1. 내 계획 - My Plan

350 15 0
                                        

         Hari ini tepat ke satu tahun aku di tinggalkan oleh orang tuaku. Mereka meninggal karena sebuah kecelakaan mobil di daerah Busan, saat itu sedang turun hujan deras hingga mobil mereka tergelincir dan jatuh ke jurang yang sangat curam. Saat itu orang tuaku berniat pergi ke Seoul untuk mengunjungiku, tetapi musibah itu tidak ada yang bisa melawannya. Itu terjadi begitu saja, aku yang mendengarpun sangat terkejut hingga aku mengalami syok berat saat itu.

Oh iya, namaku adalah Park Yun Hee.

Aku akan memulai kisahku, dimana semua rencana yang sudah ku susun dengan rapih hancur begitu saja ketika seorang Park Jimin datang kedalam kehidupanku.

Rencanaku yang akan berkuliah ke Jerman, aku yang ingin berkencan dengan laki-laki yang aku inginkan,dan aku yang ingin menikmati masa muda ku ini sudah tidak bisa dilakukan lagi. Dia, Park Jimin terlalu posesif kepadaku, entah karena ia tidak mau kehilanganku atau ia masih ingin menyiksaku lebih dalam lagi. Aku tidak tau itu.

Sungai Han, itu adalah tempat pertemuan pertama kami. Aku membantunya mengobati kakinya yang terluka saat itu aku juga tidak tau pasti dia terluka karena apa tetapi saat itu pas sekali aku juga sedang membawa kotak obat.

"Ahh" Laki-laki itu memekik lirih menahan perih lukanya yang sedang ku oleskan dengan kapas yang bercampur alkohol.

"Terima kasih telah membantuku." Ia tersenyum hingga menampakkan gigi putih miliknya.

"Sama-sama, aku pergi dulu." Aku pamit dan mulai melangkahkan kakiku, tapi aku terhenti di saat langkah ketiga.

"Permisi, siapa namamu?" Laki-laki itu bertanya lagi padaku. Menurutku hal ini tidak terlalu penting untuk di jawab, tetapi dari raut wajahnya itu penuh dengan rasa penasaran sekali ingin mengetahui namaku.

"Park Yun Hee." Aku tersenyum manis menanggapi pertanyaan dari laki-laki yang tingginya badannya lebih dari diriku.

****

Hari libur ini aku manfaatkan untuk pergi ke rumah bibi dan pamanku yang berada di Busan. Ini mungkin sedikit jauh tapi tidak apa, aku sangat merindukan mereka.

Suara gemuruh hujan masih bisa terdengar olehku dari dalam mobil ini, hujan yang setiap detiknya membasahi kaca mobil milik laki-laki paruh baya yang sedang mencari nafkah untuk keluarganya. Aku jadi teringat kembali akan kejadian satu tahun silam. Aku takut, ingatan ini memang selalu timbul jika hujan deras turun ke tanah. Aku merapatkan diriku di tengah kursi penumpang, aku mengeratkan jaket tebal ku. Dingin di sini.

Hingga akhirnya setelah menempuh perjalanan jauh mobil yang ku tumpangi ini sudah mulai masuk ke perkarangan rumah yang di hiasi beberapa pohon dan bunga yang sangat cantik dan rapih. Aku tidak bisa memendam senyumku, ini sangat indah sekali. Seingatku saat aku terakhir berkunjung ke sini, rumah ini belum terlalu rapih seperti sekarang, bahkan dulu perkarangan rumah ini belum ada satu bungapun yang tumbuh, perkarangan ini hanya di hiasi dengan rumput hijau yang tergelar di sana.

Aku mulai menurunkan beberapa tas dengan perlahan, lalu aku membayar laki-laki itu dengan uang yang sudah ku siapkan. Aku mulai melangkah masuk ke dalam rumah, wah ini sangat menyenangkan.

"Ahjumma, Ahjussi aku datang." Aku perlahan masuk dengan tas yang masih setia ku genggam di tangan kiriku.

"Eomma Appa lihatlah siapa yang datang." Jiwoo berlari kearahku dengan bersemangat hingga ia memeluk ku sangat erat hingga aku susah bernapas.

"Jiwoo yaa lepaskan noona susah bernapas." Ucapku perlahan agar ia melepaskan pelukkannya.

Jiwoo adalah anak laki-laki satu-satunya dari bibi dan pamanku. Ia masih bersekolah dan duduk di bangku kelas 3 SMP. Ia memiliki paras yang bisa di bilang banyak di puja para teman wanita di sekolahnya. Tampan seperti ayahnya.

STOP ITWhere stories live. Discover now