Malam ini adalah jadwal materi di salah satu grup kepenulisanku, The World of Authorship. Grup kepenulisanku ini dibuat dengan aplikasi WA dan grupnya dipecah menjadi dua: satu khusus untuk materi dan satunya untuk percakapan antaranggota. Ada hari tersendiri di mana kita dibebaskan OOT.
Materi hari ini disampaikan oleh Kak Fiane di grup khusus materi. Ia menyampaikan materi tentang cara membuat outline (kerangka karangan). Menurut KBBI, kerangka adalah garis besar atau rancangan, sedangkan karangan adalah hasil mengarang, cerita, buah pena, ciptaan, gubahan (lagu, musik, atai nyanyian), cerita yang mengada-ada, atau hasil rangkaian (susunan). Jika disimpulkan, maka kerangka karangan adalah garis besar atau rancangan hasil mengarang.
"Jika kau ingin menulis naskah yang bagus, terlebih dulu kau harus membuat outline atau kerangka tulisan yang bagus."
-Brad Zomick-
Kak Fiane menyebutkan enam alasan membuat outline. Intinya seperti yang dikatakan Brad Zomick. Sementara itu, tips darinya dalam membuat outline ada lima. Pertama, menyediakan waktu untuk brainstrorming sebelum membuat outline. Kedua, menentukan karakter utama. Ketiga, membayangkan adegan-adegan yang terjadi untuk setiap peristiwa utama. Keempat, menulis gagasan utama dengan 1-2 kalimat. Terakhir, memperhatikan adegan-adegan yang telah disusun.
Sesudah materi dibagikan, admin membuka chat untuk semua anggota grup. Anggota grup hanya boleh mengirimkan pertanyaan atau yang berkaitan dengan itu. Ada yang kurang aku mengerti, lalu kubuat pertanyaan kepada Kak Fiane.
"Kak, apa yang dimaksud plot holes? Dan bagaimana menulis outline cerita horor yang notebene harus memakai banyak detail?"
Semua pertanyaan dikumpulkan terlebih dahulu. Pemberi materi diberikan waktu sehari untuk menjawab semua pertanyaan-pertanyaan kami.
"Plot hole itu hilangnya elemen atau kesalahan yang jelas dalam alur cerita dimana menghilangkan kelogisan dan integritas plot ...
.... Untuk cerita horor, yang perlu detail, semakin detail outlinenya akan semakin baik. Lebih lengkapnya bisa ditanyakan secara pribadi dengan Kak LOD."
Hari berikutnya, pencetus TWOA—Kak Surya—memberikan tugas berupa challenge jilid 1. Kami, member TWOA, diminta membuat outline sederhana dengan genre bebas, karya sendiri, dan dikumpulkan dua hari kemudian.
Hari deadline, aku hampir melupakan challenge tersebut jika tak ada kode pengingat. Kak Riska, orang yang pernah memberikan materi di TWOA, menjadi member pertama yang mengirim tugas. Malam hari aku mengejar challenge dengan memeras otak dengan keras. Ideku memang imajinatif, bukan maksud sombong, namun dalam menulisnya yang kurang bagus.
Hal itu terbuktikan oleh kritik dari pencetus TWOA sendiri. Masih banyak yang harus kuperbaiki. Kak Surya menyarankanku untuk membaca novel Saman karya Ayu Utami. Awalnya aku tidak peduli, karena kurang berminat untuk membeli buku.
Senin selanjutnya, kami diberi materi tentang materi dengan mentor yang sama, Kak Fiane. Ia bilang sinopsis adalah penjelasan tentang isi cerita, yaitu apa yang terjadi dan siapa yang berubah dari awal sampai akhir. Sinopsis berbeda dengan blurb. Yang ada di sampul belakang buku disebut blurb. Blurb dibuat penerbit untuk pembaca setelah cerita selesai, sedangkan sinopsis dibuat penulis untuk penerbit. Prinsip sinopsis meliputi: bahasa menarik, ringkas, dan menggunakan sudut pandang orang ke-3 meskipun dalam cerita memakai sudut pandang orang pertama serta penggunaan show and tell. Dalam pembuatan sinopsis, sebaiknya dihindari pemakaian karakter atau kejadian yang terlalu banyak, memberikan informasi yang tidak perlu, menjelaskan tema cerita, menyebut-nyebut backstory karakter kecuali dalam hal tertentu, dan menghindari pertanyaan yang tidak terjawab. Seperti biasa, grup dibuka untuk member agar dapat mengirimkan pertanyaan.
"Kak, saya Putri, mau bertanya, apakah tidak masalah membuat sinopsis luar biasa, tapi isinya biasa2 saja atau di bawahnya? Sekian terima kasih."
"Terima kasih pertanyaannya ...
"Definisikan luar biasa di sini, apa saja indikasinya? Kalau untuk sinopsis yang bagus, intinya ada pada konflik atau plot, karakter, serta bagaimana cerita berakhir (disebut juga Kurva/Busur Cerita). Kurva cerita memastikan tindakan dan motivasi karakter realistis dan masuk akal; serta merangkum apa yang terjadi dan siapa yang berubah dari awal hingga akhir cerita. Ketika sinopsis yang kita berikan menarik, tapi ceritanya ternyata biasa-biasa saja, ada dua kemungkinan:
1. Penulis sebetulnya mampu bercerita dengan baik, tapi kurang dipoles.
2. Penulis "menahan diri" dalam menuliskan cerita tersebut, misalnya karena cerita itu menyinggung titik rentan/luka batin penulis, jadinya ceritanya setengah-setengah.
.... Biasanya editor dan penulis akan saling berkomunikasikan tentang kemungkinan-kemungkinan tersebut. Ujung-ujungnya revisi naskah."
Dua hari kemudian, Kak Surya memberikan tugas untuk mengembangkan outline minggu lalu menjadi sinopsis. Kami diberi waktu seminggu. Aku mempunyai gambaran ceritaku, tapi untuk menyambungkan setiap bab sedikit menyulitkan. Akhirnya, aku tulis sebisaku. Setelah itu, Kak Surya mengkritisi hasil sinopsisku. Lagi-lagi ia menyarankanku untuk membaca novel Saman karya Ayu Utami. Novel itu ada di iPunas. Aku sempat ingin memiliki aplikasi tersebut. Namun, karena memori internal HP-ku tak mencukupi, akhirnya tidak jadi. Jujur, aku lebih suka membeli buku cetak, apalagi dibelikan Kak Surya. Sekarang aku jadi dropshipper. Aku mencoba bertanya harga buku di atas kepada bosku. Ternyata harganya tujuh puluh ribu. Selain itu, kovernya juga agak aneh.
Deg.
Setelah membaca kritikan pencetus TWOA, dadaku menjadi sesak. Namun, aku masih ingat bagaimana diriku kemarin. Aku pun pasrah saja ketika Kak Surya mengumumkan akan dipilih lima orang untuk menjadi Blue Team. Yang terpilih akan disuruh membuat novel secara teratur. Aku yang tertarik, kemudian rasa minatnya menipis seiring berjalannya waktu, aku merasa yakin bahwa aku takkan tergabung sebagai Blue Team.
Beberapa hari kemudian, aku sangat terkejut. Namaku tercantum dalam pengumuman sebagai peserta Blue Team. Aku dalam urutan keempat. Ada rasa senang dan sedih. Senang karena berhasil menjadi pembuat tugas dalam lima besar, tapi sedih karena harus merangkai cerita bernama novel. Aku tak tahu apakah outline dam sinopsisku akan terwujud menjadi novel atau tidak. Aku pernah merasakan syok membuat novel karena novelku kurang laku di pasaran. Tapi, apabila dipikir-pikir, aku tidak bisa membuang kesempatan emas itu, apalagi novel dari pemenang finalnya akan dicarikan penerbit yang mau membukukan novel.
Sampai H-1, aku belum mulai menulis cerita. Sebelumnya. sudah ada dua orang yang mengirim ke cerita. Mereka hebat. Aku akui itu. Mereka percaya diri. Buktinya, mereka dipuji admin grup khusus Blue Team ke-2. Besok hari terakhirku untuk update cerita. Kalau aku tidak mampu, aku akan tereliminasi dari kelompok lima besar generasi kedua. Kata orang-orang, kesempatan hanya datang sekali. Jika datang lagi dan lagi, itu merupakan suatu keberuntungan. Manusia berencana, Tuhan menentukan atau berkehendak. Man jada wa jada. Terjadi, maka terjadilah. Tidak ada yang bisa menghalangi takdir-Nya. Dia Maha Kuasa lagi Maha Memberi Petunjuk.
BERSAMBUNG...
UPDATE SEKALI DALAM SEMINGGU.
KOMEN DONG!
Kalo bagus, kasih bintang dan atau memasukkannya ke perputakaan.
YOU ARE READING
PANCAINDRA
General FictionBukan suatu kebetulan, tapi memang sudah kehendak Tuhan. Sesuai namanya, PANCA artinya LIMA (seperti di PANCAsila), sedangkan indra artinya alat untuk melihat, mendengar, mencium, meraba, dan merasakan. Mereka masih remaja tingkat SMA. Suatu ketik...
