Malam ini terasa berselimut dingin hingga menusuk keujung tulangku, mata ini sulit terpejam padahal seharian tadi bergelut dengan pekerjaan yang sangat melelahkan. Apalagi kesabaranku benar-benar diuji dengan tingkahnya mas Darul yang membuatku harus lebih bersabar hingga tak ada batasnya. Kalau aku tidak mengingat kebaikkan pak Zein yang sudah banyak membantu kesulitanku, pasti sudah kutinggal pergi.
"Yunita! Yunita!"
"Gila ya! jam dua dini hari begini masih teriak-teriak. Maunya apa sih?"
"Yunita! Kamu tuli ya!"mas Darul makin kencang teriakannya.
"Ya mas."jawabku bergegas kekamarnya.
"Kamu punya telinga nggak sih! Dari tadi dipanggil tidak dengar! Tuli ya!"
"Ada apa sih mas, ini kan tengah malam waktunya orang tidur. Kok masih saja teriak-teriak!"jawoabku setelah sampai dikamarnya.
"Enak saja! Aku bayar kamu bukan untuk tidur! Tapi untuk melayani aku, tau!"
"Ya mas, tapi ...."belum selesai aku ngomong sudah dipotong duluan.
"Sudah jangan banyak komentar, cerewet banget! aku mau kencing!"mas Darul masih saja berteriak mungkin sudah menganggap aku ini tuli beneran.
"Ya ...baik mas."jawabku sambil membantu membangunkan mas Darul dari tempat tidur dan meluruskan kakinya.
"Eh .... pelan-pelan dong! Sakit tau! Asal tarik saja! Punya mata nggak sih!"
"Maaf mas, ini selimutnya masih nyangkut di kaki."
"Kamu kerjanya nggak pecus, ceroboh!"
"Ya mas maaf, mau pakai kursi roda apa nggak?"
"Nggak usah, memangnya aku pincang!"mas Darul berjalan pelan dan segera masuk kekamar mandi.
"Sudah kamu disitu saja, tidak usah ikut masuk!"kata mas Darul sambil menutup pintunya.
"Ya iyalah, bukan muhrimnya."jawabku sekenanya.
"Dasar cerewet! Maunya membantah terus!"aku diam saja, hanya berdiri seperti patung menjaga patung hihihi.
Sudah tiga bulan ini mas Darul terlihat seperti orang aneh, kadang semua kebutuhannya bisa dilakukan sendiri tanpa minta bantuanku. Tapi suatu saat dia tidak bisa apa-apa, seluruh badannya menjadi lemas dan tidak bisa di gerakkan sama sekali. Kalau sudah begitu dia hanya bisa teriak-teriak dan tidak bisa mengucapkan sepatah katapun. dokter Imam yang ditunjuk sebagai dokter keluarga mengatakan kalau sakitnya mas Darul itu akibat dari kondisi shock berat yang dialaminya.
Mas Darul merasa sangat bersalah, gara-gara dia tidak pulang lama maka keluarganya datang menemuinya dan harus mengalami kecelakaan hingga merenggut nyawa mereka. Mobil Mercedez yang dikendarai pak Zein bersama keluarganya bertabrakan dengan truk pengangkut semen didaerah Cadas Pangeran Sumedang Jawa Barat dan menyebabkan pak Zein dan istrinya meningal dunia ditempat kejadian sementara anak perempuannya meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit.
"Yun yang sabar ya menghadapi Darul, turuti saja apa maunya."pesan dokter Imam setelah melakukan pemeriksaan kepada Darul.
"Aduuuh dok, tidak semudah kata-kata menghadapi mas Darul. Setiap hari aku dicaci maki, dibentak, dilempar gelas, piring, dipukul, ditampar dan dicubit sampai kulitku ini lebam semua."
"Ya aku tahu Yun, memang tidak mudah menghadapi Darul tapi siapa lagi yang bisa merawatnya kalau bukan kamu."
"Bagaimana kalau dicarikan perawat saja dok, untuk merawat mas Darul?"
"Kamu lupa ya dengan wasiatnya pak Zein?"
"Aku tidak lupa dok, tapi aku bosan dengan perlakuannya."
"Jangan begitu, yang penting kamu harus terus bersabar untuk merawat Darul dan yakinlah Darul pasti sembuh."
"Semoga saja dok, dan jangan terlalu lama biar kulitku tidak sampai ganti warna."
"Maksudnya apa itu, memangnya kamu ular yang bisa ganti warna kulit?"
"Habis lebamnya belum hilang sudah dicubit lagi, ini kulitku jadi biru."dokter Imam tersenyum mendengar penjelasanku.
"Jangan lupa obatnya diminumkan nanti kalau mau tidur, yang sabar ya Yun."pesan dokter Imam setelah memberikan obatnya mas Darul.
"Ya dok."jawabku singkat, setelah itu dokter Imam langsung pulang dan aku mengantarnya sampai pintu gerbang.
Sehari sebelum terjadi kecelakaan pak Zein mengumpulkan semua pembantunya setelah mengajak sholat ishyak berjamaah, tumben sekali. Kita semua tahu kalau pak Zein orang yang sangat sibuk, menyisihkan waktu buat keluarganya saja jarang bisa apalagi sampai mengajak ngobrol sama pembantunya jelas semua itu suatu peristiwa yang tidak biasa dilakukan pak Zein.
"Yunita, Nurmi, bu Fathimah dan Siswanto, besuk kami sekeluarga akan ke Bandung menengok Darul. Tolong kalian jaga rumah dengan baik, tidak usah ribut karena masing-masing belum menyelesaikan pekerjaan. Kalian harus saling bekerjasama dan bahu membahu dalam bekerja, aku sudah menganggap kalian semua adalah bagian dari keluargaku jadi kalian harus bisa bekerjasama dengan baik di rumah ini. Apabila suatu saat nanti terjadi sesuatu dengan keluarga ini, aku memberikan tanggung jawab kepada Yunita yang mengurus semuanya sebab kamu sudah aku anggap sebagai anakku sendiri. Jadi tolong bantulah keluarga ini Yun."
"Ya pak."jawabku dengan perasaan bingung dan tidak tahu apa maksud ucapan pak Zein tersebut. Kami hanya bisa saling pandang satu sama lainnya, pak Zein tidak memberi kesempatan kepada kami untuk bicara, sekedar mengajukan usul atau bertanya. Jadi kita semua hanya menjawab ya pak saja, meskipun dalam hati banyak yang ingin kutanyakan pada pak Zein tapi tidak berani. Setelah musibah itu terjadi kami semua baru menyadari dan memahami ucapan pak Zein itu merupakan pesan terakhirnya.
Pagi ini cuaca sangat cerah, diatas langit tidak terlihat awan yang menggerombol membentuk komunitas. Sementara angin bertiup terasa sangat sejuk menerpa kulitku, sebersit rasa lega dalam hatiku sebab semalam aku bisa tidur nyenyak tanpa ada gangguan dari mas Darul dengan segala teriakkan dan perintahnya. Tapi aku juga belum melihat keadaannya sekarang, mudah-mudahan dia baik-baik saja. Aku segera bergegas kekamarnya, lalu kuketuk pintunya dengan pelan dan membukanya.
"Ya Allah, mas Darul! Kenapa ini? Tolong! Tolong! Nurmi, pak Sis tolong!" Kulihat mas Darul sudah tergeletak dilantai dan sudah dalam keadaan tak sadarkan diri.
"Mas Darul bangun, kenapa mas?"teriakku, tanpa pikir panjang aku langsung mendekapnya dengan erat, tubuhnya terasa dingin sekali. Aku jadi semakin gugup dan takut. Mendengar teriakanku mereka semua datang kekamarnya Mas Darul.
"Pak Sis tolong bantu menganggkatnya ketempat tidur, setelah itu tolong cepat telpon dokter Imam, bu Fat tolong ambilkan washlap dan air hangat. Nurmi tolong buatkan teh manis panas."aku mencoba memberikan pertolongan pertama dengan bantuan teman-temanku. Lima belas menit kemudian dokter Imam datang dan langsung memeriksa mas Darul.
"Yun segera telpon ambulance, dia harus segera dibawa kerumah sakit."kata dokter Imam setelah memeriksa nadinya mas Darul. Aku langsung melaksanakan perintah dokter Imam, meskipun tanganku sangat gemetar karena cemas dan takut yang luar biasa melihat kondisinya mas Darul.
"Kok bisa begini, semalam kamu kasih apa sih Yun?" Tanya dokter Imam setelah aku kembali mendekat.
"Tidak tak kasih apa- apa dok, sebelum tidur dia minta dibuatkan susu hangat. Dua jam berikutnya aku suruh minum obat tapi tidak mau, malah langsung tidur. Sekitar jam dua belas aku tengok dia masih tidur, aku tidak berani membangunkan untuk menyuruhnya minum obat. Hanya itu saja dok, aku tidak melakukan apa-apa."
"Ya sudah, sekarang siapkan semua perlengkapan yang akan dibawa kerumah sakit sebelum ambulancenya datang."
"Ya baik, apa aku harus ikut kerumah sakit juga dok?"tanyaku kemudian, sebenarnya aku bingung dan tidak tahu harus berbuat apa.
"La iyalah, kok malah nanya gimana sih?"aku hanya nyengir dan segera mengemasi barang-barang keperluan mas Darul. Dalam hati sebenarnya aku tidak ingin ikut kerumah sakit, sebab ada rasa trauma untuk masuk rumah sakit. Peristiwa yang pernah menimpa adikku hingga meninggal menyebabkan aku tidak ingin kerumah sakit.
Ambulance melaju dengan cepat membawa mas Darul kerumah sakit, didalam ambulance dokter Imam terlihat sangat cemas melihat kondisinya mas Darul. Dia terus memegang tangan mas Darul untuk mengontrol nadinya, sambil menggeleng-gelengkan kepala dan aku tidak tahu apa maksudnya.
"Yun, nanti setelah Darul masuk kekamar perawatan. Aku ingin ngomong sama kamu."kata dokter Imam agak mengagetkanku.
"Ya dok."jawabku pelan, dalam hati aku merasa penasaran dengan apa yang akan dibicarakan dokter Imam padaku tapi aku berusaha menahan diri untuk tidak banyak bertanya. Tiba-tiba pintu ambukance dibuka oleh perawat laki-laki, ternyata sudah sampai dirumah sakit. dokter Imam segera turun untuk membantu menurunkan mas Darul, sementara aku hanya bisa mengikuti langkahnya dokter Imam masuk ke ruang IGD.
"Sus tolong ditangani dulu ya."perintah dokter Imam kepada salah satu perawat yang bertugas di ruang IGD, kemudian dokter Imam keluar ruangan.
"Baik dok."jawabnya dan langsung melalukan pemeriksaan kepada mas Darul.
"Pasien ini sakit apa mbak?"tanyanya padaku sambil memeriksa tekanan darah mas Darul.
"Tidak tahu Sus, tadi pagi tau-tau dia sudah tergeletak di lantai."jawabku tanpa memberi penjelasan macam-macam. Tak lama kemudian dokter Imam masuk kembali bersama temannya sesama dokter. Mereka kemudian melakukan pemeriksaan sambil berbincang pelan, setelah itu mereka membawa mas Darul keluar ruangan.
"Yun, kamu tunggu disini dulu. Nanti kalau semua sudah beres kamu tak panggil."pesan dokter Imam sebelum meninggalkan ruangan.
"Baik dok."aku langsung mencari tempat duduk untuk menunggu panggilan dokter Imam, saat menunggu itulah aku melihat kesibukan dirumah sakit ini.
"Ternyata rumah sakit ini sibuknya seperti supermarket ya, banyak orang yang keluar masuk dengan berbagai macam keperluan dan keluhannya. Kapan ya rumah sakit sepi? Mungkin kalau pelayanannya buruk kali ye."kataku dalam hati, jadi ingin tertawa tapi malu nanti dikira orang gila. Ini kan bukan rumah sakit jiwa hihihihi.
"Yun."Suara itu membuyarkan lamunanku, walau agak gelagapan aku segera beranjak menuju keruang praktek dokter Imam yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat yang aku duduki.
"Duduklah Yun."kata dokter Imam setelah aku masuk keruangannya.
"Terima kasih dok."jawabku sambil menarik kursi dari tempatnya.
"Yun ternyata Darul itu benar-benar butuh perhatian ekstra dan jangan sampai lengah."dokter Imam mengawali pembicaraan.
"Maksudnya apa dok?"
"Kamu tahu nggak kenapa Darul bisa sampai tergeletak dilantai dengan tubuhnya yang dingin seperti tadi waktu kita bawa kesini?"
"Kenapa dia, dok?"
"Dia mencoba bunuh diri."
"Astaufirullahaladzim! Kok bisa dok?"
"Ya begitulah, dia menelan semua obatnya."
"Padahal obatnya sudah aku sembunyikan semua lho, kok dia bisa tahu tempatnya ya?"
"Kamu harus ingat Darul itu menderita penyakit yang aneh, kadang seperti orang normal tapi mendadak tidak bisa apa-apa. Tadi malam dia dalam kondisi normal sehingga bisa mencari obat yang kamu sembunyikan lalu semua diminum, itulah yang mengakibatkan dia pingsan. Soalnya aku juga menemukan sisa obat disaku celananya, mungkin belum sempat diminum."
"Aku jadi nggak habis pikir, kenapa dia begitu nekadnya ya?"
"Begitulah, karena kondisi kejiwaannya masih sangat labil. Lebih parahnya dia tidak mau ditangani psikiater ."
"Mungkin dia sudah terlanjur percaya sama dokter."
"Tapi aku kan dokter umum, bukan psikiater."
"Kasihan ya dok, terus aku harus bagaimana?"
"Kalau kamu kasihan sama dia, jangan biarkan dia sendirian. Ajak dia bicara tentang banyak hal biar sedikit terhibur."
"Boro-boro ngajak bicara, didekati saja tidak mau. Malah nanti aku jadi sasaran amukannya dia."
"Disinilah diperlukan kesabaran yang lebih dari kamu, cobalah pelan-pelan diajak bicara tentang hal-hal kecil misalnya ditanya mau makan apa, mau minum apa atau yang lainnya. Dari situ komunikasi bisa di mulai, aku percaya sebenarnya Darul itu butuh teman yang bisa menghibur kesedihannya. Tolong ya Yun bantu Darul mengembalikan keercayaan dirinya juga menghilangkan kesedihannya, hanya kamu yang bisa melakukan itu."
"Sepertinya dokter yakin benar kalau aku bisa melakukan itu semua, bagaimana kalau aku tidak bisa?"
"Kamu ini lho jadi orang kok pesimisan gitu, belum dicoba sudah bilang tidak bisa. Jangan pernah menyerah Yun, kamu pasti bisa."
"Jangan terlalu yakin dulu dok, aku ini cuma pembantu dirumah itu. Sebenarnya aku merasa tidak pantas untuk melakukan tugas itu, apa saudaranya pak Zein tidak ada dok?"
"Kalau itu aku kurang tahu, yang dibutuhkan Darul saat ini adalah orang yang bisa menghiburnya, di rumah itu hanya kamu yang dekat dengan dia."
"Baiklah dok, akan aku coba."
"Nah begitu, lagi pula pak Zein sudah menganggapmu sebagai anak sendiri berarti Darul itu kakakmu."
"Aku tidak merasa begitu, pembantu ya tetap pembantu. Sebenarnya aku rela diperlakukan tidak manusiawi oleh mas Darul semata-mata hanya ingin balas budi kepada pak Zein yang sudah mengangkatku dari jurang penderitaan, untuk itulah aku tidak bisa pergi meninggalkan dia dalam keadaan sakit begini. Tapi kalau mas Darul sudah sembuh aku mau pulang kampung."
"Kamu jangan berkata begitu, apapun keadaannya kamu harus tetap berada di rumah itu. Disamping itu kamu juga sudah diberi tanggung jawab untuk mengurus semuanya."
"Aku tahu dok."
"Tengoklah dia di kamarnya, sekarang dia masih tidur. Nanti kalau sudah bangun mulailah ajak bicara."
"Baik dok."
"Pergilah." Aku mengangguk dan langsung keluar dari ruangan dokter Imam untuk menemui mas Darul. Akan kucoba semampuku membantu mas Darul sampai sembuh, semoga suasananya lebih baik dari sebelumnya.
Mas Darul masih tidur, dari wajahnya nampak pucat dan masih lemah. Kuletakkan semua barangnya ke dalam lemari termasuk barang-barangku yang kubawa. Aku duduk di sofa yang ada di kamar itu, kupandangi mas Darul dengan perasaan iba. Ingin rasanya membantu meringankan beban penderitaannya, tapi aku tidak tahu harus bagaimana? Kulihat dia mulai membuka matanya meskipun masih berat, aku segera mendekat untuk menanyakan keinginannya.
"Mas Darul mau minum?" Tanyaku sambil mendekat, walau agak sedikit takut. Dia hanya mengangguk dan terlihat tak berdaya, sebab untuk mengeluarkan suara saja berat apalagi harus marah-marah. Semoga mas Darul cepat sembuh Aamiin, bisikku dalam hati.
"Ini mas minumlah pelan-pelan."dengan menggunakan sedotan dia minum teh hangat yang aku berikan.
"Sudah mas?"dia hanya mengangguk, kuletakkan gelas diatas meja, dia mencoba memejamkan matanya yang masih nampak sayu. Kubetulkan letak selimutnya lalu kuambil kursi untuk duduk didekatkan. Aku belum berani mengajaknya bicara karena waktunya belum tepat. Kuambil koran hari ini yang baru kubeli untuk mengisi waktu, dengan seksama kubaca beritanya mulai dari halaman depan untuk menghilangkan kejenuhan.
Apa boleh buat aku tidak bisa meninggalkan dia dalam keadaan seperti ini, semoga aku senantiasa sabar menjaga orang yang sedang sakit jiwa seperti mas Darul.
Jangan cumbui duka mas Darul, tatap masa depanmu dengan penuh semangat dan percaya diri. Tuhan tahu yang terbaik bagi hambaNya, semua sudah suratan takdir dan percayalah dibalik musibah pasti ada barokah semoga sinar terang akan menyinari langkahmu selanjutnya Aaamiiin ya Robbal'Alamin
Selesai
YOU ARE READING
JANGAN CUMBUI
Short StoryDarul mengalami depresi berat setelah kedua orang tua dan adik perempuannya meninggal dunia karena kecelakaan di daerah Cadas Pangeran Sumedang. Waktu itu keluarganya akan menengok Darul yang kuliah di Bandung, karena sudah tiga bulan Darul tidak pe...
