pikirnya. Menurut cerita
yang didenngarnya, pendekar besar itu belum ada tiga puluh tahun usianya, sedangkan pria ini
sedikitnya tentu empatpuluh tahun.Dan teguran itu demikian kakunya, begitu bertemu, tanpa
alasan dia dimaki sebagai anak malas.
"Paman, aku bukan anak pemalas," ia membantah.
Orang itu mendekat dan matanya memancarkan kemarahan. "Apa? Engkau bukan anak
pemalas? Lihat pakaianmu. Engkau seorang pengemis, bukan? Semua pengemis yang bertubuh
sehat dan tidak cacat adalah pemalas! Tidak mau bekerja. Engkau tentu bukan anak dusun ini,
karena di sini tidak ada pengemis. Hayo cepat pergi, jangan berdiri saja di pekarangan ini. Lebih
baik engkau segera keluar dari dusun ini karena takkan ada seorangpun suka memberi derma
kepada seorang pemalas!"
Wajah Siong Ki berubah kemerahan. Dia marah sekali, akan tetapi dia masih dapat menahan
kesabarannya, karena tengingat bahwa dia telah berada di pekarangan rumah pendekar yang dia
harapkan suka menerimanya sebagai murid.
"Paman, kuharap paman jangan menilai seseorang dari pakaiannya. Aku melakukan perjalanan
jauh dan demi keamanan di dalam perjalanan, aku sengaja mengenakan pakaian yang butut agar
disangka pengemis dan tidak diganggu orang. Aku bukan pemalas, dan tidak pernah minta-minta,
paman. Kalau paman tidak percaya, ini masih ada sisa bekalku untuk biaya perjalananku." Dia
mengeluarkan kantung kecil di mana masih ada dua potong emas dan beberapa potong perak.
Ketika dia membuka kantong kecil itu dan memperlihatkan isinya orang itu tercengang, akan tetapi
pandang matanya terhadap Siong Ki berubah. Kini penuh perhatian dan tertarik.
"Hemm, anak yang aneh, siapakah kau dan mengapa pula engkau datang ke sini?"
"Panjang ceritanya, paman. Aku datang ke sini untuk menghadap tai-hiap (Pendekar besar) Si
Han Beng. Kalau paman seorang di antara para penghuni rumah ini, kuharap paman suka
memberitahukan kepada Si-taihiap bahwa aku mohon menghadap."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Nanti dulu, tidak begitu mudah untuk bertemu dengan Si-taihiap, apalagi seorang anak kecil
seperti engkau. Katakan dulu siapa namamu, dan dari mana engkau datang sehingga aku akan
mempertimbangkan apakah sudah pantas kulaporkan kepadanya tentang kunjunganmu."
Kini tahulah Siong Ki bahwa orang ini adalah seorang pelayan, atau setidaknya seorang
pembantu dari keluarga Si, maka giranglah hatinya dan diapun bersikap lebih ramah dan sopan.
"Paman yang baik, terima kasih sebelumnya atas kebaikanmu. Namaku adalah The Siong Ki. Harap
paman laporkan kepada Si Tai-hiap bahwa ayahku adalah murid Hek-houw-pang, suheng dari ketua
Hek-houw-pang dan bahwa kedatanganku membawa berita yang amat penting tentang Hek-houwpang.
Kukira Si tai-hiap nanti sudi untuk menerimaku menghadap, paman."
Pembantu itu mengangguk-angguk, "Aku pernah mendengar tentang Hek-houw-pang. Baik,
akan kulaporkan kepada Taihiap. Kau tunggulah di sini, Siong Ki."
"Terima kasih, paman."
Pembantu itu masuk ke dalam melalui pintu samping dari mana tadi dia keluar dan Siong Ki
menanti dengan jantung berdebar tegang. Kalau Cin Cin sudah berada di situ, tentu keluarga Si
sudah mendengar tentang malapetaka yang menimpa Hek-houw-pang, dan namanya tentu akan
dikenal Cin Cin dan mereka tentu akan menerimanya dengan baik. Andaikata Cin Cin belum tiba di
situ, hal yang tidak mungkin karena tentu anak perempuan yang diantar oleh susioknya Lai Kun,
tentu dapat melakukan perjalanan lebih cepat darinya, maka dengan mendengar nama Hek houwpang,
pendekar itu tentu akan tertarik pula dan suka menerimanya.
Dugaan Siong Ki memang benar. Begitu Si Han Beng dan isterinya, Bu Giok Cu, mendengar
laporan pembantu mereka bahwa di luar ada seorang anak laki-laki berusia enam tujuh tahun
bernama The Siong Ki yang mengaku sebagai murid keponakan ketua Hek-houw-pang, suami isteri
pendekar itu segera keluar menyambut. Bu Giok Cu menggendong putrinya, Lan Lan yang berusia
dua tahun lebih.
Akan tetapi, suami isteri itu merasa heran ketika melihat bahwa yang berada di luar hanya
seorang anak laki-laki yang melihat keadaan diri dan pakaiannya, jelas seorang jembel atau
pengemis kotor!
Pembantu mereka tadi tidak atau belum menceritakan keadaan anak itu.
Melihat munculnya seorang pria muda tinggi besar dan gagah yang pakaiannya sederhana
seperti petani, bersama seorang wanita menggendong anak perempuan berusia dua tahun, dan
wanita itu cantik dan bermata tajam, Siong Ki tidak merasa ragu lagi. Tentu ini yang bernama
Si Han Beng dan berjuluk Naga Sakti Sungai Huangho itu! Tanpa ragu lagi ia lalu menghampiri
dan menjatuhkan diri berlutut di depan suami isteri itu.
"Saya The Siong Ki menghaturkan hormat saya kepada Tai-hiap Si Han Beng berdua, dan
mohon maaf kalau kedatangan saya ini mengganggu taihiap."
Si Han Beng dan Bu Giok Cu saling pandang. Sikap anak ini jelas menunjukkan bahwa dia bukan
seorang jembel biasa.
''Anak baik, kami tidak mengenalmu. Benarkah engkau dari Hek-houw-pang? Kalau benar
demikian, mengapa engkau datang ke sini minta berjumpa dengan kami?"
Siong Ki masih berlutut. "Taihiap ayah saya bernama The Ci Kok dan dia adalah suheng dari
Hek-houw-pang Pangcu Kam Seng Hin. Hek-houw-pang tertimpa malapetaka, tentu taihiap berdua
sudah mendengar akan hal itu dari adik Cin Cin."
Suami isteri itu saling pandang, kemudian Bu Giok Cu yang berkata, "Apa maksudmu, Siong Ki?
Siapa itu Cin Cin? Kami belum mendengar apa-apa tentang Hek-houw-pang." Suaminya cepat
menambahkan. "Siong mari kita masuk ke dalam dan kau ceritakan apa yang telah terjadi."
Bukan main girangnya hati Siong Ki. Seperti telah digambarkannya, ternyata suami isteri
pendekar itu ramah. Dia mengikuti mereka masuk ke dalam rumah yang cukup besar itu dan diamdiam
dia merasa heran mengapa tidak nampak Cin Cin keluar menyambutnya. Apa lagi tadi isteri
pendekar itu mengatakan tidak mengenal Cin Cin. Sungguh aneh! Ini berarti bahwa Cin Cin belum
tiba di tempat itu.
Mereka memasuki ruangan dalam dan Giok Cu menyuruh Siong Ki duduk lalu berkata, "Engkau
lapar dan ingin makan dulu sebelum bercerita?" Suaminya mengangguk membenarkan karena
diapun merasa kasihan kepada anak yang keadaannya seperti seorang anak jembel itu.
Wajah Siong Ki berubah merah dan diam-diam dia merasa mendongkol juga. Akan tetapi dia
dapat memaklumi. Suami isteri ini tentu menganggap dia telah menjadi pengemis yang terlantar
dan kelaparan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Terima kasih, tadi saya sudah membeli sarapan pagi sebelum berkunjung ke sini." Mendengar
ini, suami isteri itu kembali saling pandang. Seorang anak jembel membeli sarapan pagi? Ganjil
sekali.!
"Hemm, engkau mempunyai uang untuk membeli sarapan?" tanya Han Beng yang merasa
heran.
Dengan tenang Siong Ki mengeluarkan lagi kantung kain dan membuka kantung itu
memperlihatkan isinya. Suami isteri itu terbelalak. Emas dan perak dalam kantung itu memang
cukup untuk membeli makanan selama berbulan-bulan.!
"Hemm, engkau mempunyai uang akan tetapi mengenakan pakaian jembel? Siong Ki, apa
artinya ini dan mengapa pula engkau meninggalkan Hek-houw-pang dan melakukan perjalanan
jauh sampai ke sini?"
"Taihiap, sebelum saya menjawab, harap beri tahukan lebih dulu kepada saya, apakah adik Kam
Cin, puteri susiok, yaitu ketua Hek-houw-pang, belum tiba di sini?"
Suami isteri itu menggeleng kepala, Si Han Beng memang tidak mempunyai hubungan dengan
Hek-houw-pang, akan tetapi karena dia merupakan adik angkat dari Coa Siang Lee, dan Siang Lee
adalah keturunan keluarga Coa yang menjadi pimpinan Hek-houw-pang, maka dia mengenal Hekhouw-
pang.
"Tidak ada dari Hek-houw-pang yang datang ke sini sebelum engkau. Siong Ki duduklah yang
baik dan ceritakan segala apa yang terjadi di Hek-houw-pang. Kaubilang tadi Hek-houw-pang
tertimpa malapetaka?"
Slong Ki lalu menceritakan semua peristiwa yang terjadi, betapa Hek-houw-pang diserbu
gerombolan pemberontak, anak buah pemberontak Cian Bu Ong, karena Hek-houw-pang
membantu pemerintahan kerajaan baru untuk mengamankan daerah.
"Dalam penyerbuan yang dilakukan oleh penjahat-penjahat yang berkepandaian tinggi itu,
hampir semua anggota Hek-houw-pang terbasmi dan tewas. Pangcu Kam Seng Hin sendiri tewas.
Juga ayah saya, The Ci Kok, suheng dari pangcu, tewas oleh gerombolan sehingga saya menjadi
yatim-piatu karena ibu sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Di antara puluhan orang
anggota Hek-houw-pang yang tewas, juga terdapat susiok (paman guru) Coa Siang Lee yang
kebetulan datang bertamu bersama isteri dan puteranya....."
"Ahhh.....!!" Si Han Beng berseru kaget bukan main mendengar bahwa kakak angkatnya juga
tewas dalam pertempuran ketika Hek-houw-pang diserbu para pemberontak. "Kanda Coa Siang Lee
tewas......? Bagaimana dengan isterinya, enci Sim Lan Ci dan putera mereka. Coa Thian Ki?"
"Menurut keterangan yang melihatnya, ibu dan anak itu diculik dan dilarikan penjahat."
"Ahhhh........!" Si Han Beng semakin terkejut dan juga khawatir mendengar ini. "Dan bagaimana
dengan kakek Coa Song.......?"
"Kakek meninggal dunia karena duka dan sakit setelah terjadi peristiwa yang mendatangkan
malapetaka bagi Hek-houw-pang itu. Sebelum meninggal, kakek Coa Song berpesan agar cucunya,
yaitu adik Kam Cin yang selamat dari pembasmian itu, diantar ke sini untuk berguru kepada ji-wi.
Yang mengantarkan adik Cin Cin adalah susiok Lai Kun. Sungguh aneh sekali mengapa mereka
belum juga tiba di sini, sedangkan saya yang berangkat beberapa hari kemudian dan melakukan
perjalanan sukar dan lambat, bisa sampai di sini lebih dulu."
"Siong Ki, engkau yang sudah yatim piatu, mengapa engkau meninggalkan rumah orang tuamu
di Ta-bun-cung dan bersusah payah datang ke tempat ini yang sangat jauh?" Si Han Beng bertanya
sambil memandang tajam.
Mendengar pertanyaan ini, Siong Ki tampak sedih sekali. "Taihiap, tadinya saya ingin membunuh
diri saja di depan makam ayah. Saya sudah putus asa, tidak mempunyai keluarga lagi, dan untuk
membalas kematian ayah dan semua saudara Hek-houw-pang, saya tidak memiliki kemampuan.
Ketika saya berada di makam, tiba-tiba muncul bibi Poa Liu Hoa, yaitu isteri mendiang susiok Kam
Seng Hin. Ia membujuk saya dan saya mau diangkat menjadi muridnya. Lalu kami pergi, hendak
menyusul adik Cin Cin ke sini. Akan tetapi di tengah perjalanan kami bertemu dengan perampok
dan melihat bibi Poa Liu Hwa tidak mampu melawan para penjahat, saya pikir tidak ada gunanya
menjadi muridnya. Maka, saya lalu melarikan diri dan seorang diri melakukan perjalanan ke sini.
Agar aman dalam perjalanan, saya menyamar sebagai seorang pengemis, dan menggunakan uang
peninggalan ayah, saya akhirnya dapat menghadap taihiap di sini."
Kembali suami isteri itu saling pandang. Diam-diam mereka merasa kagum. Seorang anak
berusia enam tujuh tahun berani menempuh perjalanan sejauh itu seorang diri saja dan berhasil
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mencapai tujuan. Ini membutuhkan keberanian dan keteguhan hati, besarnya semangat dan tahan
uji. Seorang anak yang baik.
"Dan apa maksudmu datang menghadap kami di sini?" tanya pula Han Beng.
Mendengar pertanyaan ini, Siong Ki tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Han Beng
dan menangis. Akan tetapi hanya sebentar dia menangis karena dia sudah dapat menguatkan
hatinya lalu berkata, "Saya mohon taihiap sudi menerima saya sebagai murid. Tujuan hidup saya
hanya satu, yaitu kelak kalau sudah memiliki kepandaian, saya akan mencari para pembunuh ayah
dan pembasmi Hek-houw-pang untuk membalas dendam. Saya mau bekerja apa saja, menjadi
pelayan, pembantu atau apa saja, asal taihiap sudi menerima saya menjadi murid."
Kembali suami isteri itu saling pandang. Sebetulnya, mereka tidak mempunyai niat untuk
menerima murid. Mereka mengambil keputusan untuk mewariskan semua kepandaian mereka kelak
kepada Lan Lan, puteri dan anak mereka satu-satunya, kecuali kalau kelak mereka mendapatkan
anak lagi. Mereka hanya akan menurunkan ilmu-ilmu mereka kepada anak-anak mereka. Akan
tetapi, melihat kesungguhan hati Siong Ki, dan mengingat akan nasib anak itu, hati Han Beng
merasa tidak tega untuk menolaknya. Apa lagi, anak itu baik dan teguh hati, tabah dan kelak dapat
menjadi pengasuh dan kawan bermain Lan Lan yang membutuhkan contoh anak lain yang lebih tua
dan yang berwatak baik. Maka diapun memberi isyarat dengan mata pada isterinya, kemudian
berkata dengan suara yang tegas.
"The Siong Ki, melihat keadaanmu aku dapat menerimamu sebagai murid, hanya dengan
beberapa syarat. Sanggupkah engkau memenuhi syarat-syarat itu, mentaatinya dan sanggup
menerima hukumannya kalau melanggar?"
Dapat dibayangkan betapa besar rasa girang dalam hati anak itu. Dia lalu memberi hormat
dengan membentur-benturkan dahinya di lantai. "Teecu (murid) The Siong Ki bersumpah bahwa
teecu akan mentaati semua perintah suhu akan memenuhi semua syarat yang suhu ajukan dan
sanggup pula menerima hukumannya kalau kelak teecu melanggar."
Si Han Beng tersenyum. Wajahnya cerah. Anak ini tanpa diminta bahkan telah bersumpah. Hal
ini membuktikan kesungguhan hatinya.
"Dengar baik-baik syaratku. Pertama semua ceritamu tentang keadaan dirimu tadi tidak bohong
dan benar. Kedua, engkau harus belajar dengan rajin dan mentaati semua perintahku. Ke tiga,
engkau tidak boleh mempergunakan ilmu silat yang kuajarkan kepadamu untuk berbuat jahat dan
sewenang-wenang. Ke empat, engkau harus dapat menjadi teladan anak kami Si Hong Lan ini,
menyayang dan mengasuhnya, dan kelak membantu dan melindunginya seperti adikmu sendiri.
Nah, kalau engkau melanggar satu di antara empat syarat itu, kelak aku akan menghukummu dan
mencabut semua ilmu darimu dengan membuatmu cacat seumur hidup!"
Tanpa ragu Siong Ki mengangguk."Teecu sanggup memenuhi semua syarat itu dan
menanggung hukumannya kalau melanggar.!"
"Bagus! Mulai saat ini, aku adalah suhumu. Akan tetapi ingat, hanya aku yang menjadi gurumu.
Isteriku tidak akan mengajarmu, dan engkau panggil bibi kepadanya, bukan subo (ibu guru)!"
"Baik, suhu."
Han Beng sengaja mengeluarkan janji itu, karena dia berhati-hati. Kelak bagaimanapun juga,
tingkat kepandaian anak-anaknya harus lebih tinggi daripada tingkat kepandaian muridnya.
Sehingga kalau dia dan isterinya sudah tidak ada, anak-anaknya akan mampu mengendalikan
muridnya kalau-kalau dia menyeleweng. Kalau dia seorang diri yang mengajarkan ilmu kepada
Siong Ki sedangkan anak-anak mereka kelak menerima gemblengan dari dia dan isterinya maka
tentu Siong Ki tidak akan mampu menandingi anak mereka yang menguasai ilmu gabungan
mereka, biarpun andaikata Siong Ki memiliki bakat yang lebih baik.
Ilmu kepandaiannya dan ilmu kepandaian isterinya jauh berbeda, dari dua aliran yang sama
sekali berbeda dan memiliki kehebatan masing-masing.
Demikianlah, mulai hari itu, Siong Ki menjadi murid Si Han Beng dan tinggal di rumah pendekar
itu. Dan dia memang merupakan seorang anak yang amat menyenangkan hati Si Han Beng dan Bu
Giok Cu karena dia rajin bukan main. Dia mau mengerjakan apa saja, membereskan rumah dan
pekarangan, bekerja di sawah ladang, bahkan mengajak Lan Lan bermain. Maka, Han Beng juga
dengan sungguh hati mulai mengajarkan dasar-dasar ilmu silat kepada Siong Ki.
Tentang malapetaka yang menimpa Hek-houw-pang Han Beng dan Giok Cu tidak dapat berbuat
apa-apa. Mereka ikut prihatin dan malam itu juga, Han Beng membuat sembahyang untuk arwah
kakak angkatnya, Coa Siang Lee, dan mengundang pendeta dari kuil untuk mengatur upacaranya.
Hanya itu yang dapat dia lakukan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ooo0000ooo
Ketika Kerajaan Sui jatuh oleh pemberontakan Li Sie Bin dalam tahun 614 dan kaisar terakhir
Kerajaan Sui yang bernama Yang Ti melarikan diri ke daerah Yang-couw dan kemudian dibunuh
oleh kaum pemberontak, maka Li Si Bin lalu mendirikan wangsa baru, yaitu kerajaan Tang. Li Si Bin
pula yang membujuk ayahnya yang bernama Li Goan, untuk naik tahta menjadi kaisar pertama dari
kerajaan baru Tang, dan berjuluk Kaisar Tang Kao Cu.
Ada dua hal yang menjadi tujuan dari siasat Li Si Bin mengangkat ayahnya sebagai kaisar ini.
Pertama, untuk darma-bakti kepada ayahnya dan hal seperti ini amat dihargai oleh rakyat dan
kedua, dia akan dapat lebih memusatkan tenaga, waktu dan perhatiann untuk memimpin
pasukannya menaklukkan seluruh daerah. Kalau dia yang menjadi kaisar, tentu dia tidak begitu
leluasa melakukan perang terhadap para pemberontak yang mula-mula tidak mau mengakui
kerajaan baru Tang sebagai yang dipertuan. Akan tetapi, dengan ayahnya menjadi kaisar yang
mengatur roda pemerintahan, sedangkan dia sendiri menjadi panglima besar yang menggerakkan
aksi-aksi pembersihan, maka dia dapat bekerja sepenuh hati.
Siasat ini berhasil baik. Dalam waktu beberapa tahun saja, seluruh wilayah kekuasaan yang
tadinya dimiliki Kerajaan Sui, telah dapat direbutnya dan semua pemberontak atau sisa-sisa
kekuatan yang masih setia terhadap Kerajaan Sui yang sudah runtuh, atau kekuatan-kekuatan yang
ingin berdiri sendiri dan tidak mau tunduk kepada kerajaan baru Tang, dapat dihancurkan dan
ditundukkan. Bahkan semua perlawanan yang dilakukan oleh Cian Bu Ong, bekas pangeran
kerajaan Sui, dapat pula dilumpuhkan, Pangeran Cian Bu Ong kekurangan pendukung, maka tidak
mungkin dia dapat melawan kekuatan pasukan besar Kerajaan Tang.
Akhirnya, Pangeran Cian Bu Ong terpaksa melarikan diri dan menghentikan usahanya untuk
menegakkan kembali kerajaan Sui.
Sim Lan Ci yang sudah kematian suaminya, ketika melihat bahwa Pangeran Cian Bu Ong benarbenar
seorang pangeran yang setia kepada Kerajaan Sui dan berusaha menegakkan kembali
kerajaan itu, membantu sekuat tenaga. Sim Lan Ci merasa berhutang budi kepada pangeran ini,
dan karena Pangeran Cian Bu Ong bersikap sopan dan baik kepadanya, bahkan bersikap
menyayang kepada puteranya, Coa Thian Ki yang diangkat menjadi murid pangeran itu, ikut pula
melarikan diri mengungsi bersama sang Pangeran ke barat, ke daerah perbatasan Tibet di mana
kekuasaan Kerajaan Tang tidaklah begitu kuat.
Pangeran Cian Bu Ong tinggal di sebuah lereng bukit dimana dia membangun sebuah rumah
besaa dan hidup dengan aman.
Biarpun pangeran ini dapat hidup serba kecukupan karena dia membawa harta yang cukup
banyak, namun setelah pindah ke daerah barat itu bersama Sim Lan Ci dan Thian Ki, setiap hari dia
hanya termenung di dalam taman bunga yang dibuatnya sendiri. Pangeran yang berusia limapuluh
dua tahun ini setiap hari hanya membaca sajak sambil minum arak di taman, atau duduk melamun
di ruangan belakang. Tubuhnya yang tinggi besar itu mulai kurus, mukanya yang biasanya
kemerahan menjadi agak pucat dan sinar matanya selalu redup. Kekalahan yang dideritanya, dan
mengingat akan runtuhnya Kerajaan Sui dan terbasminya keluarga kaisar, juga terbunuhnya
keluarganya sehingga kini hanya tinggal Cian Kui Eng seorang, anak perempuannya yang baru
berusia empat tahun dan yang amat dekat dengan Sim Lan Ci. Dia hidup kesepian dan patah
semangat.
Sim Lan Ci merasa suka dan juga kasihan sekali kepada pangeran itu. Kalau dibiarkan, ia
khawatir pangeran itu akan jatuh sakit. Padahal, waktu itu, ia sendiri seperti kapal kehilangan
kemudi, dan hanya pangeran itu yang dipandangnya sebagai juru mudi dan penentu arah hidupnya.
Kini, melihat pangeran itu dalam keadaan seperti itu, tenggelam setiap hari dalam kedukaan, tentu
saja ia merasa khawatir dan ikut berduka.
Pada suatu senja, ia tidak dapat menahan lagi hatinya ketika melihat Pangeran Cian Bu Ong
kembali termenung dan duduk seperti arca di bangku dalam taman. Bukan sedang menulis sajak,
tidak pula bersamadhi atau membaca kitab, melainkan termenung seperti patung. Bahkan pangeran
yang memiliki kesaktian itu demikian tenggelam dalam renungannya sehingga tidak tahu bahwa
Sim Lan Ci memasuki taman dan menghampirinya dengan langkah ringan.
Dalam usianya yang tigapuluh tahun lebih, Sim Lan Ci masih cantik, bahkan lebih cantik karena
ia telah menjadi seorang wanita yang masak, digembleng pengalaman manis dan pahit silih
berganti. Kalau dulu, sejak gadis ia suka mengenakan pakaian sutera hitam, kini kebiasaan itu
diubahnya sejak suaminya tewas. Ia kini selalu mengenakan pakaian dari sutera putih, seolah
hendak berkabung selama hidupnya untuk kematian suaminya tercinta!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ketika ia menghampiri Pangeran Cian Bu Ong dari samping, melihat wajah pangeran itu, ia
merasa terharu. Jarang ia dapat mengamati wajah pangeran itu, dan sekarang ia mendapatkan
kesempatan, karena Pangeran itu seperti patung, tidak menengok sehingga ia berani mengamati
wajah itu. Wajah yang jantan, penuh daya tarik karena membayangkan kekuatan dan kewibawaan
sekaligus kelembutan yang diperlunak lagi oleh garis-garis kedukaan. Sudah lama dia membiarkan
rambut dan kumis jenggotnya tidak terpelihara awut-awutan, namun tidak mengurangi
kejantanannya. Seorang pria yang kuat, yang bersemangat, dan aneh, di samping ilmu kepandaian
yang tinggi.
''Pangeran..... " Sim Lan Ci memanggil lirih, sambil berhenti dan berdiri dalam jarak tiga meter
dari pangeran itu.
Pangeran Cian Bu Ong menoleh perlahan dan mencoba untuk tersenyum ketika melihat siapa
yang memanggilnya.
"Ah, kiranya engkau, nyonya Sim," katanya lembut. "Ada keperluan apakah engkau mencariku?
Aku tidak ingin makan malam sekarang, engkau ajaklah Thian Ki dan Kui Eng untuk makan malam
lebih dulu. Nanti kalau sudah lapar, aku akan makan sendiri."
Akan tetapi, Sim Lan Ci tidak pergi, masih berdiri di situ dan memandang kepada Pangeran Cian
Bu Ong dengan hati terharu dan merasa kasihan sekali. Pangeran ini selalu bersikap sopan dan
halus budi, bahkan selalu menyebutnya nyonya.
"Pangeran......"
Senyum itu getir sekali dan Cian Bu Ong mengangkat tangan kirinya ke atas seperti hendak
menangkis. "Nyonya yang baik, hentikanlah sebutan itu! Setiap kali aku mendengar sebutan
pangeran hatiku seperti ditusuk rasanya. Tidak, aku bukan pangeran lagi. Sudah lama aku bukan
pangeran, melainkan pemberontak bagi Kerajaan Tang yang baru, pemberontak yang gagal dan
sekarang bahkan hanya menjadi seorang buruan, seorang pelarian....... "
Sim Lan Ci merasa ikut pedih hatinya mendengar ucapan itu. "Baiklah, kalau begitu saya akan
menyebut Lo-cian-pwe......"
"Aih, jangan nyonya. Aku bukanlah seorang datuk atau tokoh besar di dunia persilatan." "Kalau
begitu, akan saya sebut Cian taihiap (pendekar besar Cian)........"
"Hemm, orang seperti aku ini mana pantas menjadi pendekar besar? Lebih senang hatiku kalau
kausebut aku toako (kakak besar) saja."
"Baiklah, toako. Cian-toako, terimalah hormat adikmu." Lan Ci memberi hormat dengan sikap
hormat dan sungguh-sungguh. Karena memberi hormat sambil menunduk, Lan Ci tidak melihat
betapa wajah pria itu yang selama beberapa lama ini selalu suram tiba-tiba menjadi cerah berseri.
"Terima kasih, aku senang sekali mendengar sebutan toa-ko itu, nyonya Sim......."
"Aih, toako! Mana ada seorang toako menyebut nyonya kepada adiknya?" Lan Ci cepat menegur
sambil tersenyum. Sepasang mata bekas pangeran itu terbelalak dan senyumnya berkembang
menjadi tawa yang bergelak-gelak. Dia bagaikan seorang yang telah menemukan kembali
semangatnya dan wanita muda itu memandang dengan hati terharu dan penuh rasa senang.
"Sim Lan Ci, adikku yang baik. Sungguh aku berterima kasih kepadamu, kau telah
mendatangkan kebahagiaan besar di dalam hatiku, Ci-moi (adik Ci) dan kuharap engkau tidak akan
mencabut kembali harapan dan kebahagiaanku."
"Toako, akupun merasa berbahagia melihat toako dapat tertawa gembira. Selama ini, aku ikut
prihatin melihat keadaanmu yang selalu tenggelam dalam duka. Karena itu pula maka aku ingin
menemuimu dan bicara denganmu ketika melihat engkau melamun di sini seperti setiap hari
kaulakukan, toako. Aku nya ingin mengingatkan bahwa peristiwa buruk yang menimpa diri kita,
tidak perlu dan tidak ada gunanya kalau kita sedihkan setiap hari! Hidup memang merupakan
permainan suka dan duka, kita harus menerima kedua hal itu dengan tabah dan lapang dada.
Tentu engkau ingat pula akan keadaan diriku, pangeran......eh toako! Akupun kehilangan
keluargaku, dan hidupku bersama Thian Ki sekarang hanya bersandar kepada kemuliaan hatimu
belaka. Kalau engkau yang menjadi sandaran kami tenggelam dalam duka, bagaimana pula dengan
hati kami. Kami akan kehilangan pegangan.. "
Bekas pangeran itu menatap wajah Lan Ci. Dua pasang mata bertemu pandang, melekat dan
seperti hendak saling menjenguk isi hati masing-masing. Sim Lan Ci melihat sinar kagum dan
kelembutan yang mengharukan berpencar keluar dari mata yang tajam itu. Baru sekarang ia
melihat bekas pangeran itu memandang kepadanya seperti itu, seperti mata pria memandang
wanita, dan sepasang pipinya berubah kemerahan yang membuat ia menundukkan mukanya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Moi-moi Sim Lan Ci, terima kasih......ah, terima kasih. Engkau telah mengembalikan harapan
dan semangatku untuk hidup. Engkau membuka mata hatiku bahwa hidupku masih berguna,
karena masih ada orang-orang yang membutuhkan aku. Engkau dan anakmu......... "
"Juga Kui Eng, toako." Lan Ci melanjutkan. "Juga manusia-manusia lain di dunia ini karena toako
adalah seorang yang budiman dan dermawan. Tenaga dan kemampuanmu masih dibutuhkan
banyak orang."
"Tidak, aku hanya mengutamakan engkau, anakmu dan anakku. Aku masih kalian butuhkan?"
"Tentu aaja, toako!" Jawab Lan Ci cepat.
"Akupun membutuhkan kalian, terutama engkau. Aku butuh perhatianmu, butuh sentuhan kasih
sayang........ah moi-moi Sim Lan Ci, terus terang saja aku sayang kepada anakmu, dan kini tumbuh
perasaan cinta di hatiku terhadapmu. Engkau telah memulihkan semangatku, nah, sekarang aku
meminangmu, Lan Ci. Maukah engkau menjadi isteriku?"
Sepasang mata Lan Ci terbelalak, mukanya berubah pucat, lalu merah kembali. Lamaran itu
datangnya sekonyong-konyong, tak diduganya sama sekali seperti serangan yang amat dahsyat,
mengerikan dan membuatnya sejenak bengong terlongong, hanya menatap wajah bekas Pangeran
itu tanpa mampu mengeluarkan suara jawaban!
Cian Bu Ong mengangguk-angguk dan tersenyum. "Aku dapat mengerti akan keheranan dan
kekagetanmu, Ci-moi. Nampaknya tidak sopan dan tidak pada tempatnya aku melamar seorang
wanita yang baru saja ditinggal mati suaminya. Bahkan aku sendiri yang melamar juga baru sajaa
ditinggal mati isteriku. Akan tetapi, kalau kita saling membutuhkan, apalagi halangannya? Anakmu
kusayang seperti anakku sendiri, dan aku tahu bahwa engkau menyayang Kui Eng seperti anakmu
sendiri. Adakah cara yang lebih baik daripada kita bergabung menjadi sebuah keluarga yang
berbahagia?"
"Tapi......tapi pangeran.......eh, Cian-toako.......aku masih berkabung, bahkan toako juga........"
"Aku mengerti, moi-moi. Berkabung hanya merupakan tata-cara untuk memperlihatkan kepada
umum bahwa kita berduka ditinggal mati orang tercinta. Akan tetapi, berkabung yang
sesungguhnya ada di dalam perasaan hati, bukan pakaian. Betapapun juga, aku memberi waktu
kepadamu sampai setahun sejak ditinggal mati suamimu. Sekarang telah lewat beberapa bulan,
tinggal dua bulan lagi. Nah, biarlah dua bulan kemudian, setelah setahun berkabung engkau
memberi jawaban kepadaku. Sekarang, untuk sementara kita lupakan saja lamaranku itu! Aih,
perutku terasa lapar sekali sekarang, moi-moi, mari kita makan. Kaucari anak-anak kita, aku akan
mandi dulu."
Bukan main girangnya hati Lan Ci. Girang dan berterima kasih. Girang melihat pangeran itu kini
mempunyai semangat dan gairah lagi, mengajak makan dan mau mandi, dan berterima kasih
bahwa pangeran itu memberi waktu dua bulan lagi kepadanya untuk berpikir-pikir dan
mempertimbangkan tentang lamaran itu. Betapa bijaksananya!
Ia lalu lari meninggalkan taman dan pergi mencari Thian Ki dan Kui Eng. Ia melihat mereka
bermain-main di kebun belakang rumah. Dilihatnya Thian Ki sedang turun dari sebatang pohon
sedangkan Kui Eng berdiri di bawah pohon itu.
Karena ingin melihat bagaimana kedua orang anak itu bergaul, Lan Ci menyelinap ke balik
semak dan mengintai. Thian Ki turun dan membawa sebuah sarang burung yang kosong.
"Nah, kaulihat sendiri, Kui Eng. Seperti kukatakan tadi, sarang burung ini sudah kosong.
Telurnya telah menetas dan anak burung itu sudah pandai terbang," kata Thian Ki kepada Kui Eng
sambil memperlihatkan sarang burung kosong yang dibawanya turun dari pohon.
Kui Eng membanting-banting kakinya dan merengek manja. Anak berusia empat tahun lebih itu
memang manja sekali. Thian Ki yang baru berusia enam tahun itu sudah pandai mengasuh Kui Eng,
bahkan amat sayang kepada anak perempuan itu.
"Aih, jangan marah, adikku yang manis," katanya sambil merangkul dan menuntunnya duduk di
atas akar pohon.
"Lihat, biarpun sarang burung itu kosong, akan tetapi aku membawakan batu-batu sungai yang
indah untukmu." Ia mengeluarkan beberapa buah batu kecil yang berbentuk bulat dan warnanya
mengkilap indah. Kui Eng yang tadinya merengek, menerima mainan itu dengan wajah cerah dan
iapun merangkul Thian Ki.
"Suheng (kakak seperguruan), engkau baik sekali. Aku sayang padamu!"
Jilid 8
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Thian Ki tersenyum. Senang hatinya kalau anak itu bersikap manis kepadanya dan tidak rewel.
Dia menganggap Kui Eng bukan hanya sebagai puteri suhunya, atau adik seperguruan, akan tetapi
bahkan seperti adik kandung sendiri.
"Kui Eng. sumoiku yang manis. Katakan, di dunia ini siapa yang paling kausayang?" tanyanya,
pertanyaan yang seringkali dia ajukan karena jawabannya amat menyenangkan hatinya.
Kui Eng memegang tangan Thian Ki dan tertawa manja. "Suheng nakal, sudah beberapa kali
kukatakan, sudah tahu, masih terus bertanya."
"Biar hatiku merasa yakin bahwa pengakuanmu ini sejujurnya dan sebenarnya, sumoi." "Yang
paling kusayang adalah engkau, Suheng Coa Thian Ki."
Thian Ki menunduk dan mencium rambut kepala sumoinya. "Sesudah aku, lalu siapa yang paling
kausayang?"
"Sesudah engkau, aku sayang kepada ibu."
"Eh? Ibumu.......?"
"Kumaksudkan ibumu, bibi Sim Lan Ci. Kalau engkau menyebut ibu, kenapa aku harus menyebut
bibi? Aku ingin menyebutnya ibu seperti engkau."
"Kenapa tidak? Engkau boleh menyebutnya ibu tentu saja, sumoi!."
"Kalau aku menyebut ibu kepada ibumu, engkaupun harus menyebut ayah kepada ayahku."
Thian Ki menatap wajah anak perempuan itu dengan kaget. "Ah, jangan begitu, sumoi.
Bagaimana aku berani menyebut suhu dengan sebutan ayah?"
"Aku akan bilang kepada ayah. Kalau engkau tidak mau menyebut ayah kepada ayahku, akupun
tidak mau menyebut ibu kepada ibumu."
"Tentu saja aku mau, akan tetapi aku tidak berani. Ayahmu akan marah."
"Tidak, aku yang akan bilang kepadanya!"
Lan Ci yang mengintai, menjadi merah sekali mukanya. Kenapa ada peristiwa terjadi berturutturut
secara begitu kebetulan? Pangeran Cian Bu Ong melamarnya untuk menjadi isterinya, dan
sekarang ia melihat dan mendengar percakapan antara Thian Ki dan Kui Eng yang seolah-olah ingin
menjadi saudara dan saling mengakui ibu dan ayah masing-masing sebagai orang tua sendiri!
Dia lalu muncul dan menghampiri kedua orang anak itu.
"Ibu....!" Thian Ki berseru girang, akan tetapi Kui Eng diam saja. Padahal biasanya setiap kali
bertemu Lan Ci ia berlari dan minta dipondong dengan manja. Sekarang ia berdiri saja memandang
dengan sikap ragu! Thian Ki teringat.
"Ibu, adik Kui Eng ingin menyebutmu ibu. Bolehkah?"
Lan Ci menghampiri Kui Eng dan berjongkok. "Tentu saja boleh, memang aku selalu
menganggapnya sebagai anakku sendiri."
Mendengar ini, wajah Kui Eng merekah gembira dan iapun merangkul leher Lan Ci dan mulutnya
memanggil-manggil seperti orang yang merasa amat rindu. "Ibu......ibu.......ibu....."
Basah kedua mata Lan Ci. Dalam rangkulan dan dalam suara panggilan itu ia dapat merasakan
benar betapa anak ini amat kehilangan ibu kandungnya! Dan semua kerinduan, semua kasih
sayang anak itu kini ditumpahkan kepadanya karena tidak ada lagi penampungnya.
"Ibu, adik Kui Eng bilang bahwa yang paling disayangnya pertama adalah aku, dan ke dua ibu."
"Ih, jangan begitu, anakku." Lan Ci memondong dan menciumi Kui Eng. "Orang pertama yang
kau sayang seharusnya ayahmu."
"Tidak, ayah nomor tiga. Karena ayah jarang mengajakku bermain-main."
Pada saat itu, terdengar suara orang tertawa. "Ha-ha-ha, menjadi orang ke tigapun sudah
untung! Masih untung mendapat kasih sayang anakku!" muncullah Cian Bu Ong yang sudah mandi
dan berganti pakaian baru. Melihat ayahnya begitu gembira tidak seperti biasanya, Kui Eng merosot
dari pondongan Lan Ci dan lari kepada ayahnya yang menyambutnya dan mengangkat lalu
memondongnya.
"Ayah, aku ingin suheng Thian Ki menyebut ayah padamu. Ayah harus mau!" Sepasang mata
bekas pangeran itu terbelalak, lalu memandang kepada Thian Ki dan kepada Lan Ci, kemudian dia
tertawa lagi. "Ha-ha-ha, tentu saja aku mau."
"Dan aku menyebut ibu kepada bibi Lan Ci. Bolehkah, ayah?"
"Ehh? Siapa yang mengajarimu ini?" Cian Bu Ong bertanya, pura-pura mengerutkan alisnya dan
memandang kepada Lan Ci. Wanita ini balas memandang dengan wajah berubah merah.
"Tidak ada yang mengajarinya," katanya lirih.
"Ini kehendakku sendiri, ayah."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Anak ini lalu turun dari pondongan ayahnya, menghampiri Thian Ki, memegang tangan Thian Ki
dan menariknya menghampiri ayahnya. "Suheng, ayah sudah memberi ijin engkau menyebutnya
ayah!"
Dengan sikap takut-takut, Thian Ki lalu menjatuhkan diri berlutut di depan gurunya. Kalau
biasanya dia memberi hormat sambil menyebut suhu, kini dia menyebut ayah!
Cian Bu Ong mengangguk-angguk dan dia mengangkat muka. Kembali dia bertemu pandang
dengan Lan Ci.
"Thian Ki, engkau kesinilah!" kata Lan Ci, suaranya agak gemetar. Ia adalah seorang wanita
perkasa, bahkan dulu sebelum menjadi isteri Coa Siang Lee, sebagai puteri Ban-tok Mo-li, ia tidak
pernah mengenal artinya sopan santun. Kini, timbul kegagahannya kembali dan ia menganggap
bahwa tidak perlu bersembunyi di balik peraturan yang berpalsu-palsu. Lebih baik berterus terang
menyelesaikan permasalahan sekarang juga.
Thian Ki bangkit dan menghampiri ibunya, sedangkan Cian Bu Ong memondong pergi puterinya.
"Thian Ki, biarpun engkau baru berusia enam tahun akan tetapi aku tidak menganggap engkau
anak kecil lagi. Engkau sudah pandai mengambil kesimpulan dan keputusan, maka aku akan
berterus terang kepadamu dan kuminta engkau memberi jawaban sekarang juga. Thian Ki, gurumu
telah melamarku untuk menjadi isterinya. Nah, bagaimana pendapatmu?" Cian Bu Ong memandang
kagum. Bukan main wanita itu! Dan luar biasa pula puteranya! Dia memondong puterinya dan
memandang dengan penuh perhatian dan hatinyapun tegang menanti jawaban Thian Ki, anak ajaib
itu.
Thian Ki tidak kaget mendengar pertanyaan ibunya. Dia mengangkat muka, memandang wajah
ibunya, lalu menoleh dan memandang wajah gurunya, dan diapun memandang ibunya lagi. "Ibu,
itu adalah urusan ibu dan suhu .....eh. ayah, maka hanya ayah dan ibu saja yang berhak
memutuskan. Adapun aku..... aku hanya menyerahkan keputusannya kepada ibu saja, aku tidak
berani dan tidak mau mencampuri urusan pribadi ibu."
Sungguh luar biasa jawaban itu, pikir Cian Bu Ong. Seolah bukan keluar dari mulut seorang anak
berusia enam tahun, melainkan keluar dari mulut orang dewasa yang berpandangan luas.
''Akan tetapi hatiku tidak akan tenteram sebelum merasa yakin bahwa engkau tidak merasa
keberatan dan menyetujuinya."
"Tentu saja aku tidak keberatan ibu dan kalau hal itu membahagiakan hati ibu, tentu saja aku
setuju sepenuhnya."
Kedua pipi Lan Ci kembali menjadi merah sekali dan untuk mengatasi perasaan malu, ia berkata,
"Kalau begitu, kau beri hormat lagi kepada.....ayahmu itu Thian Ki."
Anak itu menurut. Dia menghampiri gurunya dan menjatuhkan diri berlutut, "Ayah.....!"
Saat itu, Cian Bu Ong memandang ke arah Lan Ci. Wanita itupun sedang memandangnya, ketika
dua pasang mata bertemu pandang, Lan Ci mengangguk. Itu sudah cukup sebagai jawaban bahwa
ia mau menerima lamaran bekas pangeran itu!
Cian Bu Ong tertawa bergelak. "Ha-ha-ha, terima kasih, Tuhan! Terima kasih Tuhan, aku hidup
kembali, ha-ha-ha aku hidup kembali!" Dan tiba-tiba dia melemparkan tubuh Kui Eng ke udara, lalu
tangan kanannya menyambar tubuh Thiaan Ki yang juga dilontarkan ke atas!
Ketika tubuh Kui Eng melayang turun, disambutnya dengan tangan kiri dan dilontarkannya lagi
ke atas, lebih tinggi daripada tadi. Demikian pula ketika tubuh Thian Ki meluncur turun, tubuh itu
ditangkapnya dan dilontarkannya kembali ke atas. Dua anak itu dibuat mainan seperti dua butir
bola saja, makin lama semakin tinggi.
Setelah tadi mengangguk memberi tanda setuju dan menerima lamaran Cian Bu Ong, Sim Lan Ci
memejamkan kedua matanya dan berbisik dalam hatinya. "Coa Siang Lee, maafkan aku. Aku cinta
padamu , akan tetapi engkau sudah tidak ada , dan aku kagum dan cinta kepadanya, maafkan aku
kalau aku menyerahkan diriku kepada pria lain untuk menjadi isterinya."
Akan tetapi jeritan Kui Eng membuat Lan Ci membuka matanya kembali. Ia melihat betapa anak
perempuan itu mulai merasa ngeri karena tubuhnya dilontarkan semakin tinggi oleh ayahnya. Thian
Ki diam saja bahkan diam-diam anak ini memperhatikan cara gurunya melontar tubuhnya.
Sim Lan Ci meloncat. Tubuhnya melayang ke atas, menyambar tubuh Kui Eng yang
dipondongnya dan iapun melayang turun kembali sambil memondong tubuh Kui Eng, menghadapi
Cian Bu Ong dan menegur, "Kui Eng sudah menjerit ketakutan, mengapa masih dilanjutkan juga?
Apa kau ingin agar anak kita ini kelak menjadi orang penakut?"
Cian Bu Ong sudah menangkap kembali tubuh Thian Ki dan dilepaskannya anak itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dia memandang kepada Lan Ci sambil tersenyum lebar dan menggeleng kepalanya, "Ya Tuhan,
engkau sudah mulai berani melarang aku, ya?"
"Tentu saja," jawab Lan Ci. "Sebagai ibu akupun berhak mendidik dan melindungi anak kita!"
Mereka saling pandang, dan Cian Bu Ong tertawa bergelak, nampak berbahagia kali dan Lan Ci
terpaksa juga tersenyum dan mengerling penuh teguran. Melalui pandang mata saja mereka sudah
dapat menangkap dan merasakan isi hati masing-masing dan hal seperti ini hanya dapat terjadi
apabila dua hati telah saling kontak!
Demikianlah, dua bulan kemudian, setelah lewat setahun kematian Coa Siang Lee dan isteri Cian
Bu Ong, mereka melangsungkan pernikahan yang sederhana, tidak dihadiri para bangsawan seperti
layaknya seorang pangeran menikah. Juga tidak dihadiri orang-orang kangouw seperti layaknya
seorang tokoh kangouw seperti Sim Lan Ci menikah, melainkan hanya dihadiri penduduk dusun
yang tinggal di sekitar pegunungan itu. Sederhana namun amat meriah, dimeriahkan oleh
kegembiraan Thian Ki dan Kui Eng, dan dihias senyum dan kerling mata penuh kasih sayang antara
Sim Lan Ci dan Cian Bu Ong.
Dan sejak hari itu, Cian Bu Ong semakin rajin menggembleng Thian Ki dan Kui Eng. Dia tidak
lagi memikirkan tentang kerajaan, akan tetapi dia ingin agar anak tiri dan anak kandungnya
menjadi jago-jago paling tangguh di dunia persilatan sehingga namanya akan terangkat. Di
samping itu, dia menemukan kemesraan dan kebahagiaan di samping isterinya yang ternyata amat
mencintainya.
Di lain pihak, Lan Ci juga merasakan kebahagiaan yang mendalam. Suaminya yang sekarang
jauh bedanya dengan suami pertamanya. Suaminya yang sekarang adalah seorang yang jantan,
yang matang dalam pengalaman. Sehingga di samping sebagai suami yang mencinta, juga dari
suaminya ini ia menerima bimbingan. Sehingga kadang ia menganggap suaminya ini juga gurunya
yang amat pandai dalam segala hal. Ilmu silat yang dikuasai nyonya muda ini meningkat dengan
cepatnya.
ooo0000oooo
Perahu kecil itu meluncur dengan cepatnya di sepanjang tepi Sungai Huang-ho dan berhenti di
luar dusun Hong-cun. Gadis yang naik perahu seorang diri ini dapat mendayung dan mengendalikan
perahu dengan gerakan tangkas, tanda bahwa ia sudah terbiasa mengemudikan perahu.
Setelah perahu itu menepi di pantai, iapun melangkah keluar dan menarik perahu itu ke darat.
Cara ia menarik tali perahu dan berhasil membuat perahu itu naik, padahal pantai itu tidak terlalu
landai, membuktikan bahwa biarpun ia seorang wanita muda yang cantik dan nampak lembut,
ternyata ia miliki tenaga yang kuat.
Wanita itu masih muda, usianya sekitar duapuluh satu tahun lebih, berwajah bulat dan berkulit
putih kemerahan. Hidungnya mancung dan matanya tajam. Wajah yang cantik dan manis. Di
punggungnya menempel dua batang pedang bersilang, dan di atas pedang itu terdapat buntalan
kain sutera kuning. Dandanannya juga sederhana dan ringkas, semua ini menunjukkan bahwa ia
seorang wanita kangouw yang suka melakukan perjalanan seorang diri dan mengandalkan ilmu
kepandaian silat untuk melindung dirinya sendiri.
Biarpun usianya paling banyak baru duapuluh dua tahun, akan tetapi wanita itu bukan gadis
lagi, melainkan seorang janda! Ia adalah Kwa Bi Lan, yang baru saja ditinggal mati suaminya yang
juga menjadi gurunya, yaitu Sin-tiauw Liu Bhok Ki, Si Rajawali Sakti! Biarpun suaminya itu jauh
lebih tua darinya, ketika ia menjadi isteri Liu Bhok Ki, suaminya yang juga gurunya itu sudah
berusia enampuluh lima tahun dan ia sendiri baru sembianbelas tahun, namun Kwa Bi Lan amat
mencinta suaminya. Baginya, suaminya merupakan orang terbaik di dunia ini. Dahulunya ia adalah
murid Si Rajawali Sakti, dan bahkan oleh gurunya itu ia dicalonkan jadi isteri murid gurunya yang
pertama, yaitu Si Han Beng yang kini dijuluki Huang-ho Sin liong (Naga Sakti Sungai Kuning). Akan
tetapi Si Han Beng memilih wanita lain dan menikah dengan wanita lain itu. Hal itu membuat
gurunya marah, dan seolah hendak menebus kesalahan ini, melihat betapa Bi Lan hancur hatinya
dan patah semangat, Liu Bhok Ki lalu mengambil murid itu sebagai isterinya. Dia sendiri sudah
menduda sejak puluhan tahun. Dan Bi Lan menerima pinangan gurunya, bukan karena terpaksa,
melainkan karena ia merasa kagum, kasihan dan juga mencinta suhunya sebagai satu-satunya
orang di dunia ini yang menyayanginya. Tentu saja hal ini didorong pula oleh kepatahan hatinya
karena Si Han Beng mengingkari janji dan menikah dengan gadis lain.
Sin-tiauw Liu Bhok Ki merasa marah dan sakit hati bukan main karena Si Han Beng tidak
memenuhi pesannya itu. Biarpun dia sudah menjadi suami Bi Lan namun hatinya masih tetap
tertusuk dan batinnya terhimpit kemarahan terhadap Si Han Beng. Dia menjadi sakit-sakitan dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
akhirnya, dalam rangkulan Bi Lan, dia menghembuskan napas terakhir sambil menyebut nama Si
Han Beng dengan penuh kemarahan dan penyesalan.
Setelah suaminya yang juga gurunya meninggal dunia, perasaan hati Kwa Bi Lan dipenuhi
dendam terhadap Si Han Beng. Pria itu yang membuat hidupnya menderita! Kalau Si Han Beng
tidak mengingkari janjinya dan menikah dengannya, tentu Liu Bhok Ki tidak mati, demikian pikirnya.
Dan iapun tidak harus mengalami derita batin seperti ini, hidup sebatangkara ditinggal orang yang
paling dicintanya. Mula-mula ia menderita patah hati karena calon suaminya itu menikah dengan
wanita lain. Kemudian ia menderita kehancuran hati karena guru dan juga suaminya meninggal
dunia. Dan semua deritanya ini karena ulah Si Han Beng!
Ketika ia mendarat di tepi Sungai Kuning, di luar dusun Hong-cun, Bi Lan merasa hatinya tegang
juga. Setelah lama ragu-ragu dan lama pula mencari-cari, akhirnya tiba juga ia di kampung tempat
tinggal bekas tunangan yang kini dianggap sebagai musuh besarnya itu.
Ketika la berjalan memasuki dusun, ia melihat seorang laki-laki setengah tua memanggul
cangkul, agaknya hendak pergi ke ladang. Laki-laki itu memandang kepadanya dengan kagum dan
heran, karena tidak biasa ada wanita kota yang cantik memasuki dusun yang aman tenteram itu. Bi
Lan menghampirinya dan tersenyum ramah.
"Maaf, paman. Dapatkah paman menunjukkan di mana rumah keluarga Si Han Beng?"
Pria itu terbelalak, heran bukan main melihat seorang wanita muda menyebut nama pendekar
saktu itu begitu saja.
"Nona.....maksudkan........ rumah keluarga Si Tai-hiap (Pendekar Besar Si) yang berjuluk
Huang-ho Sin-liong?"
Dengan girang Bi Lan mengangguk, akan tetapi juga hatinya berdebar. Ia tahu bahwa orang
yang dicarinya adalah seorang pendekar yang berilmu tinggi, bahkan tingkat kepandaiannya,
menurut mendiang suaminya, lebih tinggi dari pada tingkat suaminya yang juga menjadi gurunya.
Kalau mendiang suaminya saja kalah pandai, apa lagi dia! Akan tetapi ia sudah bertekat untuk
membunuh Si Han Beng atau dibunuh olehnya.
"Benar, paman. Di mana rumahnya."
Pria itu menunjuk ke kiri. "Di Jung jalan ini, yang mempunyai taman di depan rumah dan kebun
di kanan kiri dan belakang. Cat pintu dan jendelanya hijau."
"Terima kasih, paman." Bi Lan memutar tubuh dan cepat menyusuri jalan itu. Terbayang betapa
ia akan bertemu dengan isteri Si Han Beng yang sudah ia ketahui bernama Bu Giok Cu dan yang
memiliki ilmu kepandaian tinggi pula.
Hatinya terasa panas, entah karena iri atau cemburu. Akan tetapi ia sama sekali tidak takut.
Memang ia sudah bertekad untuk mengadu nyawa. Untuk apa hidup lebih lama lagi kalau ia sudah
tidak mempunyai apa-apa di dunia ini, bahkan tidak ada seorangpun yang mencintanya? Hidupnya
tiada gunanya lagi, lebih baik menyusul suaminya yang sayang kepadanya.
Tak lama kemudian wanita perkasa ini sudah menyelinap di balik pohon dan mengintai ke arah
dua orang anak yang sedang berada di kebun samping.
Seorang anak laki-laki berusia enam tahun sedang mengasuh seorang anak perempuan yang
usianya baru dua tahun lebih. Anak laki-laki itu tampan dan bertubuh tinggi tegap. Sedangkan anak
perempuan itu, yang masih kecil, kelihatan lincah mungil dan manis sekali.
Anak laki-laki itu patut menjadi putera Si Han Beng, pikir Bi Lan sambil mengenang kembali
wajah bekas tunangan yang kini dibencinya itu. Akan tetapi tidak mungkin, bantahnya. Si Han Beng
menikah dengan gadis lain belum ada empat tahun dan anak laki-laki itu sedikitnya berusia enam
tahun. Kalau anak perempuan itu lebih pantas menjadi anak Si Han Beng.
Dua orang anak itu memang The Siong Ki dan Si Hong Lan. Seperti kita ketahui, Siong Ki
berhasil tiba di tempat tinggal pendekar sakti Si Han Beng dan diterima menjadi murid pendekar
itu. Siong Ki pandai membawa diri, pandai menyenangkan hati keluarga Si, bahkan dengan sabar
dia mengasuh Si Hong Lan puteri gurunya. Diapun rajin bekerja, membersihkan rumah dan
pekarangan dan melakukan segala macam pekerjaan membantu para pelayan sehingga para
pelayanpun suka kepadanya. Melihat kegiatan pemuda cilik ini, timbul perasaan suka pula di hati Si
Han Beng dan diapun mulai melatih Siong Ki dengan dasar-dasar ilmu silat.
Pagi hari itu, setelah selesai menyapu pekarangan dan mengisi semua bak dengan air, Siong Ki
sudah mengajak Hong Lan bermain-main di dalam kebun. Matahari sudah naik tinggi. Dia selalu
diajar ilmu silat kalau matahari sudah mulai condong ke barat, setiap sore hari. Dari pagi sampai
siang, dia bekerja, kalau tidak mengasuh Hong Lan, tentu membantu pekerjaan rumah atau ladang.
Hong Lan juga suka sekali kepadanya, karena Siong Ki pandai menyenangkan hati anak itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Saat itu, Siong Ki memberi mainan sempritan yang dia buat dari daun bambu muda. Hong Lan
ikut meniup-niup sempritan sederhana itu dan kalau sempritan itu dapat ditiupnya sampai
mengelukan bunyi, anak itu tertawa-tawa dan berteriak-teriak gembira.
" Suheng baik. ... suheng baik......"berulang-ulang anak perempuan itu berseru.
"Engkau juga baik dan manis sekali, sumoi, tidak rewel." kata Siong Ki dan dari percakapan
antara dua orang anak itu Bi Lan dapat menduga bahwa anak laki-laki itu tentulah murid Si Han
Beng dan anak perempuan itu tentu anaknya.
"Tidak mungkin kalau Han Beng mempunyai seorang murid yang usianya baru dua tahun." Dan
melihat wajah anak perempuan yang manis dan mungil itu, tiba-tiba menyelinap suatu keinginan di
hati Bi Lan. Mengapa tidak? Kalau ia membalas dendam kepada Si Han Beng, kiranya tidak mungkin
ia akan mampu mengalahkan pendekar itu dan isterinya, dan akhirnya ia yang akan mati konyol.
Walaupun ia sudah bertekad dan tidak takut mati, akan tetapi apa artinya kalau ia mati konyol?
Hanva akan membuat Si Han Beng dan isterinya menjadi semakin bebas dan senang saja, tidak lagi
mengkhawatirkan pembalasan. Dan ia seorang yang akan menderita. Tidak, ia harus mengikuti
pikiran yang menyelinap dalam benaknya tadi. Ia harus membuat Si Han Beng dan isterinya
menderita, setidaknya menderita batin. Akan tetapi, sebelum itu, ia ingin melihat bagaimana sikap
bekas tunangan itu kalau mendengar tentang kematian suhunya, atau suaminya!
Kwa Bi Lan bukanlah seorang wanita jahat, bahkan ia dahulu murid Siauw lim-pai yang berjiwa
pendekar. Apa lagi setelah menjadi murid dan isteri Rajawali Sakti Liu Bhok Ki, ia menjadi seorang
wanita gagah. Kalau ia membenci Han Beng dan ingin membunuhnya, hal itu terdorong oleh sakit
hati dan duka, bukan watak yang jahat. Maka, begitu melihat Hong Lan, anak yang manis dan
lincah itu, seketika api dendam yang membuat ia ingin membunuh orang itu padam dengan
sendirinya, bagaimana mungkin ia dapat membunuh orang tua anak kecil yang mungil itu?
Bukankah kalau ia membunuh orang tuanya, anak itu akan menjadi terlantar dan menderita? Itulah
sebabnya, maka pikiran lain menyelinap ke dalam benaknya yang sama sekali mengubah niat
hatinya semula.
Siong Ki tidak terkejut melihat munculnya seorang wanita cantik yang tidak dikenalnya dari balik
pohon, melainkan heran dan dia memandang lengan sinar mata penuh pertanyaan.
Bi Lan tersenyum manis. "Anak yang baik, apakah engkau murid Huang-ho Sin Liong Si Han
Beng? Dan anak perempuan yang mungil ini puterinya?"
Siong Ki adalah seorang anak yang cerdik. Dia tidak mengenal siapa wanita ini, tidak tahu
apakah ini sahabat ataukah musuh gurunya. Oleh karena itu dia bersikap hati-hati walaupun sopan.
"Maafkan saya, enci. Akan tetapi siapakah enci?"
"Aku adalah sahabat baik dari Si Han Beng, namaku Kwa Bi Lan. Benarkah dugaanku tadi bahwa
engkau muri dan ini anaknya?"
Karena wanita itu mengaku sahabat gurunya, dan telah memperkenalkan diri, Siong Ki merasa
tidak enak kalau tidak memperkenalkan diri. Dia mengangguk dan berkata dengan hormat. "Maaf
kalau saya bersikap kurang hormat karena tidak tahu bahwa enci adalah sahabat baik suhu.
Memang benar saya Siong Ki adalah murid suhu dan sumoi Si Hong Lan ini adalah puterinya."
Pada saat itu, muncullah Si Han Beng dan Bu Giok Cu dari pintu samping rumah mereka. Mereka
memang sedang mencari puteri mereka dan Siong Ki. Melihat seorang wanita muda yang cantik
berada pula di kebun mereka, suami isteri ini segera menghampiri dan memandang dengan heran.
"Siong Ki, siapakah nona ini...." tanya Han Beng sambil memandang Bi Lan dengan penuh
selidik. Sementara itu Bu Giok Cu juga sudah memondong puterinya dan ikut mengamati Bi Lan
dengan heran.
Sejak tadi Bi Lan memandang kepada suami isteri itu dan jantungnya berdebar tegang, hatinya
terasa panas. Si Han Beng masih nampak gagah perkasa seperti dahulu, bertubuh tinggi besar dan
wajahnya membayangkan kejantanan, sedangkan Bu Giok Cu juga masih nampak cantik jelita dan
lincah seperti yang pernah dilihatnya dahulu ketika Giok Cu bersama Han Beng datang berkunjung
ke rumah gurunya, mendiang Liu Bhok Ki sebelum ia menjadi isteri gurunya itu.
Entah kenapa, setelah bertemu dengan mereka. Ia tidak mampu mengeluarkan kata-kata dan
hanya memandang dengan hati dipenuhi iri. Mereka demikian berbahagia. Menjadi suami isteri dan
sudah mempunyai seorang anak. Begitu berbahagia, sedangkan ia ...... !
Han Beng segera menyadari bahwa sebagai tuan rumah dia harus menyambut orang asing
sebagai tamunya dengan sikap hormat. Maka diapun mengangkat dua tangan ke depan dada
memberi hormat dan bertanya, "Siapakah nona dan ada keperluan apakah berkunjung ke rumah
kami?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Bi Lan tersenyum, senyum yang getir. Bahkan wajahnyapun tidak diingat lagi oleh laki-laki yang
pernah ditunangkan dengannya itu! Dengan suara yang pahit iapun berkata, "Lupa kepada adik
seperguruan masih tidak mengapa, akan tetapi kalau sudah melupakan guru, itu sungguh
keterlaluan."
"Nona, apa maksud ucapan nona itu?" Han Beng bertanya, memandang tajam penuh selidik dan
sikapnya serius. Juga Bu Giok Cu memandang tajam dan mulai bercuriga melihat sikap gadis cantik
yang tidak dikenalnya itu.
"Suheng, benar-benarkah suheng sudah lupa kepadaku, dan kepada suhu kita?" Sekali ini suara
Bi Lan mengandung getaran isak tertahan, karena ia merasa sangat berduka dan kecewa.
"Ahhh! Bukankah engkau Kwa Bi Lan murid locian-pwe Liu Bok Ki itu?" tiba-tiba Bu Giok Cu
berseru.
Bi Lan memandang kepada wanita yang tadinya dianggap telah merampas calon suaminya itu.
"Kiranya enci Bu Giok Cu masih teringat kepadaku."
"Sumoi Kwa Bi Lan .....! Ah, kiranya engkaukah ini? Kita dahulu hanya sempat bertemu sebentar
saja, sumoi, hingga aku lupa lagi kepadamu. Maafkan aku."
Bi Lan mengerutkan alisnya. "Perkenalan antara kita memang singkat, akan tetapi hubungan
antara kita bukan tidak penting, suheng......"
"Aih, tentu saja. Kita saudara seperguruan....." kata Han Beng, belum ingat akan hubungan
jodoh yang pernah dipesankan gurunya yang pertama itu. Bu Giok Cu ingat akan hal itu, maka ia
pun cepat berkata.
"Adik Kwa Bi Lan tentu datang membawa kabar penting. Tidak pantas kalau kita menyambutnya
di kebun begini. Mari, adik Bi Lan, kita bicara di dalam."
"Ah, benar. Mari silakan, sumoi. Kita bicara di dalam. Siong Ki, kauajak lagi sumoimu bermainmain
di sini sebentar," kata Han Beng dan Giok Cu lalu menyerahkan lagi Hong Lan kepada Siong
Ki.
Suami isteri itu mempersilakan tamunya memasuki rumah dan mereka lalu duduk di dalam
ruangan tamu yang sederhana namun cukup luas. Sejenak mereka duduk berhadapan dan saling
berpandangan.
Sebetulnya, Bi Lan tidak terlalu menyesal bahwa ia tidak menjadi isteri Han Beng. Belum ada
rasa cinta dalam hatinya terhadap pria ini, dahulupun yang ada hanya kekaguman. Cintanya bahkan
tertuju kepada gurunya, mendiang Liu Bhok Ki. Ia tidak putus cinta, melainkan merasa terhina dan
diremehkan, di samping pendekar ini menjadi biang keladi kesedihan Liu Bhok Ki sehingga
suaminya itu meninggal dunia dalam keadaan penasaran dan berduka.
"Nah, adik Kwa Bi Lan. Setelah kami mengucapkan selamat datang, sekarang katakanlah, apa
maksud kunjunganmu ini? Apakah membawa suatu kepentingan tertentu, ataukah hanya hendak
berkunjung saja?" tanya Bu Giok Cu karena di dalam hatinya, wanita ini sudah merasa tidak enak.
Ia sudah mendengar dari suaminya bahwa dahulu, suaminya pernah dipesan oleh Sin-tiauw Liu
Bhok Ki agar kelak menjadi jodoh Kwa Bi Lan, sumoi dari suaminya sendiri. Akan tetapi kemudian
Hek-bin Hwesio yang menjadi gurunya, dan Pek I Tojin guru suaminya menjodohkan ia dan
suaminya. Ia bahkan pernah mengingatkan suaminya agar mengabari Liu Bhok Ki, akan tetapi
suaminya tidak mau karena merasa tidak enak harus menentang usul perjodohan guru pertamanya
itu. Kini, gadis yang dulu dijodohkan dengan suaminya itu tiba-tiba muncul! Tentu saja ia merasa
tidak enak sekali.
Mendengar pertanyaan Giok Cu, Bi Lan menghela napas panjang. Kalau menurut apa yang
dibayangkan sebelum ia bertemu dengan puteri mereka tadi, begitu bertemu Han Beng, ia akan
memaki-makinya dan menantangnya, bahkan langsung saja menyerangnya untuk mengadu nyawa.
Akan tetapi sekarang, ia tidak bernapsu untuk mengadu nyawa, untuk mati, karena ia pasti mati
kalau bertanding melawan mereka ini. Ia ingin hidup untuk dapat mendengar dan melihat Han
Beng menderita!
"Benar, sumoi. Katakanlah, apa yang menjadi maksud kedatanganmu ini? Apakah hanya
berkunjung ataukah diutus oleh suhu?"
Hampir saja Bi Lan berteriak bahwa ia diutus oleh suhu mereka untuk mencabut nyawa Han
Beng! Akan tetapi ia menahan kemarahannya, memandang kepada pria itu dan berkata lirih,
"Suheng kedatanganku ini hanya mempunyai satu maksud, yaitu aku ingin bercerita tentang suhu
kepadamu."
Wajah Han Beng menjadi cerah berseri. "Ah, akupun ingin sekali mendengar tentang suhu.
Ceritakanlah, sumoi, kuharap suhu dalam keadaan sehat dan baik-baik saja! Ceritakanlah."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Setelah menghela nafas beberapa kali, Bi Lan mulai bercerita. "Suheng suhu telah mendengar
akan pernikahanmu dengan enci Bu Giok Cu dan suheng sama sekali tidak memberi tahu suhu, apa
lagi mengundangnya."
"Sudah kudesak agar dia mengundang locian-pwe Liu Bhok Ki, akan tetapi dia tidak mau!" Bu
Giok Cu berkata sambil memandang suaminya penuh teguran.
"Bukan tidak mau, akan tetapi tidak berani," kata Han Beng, akan tetapi tiba-tiba dia
menghentikan kata-katanya seperti orang yang merasa telah terlalu banyak bicara.
"Kenapa, suheng?" Bi Lan mendesak cepat. "Kenapa suheng tidak berani memberitahu kepada
suhu tentang pernikahan suheng?"
Han Beng tidak menjawab, hanya menole ke arah isterinya. Tentu saja dia merasa sukar untuk
menjawab pertanyaan itu, merasa sungkan terhadap Bi Lan untuk menyebutkan alasannya.
Melihat keraguan Han Beng, Bi Lan berkata, "Suheng, kalau Suheng ingin aku bicara sejujurnya
tentang suhu, maka sebaiknya kalau suheng juga bersikap terbuka dan jujur. Kalau suheng tidak
berani bersikap terbuka, akupun tilak ingin bercerita apa-apa lagi."
Bu Giok Cu memandang kepada suaminya. "Sebaiknya engkau bicara terus terang saja untuk
menebus kesalahan sikapmu terhadap gurumu. Tidak perlu sungkan lagi."
Han Beng mengangguk dan menarik napas panjang. Dia merasa menyesal sekali mengapa
dahulu dia tidak berterus terang saja kepada gurunya bahwa dia mencintai Giok Cu dan tidak mau
dijodohkan dengan gadis lain. Akibatnya ketika dia menikah dengan Giok Cu, dia tidak berani
mengabari gurunya, dan sekarangpun dia merasa sungkan untuk mengaku terus terang kepada Bi
Lan.
"'Baiklah, aku bicara terus terang dan kuharap engkau tidak merasa tersinggung, sumoi.
Sebelumnya, maafkan aku kalau ceritaku menyinggung perasaanmu."
"Kalau engkau berterus terang, mengapa aku mesti tersinggung, suheng? Ceritakanlah."
"Aku tidak berani mengabari suhu, tidak berani mengundangnya, karena aku merasa bersalah
kepada suhu. Dahulu, ketika aku bersama Giok Cu berkunjung ke tempat kediaman suhu, dan
bahkan bertemu dengan engkau di sana, ketika itu suhu bicara empat mata denganku dan suhu
dalam kesempatan itu telah menjodohkan aku dengan engkau, sumoi. Dia berpesan agar kelak aku
berjodoh denganmu. Nah, karena aku saling mencinta dengan Bu Giok Cu dan kemudian atas usul
guru kami masing-masing, yaitu Hok-bin Hwesio dan Pek I Tojin, kami menikah dan teringat akan
pesan suhu Liu Bhok Ki, aku merasa sungkan dan tidak berani memberi kabar. Aku telah bicara
terus terang, sumoi."
Bi Lan tidak heran mendengar keterangan itu, tentu saja ia sudah tahu semuanya dan dapat
menduganya. Ia tidak merasa sakit hati karena ia ditolak oleh suhengnya yang mencinta gadis lain.
Ia sendiripun mencinta pria lain, yaitu gurunya sendiri.
Yang membuat ia menyesal adalah karena ulah suhengnya, maka gurunya yang juga suaminya
itu menderita tekanan bathin sampai sakit-sakitan dan meninggal dunia dalam keadaan berduka.
"Bagus sekali, engkau telah berterus terang, suheng. Nah, akupun hendak bercerita sejujurnya
kepadamu. Seperti kukatakan tadi, suhu telah mendengar pernikahanmu dengan enci Giok Cu
tanpa mengundangnya, dan sejak itu, suhu sakit-sakitan karena merasa penasaran, menyesal dan
berduka. Aku tahu akan semua itu karena suhu berterus terang kepadaku. Suhu marah dan
menyesal, suhu merasa sakit hati kepadamu, suheng!"
"Aih, suhu, teecu memang berdosa besar. Sumoi, tolonglah, kalau engkau pulang dan bertemu
suhu, mintakan ampun adanya untukku .... ah, tidak, aku sendiri yang akan ke sana. Aku harus
cepat pergi menghadap suhu dengan isteri dan anakku untuk mohon ampun."
"Tidak ada gunanya, suheng. Lebih baik suheng mendengarkan kelanjutan ceritaku. Melihat
suhu demikian menderita, hatiku hancur dan aku merasa amat kasihan kepada suhu. Suhu telah
kehilangan segalanya, demikian pula aku. Kami berdua tidak memiliki apa-apa lagi, tidak ada lagi
seorangpun di dunia ini yang menyayangi kami. Timbul perasaan kasihan dan sayang dalam hatiku,
dan akupun mengambil keputusan untuk menyerahkan diriku, hidupku, segalanya, untuk
membahagiakan hati suhu. Dengan suka rela, bahkan dengan desakanku, kami menikah menjadi
suami isteri....."
Suami isteri itu saling pandang nampak terkejut bukan main. "Sungguh suatu pengorbanan yang
besar......" kata Giok Cu lirih.
"Sumoi, betapa mulia hatimu. Engkau begitu berbakti kepada suhu, sedang aku ..."
"Tidak ada pengorbanan! Tidak ada kemuliaan hati dan kebaktian. Aku menikah dengan suhu
karena memang aku cinta kepadanya, dan dia cinta padaku. Kami menjadi suami isteri karena kami
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
saling mencintai.!" Bi Lan berkata dengan suara nyaring, setengah membentak sehingga
mengejutkan suami isteri itu.
"Kalau begitu, biarlah kami mengucapkan selamat kepadamu atas pernikahan dengan suhu...!"
"Tunda dulu ucapan selamat itu sampai aku selesai menceritakan keadaan suhumu, suheng.
Biarpun kami sudah menikah dan aku berusaha sekuat tenaga untuk menghiburnya dan mengusir
kedukaan suamiku, akan tetapi usahaku sia-sia belaka. Guru dan suamiku itu masih tak mampu
melupakanmu, dan sakit hatinya tak pernah mereda. Api sakit hati membakarnya, membuat dia
sakit-sakitan dan akhirnya, dia tak kuat bertahan lagi setelah berbulan-bulan rebah dan menderlta
sakit lahir batin, suamiku itu meninggal dunia......... "
"Ahh.....!" Giok Cu mengeluh..
"Suhuuu.....!" Han Beng menutupi muka dengan kedua tangan dan dia terisak, tubuhnya
terguncang dan dari celah-celah jari tangannya mengalir keluar air matanya. "Aih, suhu, teecu
berdosa besar kepada suhu..........teecu .. .berdosa besar................"
Sebuah tangan dengan lembut menyentuh pundak Han Beng. "Sudahlah, semua itu telah lewat,
gurumu telah tiada. Tidak ada gunanya disesali dan ditangisi. Kelak engkau dapat saja pergi
mengunjungi makam gurumu dan mohon ampun di depan makamnya kalau engkau merasa
bersalah kepadanya."
Hiburan dari isterinya ini menyadarkan Han Beng dan diapun menghapus air matanya. Dengan
dua mata merah dia memandang kepada Bi Lan dan melihat wanita muda itupun kini menunduk,
tidak mengeluarkan suara tangisan, akan tetapi kedua pundak bergoyang dan air mata menetesnetes
turun dari kedua pipinya.
"Aku .... aku dapat merasakan penderitaanmu, aku ikut berduka cita ...sumoi .... ataukah subo
(ibu guru)..." kata Han Beng dengan terharu.
Bi Lan menghapus air matanya dan menggeleng kepala, masih menunduk. "Aku bukan apaapamu
lagi, bukan apa-apa. Bukan tunangan karena engkau sudah memilih wanita lain. Bukan
sumoi karena telah menikah dengan guru kita. Bukan pula subo karena suamiku telah tiada.
Aku........aku hanya seorang yang sebatangkara, tidak mempunyai apa-apa dan siapa-siapa lagi.. "
Giok Cu merasa kasihan sekali. "Sungguh buruk nasibmu, sungguh kasihan sekali engkau, adik
Bi Lan Aku tahu bagaimana perasaanmu. Kalau saja kami dapat melakukan sesuatu untukmu.
Katakan saja, apa yang dapat kami lakukan untuk membantumu, mengurangi penderitaanmu?"
Bi Lan menggeleng kepala. "Terima kasih, tidak ada yang dapat kalian lakukan untukku. Biarkan
aku sendiri. Di dunia ini, tidak ada lagi orang yang dapat kucinta atau mencintaku, tidak ada siapasiapa
lagi. Aku hanya menanti datangnya saat aku menyusul suamiku. Dialah satu-satunya orang
yang mencintaiku........" Setelah berkata demikian, Bi Lan bangkit dari duduknya, kemudian tanpa
pamit lagi ia melangkah keluar dari ruangan itu, terus menuju keluar rumah.
Han Beng hendak mengejar, akan tetapi lengannya dipegang isterinya. Dia menoleh dan
memandang isterinya. Giok Cu menggeleng kepala perlahan dan berbisik, "Ia benar. Tidak dapat
kita melakukan apapun untuknya. Biarkan ia sendiri......"
Han Beng memejamkan matanya. "Suhuuu ..!" keluhnya dan dia tentu roboh kalau saja tidak
cepat dirangkul oleh isterinya dan dia kembali menangis di pundak isterinya.
Malam itu, Han Beng dan Giok Cu tidak dapat tidur. Hal ini terutama sekali karena Han Beng
tenggelam dalam duka dan penyesalan, dan akhirnya baru Han Beng terhibur ketika isterinya
menyetujui untuk mereka berdua bersama anak mereka pergi mengunjungi makam Si Rajawali
Sakti, di mana Han Beng ingin bersembahyang bersama anak isterinya dan mohon ampun kepada
guru pertamanya itu.
Mereka akan berangkat tiga hari lagi dan pada keesokan harinya, mereka telah membuat
persiapan. Karena waktu itu sedang musim panen, maka suami isteri itu hendak menyelesaikan
dulu sisa panenan yang tinggal satu dua hari lagi, baru mereka akan berangkat.
Pada keesokan harinya, sejak pagi Han Beng dan Giok Cu sudah pergi meninggalkan rumah,
pergi ke sawah untuk mengepalai dan mengatur mereka yang membantu panen. Seperti biasa,
Siong Ki setelah bekerja pagi, lalu mengasuh Hong Lan bermain-main di taman.
Keadaan sunyi di taman. Semua orang dewasa pergi ke sawah ladang karena musim panen.
Siong Ki menurunkan Hong Lan duduk di atas rumput, dan dia sendiri duduk di dekat anak itu
sambil menganyam rumput, membuatkan mainan untuk sumoinya. Ketika Kwa Bi Lan muncul
seperti kemarin, diapun tidak terkejut dan tidak merasa heran lagi. Dari suhunya dia mendengar
bahwa wanita muda yang cantik itu memang sahabat gurunya yang datang berkunjung. Dia bahkan
tersenyum dan memberi hormat. "Selamat pagi, enci."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Akan tetapi Bi Lan tidak memperdulikan Siong Ki. Ia menghampiri Hong Lan dan mengelus
kepala anak itu dengan lembut dan mesra, dan pandang matanya yang ditujukan mengamati wajah
anak perempuan itu penuh rasa kagum dan sayang. Suaranyapun terdengar halus ketika ia
bertanya, "Anak manis, siapakah namamu?"
Semua anak kecil mempunyai kepekaan yang tidak lagi dipunyai orang dewasa. Kepekaan atau
naluri ini adalah pembawaan jiwa yang masih belum terselubung nafsu. Pada saat dilahirkan, anak
manusia memiliki naluri ini, memiliki kepekaan karena jiwanya masih murni, bagaikan sinar pelita
yang belum terselubung kotoran sehingga masih memancar keluar melalui panca indranya. Kelak,
kalau anak itu sudah mulai mempergunakan hati dan akal pikirannya, dan nafsu yang menjadi alat
kebutuhan jasmaninya mulai mengambil alih kekuasaan atas diri manusia, maka kepekaan itu
pudar. Sinar pelita dari jiwa tertutup nafsu dan orang hidup lebih mengandalkan hati akal
pikirannya yang bergelimang nafsu menciptakan segala macam dosa dan kekacauan dalam
kehidupan ini. Makin pandai orang mempergunakan hati akal pikirannya, semakin keruh keadaan
dunia, karena manusia dikendalikan nafsu yang sifatnya hanya mengejar kesenangan diri pribadi,
sehingga terjadilah tumbukan-tumbukan dan tabrakan kepentingan yang menimbulkan pertikaian,
permusuhan, bahkan perang!
Pada saat membelai dan bicara kepada Hong Lan, maka anak itupun memandang kepada Bi Lan
sambil tersenyum cerah menjawab dengan suaranya yang nyaring dan lucu.
"Namaku Si Hong Lan, bibi."
"Nama yang bagus, cocok dengan wajahmu yang manis. Hong Lan, mari kupondong dan kuberi
mainan yang indah."
Hong Lan tidak membantah ketika digendong. "Mainan apa, bibi?" "Nanti kupetikkan bunga
merah, kutangkapkan kupu-kupu kuning."
"Bibi baik, bibi baik sekali, suheng Hong Lan bersorak, akan tetapi Siong Ki mengerutkan
alisnya. Dia belum mengenal benar siapa wanita cantik itu, karena merasa khawatir kalau Hong Lan
diajak pergi bermain-main.
"Maaf, bibi. Sumoi Hong Lan belum kuberi sarapan pagi. Mari, sumoi, kita makan dulu ..." Siong
Ki menjulurkan kedua tangannya untuk mengambil sumoinya dari pondongan Bi Lan. Akan tetapi
sekali Bi Lan menggerakkan tangan kirinya menotok. Siong Ki tak mampu bergerak dalam posisi
berdiri dengan kedua tangan terjulur. Bi Lan lalu berjongkok, tangan kiri memondong Hong Lan,
dan tangan kanan dengan jari telunjuk terjulur mencoret-coret di atas tanah di depan Siong Ki.
Kemudian, sambil memondong Hong Lan, ia berkelebat lenyap dari tempat itu, meninggalkan Siong
Ki yang masih berdiri kaku seperti arca!
Tak lama kemudian, seorang pelayan keluar dan dia terheran-heran melihat Siong Ki yang
berdiri dengan tangan terjulur seperti patung, tak bergerak-gerak.
"Eh, engkau kenapa tanyanya.
Siong Ki tidak mampu menengok, akan tetapi dia masih dapat bicara walaupun, dengan kaku
dan sukar, "Cepat .... beritahu suhu .... cepat.... sumoi diculik orang
Sebagai pelayan suami isteri pendekar, pelayan itupun sudah tanggap dan dia segera lari
mencari majikannya yang sedang sibuk mengatur orang-orang yang sedang panen. Dapat
dibayangkan betapa kagetnya hati Si Han Beng dan Bu Giok Cu ketika mendengar laporan pelayan
itu bahwa Siong Ki berdiri seperti patung tak mampu bergerak dan mengatakan bahwa Hong Lan
diculik orang.
Mereka lalu berlari cepat, seperti berlomba pulang ke rumah. Semua petani terkejut dan kagum
bukan main melihat suami isteri yang mereka kenal sebagai sepasang pendekar namun yang tak
pernah mereka lihat kepandaiannya itu, kini berlari seperti terbang saja meninggalkan sawah. Baru
sekarang mereka menyaksikan suami isteri itu memperlihatkan kepandaiannya yang luar biasa.
Suami isteri itu tiba di pekarangan rumah mereka dan setelah Han Beng membebaskan totokan
yang membuat muridnya tak mampu bergerak, Siong Ki cepat menunjuk ke bawah, di depannya.
"Ia meninggalkan tulisan di situ....."
Han Beng dan Giok Cu cepat membaca tulisan itu. Huruf-hurufnya jelas karena jari yang
mencoret-coret di atas tanah itu menggunakan tenaga sin-kang, sehingga tanah itu seperti dicoret
dengan pensil baja saja.
Suheng Si Han Beng. Engkau telah membuat aku berpisah selamanya dari orang yang kucinta.
Aku akan membuat engkau berpisah sementara dari anak yang kau sayang. Aku berhak menyayang
dan disayang. Aku sayang Hong Lan dan ingin menikmati hidup bersamanya. Setelah beberapa
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tahun, aku akan mengembalikannya kepadamu. Suheng, jangan kejar kami, karena terpaksa aku
akan membunuh Hong Lan, lalu membunuh diri sendiri, Kwa Bi Lan.
"Aih, anakku........!" Giok Cu menjadi pucat wajahnya setelah selesai membaca coretan tulisan di
tanah itu. "Aku harus mengejar iblis betina itu. ..!" Ia hendak meloncat, akan tetapi tangannya
dipegang suaminya.
"Tunggu dulu......apakah kau ingin ia membunuh anak kita? Aku yakin ia tidak menggertak
kosong belaka," kata Han Beng sambil menunjuk ke arah kalimat terakhir itu. Giok Cu membacanya
lagi, "Suheng, jangan kejar kami, karena terpaksa aku akan membunuh Hong Lan, lalu membunuh
diri sendiri."
"Ahhh .... tapi.... tapi.... bagaimana dengan anak kita ....?" Suara wanita perkasa itu
mengandung tangis karena ia merasa khawatir bukan main.
Han Beng merangkul isterinya. Wajahnya sendiri juga pucat dan diam-diam ia merasa menyesal
bukan main, akan tetapi dia tidak bingung seperti isterinya.
"Giok Cu, aku yakin bahwa ia tidak akan mencelakai anak kita, akan tetapi kalau kita
mengejarnya, pasti ia akan nekat. Ia seorang yang sudah putus asa, dapat melakukan apa saja."
"Tapi .... tapi .... kenapa ia melakukan ini? Kenapa ia culik anakku?"
Han Beng menarik nafas panjang. "Aku dapat memakluminya. Pertama, ia masih merasa bahwa
akulah yang membuat ia sengsara, aku yang menyebabkan kematian suhu, orang yang dicintanya.
Karena itu ia ingin membalas dendam, ingin membuatku merasakan penderitaan kehilangan orang
yang kucinta, walaupun tidak selamanya seperti yang dijanjikannya, hanya untuk sementara. Dan
selain itu, iapun haus kasih sayang. Ingin menyayang dan disayang. Dan agaknya da suka sekali
pada anak kita, ia ingin mencurahkan kasih sayangnya kepada anak kita, karena itu, jangan
khawatir
"Jangan khawatir, kau bilang? Aku ibu Hong Lan! Anakku diculik orang, mungkin seorang iblis
betina, dan kau bilang aku jangan khawatir?"
"Giok Cu, aku tahu siapa Kwa Bi Lan. Sebelum menjadi murid suhu Liu Bhok Ki, ia adalah murid
Siauw-lim-pai. Kemudian digembleng oleh suhu Liu Bhok Ki bahkan menjadi isterinya. Ia bukan iblis
betina, ia seorang wanita berjiwa pendekar. Aku yakin ia akan memegang janji dan akan
mengembalikan anak kita dalam keadaan selamat."
Giok Cu memandang suaminya dengan alis berkerut. "Enak saja engkau bicara membelanya! Ia
menculik anak kita, ingat? Aku diharuskan berpisah dari anakku untuk beberapa tahun, dan aku
harus tinggal diam saja? Aih, apakah engkau tidak dapat merasakan bagaimana penderitaan
seorang ibu kalau dipisahkan dari anaknya yang baru berusia dua tahun lebih.!"
Han Beng menarik napas panjang dan menundukkan mukanya yang pucat. "Aku mengaku
bersalah, isteriku. Akulah yang menyebabkan semua ini, aku biang keladinya dan aku siap
menerima hukuman apapun...."
Melihat suaminya begitu bersedih dan menyesal, meredalah kemarahan Giok Cu dan iapun
merangkul pundak suaminya dan menangis di pundak orang yang dicintainya itu.
"Lalu .... apa ... yang harus kita lakukan ....?" Rintihnya memelas.
"Tidak ada yang dapat kita lakukan sementara ini kecuali .... menunggu dan pasrah kepada
Tuhan. Kelak, kalau keadaan sudah mereda, kalau ia sudah tidak mengira kita akan mencarinya
lagi, barulah aku akan berusaha menyelidiki di mana ia membawa anak kita, dan akan kuusahakan
untuk merebutnya kembali tanpa membahayakan anak kita. Sementara ini, maafkan aku. Akulah
yang menyebabkan engkau menderita batin...."
Akan tetapi. Giok Cu sudah terhibur dan dapat mengerti kebenaran ucapan suaminya. Memang
berbahaya sekali kalau sekarang ia melakukan pengejaran.Wanita yang sudah putus asa itu tentu
tidak akan ragu-ragu untuk membunuh Hong Lan lalu membunuh diri sendiri sebelum sempat
merebut kembali anak itu! Kalau sekarang ia dibiarkan pergi, setelah beberapa lama tentu wanita
itu akan mengira bahwa mereka tidak lagi melakukan pengejaran dan akan menjadi lengah. Nah,
itulah saatnya mereka berusaha merebut kembali anak mereka.
Melihat kedukaan gurunya, Siong Ki lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Han Beng. "Suhu,
teecu yang bersalah tak mampu menjaga sumoi dengan baik. Kalau suhu mengijinkan, teecu akan
pergi mencari sumoi sampai dapat dan membawanya kembali kepada suhu."
"Bangkitlah dan bekerjalah sepert biasa. Juga yang rajin berlatih silat. Jangan bicarakan dengan
siapapun urusan hilangnya sumoimu. Engkau tidak bersalah, Siong Ki," kata Han Beng dan diapun
menggandeng isterinya, diajak masuk ke dalam rumah.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sejak hari itu, suami isteri pendekar ini merasa hidup mereka tidak lengkap lagi. Mereka telah
berusaha setelah lewat beberapa bulan untuk mencari anak mereka yang dilarikan Bi Lan, namun
tidak berhasil. Bi Lan menghilang tanpa meninggalkan jejak. Tentu saja Bu Giok Cu menderita batin
yang cukup hebat, merasa gelisah selalu. Lebih-lebih Han Beng karena pendekar ini merasa bahwa
ialah yang bersalah, dan dia menganggap hal ini sebagai hukuman dari mendiang gurunya.
Seringkali dia duduk melamun dan mengeluh. Kenapa selama hidupnya gurunya itu, Sin-tiauw
Liu Bhok Ki Si Rajawali Sakti, mengisi hidupnya dengan dendam dan pembalasan? Mula-mula
selama puluhan tahun, gurunya itu membalas dendamnya secara keji sekali terhadap isterinya dan
kekasih isterinya karena penyelewengan isterinya. Biarpun dirinya sudah membunuh mereka,
dendamnya belum juga hilang dan dia masih "menyiksa" isteri dan kekasih isterinya itu dengan
membiarkan kepala mereka selalu bersamanya! Kini, gurunya yang sudah mati itupun
melampiaskan dendamnya kepadanya karena kesalahannya tidak mentaati perintahnya menikah
dengan Kwa Bi Lan. Dan pembalasan dendam ini dilakukan mendiang suhunya melalui Bi Lan!
Mungkinkah Kwa Bi Lan setelah menjadi murid dan isteri Liu Bhok Ki, mewarisi pula watak
pendendam yang hebat itu?
Karena tidak adanya Hong Lan, Han Beng menggembleng The Siong Ki dengan sungguhsungguh.
Dan anak ini memang berbakat baik sekali sehingga memperoleh kemajuan pesat.
ooo0000ooo
Ke manakah perginya Kwa Bi Lan yang membawa lari Si Hong Lan sehingga setelah lewat
beberapa bulan, suami isteri perkasa dari Hong-cun itu tidak berhasil menemukan jejaknya?
Mari kita ikut jejak Bi Lan setelah ia meninggalkan dusun Hong-cun sambil memondong Hong
Lan.
Biarpun Kwa Bi Lan bersikap manis kepada Hong Lan, menghiburnya sepanjang jalan, bahkan
membelikan pakaian dan mainan di toko, tetap saja Hong Lan mulai rewel ketika ia teringat akan
ayah bundanya dan merindukan mereka, juga merindukan Siong Ki. Berulang kali ia rewel,
menangis dan minta pulang. Bi Lan yang tidak mempunyai pengalaman dengan anak-anak,
berusaha semampunya untuk menghibur, namun Hong Lan tetap menangis. Saking jengkel dan
sedihnya, ketika pada suatu malam Hong Lan menangis terus di dalam kamar sebuah rumah
penginapan, Bi Lan juga ikut menangis! Dan sungguh aneh, begitu Bi Lan menangis, Hong Lan
berhenti menangis! Anak itu memandang Bi Lan yang menangis dengan kedua mata merah. Sinar
matanya penuh keheranan, bahkan mengandung iba.
"Bibi .... kenapa menangis Sungguh aneh, begitu mendengar anak itu berhenti menangis
dan bertanya kepadanya mengapa ia menangis, Bi Lan makin mengguguk menangis, merangkul
anak itu dan tangisnya menjadi tersedu-sedu! Sudah terlalu lama ia tidak menangis, terlalu lama
memendam duka yang disembunyikan saja di dalam hatinya, tidak pernah mendapat kesempatan
mengeluarkan duka nestapa yang menekan hatinya. Kini ditanya mengapa ia menangis oleh suara
kanak-kanak itu, ia menjadi demikian sedih, demikian terharu sehingga ia terguguk seperti anak
kecil!
Hong Lan semakin kasihan kepada wanita yang selama ini amat manis dan baik kepadanya,
yang agaknya bahkan lebih baik dan lebih sayang padanya daripada ibunya sendiri. Maka, melihat
wanita ini mengguguk, iapun merangkul dan mencium pipi yang basah itu.
"Bibi, jangan menangis .... bibi, jangan menangis....." Ia merengek, agak ketakutan melihat
wanita itu menangis begitu sedihnya.
Mendengar ini, Bi Lan mengerahkan tenaganya untuk menahan dan menghentikan tangisnya. Ia
mengangkat mukanya yang masih basah, dan ia memaksa tersenyum sambil memandang wajah
anak itu yang juga masih basah. "Tidak, aku tidak menangis, Hong Lan sayang, aku tidak
menangis......lihat, aku sudah tertawa."
Hong Lan menatap wajah itu. Wajah yang memelas sekali, nampaknya saja mulut itu tersenyum
ramah, akan tetapi dua matanya merah dan pipinya basah mata. Tangis campur tawa yang
mengharukan. Namun, anak itu agaknya lega begitu Bi Lan tidak mengguguk lagi.
Dengan jari tangannya yang kecil-kecil, Hong Lan mengusap bawah kedua mata Bi Lan. "Bibi,
kenapa tadi menangis?"
Hong Lan menciumnya penuh kasih sayang. Ia dapat merasakan kehangatan kasih sayang anak
itu kepadanya dan lebih dari pada itu, kehangatan rasa cinta kasihnya kepada anak itu! Alangkah
melegakan dan membahagiakan, dapat mencurahkan kasih sayang kepada seseorang, apa lagi
kalau dibalasnya! Dibalas atau tidak, mencurahkan kasih sayang ke seseorang merupakan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kebahagiaan yang sejak kematian suaminya tak pernah ia rasakan lagi! Dan kini, seluruh
kerinduannya akan kasih sayang, baik memberi atau menerima, ia curahkan kepada Hong Lan!
"Anakku yang baik. aku menangis karena melihat engkau menangis, aku bersedih kalau engkau
menangis, Hong Lan."
"Aku tidak akan menangis lagi, bibi...."
Bi Lan menciumnya dan mendekap muka anak itu ke dadanya. "Anakku .... kau anakku yang
manis, kenapa kau tidak menyebut ibu kepadaku? Sebut aku ibu, Hong Lan ..."
"Tapi... engkau bukan ibuku ......"
Hong Lan memandang ragu. Bi Lan kembali menciumnya penuh kasih sayang.
"Anakku, mulai sekarang, aku jadi pengganti ibumu, juga pengganti ayahmu, pengganti
suhengmu, pengganti segalanyanya. Sebut aku ibu dan engkau membuat aku senang sekali, Lan
Lan!"
Hong Lan terbelalak girang mendengar sebutan itu. "Ibu juga memanggilku Lan Lan!"
Bi Lan tersenyum. "Tentu saja, dan akupun sekarang menjadi ibumu dan memanggilmu Lan
Lan. Nah, kau mau bukan menjadi anakku dan menyebutku ibu?"
Lan Lan tersenyum dan mencium pipi wanita itu, " Aku senang sekali, ibu."
B i Lan mendekap anak itu dan merasa berbahagia bukan main. Dan sejak malam itu, benar saja
Lan Lan tidak pernah rewel lagi. Bahkan karena pandainya Bi Lan menghiburnya, dan mengajaknya
melihat-lihat kota-kota yang ramai, pemandangan yang indah-indah, lambat laun Lan Lan mulai
melupakan ayah, ibu dan suhengnya. Mereka itu makin kabur seperti merupakan bayang-bayang
dalam mimpi saja.
Sebulan setelah Bi Lan melarikan Lan Lan dari rumahnya, pada suatu siang jalanannya melalui
sebuah hutan di tepi sungai. Ia memang menuju ke barat untuk pulang ke Kim-hong-san, tempat
tinggal mendiang suaminya, untuk hidup di sana berdua dengan Lan Lan. Karena berjalan ke barat
melawan arus air Sungai Huang ho, maka ia melakukan perjalanan lewat darat, menyusuri
sepanjang pantai sungai yang amat lebar itu. Dan siang itu, sambil memondong Lan Lan yang kini
tidak rewel lagi, Bi Lan berjalan memasuki hutan di pantai sungai.
Tiba-tiba ia menghentikan langkahnya karena pendengarannya menangkap gerakan orang di
belakangnya. Ia menengok dengan cepat dan melihat bayangan orang berkelebat cepat sekali,
menyelinap lenyap di antara pohon-pohon. Ia tidak dapat melihat jelas karena gerakan orang itu
cepat sekali, hanya tahu bahwa orang itu tentu seorang pria yang berpakaian serba biru. Karena
sampai beberapa lamanya ia menanti, tidak ada gerakan yang mencurigakan, iapun melanjutkan
perjalanan.
Baru puluhan langkah ia berjalan, ia berhenti lagi karena terdengar tiupan suling yang amat
merdu. Suara suling itu meliuk-liuk, turun naik dengan getaran halus. Bi Lan memejamkan kedua
matanya. Suara suling itu demikian indah, melengking halus dan seperti menarik-narik jantungnya,
dan tak terasa lagi dua titik air mata tergenang di pelupuk matanya. Tiupan suling itu demikian
merdu, demikian indah, akan tetapi juga mengharukan seperti tangis sebuah hati yang merana.
Sepantasnya orang yang meniup suling seperti itu adalah seorang yang sedang dilanda duka,
pikirnya. Akan tetapi, sungguh mengherankan. Siapa pula yang pandai meniup suling seperti itu di
tengah hutan lebat yang sunyi ini?
Bi Lan melihat pula betapa Lan Lan juga memperhatikan suara itu. "Ibu, suara apakah itu?" "Itu
suara suling, Lan Lan. Suara suling yang ditiup oleh seorang ahli, amat indahnya." "Seperti ada
yang menangis, ibu," kata anak itu.
Betapa tajam dan peka perasaan anakku ini, pikir Bi Lan dengan bangga. Memang tak salah lagi,
peniup suling itu dilanda kesedihan dan tangis dari hatinya keluar melalui tiupan sulingnya.
Maka, iapun mempergunakan kepandaiann dan berlari cepat ke arah suara itu dan melihat si
penyuling! Jantungnya berdebar. Seorang pemuda yang tampan berpakaian seperti seorang pelajar
atau sastrawan, sedang duduk di bawah pohon dan meniup sulingnya. Yang membuat ia berdebar
bukan karena pemuda itu tampan sekali, wajahnya yang dilindungi caping lebar itu memiliki hidung
yang besar mancung, dan bibir yang nampak sayu. Yang membuat Bi Lan terkejut adalah pakaian
sasterawan muda itu. Serba biru! Ia teringat akan orang yang tadi berkelebat di belakangnya.
Bagaimana kini tahu-tahu orang itu telah berada jauh di depannya dan meniup suling? Ia tidak
melihat orang berlari melewatinya! Kalau benar peniup suling ini orang yang tadi berkelebat di
belakangnya, alangkah cepatnya orang itu dapat berada di situ.
Biarpun hatinya tertarik, akan tetapi karena ia tidak mengenal orang itu, tidak sepantasnya kalau
ia terlalu lama memperhatikan seorang laki-laki asing, maka iapun berjalan terus meninggalkan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tempat itu sambil memondong Lan Lan yang terus memandang ke arah si peniup suling yang
agaknya juga tidak memperdulikan mereka, melainkan asyik meniup suling sambil menundukkan
mukanya.
Sambil berjalan terus meninggalkan pemuda itu sampai suara sulingnya tidak terdengar lagi,
mau tidak mau Bi Lan masih terkenang kepada si peniup suling. Harus diakuinya bahwa pria muda
itu tampan sekali, dan nampaknya seperti seorang sasterawan muda yang lemah. Akan tetapi,
iapun tahu bahwa di dunia kang-ouw terdapat banyak orang yang nampaknya lemah akan tetapi
sesungguhnya memiliki kepandaian tinggi.
Jilid 9
Mendiang gurunya yang juga suaminya pernah memesan agar dia berhati-hati dan tidak
memandang rendah kepada empat macam orang, yaitu pertama wanita yang tampaknya lemah
walaupun memiliki ilmu yang tinggi, ke dua kaum pendeta yang juga kelihatan lemah lembut, ke
tiga pengemis yang nampaknya saja lemah dan sengsara, dan ke empat sastrawan, karena mereka
ini kadang-kadang menyembunyikan ilmu yang tinggi dan merupakan lawan yang amat berbahaya.
Yang amat mengesankan hatinya bukan ke tampanan pria itu, melainkan tiupan sulingnya.
Biarpun kini sudah tidak terdengar lagi suara sulingnya, namun masih terngiang di telinganya suara
yang meliuk-liuk merdu dan mengharukan itu.
Lamunan Bi Lan dan kantuk Lan Lan dalam pondongannya terganggu ketika mendadak muncul
sepuluh orang yang berloncatan dari balik batang pohon-pohon di kanan kiri jalan setapak itu.
Begitu melihat, Bi Lan mengerti bahwa ia berhadapan denagn gerombolan penjahat! Sikap
mereka saja sudah jelas menunjukkan bahwa mereka bukan orang baik-baik dan termasuk
gerombolan yang suka memaksakan kehendak mengandalkan kekerasan. Juga mereka semua itu
menyeringai menjemukan dengan sepasang mata yang membayangkan kecabulan. Seorang di
antara mereka yang gendut dan segala-galanya bundar, kepalanya, hidungnya, matanya , bentuk
mulutnya, perutnya, semua bundar, melangkah maju. Sebatang golok besar tergantung di
pinggangnya dan sejenak dia mengamati wajah dan tubuh Bi Lan, kemudian tertawa bergelak
dengan girang.
"Ha-ha-ha, inilah orangnya yang pantas menjadi isteriku! Kawan-kawan, bagaimana pendapat
kalian? Sudah patutkah perempuan ini kalau duduk bersanding denganku sebagai isteriku?"
Sembilan orang anak buahnya juga tertawa-tawa dan menyengir-nyengir dengan sikap ceriwis
sekali. "Sudah cocok sekali, toako! Akan tetapi hati-hati, ia membawa anak dan di punggungnya
ada sepasang pedang!"
"Ha-ha-ha, anak inipun mungil sekali. Kalau anaknya, anak ini menjadi anak isteriku yang manis.
Kalau adiknya, kebetulan! Dan tentang sepasang pedangnya, ha-ha-ha, itu hanya untuk menakutnakuti
orang saja. Bukankah begitu, manis?"
Dapat dibayangkan betapa marahnya Bi Lan melihat sikap dan mendengar ucapan yang amat
menghina itu. Kalau saja ia tidak sedang memondong Lan Lan, tentu ia sudah mengamuk dan
membunuh semua orang itu. Akan tetapi, ia memondong Lan Lan yang kini sudah terbangun dari
kantuknya. Ia harus berhati-hati dan melindungi anak itu. Maka ia menahan sabar, karena
kemarahan hanya akan merugikan dirinya, mengurangi kewaspadaannya.
"Kalian adalah sepuluh laki-laki, kenapa begitu rendah menghadang dan mengganggu seorang
wanita yang sedang melakukan perjalanan? Minggirlah, aku tidak ingin mencari keributan." Katanya
dengan nada suara yang dibikin setenang mungkin.
"Ha-ha-ha, manis. Siapa yang akan mengganggumu? Aku bahkan meminangmu. Aku ingin
melamarmu menjadi isteriku, sayang. Marilah ikut baik-baik denganku dan kita merayakan hari
perkawinan kita. Anakmu itu akan menjadi anakku juga," kata si gendut dengan keramahan yang
dibuat-buat.
"Aku tidak mau menikah denganmu atau dengan siapapun. Minggirlah!" kini dalam suara Bi Lan
terdengar bentakan.
"Nona manis, aku harus menjadi suamimu. Engkau mau atau tidak, harus menjadi isteriku. Nah,
tinggal kaupilih saja. Engkau menurut dengan baik-baik atau ingin dipaksa?" kini si gendut
mengancam.
"Sudah kuduga. Kalian tentu segerombolan anjing yang suka mempergunakan kekerasan
melakukan kejahatan! Majulah kalau engkau minta mati!" bentak Bi Lan dan ia menggunakan sabuk
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
suteranya untuk menggendong Lan Lan di punggung setelah melolos sepasang pedangnya dan
menggantungnya di pinggang. Anak itu duduk di atas buntalan pakaian dan diikat dengan sabuk
sutera yang biasanya menjadi senjata pula bagi Bi Lan.
Kini, kedua tangan wanita itu bebas, walaupun gerakannya tentu saja kurang leluasa dengan
adanya Lan Lan di punggungnya. Yang membuatnya kagum, anak itu tidak menangis, tidak
kelihatan takut walaupun menghadapi sepuluh orang laki-laki yang kelihatan beringas dan Kejam.
Pantas memang Lan Lan menjadi puteri suami isteri pendekar besar.
"Ho-ho-ha-ha-ha! Perempuan ini bernyali juga! Aku makin tergila-gila kepadanya!" kata si
gendut. "Aku paling jemu dengan kuda betina yang jinak, aku ingin yang liar seperti ini, ha-ha-ha!"
Dia masih tertawa ketika tubuhnya tiba-tiba menyerbu ke depan.
Sungguh merupakan serangan yang amat curang, menggunakan kesempatan selagi dia masih
tertawa sehingga lawan akan menjadi lengah. Akan tetapi, Bi Lan sama sekali tidak lengah. Tidak
percuma menjadi murid dan isteri Si Rajawali Sakti. Dari suaminya itu ia telah mendapatkan ilmu
silat yang tangguh dan kokoh kuat. Begitu si gendut menubruk dengan kedua lengan berkembang,
seperti seekor beruang menyerang, tubuh Bi Lan sudah mengelak ke kiri dan kaki kanannya
melakukan tendangan ke arah perut gendut itu. Demikian cepat geraka Bi Lan sehingga tendangan
itu tidak mungkin dapat dielakkan atau ditangkis lagi oleh si gendut.
"Bukk...... ! Duuuuuuttt......!" perut itu ternyata kebal, akan tetapi karena tendangannya
mengandung sin-kang yang kuat, tidak urung isi perutnya terguncang dan tak tertahankan lagi si
gendut kelepasan membuang gas dengan bunyi kentut yang nyaring.
Mendengar suara kentut itu, Lan Lan berseru. "Ihhhh......kentut bau ...!" dan dengan lucunya,
bukan pura-pura Lan Lan memijat hidungnya dengan tangan kiri. Mau tidak mau, kawanan
perampok itu tertawa geli, dan baru mereka berhenti tertawa ketika pimpinan mereka yang merasa
perutnya agak mulas itu membentak mereka.
"Apa tertawa! Hayo tangkap perempuan ini.! Awas, jangan lukai, aku tidak ingin pengantinan
dengan mempelai yang luka-luka!"
Sembilan orang anak buah itu menerima perintah ini dengan gembira. Siapa yang tidak ingin
menangkap wanita cantik itu? Biarpun akhirnya diserahkan kepada pimpinan mereka, setidaknya
yang menangkapnya mempunyai kesempatan untuk merangkul, memeluk dan setidaknya mencolek
tubuh yang montok itu!
Mereka maju dengan cepat seperti sekumpulan anjing memperebutkan tulang, berlomba untuk
dapat menangkap Bi Lan. Akan tetapi, kegembiraan mereka segera berubah menjadi teriakanteriakan
kesakitan ketika Bi Lan membagi-bagi tamparan dan tendangan dengan cepat sebelum ada
tangan yang mampu menyentuhnya.
Para pengeroyok itu berpelantingan terhuyung dan biarpun tidak ada yang roboh dan terluka
parah, namun sedikitnya mereka menjadi gentar. Ada yang pipinya bengkak membiru, bibirnya
pecah atau perutnya mulas seketika karena usus buntunya tercium ujung sepatu Bi Lan. Ada yang
terpincang-pincang karena sambungan lututnya terkena gajulan yang cukup kuat.
Melihat betapa sembilan orang anak buahnya mundur semua, si gendut menjadi marah. Dia lupa
bahwa dia sendiri pun tadi terkena tendangan sampai terkentut-kentut walaupun perut gendutnya
yang kebal membuat dia tidak jatuh dan memaki-maki anak buahnya. "Kalian ini gentong-gentong
kosong melompong yang tiada gunanya!" Akan tetapi agaknya dia menyadari bahwa wanita itu
ternyata bukan makanan empuk, maka dia menambahkan, "Hayo keroyok, robohkan dengan
senjata! Aku tidak perduli berpengantinan dengan mempelai luka!"
Para anak buahnya yang juga marah mencabut senjata mereka. Ada yang bersenjata golok, ada
yang memegang pedang, tombak dan lain-lain. Dan mereka mengepung Bi Lan.
Bi Lan merasa khawatir. Kalau ia tidak menggendong Lan Lan, tentu pengerokan orang-orang
kasar itu tidak membuat ia gentar. Kini ia khawatir akan keselamatan Lan Lan.
"Lan Lan, rangkul leher ibu kuat-kuat!" teriaknya sambil mencabut sepasang pedang yang
tergantung di pinggang. Anak itu memang tabah bukan main. Melihat "ibunya" berkelahi, ia tidak
takut sama sekali dan mendengar perintah ibunya, iapun cepat merangkulkan kedua lengannya
yang kecil ke leher Bi Lan.
Sepuluh orang perampok itu menyerang dan Bi Lan memutar kedua pedangnya. Gerakan
pedangnya cepat dan juga mengandung tenaga sin-kang yang membuat setiap senjata lawan yang
bertemu pedangnya terpental.
Semua perampok terkejut dan mereka mengepung dan mengeroyok dengan hati-hati, maklum
bahwa wanita cantik ini benar-benar amat lihai. Namun, dengan adanya Lan Lan di gendongannya,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tentu saja Bi Lan menjadi kurang leluasa dan ia lebih mengutamakan perlindungan terhadap anak
itu sehingga daya serangnya berkurang.
Si perut gendut melihat hal ini dan diapun berteriak kepada teman-temannya, "Serang anak di
gendongan itu!"
Bi Lan terkejut. Kini para pengeroyok menujukan serangan mereka ke arah punggungnya! Tentu
saja ia hanya dapat memutar sepasang pedang untuk membentuk benteng sinar yang menjadi
perisai dan melindungi punggungnya dari sambaran senjata para pengeroyok! Karena ia hanya
bertahan, tidak berani lengah untuk balas menyerang, ia segera terdesak!
Pada saat itu, terdengar suara halus namun lantang berwibawa, "Nona, lemparkan anak itu
kepadaku. Biar aku yang sementara menjaganya untukmu!"
Bi Lan melirik dan melihat bahwa yang berteriak itu adalah seorang pemuda tampan berpakaian
biru bercaping lebar. Pemuda peniup suling tadi! Entah mengapa, ia percaya sepenuhnya kepada
pemuda itu, dan memang Lan Lan terancam bahaya, maka iapun memutar pedang kanannya,
menggunakan tangan kiri untuk menurunkan Lan Lan dari gendongan.
"Lan Lan, engkau ikut paman itu dulu!" katanya dan sekali ia menggerakkan tangan kiri, anak itu
dilemparkan ke arah pemuda peniup suling. Dan hatinya lega melihat betapa sigapnya pemuda itu
menyambut Lan Lan yang mendarat dengan empuk dalam pondongannya.
"Nah, di sini lebih enak, kan? Kita nonton pertempuran!" kata pemuda itu sambil menurunkan
Lan Lan dan berdiri di situ, menggandeng tangan Lan Lan. Biarpun tadi ia dilempar, Lan Lan tetap
tabah dan sama sekali tidak berteriak, apa lagi menangis.
Setelah melihat Lan Lan berada dengan pemuda itu dan ia tidak lagi dibebani tugas melindungi
Lan Lan, Bi Lan mengamuk. Pedangnya menyambar-nyambar dahsyat dan dalam beberapa
gebrakan saja, robohlah dua orang pengeroyok dengan pundak dan paha terluka parah.
"Aih, jangan bunuh mereka, nona..!" Pemuda itu berkata dan tiba-tiba dia memondong tubuh
Lan Lan. Dia sendiri, dengan Lan Lan di pondongan, bergerak ke depan, kedua kakinya
menyambar-nyambar dan setiap kali kakinya menyambar, seorang pengeroyok roboh! Bi Lan
merobohkan dua orang lagi, dan selebihnya, yang enam orang, roboh oleh tendangan kaki pemuda
itu!
Bi Lan yang marah sekali, menggerakkan sepasang pedangnya hendak mengirim serangan maut
membunuh sepuluh orang itu, akan tetapi pemuda itu sekali berkelebat sudah berdiri di depannya.
"Nona, jangan membunuh mereka!"
Bi Lan memandang tajam penuh selidik. "Hem, kenapa? Bukankah mereka itu orang-orang jahat
yang hanya membahayakan kehidupan orang-orang lain? Kalau tidak dibunuh, mereka tentu aka
mencelakai orang lain."
Pemuda itu menarik napas panjang lalu menurunkan Lan Lan. Anak itupun menghampiri Bi Lan
dan memegang tangan Bi Lan yang masih memegang pedang. "Nona, kalau setiap orang yang
melakukan kejahatan di dunia ini kaubunuh, kiraku tidak akan ada yang tinggal hidup. Adakah
manusia yang tidak pernah melakukan kesalahan dalam hidupnya? Adakah manusia yang tidak
berdosa?"
Bi Lan mengerutkan alisnya. "Akan tetapi, tidak semua orang menjadi perampok, pengganggu
wanita dan pembunuh!"
"Nona, manusia itu lemah lahir batin. Bukan hanya lahirnya saja, tubuhnya saja yang lemah dan
suka diserang penyakit. Juga batinnya lemah dan suka sakit. Semua orang mengalami penyakit
batin ini, hanya kadarnya saja yang berbeda, ada yang ringan dan ada yang berat. Orang yang
menyeleweng dari kebenaran, yang menjadi penjahat, sebenarnya hanyalah orang yang sedang
sakit batinnya. Orang yang sakit harus kita tolong, kita obati, yaitu kalau yang sakit badannya.
Kalau yang sakit batinnya, kitapun harus menolong dengan obat berupa nasihat, atau kalau perlu
ancaman. Akan tetapi, bukan lalu membunuhnya. Ingat, nona, orang sakit dapat sembuh, dan yang
sehat dapat jatuh sakit. Orang yang berbuat jahat dapat sembuh, dan yang sekarang kelihatan
baik-baik saja, sekali waktu dapat jatuh dan berbuat jahat.
Semua orang pernah sakit, nona. Termasuk aku sendiri. Sakitku amat berat, dan mudahmudahan
sekarang telah sembuh."
Ucapan itu berkesan di hati Bi Lan. Bahkan gurunya yang juga suaminya pernah mengakui
bahwa gurunya itu dahulu juga pernah "sakit" parah, yaitu menderita sakit batin karena dendam.!
Ucapan pemuda berpakaian biru itu sungguh berkesan di hati dan tanpa cakap lagi ia lalu
menyimpan kembali sepasang pedangnya, memondong Lan Lan dan membungkuk kepada pemuda
itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Mengingat bahwa engkau telah membantuku, biarlah aku menuruti nasihatmu dan tidak
membasmi mereka. Terima kasih atas bantuanmu dan selamat tinggal." Setelah berkata demikian,
Bi Lan pergi meninggalkan tempat itu.
Pemuda itu masih berdiri seperti patung, tersenyum-senyum seorang diri, dan dia seperti tidak
melihat atau tidak perduli ketika sepuluh orang perampok itu tertatih-tatih meninggalkan tempat itu
dengan hati gentar.
Sampai lama pemuda itu berdiri, bahkan lalu menjatuhkan diri duduk di atas batu, termenung
dan kadang menengok ke arah perginya Bi Lan.
Pemuda itu bukan orang sembarangan. Dia memiliki ilmu kepandaian yang amat lihai karena dia
bukan lain adalah Hong San! Putera mendiang Cui-beng Sai kong datuk besar dunia hitam itu,
seperti kita ketahui, tadinya membantu pemberontakan Pangeran Cian Bu Ong. Akan tetapi karena
semua gerakan bekas pangeran itu gagal, Cian Bu Ong membubarkan para pembantunya dan Can
Hong San juga pergi meninggalkan bekas pangeran itu, merantau seorang diri membawa bekal
banyak emas yang diterimanya sebagai hadiah dari Pangeran Cian Bu Ong.
Berbulan lamanya Can Hong San berdiam di puncak bukit merenungi keadaan hidupnya. Segala
usaha yang dilakukannya gagal belaka! Hanya kepahitan dan kekalahan yang dideritanya.
Mulailah dia melihat bahwa jalan yang ditempuhnya selama ini tidak menguntungkan, menuruti
nafsu-nafsunya, hanya menyeretnya ke lembah kegagalan belaka. Timbul niatnya untuk mengubah
jalan hidupnya untuk meninggalkan jalan sesat dan memilih jalan
kebenaran. Mungkin sebagai seorang pendekar, dia akan dapat memanfaatkan kepandaiannya
dan mendapatkan nama besar yang harum!
Kalau kita mau membuka mata melihat kenyataan tanpa menilai, akan tampaklah dengan jelas
bagaimana lihai, licin dan liciknya hati akal pikiran bekerja, hati akal pikiran yang sudah diperalat
oleh nafsu-nafsu daya rendah. Bagaimanapun pikiran berkiprah, selalu tujuannya untuk mencari
kesenangan dan menjauhi ketidaksenangan. Keputusan apapun yang diambil oleh pikiran, selalu
pasti mempunyai pamrih, yaitu demi kepentingan dan kesenangan diri sendiri. Can Hong San sejak
muda hidup bergelimang dosa, mengambil jalan sesat dan menjadi seorang yang terbiasa
melakukan segala macam bentuk kejahatan.
Semua ini hasil dari ulah hati akal pikiran yang bergelimang nafsu, yang sudah dicengkeram oleh
nafsu daya rendah yang selalu mengejar kesenangan sehingga dalam pengejaran itu, Hong San
tidak memperdulikan lagi caranya. Cara apapun akan ditempuhnya demi tercapainya kesenangan
yang dikejarnya. Itulah pekerjaan nafsu daya rendah! Kemudian, pikiran melihat betapa semua
perbuatan jahatnya tidak menguntungkan, bahkan merugikan! Maka, pikiran yang sudah
bergelimang nafsu lalu mencari jalan lain. Untuk menghindarkan akibat yang tidak menguntungkan,
untuk dapat mencapai kesenangan melalui jalan dan cara lain, kini pikiran Hong San membujuknya
untuk mengambil jalan yang berlawanan menjadi seorang pendekar! Menjadi orang yang
melakukan kebaikan, menentang kejahatan, yang tentu saja dengan pamrih agar mencapai
kesenangan dan keuntungan!
Jelaslah bahwa kebaikan yang disengaja, diatur dan direncanakan, bukanlah kebaikan lagi
namanya. Itu hanya hasil dari pikiran bergelimang nafsu. Yang dinamakan perbuatan baik hanya
dijadikan cara untuk mendapatkan kesenangan belaka. Kebaikan yang direncanakan pikiran adalah
kebaikan palsu, pura-pura. Kalau ada orang yang "ingin menjadi orang baik", pada hakekatnya dia
hanya ingin mendapatkan balas jasa atas kebaikannya itu.
Kebaikan atau kebajikan adalah suatu sifat dari perbuatan yang tidak 1agi terdorong nafsu daya
rendah. Perbuatan yang tidak didorong oleh pemikiran yang matang, melainkan perbuatan yang
spontan, seketika karena terdorong kekuasaan yang murni dan suci, karena terdorong oleh kasih
sayang! Kasih sayang bekerja selama pikiran sebagai si aku tidak muncul merajalela. Kasih sayang
berubah menjadi nafsu menyenangkan diri sendiri begitu si aku masuk dan campur tangan. Aku
ingin senang, aku ingin untung, aku tidak mau susah, aku tidak mau rugi, aku ingin.... aku
ingin......aku ingin......demikianlah sifat nafsu dari daya-daya rendah yang mencengkeram dan
mempengaruhi hati akal pikiran.
Oleh karena itu, keinginan hati akal pikiran untuk mengubah diri menjadi "orang baik" hanya
tipuan belaka, nukan menjadi "orang baik" melainkan menjadi "orang senang melalui perbuatan
baik" yang pada hakekatnya hanya membuat kita menjadi munafik! Hati akal pikiran yang
bergelimang nafsu tidak mungkin membersihkan diri sendiri!
Satu-satunya harapan hanyalah menyerah kepada Tuhan Maha Kasih! Hanya kekuasaan Tuhan
sajalah yang akan mampu mengubah seseorang, membersihkan batin seseorang,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mengembalikannya ke jalan benar. Kita hanya dapat mohon ampun, .. mohon bimbingan, dan
menyerah dengan sabar, ikhlas, dan tawakal kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Can Hong San tersenyum gembira. Wajahnya cerah karena dia merasa memperoleh jalan yang
baik. Setelah mengambil keputusan untuk mengubah cara hidupnya, dia turun gunung dan
kebetulan bertemu dengan Kwa Bi Lan yang menggendong seorang anak perempuan yang mungil.
Begitu bertemu, hati Hong San berdebar dan tertarik sekali. Bukan tertarik yang menimbulkan
nafsu berahi seperti yang sudah-sudah. Wanita yang dijumpainya ini lain! Memang cantik jelita dan
menggairahkan, akan tetapi dia tertarik bukan hanya karena itu. Bukan gejolak berahi yang timbul
di hatinya, melainkan kekaguman yang penuh pesona. Menurut pandangannya, belum pernah
selama hidupnya dia berjumpa dengan wanita yang dapat menarik dan mengguncang perasaan
hatinya seperti wanita yang mukanya bulat, berkulit putih mulus, berhidung mancung dan bermata
tajam itu.
Diam-diam Hong San mengikuti, bahkan lalu mendahuluinya dan sengaja meniup suling untuk
menarik perhatian gadis itu. Juga untuk menguji bagaimana sikap gadis itu. Akan tetapi, gadis itu
hanya melihat sebentar lalu melanjutkan perjalanan, acuh saja. Hal ini membuat dia semakin
kagum. Gadis yang alim, pikirnya, bertata susila dan menjaga martabat dan kehormatan. Dia
membayangi lagi dari jauh.
Ketika dia melihat gadis yang menimbulkan rasa kagum luar biasa di hatinya itu dikeroyok
sepuluh orang perampok, dia menjadi semakin kagum. Kiranya gadis itu bukan saja cantik jelita dan
memiliki harga diri yang tinggi, akan tetapi juga gagah perkasa dan memiliki ilmu silat yang cukup
hebat! Dia segera turun tangan membantu ketika melihat anak dalam gendongan itu terancam
bahaya, dan ketika dia melihat gadis itu hendak membunuh semua perampok, iapun cepat turun
tangan mencegahnya dengan merobohkan para perampok dan membujuk gadis itu agar tidak
membunuh mereka.
Semua ini dia lakukan dengan perhitungan, bukan karena dia merasa kasihan kepada sepuluh
orang perampok rendah itu, melainkan karena dia ingin menjadi seorang "pendekar" dan ingin
kelihatan baik budi di mata gadis yang dikaguminya itu. Mulailah hati akal pikiran dengan cerdik
dan liciknya membujuk Hong San menjadi seorang munafik!
Setelah Bi Lan pergi bersama Lan Lan, Hong San termenung. Gadis hebat! Dia betul-betul baru
sekali ini merasa jatuh cinta, bukan jatuh berahi, melainkan jatuh cinta sungguh-sungguh. Kalau
saja dia dapat berdampingan selamanya dengan gadis itu, dapat menjadi suami isteri, membentuk
rumah tangga berkeluarga! Alangkah akan bahagianya.!
"Ihh, khayal!" Hong San mencela diri sendiri dan dia teringat bahwa sudah terlalu lama dia
membiarkan gadis pujaan hatinya itu pergi. Dia harus cepat mengejar kalau tidak mau kehilangan.
Sambil berlari Hong San merasa heran sendiri terhadap perasaan hatinya.
Dia merasa seperti pernah bertemu dengan gadis itu, atau setidaknya pernah melihatnya! Akan
tetapi dia lupa lagi entah di mana. Sudah terlalu banyak dia bertemu gadis atau wanita muda yang
cantik, maka dia tidak ingat lagi di mana dia bertemu dengan gadis itu. Akan tetapi, yang membuat
dia merasa pernah bertemu terutama sekali adanya permainan sepasang pedang itu!
Bi Lan melanjutkan perjalanan dengan cepat sambil menggendong Lan Lan yang tertidur. Hari
telah menjelang senja dan ia harus mendapatkan sebuah rumah penginapan, di kota, atau mondok
di rumah penduduk dusun. Juga keributan tadi membuat ia tidak dapat memberi makan kepada Lan
Lan, maka sore hari ini mereka harus mencari makanan.
Ia merasa jengkel terhadap diri sendiri mengapa belum juga bayangan pemuda itu lenyap dari
depan matanya. Masih terus terbayang wajahnya, terngiang suaranya. Heran, ia merasa pernah
melihat pemuda itu, entah di mana dan kapan. Bi Lan dan juga Hong San lupa bahwa mereka
bukan saja pernah saling berjumpa bahkan pernah saling serang! Ketika Hong San berkelahi
menghadapi pengeroyokan Lie Koan Tek dan Poa Liu Hwa, muncul Bi Lan yang membantu Lie Koan
Tek, pamannya itu. Memang hanya merupakan perkelahian singkat, karena Hong San tidak mau
melayani pengeroyokan mereka bertiga dan segera melarikan diri begitu Bi Lan muncul dan
membantu dua orang yang mengeroyoknya.
Matahari telah condong ke barat ketika Bi Lan memasuki kota Peng-lu di pantai selatan Huangho.
Kota di pantai Sungai Kuning ini cukup besar dan ramai, dan dengan mudah Bi Lan
mendapatkan sebuah kamar di hotel yang cukup bersih.
Ia sudah membelikan pakaian untuk Lan Lan di kota yang dilewatinya beberapa hari yang lalu.
Setelah memandikan Lan Lan dan mengganti pakaian anak itu, dan ia sendiripun sudah mandi dan
bertukar pakaian bersih, ia mengajak Lan Lan keluar dari rumah penginapan dan mencari rumah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
makan. Kebetulan sekali tak jauh dari rumah penginupan itu terdapat sebuah rumah makan yang
tidak begitu penuh tamu. Bi Lan memondong Lan Lan memasuki rumah makan itu disambut oleh
seorang pelayan tua dengan ramah.
Bi Lan memilih di sudut yang kosong dan memesan makanan, nasi sayur dan minuman teh. Tak
lama kemudian, ia sudah menyuapi Lan Lan yang makan dengan lahapnya karena anak ini memang
lapar, sejak pagi tadi belum makan. Sambil menyuapi Lan Lan, Bi Lan juga makan. Karena asyik
makan sambil menyuapi Lan Lan, Bi Lan tidak tahu bahwa sejak tadi ada beberapa pasang mata
memperhatikannya. Tiga pasang mata mengamatinya secara langsung dari sebuah meja terbesar di
rumah makan itu, mata dari tiga orang yang berpakaian seperti perwira yang gagah dan
gemerlapan. Ada pula sepasang mata mengamatinya dari tempat gelap di luar rumah makan, yaitu
mata dari Can Hong San. Pemuda ini tidak mau memasuki rumah makan karena dia tidak ingin
dianggap membayangi gadis itu. Baginya asal dapat melihat dan tahu di mana gadis itu berada
sudah cukup. Akan tetapi, Hong San juga tahu bahwa tiga orang berpakaian perwira tinggi itu
mengamati si gadis dengan sinar mata seperti singa kelaparan. Diapun memperhatikan mereka.
Seorang di antara mereka berusia kurang lebih limapuluh tahun, pakaian perwiranya dihias benang
emas gemerlapan dan sarung pedang yang tergantung di pinggangnya amat indah, seperti emas
pula dan terukir, dengan gagang yang diukir kepala burung dan ada ronce-ronce benang sutera
merah. Dua orang lainnya berusia kurang lebih empatpuluh tahun, dan agaknya merupakan
perwira-perwira yang pangkatnya lebih rendah. Sikap merekapun merendah terhadap perwira tinggi
yang lebih tua.
Hong San memperhatikan perwira tinggi yang berusia limapuluh tahun itu.
Dari sikap dan pandang matanya saja diapun dapat menduga bahwa perwira itu seorang yang
cerdik dan agaknya memiliki ilmu kepandaian tinggi, sedangkan dua orang pembantunya juga
orang-orang yang berpakaian rapi dan bersikap gagah. Perwira tinggi itu bertubuh tinggi, agak
kurus dengan tulang pipi menonjol di bawah kanan kiri mata, hidungnya tinggi dan mulutnya yang
lebar dengan bibir tebal membayangkan gairah yang besar. Mulut itu sebagian tertutup kumis tebal
yang berjuntai ke bawah di kanan kiri mulutnya. Jenggotnya terpelihara rapi, digunting pendek.
Kepalanya memakai topi perwira yang dihias sulaman benang emas pula.
Tiga orang perwira itu sudah berada di dalam rumah makan ketika Bi Lan dan Lan Lan masuk ke
situ, dan begitu wanita muda itu masuk, mereka sudah memandang dengan penuh perhatian.
Karena pimpinan mereka nampak tertarik sekali, maka dua orang perwira pembantu itupun tertarik
dan mereka membicarakan Bi Lan sambil berbisik-bisik. Mereka adalah tiga orang perwira yang
datang dari Lok-yang Mereka merupakan perwira-perwira tinggi yang bertugas melakukan inspeksi
ke daerah-daerah, dan ketika tiba di kota Peng-lu, mereka kemalaman, bermalam di rumah kepala
daerah dan malamnya mereka keluar untuk jalan jalan dan membeli makanan. Andaikata mereka
memasuki rumah makan itu bersama kepala daerah, tentu para karyawan rumah makan itu akan
menyambut mereka dengan cara lain. Akan tetapi, biarpun pangkat mereka lebih tinggi dari pada
kepala daerah Peng-lu, akan tetapi tidak ada yang mengenal mereka, maka mereka dianggap
seperti tamu saja dan hanya diberi meja besar di rumah makan itu karena penampilan mereka yang
mewah dan berwibawa.
Perwira tinggi itu adalah seorang panglima bernama Su Ki Seng, terkenal dengan sebutan Suciangkun
(perwira Su) dan dia memang terkenal sebagai seorang panglima yang pandai dan juga
lihai. Seluruh kepala daerah di wilayah Propinsi He-nan takut belaka kepadanya. Panglima ini pandai
menemukan kesalahan-kesalahan para kepala daerah dan karena dia berkuasa dan berpengaruh di
kota raja, maka para kepala daerah tunduk kepadanya. Mereka selalu menyambut kunjungannya
dengan berbagai hadiah untuk menyenangkan hati panglima itu sehingga dia tidak akan
mengganggu mereka dan menutup mata saja kalau terdapat kejanggalan atau kesalahan. Keadaan
seperti itu membuat Su-ciangkun menjadi kaya raya. dan dia hidup sebagai bangsawan yang kaya
raya di Lok-yang, dengan rumah gedung besar dan indah megah seperti istana, mempunyai
seorang isteri dan belasan orang selir dan dayang.
Namun, seperti kebiasaan para pejabat yang suka melakukan tugas keliling ke luar kota dan luar
daerah pada masa itu, Su-ciangkun yang biasanya hanya dikawal beberapa orang pembantunya
dan tidak membawa keluarganya, dia selalu seperti seekor kucing kelaparan. Harta benda dia sudah
punya lebih dari cukup, dan semua hadiah dan sumbangan yang diterimanya dari para pejabat
daerah, akan diurus oleh para pembantunya. Akan tetapi yang membuat dia kehausan adalah
wanita! Su-ciangkun seorang pria yang mata keranjang dan tidak pernah puas dengan isteri dan
belasan orang selirnya. Kalau dia sedang melakukan perjalanan ke luar kota Lok-yang, dia selalu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mencari sasaran dan korban untuk memuaskan hasrat dan gairahnya. Wataknya inipun diketahui
oleh para kepala daerah dan setiap kali dia datang, tentu para kepala daerah yang ingin
menyenangkan hatinya, menyediakan wanita hiburan untuknya!
Akan tetapi, sekali ini Su-ciangkun merasa bosan dengan wanita hiburan. Dia mengajak dua
orang pembantunya yang juga merupakan pengawal dan pesuruhnya, untuk keluar dari rumah
kepala daerah, makan di restoran dan tentu saja mencari kesempatan kalau kalau dapat bertemu
dengan wanita yang menarik hatinya. Dan kebetulan sekali, ketika mereka makan di rumah makan,
Bi Lan masuk dan segera perwira ynng mata keranjang itu terbetot semangatnya! Matanya yang
berminyak tak pernah melepaskan Bi Lan, diamatinya wanita itu, wajahnya dan seluruh tubuhnya.
Makin diamati, makin tergila-gila. Bahkan ketika Bi Lan makanpun, nampak begitu menggairahkan
bagi Su-ciangkun.
"Apakah tai-ciangkun suka padanya?" bisik seorang pembantunya yang bermuka hitam dan
dikenal dengan sebutan Lu-ciangkun.
"Agaknya dia wanita baik-baik, harus dilakukan pendekatan dengan halus," kata pula Jiciangkun,
pembantu lain yang matanya sipit.
Su-ciangkun mengangguk-angguk dan meraba jenggotnya. "Hebat, ia sungguh menarik. Aku
akan berbahagia sekali kalau malam ini dapat membawanya ke kamarku."
"Apa sukarnya?" kata pembantu yang mukanya hitam. "Beritahu saja kepala daerah, tentu dia
akan dapat memaksa wanita ini menemani tai-ciangkun."
"Hussh, aku tidak mau ramai-ramai," cela Su-ciangkun. "Memalukan kalau sampai terdengar
umum kita membuat keributan di sini."
"Memang sebaiknya kita membuat pendekatan. Kita undang ia ke sini atau kita yang mendatangi
mejanya untuk belajar kenal. Kalau kita sudah mengetahui keadaannya, baru dilakukan penjajagan
apakah kiranya ia dapat dibawa dengan cara halus tanpa paksaan," kata Ji-clangkun si mata sipit.
Su-ciangkun mengangguk setuju dengan cara itu. "Sebaiknya engkau yang pergi mendekatinya
dan bicara dengannya secara halus," kata Su-ciangkun kepada pembantunya yang bermata sipit itu.
Pembantunya ini memang pandai bicara, tidak main kasar seperti rekannya yang bermuka hitam.
Ji-ciangkun mengangguk, lalu bangkit dan menghampiri meja Bi Lan yang kebetulan sudah
selesai makan. Melihat ada orang menghampirinya, Bi Lan mengangkat muka memandang dan
alisnya berkerut ketika melibat bahwa yang menghampirinya adalah seorang yang berpakaian
perwira. Akan tetapi, perwira yang bermata sipit itu bersikap hormat, mengangkat kedua tangan ke
depan dada dan berkata dengan sikap yang sopan.
"Maafkan saya kalau mengganggu, nona. Bolehkah saya bicara sebentar?" Bi Lan adalah
seorang gadis kangouw yang tidak pemalu seperti gadis pingitan. Ia sudah berpengalaman dan
tabah, maka biarpun ada laki-laki yang tidak dikenalnya mendekat dan mengajak bicara, ia sama
sekali tidak merasa sungkan atau kehilangan akal. Ia mengangguk.
"Silakan, apa yang akan dibicarakan?" tanyanya.
Ji-ciangkun merasa mendapat hati. Iapun melihat sepasang pedang yang berada di atas meja,
dan dia menduga bahwa dia berhadapan dengan wanita kangouw. Hal ini akan lebih memudahkan,
jauh lebih mudah daripada kalau berhadapan dengan wanita yang pemalu.
Maka, dia lalu duduk di depan Bi Lan, terhalang meja.
"Perkenalkan, nona. Nama saya Ji Kun. Saya pembantu dari panglima yang duduk di sana itu.
Beliau adalah Su-tai-ciangkun yang berkedudukan tinggi di kota raja, kaya raya dan bangsawan
besar. Yang bermuka hitam itu adalah rekan saya, Lu-ciangkun. Kami bertiga bertugas ke luar kota
raja dan sekarang menjadi tamu-tamu kehormatan dari kepala daerah di Peng-lu ini."
Kerut di antara kedua alis Bi Lan semakin dalam. Biarpun suaranya halus, namun mengandung
teguran. "Ji-ciangkun, apa artinya semua ini? Mengapa ciang-kun menceritakan semua itu
kepadaku? Semua itu tidak ada hubungannya sedikitpun dengan aku. Katakan, apa maksud
ciangkun menghampiriku dan bicara denganku? Apa yang perlu dibicarakan?"
Sikap tegas ini, walaupun dikeluarkan dengan suara lembut, membuat Ji-ciangkun agak gugup
juga. Tadinya dia mengira bahwa wanita yang dihadapi nya akan bersikap dua macam, pertama,
menerimanya dengan malu-malu kucing dan kedua dengan keras menolak. Akan tetapi wanita ini
demikian tenang dan tegas, sama sekali tidak merasa rendah diri walaupun berhadapan dengan
seorang perwira tinggi!
"Maaf, nona. Bolehkah kami mengetahui nama nona yang terhormat?"
Pertanyaan itu tidak pada tempatnya. Seorang laki-laki asing menanyakan nama gadis yang baru
dijumpainya dan yang tidak dikenalnya. Akan tetapi karena pertanyaan itu diajukan dengan kataTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
kata yang sopan, dan karena Bi Lan tidak begitu terikat oleh sopan santun palsu, maka hal ini tidak
menyinggung hatinya dan dengan tenang iapun memperkenalkan diri, apalagi mengingat bahwa
orang itu telah memperkenalkan diri, bahkan juga nama dua orang temannya.
"Namaku Kwa Bi Lan. Kenapa ciangkun ingin tahu namaku?"
Ji-ciangkun tersenyum lebar. "Nona Kwa, bukankah sudah jamak kalau orang-orang yang saling
berkenalan saling bertanya nama? Terus terang saja, nona, aku diutus oleh atasanku, yaitu Su
ciangkun yang duduk di sana itu bahwa beliau amat kagum kepadamu. Beliau ingin sekali
berkenalan dan kalau nona tidak berkeberatan, nona dipersilakan datang dan duduk semeja dengan
beliau, atau beliau yang akan datang ke sini.''
Bi Lan sudah merasa betapa dadanya mekar dan panas. Dengan cara yang sopan bagaimanapun
juga, jelas bahwa undangan itu bermaksud mesum. Mukanya mulai merah dan alisnya berkerut.
Melihat gelagat ini, Ji-ciangkun yang cukup berpengalaman segera melanjutkan kata-katanya.
"Harap nona jangan salah mengerti. Atasan kami itu, Su-ciangkun, selain menjadi panglima
tinggi yang berkedudukan tinggi dan berkuasa besar, juga merupakan seorang jagoan istana,
seorang ahli silat yang suka sekali berkenalan dengan orang-orang kang-ouw yang berilmu tinggi.
Maka, melihat nona tadi masuk sambil membawa siang-kiam (sepasang pedang), beliau sudah
tertarik sekali dan ingin berbincang-bincang dengan nona mengenai dunia kangouw dan ilmu silat,
terutama ilmu pedang karena beliau juga ahli silat pedang."
Memang cerdik sekali Ji-ciangkun itu. Dengan ucapan seperti itu, tentu saja tidak ada alasan
berniat kurang ajar, melainkan seorang ahli silat yang tertarik kepadanya karena ia membawa
pedang, bukan laki-laki kurang ajar tertarik kepada kecantikan wanita dan berniat mesum!
"Ah, begitukah? Su-ciangkun terlalu merendahkan diri. Aku hanya orang yang pernah belajar
sedikit ilmu pedang, tidak ada apa-apa yang patut dibicarakan."
"Tapi, Kwa-lihiap (pendekar wanita Kwa). Kuharap li-hiap tidak menolak undangan Su-taiciangkun,
karena menolak berarti memandang rendah kepada beliau. Kalau lihiap merasa sungkan,
biarlah kami yang datang ke meja li-hiap. Bersediakah lihiap menerima kunjungan Su-tai-ciangkun
ke sini?"
Bi Lan tersudut dan tidak mampu menolak lagi. Pula, timbul keinginan hatinya untuk
mengetahui, apa yang akan dikatakan seorang panglima besar kepadanya! Ia mengangguk dan
berkata lirih, "Silakan!" Dan iapun duduk memangku Lan Lan yang bermain-main dengan sepasang
sumpit bersih.
Ji-ciangkun menghampiri atasannya dengan wajah berseri, lalu berbisik lirih. "Kwa-lihiap sudah
setuju untuk menerima paduka di mejanya. Silakan, tai ciangkun!"
Su-ciangkun girang bukan main. Dia menggunakan tangan kirinya untuk mengusap bibir, kumis
dan jenggot agar nampak bersih, lalu menggosok-gosok kedua tangan. Dari ucapan pembantunya
tadi saja dia tahu bahwa gadis yang amat menarik hatinya itu adalah seorang wanita kangouw,
maka disebut lihiap oleh Ji-ciangkun.! Dia bangkit dan menghampiri meja Bi Lan di sudut, diikuti
oleh kedua orang pembantunya.
Su-ciangkun yang sudah berpengalaman itu mengangkat kedua tangan di dada sebagai
penghormatan. "Kwa-lihiap maafkan kalau kami mengganggu."
"Su-ciangkun, silakan duduk dan jangan menyebut lihiap kepadaku karena aku belum tepat
untuk disebut pendekar."
"Aih, lihiap merendahkan diri. Dari gerak-gerik lihiap saja aku sudah dapat menduga bahwa
lihiap tentu lihai sekali memainkan siang-kiam ini." Dia duduk dan menunjuk ke arah sepasang
pedang di atas meja.
"Siang-kiam ini hanya untuk penjagaan kalau-kalau di tengah perjalanan aku bertemu dengan
srigala atau harimau yang ganas, ciangkun."
"Kalau boleh aku mengetahui, lihiap dari perguruan manakah? Dan siapakah gurumu?" Suciangkun
pura-pura bicara tentang ilmu silat, padahal di dalam hatinya dia tentu saja memandang
rendah kepandaian seorang muda seperti Bi Lan yang usianya baru duapuluh tahun lebih itu, dan
dia mendapatkan kesempatan untuk mengagumi kecantikan dan kemontokan tubuh wanita itu
tanpa mendatangkan kesan kurang ajar.
Sebetulnya, Bi Lan tidak suka bicara tentang dirinya, dan dia tidak suka pula berbincang-bincang
dengan perwira yang tidak dikenalnya ini. Akan tetapi karena tiga orang itu bersikap sopan, apalagi
mereka bicara sebagai orang-orang dari dunia persilatan, ia merasa tidak enak juga kalau tidak
menanggapi.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Terlebih lagi, ia tidak suka menyebut nama mendiang gurunya yang juga suaminya, maka
dengan sederhana dan sambil lalu iapun menjawab, "Aku pernah mempelajari sedikit ilmu silat dari
seorang murid Siauw lim-pai......"
"Ah, kiranya seorang murid Siauw-lim pai yang gagah!" Su-ciangkun berseru, pura-pura kaget
dan diapun bangkit berdiri, "Maafkan kalau kami bersikap kurang hormat, Kwa-lihiap.!"
Bi Lan juga bergegas membalas penghormatan itu. "Su-ciangkun terlalu memuji. Aku hanya
murid tingkat rendahan saja, mana bisa disamakan dengan ahli-ahli silat yang lihai dari Siauw-lim
pai?"
"Harap Kwa-lihiap tidak terlalu merendah, dan tidak pula terlalu pelit untuk memberi petunjuk
tentang ilmu pedang kepadaku. Kupersilakan lihiap untuk singgah di tempat kediaman kami dan
memberi petunjuk ilmu pedang, dan untuk itu sebelumnya aku menghaturkan banyak terima
kasih."
Bi Lan terkejut. Orang ini terlalu jauh melangkah, pikirnya. "Tapi aku... aku dan......anakku ini
ingin beristirahat, besok pagi akan melanjutkan perjalanan......"
"Kami jemput dan antar dengan kereta, lihiap. Jangan khawatir, karena beliau ini tamu
kehormatan dari kepala daerah," kata Ji-ciangkun membujuk.
"Kwa-lihiap tentu tidak akan tega menolak ajakan Su-tai-ciangkun, mengingat bahwa kita samasama
dari dunia persilatan yang selalu menghargai orang lain yang ingin menguji ilmu silat." Luciangkun
ikut pula membujuk.
Bi Lan.menjadi serba salah. Melihat keraguan wanita itu, Su-ciangkun lalu membujuk lagi,
"Nona........eh, nyonya tidak perlu ragu-ragu. Kami mengundang lihiap dengan hormat, pula,
lihiap berkunjung ke tempat kami bersama puteri lihiap yang mungil ini. Bagi kita orang-orang
kangouw, hal ini sudah wajar, bukan?"
Ji-ciangkun sudah berlari keluar mempersiapkan kereta dan akhirnya Bi Lan tidak dapat menolak
lagi. Bagaimanapun juga, perwira itu mengundang dengan sikap hormat, dan iapun tidak takut.
Mereka ini bukan perampok, bukan penjahat, melainkan orang-orang berpangkat, orang-orang
bangsawan yang terhormat. Tidak mungkin mereka akan melakukan hal-hal yang tidak patut.
"Baiklah, akan tetapi sebentar saja, hanya untuk menguji ilmu pedang sebentar, karena aku
harus segera kenbali ke kamar hotel untuk menidurkan anakku," katanya dan iapun memondong
Lan Lan, membawa pedang dan mengikuti Su-ciangkun dan dua orang pembantunya keluar dari
rumah makan, naik ke kereta yang sudah disiapkan di depan, lalu pergi ke rumah kepala daerah.
Makin lega rasa hati Bi Lan ketika melihat betapa di rumah kepala daerah kota Peng-lu, Suciangkun
dan dua orang pembantunya benar-benar disambut dengan segala kehormatan. Dan
sebagai tamu agung, agaknya Su-ciangkun tidak begitu mengindahkan kepala daerah yang
menyambutnya dengan tubuh membungkuk-bungkuk! Bahkan Su-ciangkun menyatakan bahwa dia
tidak ingin diganggu karena dia hendak menjamu tamunya, yaitu Kwa lihiap!
Langsung saja Su-ciangkun bersama dua orang pembantunya memasuki bangunan sebelah
kanan yang memang dikosongkan dan disediakan untuk tamu-tamu agung itu. Ketika Su-ciangkun
memerintahkan pelayan untuk mengeluarkan hidangan, Bi Lan mengerutkan alisnya dan menolak
halus. "Ciangkun sendiri melihat bahwa aku dan anakku baru saja makan di rumah makan itu,
bagaimana mungkin kami dapat menerima hidangan makanan lagi?"
"Bukan hidangan makanan berat, lihiap, hanya makanan ringan dan terutama sekali anggur
yang sedap dan lezat. Kepala daerah kota ini menyimpan anggur yang sudah tua dan enak sekali,"
kata Su-ciangkun dan Bi Lan tidak membantah lagi. Ia tidak begitu suka minum arak, akan tetapi
kalau anggur itu tidak terlalu keras, boleh juga ia minum beberapa cawan.
Ji-ciangkun dan Lu ciangkun menyuruh pelayan menyingkirkan meja kursi di ruangan belakang
yang luas itu, karena tempat itu akan dijadikan tempat mengadu ilmu pedang. Ketika anggur
dikeluarkan, benar saja anggur itu manis dan tidak terlalu keras, namun halus dan tidak mencekik
leher. Bi Lan membatasi diri, hanya minum dua cawan.
"Sudah cukup, ciangkun. Sebaiknya mari kita cepat menguji ilmu pedang karena sungguh aku
tidak dapat berlama-lama di sini. Anakku sudah kelihatan mengantuk." Bi Lan memandang Lan Lan
yang ia dudukkan di bangku panjang. Anak itu bermain-main dengan sebuah boneka puteri yang
dipakai sebagai hiasan di ruangan itu.
Su-ciangkun tertawa. "Ha-ha, lihiap tergesa-gesa saja. Dan sungguh mati, lihiap, tadinya kami
tidak mengira sama sekali bahwa anak yang manis ini adalah puteri lihiap. Agaknya.....maaf lihiap
belum cocok untuk menjadi seorang ibu. Sekali lagi maaf......"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ucapan itu agak melanggar susila, akan tetapi karena berkali-kali perwira itu minta maaf, maka
Bi Lan tersenyum. "Tidak apa, ciangkun. Mari kita mulai. Lan Lan, kau duduk dulu di sini, ya ? Ibu
ingin latihan sebentar."
Lan Lan yang sudah mengantuk itu mengangkat muka memandang ibunya, lalu bertanya, "Ibu
akan berlatih pedang?" Lan Lan sudah biasa melihat orang bersilat, dan ia paling senang kalau ayah
atau ibunya berlatih silat pedang.
"Ha-ha-ha, ibunva pendekar wanita, anaknya yang masih sekecil ini sudah mengerti ilmu
pedang. Tentu kepandaian lihiap hebat sekali!" Su-ciangkun memuji, walaupun dalam hatinya tetap
memandang rendah. Semua ini dia lakukan hanya untuk beramah-tamah dan basa-basi saja,
karena pada dasarnya, yang dia inginkan adalah tidur dengan wanita muda itu!
Bi Lan yang tidak ingin berlama-lama di tempat itu, sudah meloncat ke tengah ruangan yang
telah dibersihkan itu, menjura ke arah tuan rumah dan berkata, "Marilah, ciangkun, kita berlatih
sebentar seperti yang ciangkun kehendaki agar aku tidak kemalaman membawa anakku ke rumah
penginapan."
"Mengapa lihiap tergesa-gesa? Bermalam di sinipun ada tempatnya, bahkan lebih bersih dan
nyaman dibandingkan rumah penginapan. Akan tetapi baiklah, aku ingin sekali mendapat petunjuk
ilmu pedang darimu." Setelah berkata demikian, sekali menggerakkan tubuh, Su-ciangkun telah
meloncat dan berada di depan wanita itu. Gerakannya cukup lincah, tanda bahwa dia memiliki
ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang cukup baik.
Tanpa basa-basi lagi, Bi Lan mencabut sepasang pedangnya dan melihat cara wanita itu
mencabut pedang saja tahulah Su-ciangkun bahwa wanita itu menggunakan pedang bukan sekedar
untuk pamer. Memang cara mencabut pedang itu saja sudah menunjukkan keahlian. Maka diapun
mencabut pedangnya yang berkilauan karena pedang itu adalah pemberian kaisar, merupakan
sebatang pedang yang terbuat dari baja yang baik sekali.
"Silakan, ciangkun."
"Aku adalah tuan rumah dan engkau tamuku, lihiap. Silakan lihiap menyerang lebih dulu."
"Maafkan aku, ciangkun. Lihat pedang.!" Bi Lan membuka serangan dengan pedang kirinya yang
meluncur ke depan menusuk dada, disusul pedang kanan menyambar dari atas membacok kepala
dengan jurus Angin bertiup kilat menyambar yang gerakannya cepat dan mengandung tenaga
lembut namun kuat.
"Bagus!" Su Ki Seng yang mahir ilmu pedang campuran Butong-pai dan Kunlun pai, cepat
mengelak dengan loncatan mundur sambil menangkis yang membacok dari atas. Terdengar suara
nyaring dan perwira itu terkejut. Ketika pedangnya bertemu dengan pedang kanan wanita itu, dia
merasa betapa lengannya tergetar!
Kekagetannya disusul kekaguman ketika Bi Lan memainkan sepasang pedangnya, wanita itu
bukan saja memiliki sinkang yang kuat, akan tetapi juga ilmu pedangnya amat hebat! Kalau tadinya
Su-ciangkun kagum akan kecantikannya dan merindukan wanita ini karena berahi, kini terjadi
perubahan besar dalam hatinya. Dia adalah seorang bangsawan yang selalu bisa mendapatkan apa
saja yang dia inginkan. Kini, melihat bahwa wanita yang cantik ini memiliki ilmu silat yang amat
lihai, diapun membayangkan betapa akan senangnya kalau wanita seperti ini dapat menjadi
pengawal pribadinya! Bukan lagi ingin memanfaatkan kecantikannya, melainkan kepandaiannya.
Kalau yang pertama untuk memuaskan gairah berahinya, yang terakhir ini untu menjamin
keamanan pribadinya.
"Trang- trang-singg........!" Bunga api berpijar-pijar ketika Su-ciangkun memutar pedangnya
menangkis sepasang pedang yang mendesaknya bagaikan dua ekor kumbang yang melayanglayang
dan siap untuk menyengatnya itu.
"Bukan main! Ilmu pedang yang hebat.....!" Dia berseru dan seruan ini merupakan isyarat
kepada dua orang pembantunya. Mereka memang sudah siap dan sejak tadi, mereka menonton
pertandingan itu sambil mendekati Lan Lan.
Bi Lan ingin cepat menyudahi pertandingan itu, maka sengaja ia mengeluarkan seluruh
kepandaian dan mengerahkan semua tenaga untuk mengalahkan perwira itu agar ia dapat segera
pergi bersama Lan Lan meninggalkan tempat itu. Akan tetapi, Su-ciangkun ternyata bukan orang
lemah dan dapat menjaga diri dengan baik sehingga setelah lewat limapuluh jurus, ia hanya
mampu mendesak dan tidak memberi kesempatan kepada lawan untuk membalas.
Tiba-tiba Su-ciangkun meloncat jauh ke belakang sambil berseru, "Kwa-lihiap, tahan dulu!" Bi
Lan menghentikan gerakan pedangnya, berdiri tegak dan memandang kepada perwira itu sambil
tersenyum. Tentu perwira itu mengaku kalah dan ia akan segera pergi dari situ.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Kwa-lihiap, ilmu pedangmu sungguh hebat. Aku kagum sekali dan terimalah hormatku!" kata
perwira itu dengan suara sungguh-sungguh, bahkan dia lalu mengangkat kedua tangan ke depan
dada memberi hormat.
"Ah, Su-ciangkun terlalu merendah. Ilmu pedangmu juga hebat dan terima kasih bahwa engkau
telah mengalah," kata Bi Lan, menggunakan sikap dan bicara yang merendah dari para ahli
persilatan yang saling menguji ilmu. "Sekarang terpaksa aku berpamit, akan kembali ke kamar hotel
bersama anakku, karena ia harus segera mengaso dan tidur."
"Kwa-lihiap, sekarang aku ingin berterus terang kepadamu. Kuharap engkau dan puterimu suka
bermalam saja di rumah kepala daerah ini, dan aku akan mengutus orang untuk mengambil
barang-barangmu dari kamar hotel. Besok akan kuantar engkau ke kotaraja."
Bi Lan terbelalak, lalu alisnya berkerut. "Ciangkun, apa artinya ini? Apa maksudmu?"
"Kami membutuhkan seorang yang memiliki kepandaian sepertimu, lihiap. Percayalah, kalau
engkau ikut dengan aku, engkau akan memperoleh kedudukan dan kemuliaan. Untuk langkah
pertama, engkau menjadi pengawal pribadiku di gedungku, kemudian lambat laun aku akan
memperkenalkan engkau kepada Pangeran Mahkota yang membutuhkan orang-orang pandai......."
"Tidak, aku tidak mau! Aku akan pergi dengan Lan Lan sekarang juga!" kata Bi Lan dan ia
menengok ke arah Lan Lan., Wajahnya berubah dan ia marah sekali. Dua orang perwira pembantu
tadi telah berdiri di kanan kiri Lan Lan dengan pedang di tangan dan sikap mereka mengancam!
"Kwa-lihiap, ini merupakan perintah seorang petugas negara!" kata Ji-ciangkun membujuk.
"Lihiap boleh memberitahu di mana suami lihiap, dan kami akan mengundangnya pula. Keluargamu
akan memperoleh kedudukan yang baik di istana."
Wajah Bi Lan menjadi merah mendengar suaminya disebut-sebut. "Tidak, aku tidak ingin
bekerja di kota raja!"
"Engkau tidak ada pilihan lain, lihiap. Ini perintah petugas negara!" kata Su-ciangkun dan pada
saat itu, muncullah puluhan orang perajurit mengepung tempat itu dengan senjata lengkap. Kiranya
dua orang pembantu Su-ciangkun tadi diam-diam telah mengatur dan minta bantuan pasukan
keamanan dari kepala daerah.
Bi Lan menjadi marah bukan main, "Hemm, kalian menggunakan cara gerombolan penjahat
saja! Kalau aku tidak mau, kalian mau apa?"
Su-ciangkun tersenyum. "Ini siasat pasukan, bukan siasat gerombolan, lihiap. Kalau engkau
tetap menolak, terpaksa kami tangkap engkau dan puterimu dan memaksamu menghadap yang
berwenang di kota raja."
Pada saat itu, terdengar suara suling melengking. Semua orang terkejut, dan Bi Lan mengangkat
muda dengan girang karena ia tahu bahwa kembali si peniup suling datang membantunya. Ia
sedang tersudut dan tidak berdaya, sungguh amat membutuhkan bantuan.
"Minta seseorang bekerja tidak boleh menggunakan paksaan!" terdengar suara orang setelah
lengking suling itu berhenti dan muncullah Can Hong San. Begitu bayangannya berkelebat, tahutahu
dia telah melayang ke arah Lan Lan dan dua orang perwira Lu dan Ji yang memegang pedang,
siap menyambutnya dengan serangan. Akan tetapi, demikian cepatnya gerakan suling di tangan
Hong San sehingga tahu-tahu dua orang itu-pun roboh terkulai, tertotok sulingnya dan di lain saat,
Hong San telah memondong Lan Lan!
"Nona, mari kita pergi saja dari sini!" katanya. "Akan tetapi ingat, jangan membunuh orang!"
Bi Lan tersenyum. Bukan main lega rasa hatinya. Ia sendiri tidak takut menghadapi
pengepungan dan pengeroyokan itu, akan tetapi ia tadi sungguh tidak berdaya melihat Lan Lan
ditodong dua orang perwira pembantu. Ia tahu bahwa tidak mungkin dalam keadaan dikepung itu
ia akan mampu membebaskan Lan Lan. Dan ternyata pemuda itu telah menyelamatkan Lan Lan,
karena selain gerakannya amat cepat, juga orang tidak menduga bahwa pemuda itu datang-datang
merampas Lan Lan dari todongan dua orang perwira. Ia tersenyum karena pemuda itu masih
sempat mengingatkannya agar tidak membunuh orang.
Ketika melihat pemuda itu sudah membuka jalan dengan tendangan kakinya dan gerakan
sulingnya, iapun segera meloncat ke dekat pemuda itu dan membantunya membuka jalan keluar
dari gedung itu.
Hong San yang memondong Lan Lan sambil memainkan sulingnya, diam-diam merasa kagum
sekali kepada Bi Lan. Juga kagum kepada puterinya, yaitu anak perempuan mungil yang berada di
pondongannya itu, yang disangkanya tentulah anak wanita cantik perkasa itu. Betapa dia tidak akan
kagum melihat Lan Lan yang baru berusia dua tahun lebih itu, sama sekali tidak nampak ketakutan.
Juga tidak menangis walaupun berada dalam pondongan orang yang tidak dikenalnya dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pemondongnya itu dikeroyok banyak orang! Dan diapun kagum melihat ibu anak itu benar-benar
tidak membunuh orang, hanya menggunakan pedangnya untuk membuat para pengeroyok
melepaskan senjata, dan menendang atau menampar dengan tangan kiri, merobohkan para
pengeroyok yang menghalang di depan akan tetapi sama sekali tidak membunuh orang, seperti
yang dipesankan tadi.
Karena ilmu kepandaian mereka memang tinggi, maka tidak sukar bagi mereka berdua untuk
lolos dari kepungan, melarikan diri keluar dari rumah gedung kepala daerah. Mereka tanpa banyak
cakap lagi lari ke tempat penginapan dan setelah Bi Lan mengambil buntalan pakaiannya dan
membayar sewa kamar, ia dan Hong San segera keluar kota Peng-lu atas ajakan Hong San.
"Setelah peristiwa tadi, sungguh tidak aman bagi kita untuk tinggal di dalam kota ini," demikian
pemuda itu berkata. "Mereka adalah perwira-perwira dari kota raja, dan menjadi tamu kepala
daerah. Mereka tidak akan mau sudah begitu saja dan pasukan tentu akan mencari kita di seluruh
kota."
"Malam hampir tiba, lalu kami harus bermalam di mana? Lan Lan juga sudah mulai mengantuk,"
kata Bi Lan yang menggendong buntalan pakaian di punggung dan memondong Lan Lan yang
sudah melenggut karena kelelahan dan mengantuk.
"Di luar kota Peng-lu ini terdapat sebuah dusun dan aku pernah bermalam di rumah seorang
petani miskin yang baik hati. Malam ini kita bermalam di sana dan besok pagi-pagi kita melanjutkan
perjalanan menjauhi kota Peng-lu. Aku akan mencarikan kereta dan kuda untukmu, nona."
Mereka sudah berada di luar kota dan berjalan perlahan-lahan karena malam mulai tiba dan
cuaca menjadi gelap hanya diterangi bintang-bintang yang bertaburan di angkasa.
Tiba-tiba Bi Lan berhenti melangkah.
"Kenapa, nona?" Hong San bertanya, juga berhenti. Mereka berdiri di jalan raya yang diapit
persawahan yang luas. Sunyi sekali di tempat itu, dan yang terdengar hanyalah bunyi katak di
sawah yang riuh rendah saling sahut seperti paduan suara yang kacau kalau diperhatikan, namun
serasi dan 'hidup' kalau tidak diperhatikan.
"Kenapa berhenti, nona?"
"Kenapa engkau begini memperhatikan kami, begini baik kepada kami?" Pertanyaan Bi Lan itu
lembut, namun suaranya mengandung tuntutan dan kecurigaan. Baru saja timbul dalam pikiran Bi
Lan betapa baiknya orang ini kepadanya. Mengapa begitu baiknya? Padahal mereka belum
berkenalan. Kalau hanya menolongnya dari kepungan penjahat, hal itu tidaklah aneh karena setiap
pendekar tentu akan melakukannya. Akan tetapi kebaikan orang ini sudah berlebihan, bukan saja
menyelamatkannya dan mengajaknya melarikan diri dari kota Peng-lu, akan tetapi bahkan hendak
menyediakan kuda dan kereta.! Ini sudah melampaui batas dan menimbulkan kecurigaan.
Sejenak Hong San tertegun karena kaget mendengar pertanyaan yang dirasakannya seperti
suatu serangan kilat itu. Untung bahwa malam gelap menyembunyikan wajahnya. Dia segera dapat
menenangkan hatinya yang tadi khawatir kalau-kalau gadis ini mengetahui latar belakang
kehidupannya. Dia tertawa kecil dan berkata dengan suara halus.
"Aih, benar juga engkau, nona. Kita belum berkenalan, dan tentu saja nona curiga kepadaku.
Nah, perkenalkan, aku Can Hong San......." Dia berhenti lagi dan mencoba untuk menatap wajah
cantik itu melalui kegelapan malam untuk melihat reaksi wanita itu ketika dia memperkenalkan
namanya. Akan tetapi sunyi saja dan tidak ada tanda bahwa wanita itu mengenal namanya, maka
diapun melanjutkan dengan hati lega.
"Aku hidup sebatangkara di dunia ini bebas lepas seperti seekor burung di udara. Kebetulan saja
di dalam perjalanan, aku bertemu denganmu, nona. Aku tertarik dan kasihan ketika melihat engkau
dikeroyok perampok. Dan kebetulan pula di Peng-lu aku melihat nona memasuki rumah makan itu.
Kemudian melihat nona pergi bersama para perwira naik kereta. Aku merasa curiga dan
membayangi, kemudian turun tangan membantumu. Nah, demikianlah, nona. Dan tentang
memperhatikanmu dan baik kepada kalian, ehh.......kenapa?
Bukankah sudah seharusnya hidup ini saling tolong?"
"Tapi.......tapi.......kalau engkau hidup sebatangkara, bagaimana engkau demikian royal, hendak
membeli kuda dan kereta untuk kami seperti seorang hartawan besar saja?" Bi Lan menatap tajam,
akan tetapi karena cuaca hanya remang-remang, tentu saja ia tidak dapat melihat wajah pemuda
itu dengan jelas.
"Oooooh, itukah?" Hong San tertawa, "Pantas, saja engkau curiga, nona. Aku bukan seorang
hartawan, bahkan rumahpun aku tidak punya. Akan tetapi sebulan yang lalu, aku menyelamatkan
rombongan saudagar kaya dari serbuan para perampok. Mereka membawa barang dagangan yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
banyak dan berharga sekali. Karena senangnya, mereka memaksaku menerima sekantung emas
permata walaupun aku menolak dan tidak mengharapkan apa-apa. Melihat kerelaan dan
kesungguhan hati mereka, agar tidak mengecewakan, aku menerimanya. Tadinya aku bingung,
untuk apa harta itu bagiku, akan tetapi sekarang aku girang dapat menggunakan sebagian dari itu
untuk membantumu. Engkau membawa anakmu yang masih kecil, maka sebaiknya kalau
menggunakan kereta."
Lega rasa hati Bi Lan. Memang ia tidak mencurigai orang yang telah dua kali menyelamatkannya
dari ancaman bahaya, akan tetapi karena ia belum mengenal pemuda ini, ia harus berhati-hati.
"Kalau begitu, maafkanlah aku, tai hiap (pendekar besar), dan mari kita lanjutkan perjalanan ke
dusun itu."
"Ehhhh? Engkau belum memperkenalkan dirimu, nona....." kata Hong San sambil mengejar ke
depan.
"Nanti saja kita bicara lagi kalau sudah tiba di sana. Anak ini sudah tertidur."
Mereka melangkah, menuju ke dusun yang sudah kelihatan lampu-lampunya berkelap-kelip di
kejauhan. Melihat wanita itu diam saja, Hong San merasa khawatir.
"Maaf, nona. Mungkin aku tadi keliru menyebut anak ini sebagai anakmu, mungkin ini adikmu
atau keponakanmu.. "
Dalam kegelapan itu Bi Lan tersenyum. "Ini anakku, namanya Lan Lan." katanya singkat.
"Ah, maaf, kalau begini anda seorang nyonya, bukan nona.....! Kenapa nyonya melakukan
perjalanan seorang diri bersama anak nyonya?"
"Sudahlah, nanti saja kita bicara."
Hong San maklum bahwa dia berhadapan dengan seorang wanita yang pendiam dan mungkin
keras hati. Maka diapun tidak mau banyak bicara lagi dan menjadi penunjuk jalan memasuki dusun
itu dan menghampiri sebuah rumah kecil yang berdiri di ujung jalan dusun itu. Dia mengetuk daun
pintu sambil memanggil.
"Paman Gu, buka pintu, ini aku yang datang!"
Daun pintu dibuka dari dalam dan seorang laki-laki berusia limapuluhan tahun, berpakaian
petani sederhana, menyambut mereka. Begitu melihat Hong San, dia tersenyum ramah. "Aih,
kiranya Can-kongcu (tuan muda Can) yang datang! Bersama siapakah nona ini? Dan dari mana
malam-malam begini..........?"
"Paman Gu, ini adikku dan puterinya. Aku akan menyewa kamar itu, bekas kamar anakmu itu,
untuk adikku dan keponakanku ini tidur. Aku sendiri dapat tidur bersama paman di kamar paman."
"Ah, baiklah, kongcu. Hemm, anak ini sudah pulas, sebaiknya cepat ditidurkan saja. Mari,
nyonya muda, inilah bekas kamar anakku yang kini ikut suaminya. Tidurlah di sini bersama
anakmu......" Petani itu membukakan pintu sebuah kamar sederhana yang cukup bersih.
Jilid 10
"Aku pernah menyewa kamar ini selama seminggu. Tidurkanlah anakmu, di sini tenang." kata
Hong San.
Dengan hati lega dan berterima kasih Bi Lan lalu memasuki kamar itu, menidurkan Lan Lan di
atas pembaringan dan melepaskan buntalannya, meletakkannya di atas meja. Setelah menyalakan
sebatang lilin lagi untuk menambah penerangan di kamar itu, iapun keluar dari dalam kamar.
"Baik, kongcu, aku akan berusaha mendapatkan apa yang kaucari itu. Nah, aku akan pergi
sekarang juga. Nyonya, beristirahatlah, saya hendak pergi dulu mencarikan kuda dan kereta yang
dipesan kongcu." Petani itu menjura ke arah Bi Lan, lalu keluar dari pondok, menutupkan daun
pintunya dengan hati-hati dari luar.
Bi Lan kini duduk menghadapi meja bersama Hong San setelah pemuda itu mempersilakannya
duduk. Mereka saling berpandangan, dan keduanya kagum. Di bawah sinar lampu yang remangremang
mereka saling mengagumi wajah masing-masing. Hong San melihat betapa wajah yang
bulat itu berkulit putih mulus, juga leher dan tangan itu. Putih mulus yang wajar. Hidung yang
mancung kecil itu mungil dan mata itu bagaikan sepasang bintang, gemerlapan tajam. Di lain pihak,
Bi Lan juga kagum. Pemuda yang usianya sekitar duapuluh tujuh tahun itu memang tampan dan
gagah. Pakaiannya seperti seorang sastrawan, sederhna namun bersih. Caping lebar yang tadi
dipergunakannya, kini tergantung di dinding. Wajah itu jantan. Hidungnya mancung dan besar,
matanya tajam agak terlalu hitam, dan bibirnya kemerahan seperti bibir wanita, akan tetapi lebih
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
besar dan penuh gairah. Kulitnya agak coklat dan wajah itu membayangkan ketampanan orang dari
daerah barat. Hal ini tidak aneh karena Can Hong San memang berdarah Nepal. Ibu kandungnya
seorang puteri Nepal!
"Nah, sekarang kuharap engkau suka memperkenalkan dirimu, nyonya, tentu saja kalau engkau
percaya kepadaku."
Bi Lan menarik napas panjang. "Tentu saja aku percaya kepadamu, tai-hiap.. !"
"Nanti dulu, nyonya!" Hong San menghentikan dengan mengangkat tangan kanan ke atas.
"Harap engkau tidak menyebut aku tai-hiap, sungguh hanya membuat aku merasa malu dan
canggung!" Lalu ia menatap tajam wajah yang manis itu. "Maukah engkau menyebut aku toako
(kakak) saja? Namaku Hong San dan aku sama sekali tidak suka disebut tai-hiap (pendekar besar),
apa lagi oleh seorang wanita perkasa seperti nyonya."
Bi Lan tersenyum. "Hemm, engkau melarangku menyebutmu tai-hiap, akan tetapi engkau sendiri
menyebut aku nyonya! Seharusnya aku menyebut tuan kepadamu, akan tetapi engkau ingin aku
menyebut toako. Kalau aku menyebut kakak, apa sebutan seorang kakak terhadap adiknya?"
Hong San tertawa gembira. Biarpun tidak banyak bicara, ternyata wanita ini dapat diajak
berkelakar.
"Baiklah, aku akan menyebutmu moi-moi (adik perempuan). Aneh, seorang kakak tidak tahu
nama adiknya!"
"Toako, namaku Bi Lan, Kwa Bi Lan." "Hemmm, nama yang indah sekali!"
"Kiranya selain gagah perkasa, engkau juga seorang perayu, toako. Namaku biasa saja engkau
katakan indah."
"Maaf, Lan-moi. Aku bukan bermaksud merayu, hanya........ah, sudahlah, aku hanya berkelakar,
lanjutkan bicaramu."
"Bicara apa lagi? Sudah kuperkenalkan namaku. Aku Kwa Bi Lan dan anakku itu, namanya Lan
Lan."
"Dan siapa nama suamimu? Di mana tempat tinggalmu dan kenapa engkau melakukan
perjalanan berdua saja dengan anakmu yang masih kecil? Darimana dan hendak ke manakah
engkau pergi, Lan-moi?"
Bi Lan melirik ke arah wajah pemuda itu, tersenyum sedih. Orang ini demikian memperhatikan
dirinya dan pertanyaannya datang seperti banjir saja.
"Toako, engkau ingin tnhu segalanya, akan tetapi engkau tidak mau menceritakan segalanya
tentang dirimu sendiri. Engkau hanya memperkenalkan namamu, dan akupun sudah membalas
dengan memperkenalkan nama kami. Kalau ingin mendengar tentang keadaan dan keluargaku,
tidakkah sepatutnya kalau seorang laki-laki lebih dahulu menceritakan tentang dirinya?"
"Ha-ha-ha, engkau tidak mau kalah, itu tandanya engkau belum percaya benar kepadaku.
Baiklah, akan kuceritakan semua tentang diriku, akan tetapi tidak ada yang menarik tentang diriku.
Aku berusia duapuluh tujuh tahun, aku hidup sebatangkara, belum pernah menikah, yatim piatu
dan tidak mempunyai keluarga seorangpun. Aku tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap.
Seorang kelana yang tidak mempunyai apa-apa. Guruku adalah ayahku sendiri yang sudah
meninggal dunia, bernama Can Siok. Selama ini aku hanya mengembara, kemana saja hati dan kaki
ini membawaku. Nah, hanya inilah cerita tentang diriku, Lan-moi. Sama sekali tidak menarik,
bukan?"
Bi Lan mendengarkan dengan heran. Seorang pemuda yang begini tampan gagah, berilmu
tinggi, usianya sudah sangat dewasa, kenapa hidup seorang diri saja dan tidak menikah? Tentu
seorang pendekar petualang ynng selalu ingin hidup bebas.!
"Eh? Kenapa engkau diam saja, Lan-moi? Aku sudah siap mendengarkan cerita tentang dirimu!"
Bi Lan menghela napas panjang. "Kalau engkau mengatakan bahwa riwayatmu tidak menarik,
sebaliknya riwayatku lebih buruk lagi, malah hanya menyedihkan saja."
"Yang sudah lalu hanya menjadi kenangan, Lan-moi, tidak ada gunanya disedihkan lagi. Nah,
ceritakanlah, aku ingin sekali mendengar agar perkenalan antara kita menjadi lebih akrab."
"Akupun hidup berdua saja dengan anakku Lan Lan. Sekarang inipun aku masih belum
mempunyai tempat tinggal yang tetap." Bi Lan berhenti seolah-olah cerita tentang dirinya habis
sekian saja.
"Tapi, suamimu.........?" Hong San mendesak. "Dan siapa pula gurumu, orang tuamu?"
"Kedua orang tuaku sudah lama meninggal dunia. Dan suamiku, dia juga guruku sendiri, dia
sudah meninggal dunia........."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Mendengar suara yang mengandung duka itu, Hong San menarik napas panjang dan diam-diam
dia menekan perasaan girangnya mendengar bahwa wanita ini adalah seorang janda!
"Aih, maafkan pertanyaanku tadi, Lan-moi. Siapa kira, semuda ini engkau telah ditinggal mati
suami dan hidup berdua saja dengan seorang puteri. Kalau boleh aku bertanya, siapakah nama
mendiang suamimu? Kalau dia menjadi gurumu, tentu dia lihai sekali."
"Nama mendiang suami dan juga guruku adalah Liu Bhok Ki..........."
Hong San terbelalak dan dia demikian terkejut sehingga bangkit berdiri dari kursinya. "Dia......?
Kaumaksudkan Sin-tiauw (Si Rajawali Sakti) Liu Bhok Ki?"
Melihat kekagetan pemuda itu, Bi Lan tidak merasa heran. Nama besar mendiang suaminya
memang amat terkenal di dunia persilatan. Iapun mengangguk bangga.
"Aihhhh, pantas kalau begitu," kata Hong San sambil duduk kembali dan memandang kagum.
"Pantas kalau engkau memiliki ilmu silat yang lihai. Kiranya murid dan juga isteri Si Rajawali Sakti.
Akan tetapi, maaf Lan-moi. Kulihat tadi dalam gerakan silatmu ada dasar ilmu silat Siauw-lim-pai."
"Penglihatanmu tajam sekali, toako dan ini membuktikan bahwa ilmu kepandaianmu sudah
sangat tinggi. Memang, sebelum aku menjadi murid suamiku, aku pernah mempelajari ilmu silat
Siau-lim-pai."
"Hebat ...! Murid Siauw-lim-pai yang kemudian menjadi murid Si Rajawali Sakti! Aku girang
sekali dapat bertemu dan berkenalan denganmu, Lan-moi! Lalu kemana engkau hendak pergi?"
Sampai lama Bi Lan berdiam diri.
Ia sendiri tidak dapat menjawab karena memang ia tidak tahu kemana ia akan pergi! Ia telah
menculik Lan Lan dan ia tidak berani kembali ke rumah suaminya di Kim-hong-san, karena tentu Si
Han Beng dan Bu Giok Cu akan mencari anak mereka dan mengejarnya kesana!
Dan ia pasti tidak akan mampu mempertahankan kalau mereka itu merampas Lan Lan. Ilmu
kepandaian mereka terlampau tinggi baginya. Melawan Bu Giok Cu saja ia tidak akan menang,
apalagi melawan Si Han Beng dan lebih-lebih menghadapi mereka berdua! Dan ia sudah jatuh cinta
kepada anak itu yang kini menyebut ibu kepadanya. Ia tidak mempunyai suatu tempat untuk pergi,
maka pertanyaaan Hong San membuat ia bingung, tidak tahu bagaimana harus menjawab.
Kemudian ia teringat kepada pamannya Lie Koan Tek. Daripada tidak dapat menjawab, dia lalu
berkata.
"Aku masih mempunyai seorang paman, saudara dari mendiang ibuku. Aku akan mencari
pamanku itu, toako." "Siapakah pamanmu itu?"
"Dia seorang tokoh Siauw-lim-pai namanya Lie Koan Tek."
"Lie Koan Tek.......?" Hong San terbelalak. Terbayanglah kini ketika dia bertempur melawan
Lie Koan Tek, dikeroyok oleh Poa Liu Hwa isteri mendiang Kam Seng Hin ketua Hek-houw-pang,
kemudian muncul seorang gadis perkasa dan...........Hong San terbelalak.
"Ahhhhh........!!" Dia meloncat dari tempat duduknya, bangkit berdiri dan memandang
kepada Bi Lan dengan kaget. Inilah gadis yang dulu membantu Lie Koan Tek dan Poa Liu Hwa!
"Ada apakah, toako? Engkau kelihatan terkejut sekali."
Hong Sen cepat mengerahkan tenaga untuk menenangkan hatinya dan wajahnya yang tadi
berubah agak pucat itu menjadi merah kembali. Dia bukan terkejut mendengar nama Lie Koan Tek,
melainkan terkejut ketika teringat bahwa gadis inilah yang dulu pernah membantu Lio Koan Tek
mengeroyoknya. Tak dapat dia membayangkan bagaimana akan sikap wanita ini kalau
mengenalnya!
"Aku memang terkejut mendengar nama pamanmu. Tentu saja aku mengenal nama itu. Yang
mengejutkan adalah karena engkau hendak mencarinya. Padahal menurut pendengaranku,
pamanmu adalah seorang pelarian dan buruan pemerintah! Kabarnya dia telah melarikan diri dari
penjara, bahkan membantu gerakan pemberontak. Bagaimana engkau akan mencari pamanmu
yang sedang diburu pemerintah?"
Bi Lan menarik napas panjang. Tentu saja ia tahu akan hal itu dan kalau tadi ia mengatakan
hendak mencari pamannya, hal itu dilakukan hanya agar dapat menjawab pertanyaan Hong San
saja.
"Aku tahu akan hal itu, toako. Akan tetapi......aku tidak tahu lain tempat lagi yang dapat
kuharapkan menjadi tempat tinggalku. Aku akan berkelana saja......." katanya sedih.
Hong San tersenyum. Dia sudah mampu menguasai dirinya lagi. Jelas bahwa Bi Lan tidak ingat
kepadanya. Pertemuan antara mereka hanya terjadi sebentar saja, dan itupun dalam pertempuran,
sehingga wanita ini tidak mengenal dan tidak mengingatnya sama sekali. Betapapun juga, dia harus
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berhati-hati dan ada sesuatu yang tidak nyaman rasanya di hati setelah dia mengetahui siapa
wanita ini. Kalau sampai Bi Lan mengenalnya.!
"Lan-moi, kalau engkau hidup seorang diri, kiranya tiada salahnya menjadi seorang pengelana
seperti aku ini. Akan tetapi ingat, engkau mempunyai seorang puteri yang masih kecil. Tidak
mungkin akan mengajaknya berkelana tanpa tujuan? Tidak baik bagi pendidikan puterimu."
"Aku mengerti, toako. Akan tetapi apa dayaku? Aku tidak tahu ke mana harus pergi."
Hening sejenak. Hong San tidak mau tergesa-gesa. Dia harus mengakui bahwa setelah kini
wanita itu duduk di depannya, dekat dan di bawah sinar lampu sehingga dia dapat mengamati
wajah itu dengan jelas. Setelah wanita itu bicara, apalagi setelah mendengar bahwa wanita itu
seorang janda muda yang hidup sebatangkara, hatinya semakin tertarik dan dia tahu bahwa sekali
ini dia jatuh cinta!
Belum pernah perasaan seperti ini menguasai hatinya. Biasanya terhadap wanita cantik, hanya
berahinya yang timbul. Akan tetapi sekali ini lain. Dia ingin memiliki Bi Lan seluruhnya dan
sepenuhnya, untuk selamanya. Dia ingin menyenangkan hati wanita ini, membahagiakannya, dan
dia ingin berdampingan selamanya! Dia ingin membuat wajah yang manis ini selalu tersenyum dan
cerah berseri. Akan tetapi dia harus berhati-hati. Kalau janda ini sampai dapat menjenguk dan
mengetahui latar belakang kehidupannya! Dia ngeri membayangkan akibatnya.
Tiba-tiba dia seperti dipaksa oleh sesuatu mengangkat mukanya menatap wanita itu. Dan
ternyata wanita itupun sedang memandang kepadanya. Agaknya pandang mata wanita itulah yang
tadi menyentuh perasaannya dan membuatnya mengangkat muka memandang. Dua pasang mata
bertaut sejenak, lalu Bi Lan menundukkan mukanya.
"Lan-moi, apakah engkau percaya kepadaku?" tiba-tiba Hong San bertanya.
"Eh? Kenapa, toako? Tentu saja aku percaya padamu. Engkau adalah penolongku."
'Kita baru saja bertemu, engkau belum mengenal benar siapa diriku, dan orang macam apa
adanya aku. Mungkin saja aku ini seorang penipu, seorang penjahat...... "
"Aih, jangan mengada-ada, toako. Aku yakin bahwa engkau seorang yang baik budi, gagah
perkasa, dan........."
"Belum tentu, Lan-moi. Di dunia ini, di mana ada manusia sempurna tanpa salah? Akupun,
sebagai manusia biasa, pernah melakukan kesalahan, pernah tersesat dan berdosa........"
"Sudahlah, toako. Apa sebetulnya yang hendak kaukatakan maka engkau bertanya apakah aku
percaya kepadamu? Aku percaya.! Nah, lalu apa?"
Hong San menelan ludah. Baru sekarang dia merasa begini gugup dan tegang! "Begini, Lanmoi..
Biarpun kita baru saja saling bertemu secara kebetulan dan saling berkenalan, namun rasanya
bagiku engkau seorang sahabat lama dan kita saling percaya. Engkau dan puterimu hidup
sebatangkara, dan akupun demikian. Maukah engkau kalau aku mencarikan sebuah tempat tinggal
untuk engkau dan anakmu di mana engkau akan hidup dengan tenang dan tenteram?"
Sejenak Bi Lan hanya memandang wajah pemuda itu. Sungguh luar biasa kalau ada kenalan
baru hendak menolongnya seperti itu.! Ia merasa terharu, akan tetapi juga heran.
"Can-toako, kita baru saja berkenalan dan engkau sudah bersikap begini baik kepada kami.
Seorang anggota keluarga sendiri belum tentu sebaik engkau! Kenapa engkau begini baik kepada
kami dan ingin mencarikan tempat tinggal untuk kami? Kenapa, toako?"
Menghadapi sepasang mata yang bersinar tajam, yang memandangnya penuh selidik ini, Hong
San tidak tahan menentang terlalu lama. Dia khawatir kalau sinar mata itu akan mampu menjenguk
dan melihat latar belakang kehidupannya yang lalu! Dia lalu menunduk, menghela napas panjang
beberapa kali sebelum menjawab dengun sukar.
"Kenapa aku ingin menolongmu? Ah kenapa, ya? Mungkin karena aku merasa kasihan sekali
kepadamu dan kepada puterimu, Lan-moi. Sejak kita saling jumpa ketika engkau dikeroyok
perampok itu sudah timbul perasaan yang luar biasa dalam hatiku. Aku tidak berani
mengatakan.......eh, cinta, itu akan terlalu lancang karena kita baru saja berkenalan. Akan tetapi,
aku merasa kasihan dan ingin menolongmu, membantumu, membahagiakan engkau dan anakmu,
Lan-moi. Maafkan kelancanganku ini......"
Sejenak Bi Lan berdiam diri, menundukkan mukanya yang menjadi merah sekali. Ia meneliti
perasaan sendiri, merasa kagum kepada laki-laki ini, kagum dan berterima kasih. Akan tetapi lakilaki
ini menyinggung soal cinta dan untuk itu, ia harus menjenguk lebih dalam dan ini
membutuhkan waktu untuk dapat menentukan.
"Toako, tidak perlu meminta maaf. Orang-orang seperti kita memang sebaiknya kalau berterus
terang secara jujur," katanya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Terima kasih, Lan-moi. Memang sebaiknya begitu, aku tadi hanya takut kalau sampai
menyinggung perasaanmu. Aku tidak berani mengatakan cinta karena selama ini aku belum pernah
jatuh cinta kepada seorang wanitapun. Banyak wanita yang menarik, akan tetapi belum pernah aku
merasakan jatuh cinta. Akan tetapi yang jelas, aku merasa kasihan dan sayang kepadamu.
Terimalah uluran tanganku untuk membantumu, Lan-moi. Tentu saja, kalau engkau percaya
kepadaku. Kalau engkau tidak percaya dan menyangka ada maksud tertentu yang buruk dalam
hatiku terhadap dirimu, tentu aku tidak akan berani memaksamu."
Kalaupun ada keraguan di hati Bi Lan, maka keraguan itu tentu akan lenyap setelah mendengar
ucapan pemuda itu yang demikian "jujur" dan meyakinkan.
"Bagaimana aku berani menolak niat baikmu, toako? Apa lagi engkau tadi sudah menyuruh
pemilik rumah ini mencarikan kuda dan kereta. Aku berterima kasih dan menerima uluran
tanganmu, akan tetapi dengan satu syarat, yaitu bahwa kalau kelak aku merasa tidak cocok dengan
tempat itu atau denganmu, aku akan membawa anakku pergi mengambil jalanku sendiri, dan harap
engkau tidak menuduh aku tidak mengenal budi."
Hong San tertawa dengan gembira, wajahnya berseri. "Tentu saja, Lan-moi. Tentu saja engkau
bebas untuk menentukan langkahmu sendiri. Aku sudah merasa cukup bangga dan puas bahwa kau
dapat mempercayaiku!"
Pemilik rumah itu datang memberi laporan bahwa ada seorang penduduk dusun yang mau
menjual kudanya, adapun keretanya dapat dibeli di kota Peng-lu. Karena pembelian mendadak dan
tergesa-gesa, tentu saja Hong San harus membayar hampir dua kali lipat harga umum.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali sebuah kereta meninggalkan dusun itu, dikusiri oleh
Hong San. Bi Lan dan Lan Lan duduk di dalam kereta yang dilarikan dengan cepat. Mereka menuju
ke kota raja!
ooo00000ooo
"Akan tetapi, kenapa ke kota raja? Apakah engkau mempunyai keluarga di sana, toako? Ataukah
sahabat?" Bi Lan bertanya ketika malam itu mereka berhenti di sebuah dusun di luar kota raja
Tiang-an.
"Di kota raja yang ramai kita dapat dengan mudah mencari rumah tinggal yang baik, Lan-moi.
Juga daerah paling aman sekarang ini adalah di kota raja. Selain itu, di kota besar ini kita akan
dapat mencari penghasilan dengan mudah. Aku sendiri dapat berdagang, atau juga mencoba untuk
mendapatkan kedudukan."
Bi Lan diam saja. Ia tidak dapat banyak memilih dan menyerahkan saja pada pemuda ini. Sikap
yang selalu sopan dan ramah dari pemuda ini memang membuat ia percaya sepenuhnya. Akan
tetapi ia masih ragu-ragu apakah ia dapat membalas kasih sayang pemuda itu kepadanya. Ada
sesuatu yang membuatnya ragu. Pemuda ini seperti menyimpan suatu rahasia, dan kadang
sikapnya aneh dan tidak wajar. Juga, sepasang mata yang terlalu hitam dari pemuda itu kadangkadang
membuatnya merasa ngeri. Kadang-kadang ia seperti melihat sinar yang aneh, penuh
kekejaman. Kadang sinar yang dingin dan acuh, akan tetapi segera berubah lagi menjadi ramah,
memancar dari sepasang mata itu.
"Lan-moi, sebelum kita memasuki kota raja, ada sesuatu yang perlu kau tahui dan aku
memerlukan bantuanmu."
Setelah mereka agak lama berdiam diri Hong San bicara dengan suara halus dan lirih, seolah dia
tidak ingin ada orang lain mendengar ucapannya.
Bi Lan mengerutkan alisnya dan mengangkat muka, memandang kepada pemuda itu. Sinar
mata pemuda itu nampak mengandung kecerdikan, akan tetapi juga kekhawatiran.
"Ada apakah, toako? Katakanlah, dan tentu saja aku siap membantumu."
"Ketahuilah, Lan-moi, bahwa kerajaan Tang yang sekarang ini, yang baru tiga empat tahun
berdiri, dahulunya merupakan pemberontak-pemberontak terhadap Kerajaan Sui."
"Tentu saja," kata Bi Lan. "Setiap kerajaan atau pemerintahan baru yang merebut pemerintahan
lama tadinya adalah pemberontak."
"Nah, ketika Panglima Li Si Bin memimpin pasukan pemberontak, aku pernah membantu
pasukan Kerajaan Sui untuk menentang pemberontak. Akan tetapi pasukan pemerintah gagal dan
kalah. Kaisar Yang Ti melarikan diri dan akupun meninggalkan pasukan pemerintah."
Bi Lan tidak merasa heran. Dalam suasana perang saudara seperti itu, banyak orang terlibat,
dan diapun tahu bahwa banyak pendekar yang dahulu membantu Kerajaan Sui untuk melawan
pemberontak yang kemudian memperoleh kemenangan dan kini menjadi Kerajaan Tang yang
baru."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Lalu mengapa, toako? Hal itu adalah wajar saja."
"Akan tetapi, namaku telah dikenal oleh mereka, Lan-moi. Karena kini mereka yang berkuasa,
maka tentu akan ditangkap sebagai sisa pengikut kaisar lama, kalau mereka mengetahui bahwa aku
berada di kota raja."
Bi Lan mengerutkan alisnya. "Kalau sudah begitu, kenapa engkau malah mengajakku ke kota
raja, toako?"
"Kurasa Panglima Li Si Bin dan ayahnya yang kini menjadi Kaisar Tang Kao Cu, hanya mengenal
namaku saja, tidak pernah melihat orangnya. Kalau aku berganti nama, kiraku tidak akan ada yang
tahu bahwa aku dahulu membantu kerajaan Sui untuk menentang
mereka. Karena itu, aku mengharapkan bantuanmu Lan-moi, agar engkau memaklumi
pergantian namaku. Aku akan menggunakan nama Siauw Can saja sehingga engkau masih tetap
menyebutku Can-toako."
Bi Lan tersenyum. "Baik, toako. Nama baru itu sebetulnya tidak baru. Siauw Can berarti Can
Muda, jadi engkau masih tetap mempergunakan nama keturunmu, hanya nama kecil Hong San saja
yang tidak kaupergunakan."
"Engkau benar, Lan-moi. Akan tetapi dengan menggunakan nama Siauw Can, orang akan
menganggap bahwa nama keturunanku adalah Siauw, dan nama kecilku Can. Dengan demikian,
akan aman, bukan?"
Demikianlah, pada keesokan harinya, pagi-pagi mereka meninggalkan dusun itu. Seperti biasa,
Hong San atau sekarang kita sebut saja Siauw Can menjadi kusir. Bi Lan dan Lan Lan berada di
dalam kereta. Sengaja Bi Lan membuka tirai pintu agar dia dan Lan Lan dapat melihat keadaan di
sepanjang jalan.
Makin mendekati pintu gerbang kota raja, semakin ramailah jalan raya itu. Agaknya para
penduduk dusun banyak yang membawa barang dagangan mereka, hasil sawah ladang dan hasil
sungai ke pasar di kota raja. Para petani yang memikul barang dagangan mereka atau yang
mendorong dengan kereta, berbondong-bondong memasuki pintu gerbang selatan. Banyak pula
wanita dusun yang membawa barang dagangan, ada yang memikul, ada yang membawa
keranjang.
Siauw Can menjalankan keretanya perlahan-lahan. Jalan raya menuju ke kota raja itu cukup
lebar, akan tetapi karena banyaknya orang yang lalu lalang berbondong-bondong, dia harus
menjalankan keretanya dengan hati-hati.
Tiba-tiba nampak betapa orang-orang itu mempercepat jalan mereka, bahkan nampak tergesagesa
dan wajah mereka membayangkan ketakutan. Melihat hal ini, Bi Lan berkata dari dalam
kereta.
"Can-toako, apakah yang terjadi? Orang-orang itu nampak ketakutan!"
Siauw Can membawa keretanya ke tepi jalan dan berhenti. "Akupun tidak tahu mengapa, Lanmoi.
Biar kutanyakan kepada mereka."
Dari atas keretanya Siauw Can lalu bertanya kepada seorang petani yang memikul ketelanya.
"Paman, apakah yang terjadi? Kenapa kalian kelihatan ketakutan?"
Petani itu menengok, akan tetapi tidak menjawab, melainkan dengan telunjuk kirinya dia
menuding ke arah depan dan melanjutkan perjalanannya dengan tergesa-gesa.
Siauw Can dan Bi Lan memandang ke arah yang ditunjuk. Mereka kini melihat serombongan
orang, tujuh orang jumlahnya, berjalan melenggang sambil tertawa-tawa. Mereka itu bukan orang
Han, karena pakaian mereka berbeda. Berjubah panjang dengan sepatu kulit yang tinggi, dan
kepala merekapun tertutup topi bulu. Mereka adalah orang-orang Turki! Di pinggang mereka
tergantung golok melengkung. Rata-rata mereka berwajah tampan dengan kumis melintang, usia
antara tigapuluh sampai empat puluh tahun. Seorang di antara mereka yang berusia empatpuluhan
tahun, dengnn codet atau bekas luka di pipi kanan, memegang sebatang cambuk hitam.
Agaknya mereka inilah yang menimbulkan suasana ketakutan karena semua orang yang menuju
ke kota raja dan berpapasan dengan tujuh orang ini, semua lalu minggir dan bahkan menyeberang
untuk mengambil sisi lain agar jangan sampai berpapasan dekat dengan tujuh orang itu.
Seorang petani yang membawa sepikul kentang, berhenti di dekat kereta. Dia sudah tua,
usianya sudah enampuluh tahun lebih. Dia berhenti untuk menghapus keringatnya. Seluruh tubuh
atas yang tidak berbaju itu penuh keringat, juga wajah petani itu nampak gelisah. Kesempatan ini
dipergunakan oleh Siauw Can untuk turun dari atas kereta mendekati petani itu.
"Paman, kami bukan orang sini. Tolong beri tahu kenapa semua orang ketakutan melihat tujuh
orang asing itu?" tanyanya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dengan wajah ketakutan petani itu memandang kepada Siauw Can, kemudian menjenguk ke
dalam kereta. "Kalau begitu, sebaiknya kongcu cepat pergi dari sini, membawa kereta ini jauh-jauh.
Mereka itu orang orang Turki yang sering membikin ribut, apalagi urusan wanita
cantik!" Dengan tergesa-gesa diapun cepat memikul dagangannya, menyeberang dan
melanjutkan perjalanannya.
"Tar-tar-tarrr......" terdengar bunyi cambuk meledak-ledak, disusul jerit suara wanita.
Siauw Can dan Bi Lan cepat mengangkat muka memandang. Kiranya si codet pemegang
cambuk tadi telah menggerakkan cambuk secara luar biasa sekali. Cambuk itu menyambarnyambar
ke arah seorang wanita dusun, masih muda, antara duapuluh lima tahun usianya, dengan
wajah sederhana. Cambuk itu menyambar-nyambar tanpa melukai wanita itu, akan tetapi merobekrobek
baju atasnya sehingga kini wanita itu menjerit-jerit dengan tubuh atas telanjang bulat!
Tentu saja ia menggunakan kedua lengan untuk memeluk dadanya, berlari ketakutan sambil
menangis. Tujuh orang itu tertawa bergelak melihat hal itu, seolah-olah melihat sesuatu yang lucu.
"Bedebah......!" Bi Lan menyumpah dengan muka berubah merah sekali. Kini mengertilah ia
mengapa semua orang ketakutan melihat tujuh orang asing itu. Kiranya mereka adalah orangorang
yang suka bertindak sewenang-wenang tanpa ada yang berani menentang.! Iapun menduga
bahwa wanita tadi memang hanya dihina saja, dibuat lelucon. Andaikata wanita itu cantik, tentu
akan lain jadinya dan ngeri ia membayangkan apa yang pernah dilakukan tujuh orang ini terhadap
wanita dusun yang cantik.
Bi Lan memaki sambil meloncat turun dari kereta. Suaranya terdengar oleh tujuh orang itu dan
mereka menengok. Sejenak mereka itu tertegun, tak mengira di tempat itu akan melihat seorang
wanita muda secantik itu turun dari kereta. Kemudian, mereka bicara dan tertawa-tawa. Entah apa
yang mereka bicarakan, Bi Lan tidak mengerti karena mereka mempergunakan Bahasa Turki.
Sambil tertawa-tawa tujuh orang itu menghampiri Bi Lan yang memondong Lan Lan.
Si codet, yang agaknya menjadi pemimpin rombongan orang Turki itu, kini menghadapi Bi Lan
dan matanya yang bulat dan hitam itu seperti hendak menelan wanita di depannya bulat-bulat.
Agaknya mereka juga melihat bahwa wanita cantik itu bukan keluarga pejabat karena selain kereta
itu kereta biasa, juga tidak ada pengawal, dan kusirnya seorang pemuda berpakaian biasa. Kalau
terhadap keluarga pejabat, tentu mereka tidak akan berani bertindak sembarangan.
"Nona manis, dari mana dan hendak ke mana? Marilah kami menjadi pengantar dan pengawal
nona!" katanya dengan logat yang aneh dan lucu.
"Heh-heh, nona boleh pilih di antara kami, siapa yang berkenan di hati nona? Pilih saja aku yang
paling jantan di antara kami, ha-ha-hal" kata orang ke dua. Orang ini memang nampak jantan,
dengan kumis yang indah dan jenggot yang terpelihara rapi, tumbuh dari bawah telinga dengan
lebat sekali!
"Kalian ini orang-orang biadab! Kalian tadi menghina seorang wanita, dan sekarang berani
mengganggu aku? Agaknya kalian memang sudah bosan hidup, ya? Anjing-anjing liar, pergilah
sebelum aku menghajar kalian!" Bi Lan masih menahan kesabarannya karena Siauw Can berkedip
kepadanya minta agar ia bersabar.
Tentu saja ucapan Bi Lan membuat tujuh orang itu terbelalak. Belum pernah ada orang, apa lagi
wanita, berani menghina mereka, memaki mereka seperti itu!
Si codet memberi kesempatan kepada si brewok tadi dalam bahasa mereka, dan sambil
menyeringai, memperlihatkan gigi yang putih berkilat si brewok melangkah maju mendekati Bi Lan.
Wanita ini maklum bahwa tentu tujuh orang itu akan membuat ribut, maka ia lalu menyerahkan Lan
Lan kepada Siauw Can.
"Can toako, tolong kaupondong dulu Lan Lan, aku akan menghajar anjing-anjing keparat ini!"
Melihat betapa wajah Bi Lan sudah menjadi merah sekali dan sinar matanya mencorong, Siauw
Can khawatir kalau-kalau Bi Lan melakukan pembunuhan sehingga akan menggegerkan kota raja.
Dia menerima Lan Lan dan berkata, "Jangan lupa diri sampai membunuh, Lan-moi."
Bi Lan tersenyum. Biarpun ia marah sekali, akan tetapi iapun maklum bahwa melakukan
pembunuhan di tempat umum dekat kota raja tentu akan mendatangkan keributan. Ia tidak ingin
menjadi pengacau dan dimusuhi petugas keamanan kota raja. Ia menggeleng. "Jangan khawatir,
toako."
Si brewok kini sudah makin mendekat. "Nona manis, aku akan memaafkan kelancangan
mulutmu tadi asal engkau mau menciumku."
"Enak saja!" tiba-tiba si codet membentak. "Ia harus mencium kita bertujuh bergantian, baru
kita mau memaafkannya.!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Si brewok tertawa. "Nah, kau dengar sendiri, manis. Memang sudah untungmu hari ini, akan
diciumi tujuh orang laki-laki jantan perkasa, ha ha ha! Nah, aku akan menciummu lebih dahulu!" Si
brewok mengembangkan kedua lengannya yang panjang, dan dari kanan kiri, kedua tangannya
menyambar hendak merangkul tubuh Bi Lan.
"Wuuuuuttt.....!" Si brewok merangkul dan rangkulan itu hanya mengenai tempat kosong karena
Bi Lan dengan kecepatan luar biasa telah dapat mengelak. Si brewok membalik dan hendak
menubruk lagi, akan tetapi Bi Lan mendahuluinya dengan loncatan ke depan dan kakinya
menyambar.
"Ciumlah sepatuku ini........plokk!"
Ujung sepatu kiri Bi Lan menendang tepat mengenal hidung yang panjang besar dan
melengkung itu. Si brewok terjengkang dan ketika dia bangkit kembali dia memegangi hidungnya
yang bocor berdarah! Si brewok ini menjadi korban kelancangannya sendiri. Karena terlalu
memandang rendah Bi Lan yang disangkanya seorang wanita lemah yang hanya galak saja, maka
hidungnya hampir pecah oleh tendangan wanita perkasa itu.
Tentu saja kawan-kawannya menjadi marah dan merekapun berteriak-teriak untuk berlomba
untuk menangkap Bi Lan. Hanya si codet yang masih berdiri saja dengan pecut diputar-putar dan
matanya mengamati kawan-kawannya yang berlomba untuk menangkap Bi Lan. Kalau wanita itu
tertangkap, akan diikat dengan cambuknya dan dilarikan ke tempat tinggal mereka.
Wanita itu harus dihukum karena telah berani menghina bahkan melukai si brewok. Akan tetapi,
ia terbelalak dan baru menyadari bahwa Bi Lan bukan wanita biasa. Biarpun dikeroyok lima orang
yang rata-rata bertubuh tinggi besar, dapat bergerak cepat dan bertenaga besar pula, namun
wanita itu memiliki gerakan seperti seekor burung walet saja cepatnya, berkelebatan di antara lima
orang pengeroyoknya. Sambil mengelak mengandalkan
kegesitan tubuhnya, Bi Lan yang marah kepada orang-orang kasar itu membagi-bagi tamparan
dan tendangan. Lima orang Turki itu sebetulnya bukanlah orang-orang lemah. Mereka adalah
anggota pasukan Turki, pasukan pedang bengkok yang ganas dan kuat dalam perang. Namun,
mereka terlalu memandang rendah Bi Lan, dan juga sekali ini mereka bertemu dengan seorang
lawan ahli silat tingkat tinggi yang lihai sekali. Maka, dalam beberapa gebrakan saja merekapun
terkena tamparan atau tendangan, sehingga satu demi satu terpelanting.
"Tar-tar-tarrrr......!!" Si codet yang marah sekali melihat anak buahnya dikalahkan seorang
wanita muda, menggerakkan cambuk panjangnya. Cambuk hitam itu terbuat dari kulit dan selain
panjang, juga lemas dan kuat sekali. Cambuk ini tadi telah mencabik-cabik baju seorang wanita
dusun tanpa melukai kulitnya. Hal itu menunjukkan bahwa si codet ini memang ahli dalam
memainkan cambuk.
Bi Lan bersikap tenang. Ketika ujung cambuk menyambar ke arah dadanya, ia menggeser kaki
ke samping sehingga ujung cambuk itu luput. Si codet menjadi semakin beringas. Tangannya
bergerak lebih kuat dan cepat. Cambuknya kini menyambar-nyambar bagaikan seekor ular panjang
yang hidup. Bi Lan tetap mengandalkan kelincahan gerakan tubuhnya untuk berloncatan ke sana
sini mengelak sambil memperhatikan gerakan cambuk. Setelah ia melihat perubahan gerakan
cambuk ketika menyusulkan serangan baru, dengan gerakan melengkung ke atas, ia lalu mengelak
lagi dan pada saat cambuk itu melengkung ke atas untuk menyambung serangan yang luput, ia
telah mendahului dan menggunakan tangan kanan menangkap ujung cambuk!
Bi Lan mengerahkan tenaga mempertahankan ketika si codet menarik cambuknya. Dengan
kekuatan sin kang. ujung cambuk itu seperti melekat pada tangannya dan dengan perhitungan
yang tepat, tiba-tiba Bi Lan melepaskan cambuknya.
"Wuuutttt......tarr.......! Aduhhh...!" Si codet berteriak kesakitan karena dagunya dicium ujung
cambuknya sendiri dengan kuatnya sehingga terluka dan berdarah!
Melihat ini, enam orang anak buahnya mencabut pedang bengkok mereka dan bersama si codet
yang semakin marah mereka hendak mongeroyok Bi Lan dengan senjata di tangan.
"Serang, bunuh perempuan jahat ini!" Si codet memberi aba-aba dan ia sendiripun sudah
memutar cambuknya dengan kemarahan meluap-luap. Luka di dagunya tidak ada artinya
dibandingk luka di hatinya, karena dia merasa terhina dan malu sekali dikalahkan seorang wanita
muda, di depan umum pula.
Bi Lan sudah siap siaga. Akan tetapi ketika tujuh orang itu mulai bergerak, tiba-tiba nampak
bayangan berkelebat, didahului sinar menyilaukan mata. Terdengar suara senjata beradu, berdeting
dan enam batang pedang bengkok itupun terpental dan terlepas dari tangan pemiliknya, sedangkan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
cambuk itupun terlepas. Tujuh orang itu terhuyung ke belakang sambil memegangi tangan kanan
yang terasa nyeri karena sambaran sinar suling di tangan Siauw Can!
Pemuda ini tidak melukai mereka hanya menotok dengan ujung sulingnya, ke arah tangan
kanan mereka sehingga mereka terpaksa melepaskan senjata mereka dan terhuyung ke belakang
dengan mata terbelalak kaget. Lebih-lebih rasa kaget dan heran mereka ketika melihat bahwa yang
membuat senjata mereka terlepas tadi adalah si kusir kereta, pemuda tampan itu yang tangan
kirinya memondong anak perempuan kecil sedangkan tangan kanannya memegang sebatang
suling!
Hanya dengan sulingnya, dan sambil memondong anak kecil, pemuda itu mampu membuat
senjata mereka bertujuh terlepas! Hal ini saja sudah membayangkan betapa lihainya pemuda ini.
Akan tetapi, tujuh orang Turki itu bukan hanya mengandalkan kekerasan dan kepandaian saja
untuk memaksakan kemenangan, melainkan terutama mengandalkan kedudukan mereka! Biarpun
mereka maklum bahwa mereka tidak akan mampu menang kalau berkelahi melawan wanita muda
dan pemuda kusir yang lihai ini, namun mereka masih berani membentak.
"Kalian berani melawan kami, para anggota Pasukan Pedang Bengkok?" teriak si codet.
Pada saat itu, dari kelompok penonton yang memenuhi tempat itu, muncul seorang pria berusia
limapuluhan tahun, berpakaian bangsawan. Pria ini sejak tadi ikut pula menonton dengan kagum
dari atas kudanya dan kini dia meloncat turun, membiarkan kudanya dipegangi kendalinya oleh
seorang pengawal dan diapun maju menghampiri tujuh orang itu.
"Kalian ini selalu mendatangkan keributan!" tegurnya. Ketika si codet dan kawan-kawannya
melihat bangsawan itu, mereka memberi hormat dengan membungkukkan tubuh.
"Poa-taijin (pembesar Poa)......! kata si codet sambil memberi hormat ditiru semua anak
buahnya.
Pembesar yang bermata sipit itu berkata dengan suara mengandung teguran.
"Kalian sungguh ceroboh, berani sekali mengganggu tai-hiap dan li-hiap ini! Tahukah kalian?
Mereka ini adalah sanak keluarga dari Pangeran Tua Li yang baru tiba dari dusun!"
Tujuh orang Turki itu terbelalak dan muka mereka berubah pucat. Si codet cepat memberi
hormat kepada Siauw Can dan Bi Lan, kembali diikuti oleh keenam orang anak buahnya. "Mohon jiwi
(kalian) sudi memaafkan kami yang tidak mengenal ji-wi maka bersikap kurang hormat."
Setelah berkata demikian, mereka bertujuh cepat memungut senjata mereka dan pergi dari situ
dengan langkah lebar dan muka ditundukkan.
Melihat pembesar itu kini memandang kepada mereka sambil tersenyum ramah Siauw Can cepat
memberi hormat dan berkata, "Maafkan kami, tai-jin, akan tetapi kami tidak mengerti.."
Pembesar itu membuat gerakan dengan tangan menghentikan ucapan Siauw Can, lalu dia
menoleh ke arah orang-orang yang masih berkerumun menonton di situ sambil membicarakan
perkelahian tadi, memuji-muji Bi Lan dan Siauw Can.
"Hei, kalian menonton apa? Kami bukan tontonan, hayo pergi melanjutkan perjalanan dan
pekerjaan kalian masing-masing!"
Mendengar bentakan seorang pembesar yang berpakaian mewah, para penonton itu menjadi
takut dan merekapun bubar. Keadaan menjadi sunyi kembali dan pembesar itu mendekati
Siauw Can.
"Tai-hiap, kalau kami tidak mencampuri, kalian tentu akan dikeroyok oleh ratusan orang anggota
pasukan Turki itu. Akan tetapi di sini bukan tempat kita bicara. Marilah ikut dengan
kami menghadap Pangeran Tua. Kalian tentu akan mendapatkan kedudukan yang pantas kalau
suka membantu beliau."
Siauw Can saling pandang dengan Bi Lan. Sungguh merupakan peristiwa yang amat kebetulan
dan amat menguntungkan mereka. Tanpa dicari, pekerjaan datang sendiri, bahkan mereka akan
dihadapkan kepada seorang pangeran! Dan Siauw Can sudah tahu siapa Pangeran Tua! Adik kaisar!
Tentu mereka akan dapat memperoleh kedudukan yang amat baik!
"Ingat, demi keselamatan kalian! Kalau kalian menolak dan melihat bahwa kalian bukan orangorang
Pangeran Tua, tentu orang-orang Turki itu tidak akan membiarkan kalian bebas dan kalian
akan terancam bahaya besar." kata pembesar itu ketika melihat keraguan pada wajah si wanita
cantik.
Siauw Can cepat memberi hormat. "Tai-jin, terus terang saja kami berdua hendak pergi ke kota
raja memang untuk mencari pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan kami."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Bagus! Kalau begitu cocok sekali. Kalian mencari pekerjaan dan Pangeran Tua memang sedang
mencari orang-orang yang memiliki kepandaian silat tinggi seperti kalian. Marilah ikut dengan kami.
Namaku Poa Kiu dan aku orang kepercayaan Pangeran Tua Li Siu Ti."
"Tai-jin maksudkan adik dari Sri Baginda Kaisar?" tanya Siauw Can dengan girang.
"Siapa lagi kalau bukan beliau yang disebut Pangeran Tua? Nah, mari kalian ikuti rombonganku
memasuki kota raja, pasti aman." Poa Tai-iin yang bernama Poa Kiu itu lalu menunggang kudanya,
diikuti oleh enam orang pengawal dan Siauw Can cepat mengikuti dari belakang dengan keretanya.
Dari dalam kereta, Bi Lan bertanya kepada Siauw Can, "Can-toako , siapa sih orang-orang asing
itu? Kenapa mereka merajalela di kota raja dan kenapa pula Poa Tai-jin mendiamkan saja mereka,
hanya menegur dan tidak mengambil tindakan?"
"Alh, kiranya engkau belum tahu duduknya persoalan, Lan-moi," jawab Siauw Can lirih agar
jangan terdengar orang lain. "Pasukan Turki merupakan rekan dari pasukan yang digerakkan oleh
Panglima atau Pangeran Mahkota Li Si Bin, sehingga berhasil menggulingkan Kerajaan Sui dan
mendirikan Kerajaan Tang. Oleh karena itu, tentu saja orang-orang Turki itu menjadi besar kepala
dan berani merajalela di sini. Mereka merasa telah berjasa pada pendirian Kerajaan Tang. Bahkan
di antara tokoh-tokoh mereka banyak yang diangkat menjadi panglima dan pembesar-pembesar
tinggi oleh Sribaginda Kaisar.
"Tapi......mengapa begitu? Mengapa para pendiri Kerajaan Tang itu bersekutu dengan orangorang
Turki?"
"Hal itu tidaklah aneh. Ketahuilah bahwa pemimpin pemberontak yang menggulingkan Kerajaan
Sui adalah Li Si Bin yang kini menjadi panglima besar dan pangeran mahkota. Dan dia adalah
seorang peranakan Turki. Ayahnya, yang sekarang menjadi Kaisar Tang Kao Cu adalah seorang
Han, akan tetapi ibunya adalah seorang wanita Turki, yang kini menduduki jabatan Permaisuri
Muda. Nah sebagai seorang peranakan Turki, tentu saja hubungannya dengan bangsa Turki amat
baik dan dia memang membutuhkan bantuan pasukan Turki untuk memenangkan perjuangannya
menggulingkan Kerajaan Sui. Setelah berhasil, tentu saja bangsa Turki itu mendapat angin dan
berani merajalela di sini."
Dengan singkat, di sepanjang perjalanan ke kota raja. Siauw Can menceritakan keadaan
keluarga kaisar yang diketahuinya dengan baik. Dia menceritakan betapa yang paling berkuasa di
kota raja adalah Panglima atau Putera Mahkota Li Si Bin, yang sebetulnya merupakan orang yang
menjadi pemimpin besar dalam menggulingkan Kerajaan Sui. Karena dia masih harus melakukan
penertiban dan pembersihan, maka dia mengangkat ayahnya menjadi kaisar pertama Kerajaan
Tang, yaitu kaisar yang sekarang berjuluk Kaisar Tang Kao Cu. Adapun Putra Mahkota Li Si Bin
sendiri menjadi Panglima besar dan dialah yang berhasil menundukkan semua pemberontak,
melakukan penertiban di mana-mana.
Setelah Li Si Bin berhasil, tentu saja otomatis keluarga Li mendapat anugerah, menjadi keluarga
kaisar! Juga Li Si Bin tidak melupakan keluarga ibunya dari Turki dan banyak orang pandai dari
Turki diberinya kedudukan untuk membantu lancarnya pemerintahan Tang yang baru.
Di antara para keluarga Li, yang paling menonjol kedudukannya adalah adik kandung kaisar
sendiri, atau paman dari Li Si Bin yang bernama Li Siu Ti. Paman inipun sudah berjasa membantu
perjuangannya, maka setelah mereka berhasil mendirikan Kerajaan Tang, Li Siu Ti menjadi
Pangeran Tua yang menjadi penasihat kaisar, bahkan mengepalai para pangeran sebagai wakil
kaisar.
"Demikianlah, Lan-moi. Sekarang kita diundang ke sana! Kalau kita dapat bekerja kepada
Pangeran Tua Li Siu Ti, berarti bintang kita sedang terang! Dia merupakan orang yang paling
berkuasa di istana, tentu saja sesudah kaisar dan putera mahkota!"
Bi Lan ikut merasa gembira. Iapun ingin mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan
kemampuannya agar ia mendapatkan tempat tinggal yang baik, serba bercukupan sehingga ia akan
dapat mendidik Lan Lan dengan baik. Ia sudah hampir lupa bahwa Lan Lan adalah puteri Si Han
Beng dan Bu Giok Cu. Ia merasa bahwa Lan Lan adalah anaknya sendiri dan segala yang ia lakukan
adalah demi kepentingan Lan Lan yang amat disayangnya.
ooo00000oooo
Gedung itu besar dan indah. Mungkin hanya kalah megahnya dengan istana kaisar saja. Hal ini
saja membuktikan kebesaran penghuninya. Dan semua orang tahu belaka bahwa pemilik istana itu
Pangeran Tua Li Siu Ti, adalah orang yang paling berkuasa sesudah kaisar dan putera mahkota
atau panglima besar.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pangeran Li Siu Ti, biarpun disebut Pangeran Tua sebagai tanda bahwa dia bukan putera kaisar,
melainkan adiknya, belumlah tua benar. Usianya sekitar empatpuluh lima tahun. Tubuhnya tinggi
besar dan gagah, matanya membayangkan kecerdikan dan kadang-kadang mulutnya memiliki
senyum yang penuh rahasia. Sejak dia kebagian kemuliaan menjadi Pangeran Tua dan diangkat
menjadi penasihat kakaknya yang menjadi kaisar, Pangeran Li Siu Ti telah membuat banyak jasa.
Dia memang cerdik dan nasihatnya kepada kaisar selalu tepat. Banyak membantu kelancaran
jalannya roda pemerintahan dari Kerajaan Tang yang baru itu.
Pangeran Li Siu Ti mempunyai seorang isteri dan lima orang selir. Akan tetapi, hanya dari selir
ke dua saja dia mempunyai keturunan, yaitu seorang anak perempuan yang pada waktu itu teluh
menjadi seorang gadis remaja berusia tujuhbelas tahun, bernama Li Ai Tin.
Puteri ini berwajah cantik, apalagi karena ia pandai dan suka bersolek. Bentuk tubuhnya yang
ramping padat juga menggairahkan, sehingga banyak pemuda di kalangan bangsawan tergila-gila
kepadanya.
Ketika rombongan Poa Kiu yang mengantar Siauw Can dan Bi Lan memasuki pekarangan yang
luas dari gedung tempat tinggal Pangeran Tua, kedua orang ini melihat bahwa tempat itu terjaga
oleh pasukan keamanan. Akan tetapi karena yang mengawal kereta adalah Poa Kiu yang dikenal
oleh semua pengawal, maka kereta itu tidak ditahan dan dapat dijalankan sampai di bawah anak
tangga beranda depan gedung itu.
Siauw Can dan Bi Lan diam-diam memperhatikan keadaaan tempat itu dan melihat bahwa di
antara para anggota pasukan penjaga tidak nampak seorangpun bangsa Turki. Kepada kepala
pengawal, Poa Kiu minta agar dikabarkan kepada Pangeran Tua bahwa dia mohon menghadap
bersama dua orang tamu yang amat penting, guna dihadapkan kepada pangeran. Kepala pengawal
tahu bahwa Poa Kiu adalah orang kepercayaan dan tangan kanan sang pangeran, maka tanpa
banyak tanya lagi dia lalu langsung saja masuk ke dalam untuk memberi laporan kepada
majikannya.
Tak lama kemudian, kepala pengawal itu muncul kembali dan mempersilakan Poa Kiu dan dua
orang tamu itu langsung saja memasuki ruangan tamu di bagian kanan bangunan.
Kalau tadi Bi Lan dan Siauw Can mengagumi pekarangan depan yang mempunyai taman amat
indahnya, dan beranda depan yang luas dan dihias arca-arca singa dan naga, kini mereka menjadi
makin kagum ketika memasuki lorong menuju ke ruangan tamu, didahului oleh kepala pengawal
dan Poa Tai-jin.
Gedung itu memang indah sekali. Pot-pot tanaman bunga yang terukir indah, dengan tanaman
bunga yang langka didapat. Guci-guci besar menghias sudut-sudut di sepanjang lorong, tempattempat
lampu yang beraneka bentuk dan warna. Pilar-pilar yang terukir, tirai-tirai sutera,
permadani dan pada dinding tergantung lukisan-lukisan dan tulisan huruf indah yang tak ternilai
harganya.
Ketika mereka memasuki kamar tamu, Pangeran Tua Li Siu Ti sudah duduk di situ, di atas
sebuah kursi yang berwarna merah. Di kanan kiri dan belakangnya berdiri selosin pengawal pribadi.
Kepala pengawal itu menjatuhkan diri berlutut dengan kaki kiri dan memberi hormat. Poa Kiu
juga memberi hormat kepada atasannya dengan menjura dan membungkuk. Melihat ini, Siauw Can
dan Bi Lan juga mengangkat kedua tangan di depan dada dan membungkuk untuk memberi
hormat.
Dengan tangannya. Pangeran Li Siu Ti menyuruh kepala pengawal mundur, kemudian dia
memandang kepada pembantu utamanya. "Poa Kiu, siapakah dua orang muda ini dan kenapa
engkau membawa mereka menghadapku?"
Dalam pertanyaan ini terkandung teguran karena agaknya sang pangeran kecewa. Tadi kepala
pengawal melaporkan bahwa Poa Kiu mohon menghadap bersama dua orang penting.! Tidak
tahunya hanya seorang pemuda sederhana dan seorang wanita muda yang memondong seorang
anak perempuan!
"Ampun, pangeran," kata Poa Kiu. "Sekali ini saya membawa berita amat menggembirakan.
Tanpa disengaja di tengah perjalanan, saya telah bertemu dengan dua orang pendekar ini yang
tentu akan amat berguna bagi paduka. Mereka inilah orang-orang yang selama ini paduka cari,
yang paduka butuhkan. Mereka berdua memiliki ilmu kepandai silat yang hebat."
Lalu Poa Kiu menceritakan kepada sang pangeran tentang sepak terjang Bi Lan dan Siauw Can
ketika diganggu oleh tujuh orang Turki di jalan tadi. Sang pangeran mendengarkan dengan penuh
perhatian, akan tetapi dia mengerutkan alis mengamati dua orang itu. Agaknya, sukar baginya
untuk dapat mempercayai cerita itu. Dua orang muda itu sama sekali tidak mengesankan sebagai
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
orang-orang berilmu tingggi, apalagi wanita itu, yang masih muda, cantik dan kelihatan lemah
lembut.
Bagaimana mungkin dengan tangan kosong mampu mengalahkan tujuh orang Turki yang kuatkuat
itu? Dan pemuda itu dengan sebatang suling saja mampu melucuti senjata tujuh orang Turki
itu? Tak masuk akal!
Akan tetapi pada saat itu, kepala pengawal datang menghadap dan melaporkan bahwa Raja
Muda Baducin datang bertamu! Mendengar nama ini, wajah Pangeran Li Siu Ti berseri dan dia
mengerling ke arah Poa Kiu.
"Bagus! Agaknya ini ada hubungannya dengnn dua orang muda ini. Poa Kiu engkau ajak mereka
keluar dari sini, tunggu di ruangan sebelah. Nanti kalau aku memberi isyarat
memanggil, kalian masuklah ke sini." Kemudian pangeran itu memerintahkan kepala pengawal
untuk mempersilakan Raja Muda Baducin untuk memasuki ruangan tamu. Poa Kiu maklum akan
apa yang dimaksudkan majikannya, maka diapun mengajak Siauw Can dan Bi Lan keluar melalui
pintu samping dan menunggu di ruangan sebelah.
Tak lama kemudian, masuklah tiga orang ke dalam ruangan tamu itu. Yang menjadi tamu
kehormatan adalah Raja Muda Baducin, seorang laki-laki bangsa Turki berusia limapuluhan tahun,
bertubuh tinggi kurus. Matanya lebar dan tajam sekali, hidungnya seperti paruh kakaktua, kumis
dan jenggotnya terpelihara rapi dan kulitnya coklat mengarah hitam. Pakaiannya mewah dan
kepalanya tertutup sorban putih dari sutera, orang yang menemaninya selalu berada di
belakangnya arah kanan kiri dan sekali pandang saja orang akan mengetahui bahwa mereka adalah
dua orang saudara kembar. Wajah mereka, bentuk tubuh mereka, bahkan pakaian mereka, serupa
dan sukarlah membedakan yang satu dengan yang lain. Usia mereka sekitar empat puluh tahun,
pakaian mereka seperti pakaian perwira perang, dan di pinggang mereka tergantung pedang
bengkok yang ujung dan gagangnya terhias emas permata.
Kumis mereka melintang panjang, melengkung ke atas, dan jenggot mereka dipotong agak
pendek, membuat mereka tampak jantan dan kokoh kuat. Apalagi keduanya memang bertubuh
tinggi besar seperti raksasa, sehingga baru bertemu saja, orang akan merasa gentar.
Setelah saling bersalaman dan mempersilakan tamunya duduk; Raja Muda Baducin duduk di
atas kursi dan dua orang kembar itu tetap saja berdiri di belakangnya, seperti juga selosin
pengawal pribadi yang tetap berdiri di belakang Pangeran Li Siu Ti, Pangeran itu lalu berkata
kepada kepala pengawal.
"Engkau boleh keluar dan sediakan minuman untuk pasukan pengawal Raja Muda!"
"Baik, Yang Mulia Pangeran!" kata kepala pengawal itu lalu keluar dari situ. Seperti biasa, kepala
para orang Turki itu tentu saja datang dengan sepasukan pengawal yang tadi menanti di luar,
sedangkan yang masuk hanya dia bersama dua orang pengawal pribadi yang setia.
Kalau saja orang melihat keadaan kedua "orang besar" ini beberapa tahun yang lalu, tentu apa
yang dilihatnya sekarang ini mirip dengan pertunjukan panggung sandiwara saja. Baru beberapa
tahun yang lalu, Pangeran Tua Li Siu Ti yang kini disebut yang mulia dan paduka
yang mulia, hanyalah orang biasa saja, bahkan dari keluarga petani. Akan tetapi begitu sekarang
keluarganya berhasil meraih tahta kerajaan, dia menjadi seorang bangsawan tinggi yang dimuliakan
orang. Juga orang yang kini disebut Raja Muda Baducin, tadinya adalah seorang kepala gerombolan
orang Turki yang termasuk golongan hitam atau sesat yang di negerinya dimusuhi sendiri oleh
pemerintahnya. Baducin dapat bersekutu dengan Li Si Bin dan membantu gerakan perwira muda itu
sehingga berhasil menggulingkan Kerajaan Sui. Maka, sebagai balas jasa, setelah Li Si Bin berhasil,
Baducin menerima anugerah, yaitu sebutan "raja muda" dan kedudukan yang mulia!
Dan kini dua orang yang berasal dari rakyat jelata ini, sekarang saling berhadapan seperti dua
orang bangsawan tinggi, lengkap dengan semua peralatan dan peraturannya.
Setelah gadis-gadis pelayan yang cantik datang menyuguhkan makanan dan minuman kepada
tamu kehormatan itu, dan mereka berdua makan minum dengan gembira sambil memberi hormat
dengan minum arak, barulah Pangeran Li Siu Ti menanyakan maksud kunjungan raja muda itu.
"Kunjungan paduka Raja Muda Baducin merupakan suatu kehormatan besar bagi kami, akan
tetapi kunjungan yang mendadak ini agaknya membawa urusan penting. Atau hanya merupakan
kunjungan iseng belaka untuk melepas rindu?" tanya sang pangeran dengan ramah.
Raja Muda Baducin tertawa bergelak sambil mengelus jenggotnya yang rapi. "Ha-ha-ha, tepat
sekali apa yang diduga oleh Paduka Pangeran Tua. Orang yang selalu sibuk seperti kami ini mana
ada kesempatan untuk membuang waktu hanya untuk iseng? Sesungguhnya kunjungan kami ini
untuk mohon keterangan dari paduka tentang peristiwa yang amat tidak menyenangkan hati kami."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Hemm, peristiwa apakah itu? Harap paduka segera menceritakan kepada kami."
"Begini, pangeran. Pagi tadi, tujuh orang anggota Pasukan Pedang Bengkok sedang
mengadakan patroli di luar pintu gerbang kota raja. Mereka melihat sebuah kereta dan karena
curiga mereka menghentikan kereta itu untuk melakukan pemeriksaan. Akan tetapi penumpang
kereta itu, seorang pemuda dan seorang wanita muda, membantah dan terjadi percekcokan dan
perkelahian. Akan tetapi, ketika anak buah kami hendak memberi hukuman kepada orang-orang
yang menghina itu, muncul pembantu paduka, yaitu Poa Kiu.
Dia mencegah anak buah kami bertindak dengan mengatakan bahwa dua orang itu adalah
sanak keluarga paduka yang datang dari dusun. Dan tadi, mata-mata kami mengetahui bahwa dua
orang itu memang datang ke gedung ini! Nah, setelah mendapatkan laporan itu, kami bergegas
datang berkunjung untuk mohon penjelasan agar tidak sampai terjadi kesalah pahaman di antara
kita."
Pangeran Li Siu Ti mengangguk-angguk dan tersenyum. Biarpun cerita yang didengarnya dari
raja muda ini berbeda dengan yang didengarnya dari Poa Kiu, tentu saja dia lebih percaya
kebenaran cerita pembantunya yang setia. Dan diapun maklum bahwa tentu orang-orang Turki itu
tidak berterus terang kepada pimpinan mereka bahwa mereka telah dikalahkan pemuda dan wanita
muda itu!
"Memang benar apa yang paduka dengar itu, karena memang mereka adalah masih sanak
keluarga dengan kami, walaupun masih jauh. Mereka datang berkunjung untuk membantu
pekerjaan kami. Menurut cerita mereka, memang terjadi kesalah-pahaman dengan tujuh orang
anak buah paduka. Akan tetapi, keributan itu tidak sampai berakibat jauh, tidak ada pihak yang
terluka parah atau tewas. Maka, kami harap paduka menghabiskan saja urusan di antara anak buah
kita itu."
Raja Muda Baducin itu tertawa, "Ha-ha-ha, kalau memang mereka itu sanak keluarga paduka,
tentu saja kami yang mohon maaf atas kelancangan anak buah kami. Hanya yang membuat kami
merasa penasaran. Kabarnya kedua orang muda itu memiliki ilmu kepandaian yang tinggi sekali
sehingga anak buah kami menjadi permainan mereka."
Pangeran Li Siu Ti tersenyum bangga. "Memang kedua orang sanak jauh itu merupakan dua
orang pendekar yang memiliki ilmu kepandaian silat yang tinggi!"
"Bagus, kalau begitu, ingin sekali kami bertemu dan berkenalan dengan mereka, dan dapat
melihat dengan mata kepala sendiri dua orang muda, seorang pemuda dan seorang gadis, yang
telah mampu mengalahkan tujuh orang anak buah pasukan Pedang Bengkok! Kalau mereka berada
di sini, dapatkah kami bertemu dengan mereka, pangeran?"
"Tentu saja boleh! Bahkan mereka berduapun berada di sini, akan tetapi untuk menghormati
paduka, kami memerintahkan mereka menyingkir ke ruangan lain. " Pangeran Li Siu Ti bertepuk
tangan dan muncullah Poa Kiu diiringi Siauw Can dan Kwa Bi Lan yang memondong Lan Lan. Anak
itu sedang makan kembang gula dengan asyiknya.
Pangeran Tua segera memperkenalkan tamunya kepada dua orang muda itu, sedangkan Poa Kiu
sudah menjura dengan sikap hormat. "Tamu terhormat kita ini adalah Raja Muda Baducin yang
mengepalai semua pasukan Turki yang berada di sini, dan beliau ingin berkenalan dengan kalian
berdua."
Bi Lan sendiri meragu, dan andaikata tidak ada Siauw Can di situ, belum tentu dia mau memberi
hormat kepada orang itu. Biarpun raja muda, ia adalah seorang Turki dan tadi pagi orang-orang
Turki bersikap amat kasar dan menghina kepadanya. Bagaimana ia dapat memberi hormat? Akan
tetapi, Siauw Can mendahuluinya dan pemuda ini member hormat dengan menjura, yang diturut
pula oleh Bi Lan.
Sementara itu, melihat bahwa dua orang yang telah mengalahkan tujuh orang anak buahnya itu
hanya seorang pemuda kerempeng dan seorang wanita muda cantik yang lemah lembut, hati Raja
Muda Baducin menjadi semakin penasaran.
"Aha, kiranya dua orang ini masih amat muda! Pantas saja lancang dan berani menghina tujuh
orang anggota Pasukan Pedang Bengkok kami!" katanya.
Mendengar ini, Siauw Can cepat menjawab. "Paduka mendapat keterangan yang keliru. Kami
berdua sama sekali tidak pernah menghina tujuh orang itu."
"Ho-ho-ho, kalian mengalahkan tujuh orang anggota Pedang Bengkok di jalan raya, disaksikan
banyak orang kalian telah melucuti senjata pedang mereka dan memandang rendah mereka,
bukankah itu penghinaan besar namanya! Kalau tidak muncul Poa Tai-jin, tentu telah terjadi
perkelahian mati-matian!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Maafkan kami," kata pula Siauw Can mengalah.
"Ha-ha-ha, kalau kami tidak memaafkan, apa kami mau berkunjung ke sini? Kami justru kagum
kepada kalian dan kami ingin menyaksikan sendiri sampai di mana kelihaian kalian berdua! Nah, di
sini ada dua orang pengawalku. Kalau kalian berdua mampu mengalahkan dua orang pengawalku
ini, aku akan memberi selamat kepada Pangeran Tua yang beruntung sekali mendapatkan
pembantu-pembantu yang amat lihai!"
Itu merupakan tantangan terbuka! Bi Lan sudah menjadi merah wajahnya, akan tetapi Siauw
Can yang cerdik member hormat ke arah Pangeran Li Siu Ti yang sejak tadi hanya mendengarkan
saja.
"Kami berdua telah bekerja di sini maka kami tidak dapat melakukan apapun tanpa perintah dari
Paduka Pangeran Tua! Kami berdua menanti perintah!"
Pangeran Li Siu Ti tersenyum lebar. Inilah kesempatan baginya untuk menguji kedua orang itu.
Akan tetapi Poa Kiu merasa khawatir. Tentu saja dia sudah mengenal siapa dua orang pengawal
pribadi Raja Muda Baducin ini. Dua orang raksasa kembar itu merupakan orang-orang yang paling
kuat dan paling lihai di antara semua orang Turki yang berada di kota raja.
Nama mereka Gondulam dan Gondalu, dua orang saudara kembar yang selain bertenaga gajah
juga pandai ilmu gulat, pandai silat bahkan memiliki kekuatan sihir!
(Bersambung Jilid XI)