Never click suspicious links
Reminder: Wattpad will never ask for passwords, payment information, or other sensitive account security details.

Redamancy - 1

6.5K 104 2
                                        

Jasmine POV

Aku mendengus sebal saat mendapat perintah tak masuk akal itu, lagi dan lagi. Bayangkan saja, aku harus menaiki tangga dengan rok span yang membungkus tubuh bagian bawahku hanya demi mengambil sebuah buku yang menurutku tidak penting sama sekali yang berada di tumpukan teratas rak buku di ruangan ini. Andai saja aku tahu, hari ini akan begitu menjengkelkan, aku akan memilih berpura - pura sakit atau mengambil jatah cutiku, agar aku tidak mengalami hal seperti ini.

Aku baru saja mengatakan buku ini tidak penting bukan ? Ya tentu saja tidak penting, buku yang aku ambil dengan usaha ekstra keras ini, hanyalah sebuah buku novel fiksi karangan sastrawan terkenal abad ke-sembilan belas. Buku ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan pekerjaan yang bos besarku jalani. Ingat! Tidak ada hubungannya sama sekali, karena perusahaan ini bukanlah perusahaan penerbit yang berhubungan erat dengan dunia sastra lainnya.

Ini semua hanya karena dia bosan dan mengatakan ingin membaca buku, lantas dengan tanpa perasaan ia menyuruhku menaiki tangga ini sekarang. Sementara dia, huh! Lihatlah! Dia duduk angkuh di kursi kebesarannya, dengan sorot mata tajam sembari mengamati pekerjaanku.

Sudah lama rasanya aku ingin menjitak kepala atasanku ini, tapi apa daya, aku masih sangat menyayangi pekerjaan dan juga nyawaku sendiri. Aku tidak mungkin iklas menyerahkan nyawaku dengan konyol. Apalagi mengingat dia bisa saja menamatkan karirku sampai disini tanpa kesempatan untuk masuk ke perusahaan lain, hanya karena kesalahan kecil yang kuperbuat. Lagipula, gaji yang kudapat dari sini sangat - sangat menjanjikan dengan bonus diluar tunjangan.

Tidak akan ada yang mengira bahwa aku adalah sekretaris ke-sepuluh dalam hampir dua tahun terakhir ini, dan aku satu – satunya yang sanggup bertahan lebih dari dua bulan bersama pria tampan nan menyebalkan ini.

Sungguh, pertama kali aku melihat bosku sendiri, aku juga merasa sangat terpana pada ketampanan dan juga senyumnya yang menurutku amat sangat mempesona. Chris Hemsworth? Tom Cruise? aku berani bertaruh mereka kalah tampan dengannya. Mungkin sebelas dua belas, tapi ya, bosku satu ini memang memiliki ketampanan diatas rata - rata. Semua kekaguman dan keterpesonaan-ku harus sirna saat aku mulai melakukan pekerjaanku disini dengan segala perintah diluar nalarf yang menguras kesabaranku. Aku bahkan merasa harus memperingati semua wanita diluar sana agar tidak tertipu pada tampilan luar yang ia miliki.

Sebagai sekertaris yang merangkap personal assistant, aku sudah sangat terbiasa mengurus segala keperluannya sejak pertama kali sah diterima bekerja disini, termasuk mengurusi pakaian yang akan ia kenakan, makanannya, dan juga jadwal - jadwalnya yang luar biasa padat. Oleh karena itu, aku diberikan akses tersendiri untuk keluar masuk penthouse miliknya, yang berjarak kurang lebih sepuluh sampai lima belas menit dari kantor.

Aku tidak tahu terlalu banyak tentang urusan pribadi pria yang menjadi bosku ini. Karena itu, bukan menjadi tanggung jawab dan juga job desk-ku. Tapi, dari desas desus yang kudengar, ia pria yang sudah lama memilih untuk hidup sendiri dan tentu saja, bagian bermain wanita untuk kalangan sepertinya sudah menjadi hal yang lumrah. Di zaman modern seperti sekarang, dengan perkembangan teknologi dan kebudayaan yang pesat, aku tidak ingin munafik dan menampik bahwa urusan ranjang menjadi salah satu kebutuhan yang paling dicari. Hampir seperti kebutuhan primer oleh orang - orang seperti bos-ku ini.

Meskipun aku tahu, itu bukanlah hal yang bisa dibanggakan dari sisi manapun.

Aku kembali mendengus sebal saat aku sudah mengatur setidaknya lima novel tebal yang jumlah halamannya tak terhingga ini di atas mejanya dengan susah payah, dan reaksinya membuatku hampir meledak. Aku benar - benar gila dibuatnya.

"Singkirkan semua dari hadapanku!" katanya dengan ketus, yang mampu membuat siapa saja langsung tunduk dan ketakutan, tapi tidak dengan diriku yang terlanjur sebal melihat tingkahnya hari ini. Darahku benar - benar naik ke kepala, membuatku meradang.

Sedari pagi ini entah mengapa suasana hatinya begitu buruk. Ketika sampai di ruangannya, dia langsung memarahiku karena laporan – laporan yang ia terima sama sekali tidak sesuai, padahal aku tidak terlibat sama sekali dalam proses pengerjaannya. Memang benar, laporan itu harusnya melewati-ku dulu sebelum diserahkan padanya, tapi entah mengapa itu bisa ada dimejanya pagi ini dan aku tidak ingat ada orang yang mengantarkannya padaku.

"Tapi sir, anda sendiri yang meminta saya untuk mengambilkan buku – buku ini. Bukankah anda bilang ingin membacanya karena hampir mati bosan seharian ini?" kataku sinis, mencoba beragumentasi yang kuyakin sia – sia. Karena tetap saja, perintah dan kata – kata dari yang mulia raja di hadapanku adalah sesuatu yang tak terbantahkan hingga detik ini.

"Aku bilang singkirkan, Jasmine!"

Dia mulai lagi. Berteriak dan berteriak lagi. Aku tidak tuli batinku seraya menyingkirkan semua buku yang sudah aku dapatkan dengan susah payah. Aku meletakkan buku - buku tersebut secara asal, sengaja membantingnya hingga timbul bunyi berdebum. Bahkan rasanya, aku sangat ingin melemparkan buku itu tepat ke wajahnya yang sialannya sangat tampan.

"Ada yang bisa saya bantu lagi, sir?" tanyaku sebelum pergi dari tempat ini, seraya tersenyum manis. Sangat manis, hingga bibirku terasa sakit, tertarik paksa berlawanan arah.

"Pergilah." jawabnya tak acuh. Sama sekali tidak memandangku sebagai lawan bicara. Itulah yang ia lakukan setiap kali berbicara dengan orang yang dia anggap tidak penting. Aku membungkukkan badanku sebentar sebelum benar – benar berjalan menuju pintu kayu dengan kesal. Sepertinya aku memang harus bertemu dokter Sam dan merencanakan sesi terapi dengannya, sebelum aku benar - benar menjadi gila.

"Amanda akan datang dalam lima menit." katanya lagi, membuatku mengurungkan niat untuk menyentuh handle pintu dan berbalik menatapnya lagi.

"Baik sir."

Aku tahu siapa Amanda, dan apa yang harus aku lakukan untuknya. Setelah ini aku harus menulikan telinga dan membutakan mataku pada apapun yang terjadi di ruangan bos – ku ini.

Sial! Selalu saja seperti itu. Amanda, perempuan yang selalu datang ke kantor ini dan bertemu dengannya. Aku akui, Amanda adalah perempuan yang sangat cantik dan dengan pekerjaannya sebagai model, menambah nilai plus-nya dimata laki - laki. Kulit pualam, hidung mancung, rambut blonde serta tubuh seksi yang menggoda. Tentu semua lelaki akan jatuh hati padanya, termasuk bos-ku itu. Dari gosip dikantor yang kudengar, mereka telah menjalin hubungan setidaknya hampir satu tahun penuh, dan aku yakin hubungan mereka bukan hanya sekedar teman cerita.

Tahu bagaimana pergaulan antara pria dan wanita diluar sana, dan tidak bisa dipungkiri itu memang kenyataannya.

Aku bergegas kembali ke ruanganku. Ruangan kami terpisah oleh kaca satu arah, meaning bos-ku dapat mengawasi apapun yang kulakukan dengan mudah. Kenyataannya, ini justru seringkali membuatku kikuk dan sedikit awkward karena selalu merasa diawasi, meskipun aku tidak tahu pasti apakah ia melihatku dari dalam sana atau tidak.

The RedamancyStories to obsess over. Discover now