Pagi yang cerah, hari ini aku ada janji dengan kedua sahabatku untuk bertemu dan hangout bareng. Sepuluh tahun sudah kami mejalani persahabatan ini. Hari ini kita akan bertemu ditengah kesibukan kuliah.
"Ayo siap2 jam 10 harus dah nyampe Rainbow lho..." Aku mengirim pesan ke grup yang beranggotakan aku dan kedua sahabatku itu. Rainbow merupakan nama kafe yang sering kami kunjungi jika bosan berada dirumah.
Kulihat jam tangan yang melingkar dipergelangan tangan kiriku, menunjukkan pukul 7.30, kulangkahkan kakiku ke depan cermin memastikan diriku sudah rapi. Aku melangkah ke meja makan menyapa adik, ayah, dan ibu.
"Amna mau kemana kok jam segini sudah rapi?" Tanya ibu kepadaku.
"Mau ketemu Uzma sama Maira di Rainbow, tapi masih nanti kok bu, jam 10. Amna boleh pergi kan yah? bu?" Jawabku lalu meminta izin untuk pergi.
"Tentu." Jawab ayah dan ibu hampir bersamaan.
Kami melanjutkan makan dengan obrolan ringan diantara kami.
Setelah selesai sarapan aku pamit pada ayah dan ibu.
"Yah, bu, Amna pergi dulu ya?"
"Loh, katanya jam 10. Kok udah berangkat ini baru jam 8 lho."
"Iya mau ke rumah Uzma dulu bu, biar ke Rainbownya sekalian bareng-bareng."
"O yasudah hati-hati ya.." Ucap ibu.
Ayah hanya menganggukan kepala sebagai jawaban. Akupun mencium tangan kedua orang tuaku, dan beranjak keluar rumah.
"Aku nggak dipamitin nih kak?" Ucap adikku.
"Ya ya... kakak pergi dulu ya dik,"
"Assalamu'alaikum," Ucapku saat keluar rumah.
Aku mengendarai motorku menuju rumah Uzma yang hanya berbeda blok dengan rumahku.
***
"Assalamu'alaikum..." Sapaku sambil mengetuk pintu rumah Uzma, sambil berharap segera ada yang membuka pintu itu.
"Wa'alaikumussalam, sebentar." Jawab seseorang dari dalam rumah, yang kukenali dengan baik suara itu. Iya, yang berdiri di depanku saat ini, yang tadi menjawab salam dan membuka pintu adalah Tante Bida, ibu Uzma.
"Eh, Amna... gimana kabarnya? Udah jarang main kesini sekarang," Sapa Tante Bida.
"Alhamdulillah Tan, kabar Amna baik. Iya Tan, maafin Amna ya... Jarang main kesini sekarang soalnya lagi sibuk kuliah, jadi nggak sempet main deh.." Jawabku akrab karena beliau memang serasa teman.
"oh iya Tan, Uzmanya adakah?" Tanyaku.
"Oh, Uzma. Dia ada dikamar masuk aja.." Tante Bida mempersilahkan.
"Lho Tan, kok tumben rumah sepi? Om, sama Kak Rizwan kemana emang?" Tanyaku heran, karena biasanya saat weekend semua orang berkumpul di ruang tengah.
"Oh itu... Om, sama Rizwan tadi lari pagi, mungkin sekalian jalan-jalan soalnya mereka berangkat dari jam setengah enam an tadi. Yaudah, Tante tinggal dulu ya... Mau nerusin mbikin kue." Ucap Tante Bida sambil berlalu ke arah dapur.
Aku memang sering main kesini dulu, saat aku dan mereka belum tersibukkan oleh kuliah masing-masing sehingga aku tau betul seperti apa rumah ini.
Aku berjalan menuju kamar Uzma, kemudian mengetuk pintu sambil mengucapkan salam setelah sampai di depan pintunya, namun tanpa menunggu si empunya kamar aku langsung membuka dan masuk ke kamarnya. Begitulah kami, karena sudah lama dekat jadi bisa dikatakan sopan santunnya rendah hehehe, maaf ya...
"Wa'alaikumussalam, loh Na, kok kamu disini? Bukannya kita udah janjian ketemu di Rainbow? Pindah lokasi ya? Enak aja main pindah lokasi nggak nanya - nanya dulu sama yang lain.." Tanya dan protesnya.
"Apaan sih Ma, siapa juga yang mindah lokasinya? Ada orang dateng bukannya disambut malah diomelin.." Gerutuku, kemudian memasang wajah ngambek.
"Iya iya sorry... kan aku pikir kamu mindah tempat ketemuannya, soalnya kamu kesini nggak bilang-bilang og.." Ucap Uzma dengan menyesal.
"Hm."
"ihh.. udah dong, jangan marah.."
"lha siapa juga yang marah, aku kesini tuh soalnya nggak tau mau ngapain di rumah, bayangin aja jam setengah tujuh tuh aku dah mandi siap-siap buat ketemu kalian, semangat banget nggak tuh, yaudah aku ke rumahmu aja dulu, habis itu ke rumah Maira terus baru ke Rainbow bareng-bareng." Jelasku panjang lebar.
"Emang kenapa kamu ngajak ketemuan di Rainbow?" Tanyaku penasaran, karena ide ketemu di Rainbow memang ide Uzma.
"Nggak tau, Maira yang minta, dia minta supaya aku duluan yang ngomong di grup. Ntar tanya langsung aja ke Maira. Yaudah, ini dah mau jam 9 aku udah siap juga, ke rumah Maira yukk... Oh ya mending chat dia dulu deh Na, btw kamu harus nyeritain hal itu ke Maira juga lho, nggak adil kalo aku tau tapi dia nggak, ya..." Ucap Uzma.
"Iya, ntar aku bakal ngasih tau Maira. Aku cerita ke kamu dulu karena waktu itu yang bisa aku ceritain cuma kamu, dianya ngilang dan aku nggak bisa nunda buat cerita. Cuma centang satu." Ucapku sambil mengirim pesan ke Maira.
"Yaudah yukk... naik mobil aja ya Na?" Ucap Uzma meminta persetujuan.
"Hm" Jawabku sambil menganggukan kepala, kami melangkahkan kaki ke luar kamar, lalu menghampiri Tante Bida yang ada di ruang tengah.
"Bun, Uzma sama Amna pergi dulu ya... Uzma bawa mobil ya..." Ijin Uzma pada Tante Bida.
"Iya hati-hati ya sayang... mobilnya kan di bawa Ayah sama Kakakmu."
"O yaudah Bun, kita pergu dulu ya..." Pamit Uzma dengan mencium tangan Tante Bida kemudian aku mengikutinya.
"Assalamu'alaikum.." Ucap kami sambil berlalu ke pintu.
"Kakak tu, pasti ngajakin ayah pergi makanya nggak pulang-pulang padahal dari setengah enam." Gerutu Uzma mengenai kakaknya.
"Udahlah Ma, mau naik motorku ato jalan?" Tanyaku.
"Jalan ajalah, motormu biar disini aja." Ucap Uzma yang aku setujui.
Beberapa langkah keluar rumah,
"Kalian mau kemana kok jalan kaki?"
"Salam dulu lah kak.." Ucap Uzma.
"Iya iya.. assalamu'alaikum... mau kemana nih adik-adik kakak kok jalan kaki?" Ucapnya dengan senyum merekah, yang akan membuat perempuan melting, tapi karena sudah akrab tentu aku biasa saja.
"Ini gara-gara kakak mbawa mobilnya, tadi rencananya aku mau mbawa mobil buat ke Rainbow setelah njemput Maira." Ucap Uzma memasang wajah kesalnya.
"Iya iya maafin kakak... yaudah kakak anterin aja yukk masuk."
"Lho kak, ayah mana?" Tanya Uzma, saat sudah duduk di samping Kak Rizwan dan aku di kursi tengah.
"Oh Ayah tadi habis lari pergi sama temennya," Jelas Kak Rizwan.
"Oh berarti, tadi kak Rizwan jalan nggak bareng ayah ya.." Selidik Uzma.
Kak Rizwan hanya membalasnya dengan senyum. Kak Rizwan melirik spion tengah untuk melihat sahabat adiknya itu.
"Amna kenapa diem terus dari tadi? habis dikerjain sama Uzma ya? Maafin adik kakak ya... dia emang kadang nyebelin." Ucap Kak Rizwan padaku. Aku jadi merasa tak enak dengan Kak Rizwan karena dari tadi tak menyapanya.
"Lho emangnya aku sama Maira bukan adik kakak juga? Kirain dianggep adek." Jawabku dengan senyum tulus lalu turun karena mobil sudah berhenti di depan rumah Maira.
"Apaan sih kak, jangan ngganggu sahabatku gitu loh." Protes Uzma
"Kakak tunggu sini dulu lho ya... aku mau nemuin Maira dulu, tadi kan bilang mau nganterin." Ucap Uzma lalu turun.
YOU ARE READING
Maaf...
Teen FictionAmna, Uzma dan Maira. Tiga gadis yang telah menjalin persahabatan bertahun-tahun. Kini persahabatan mereka di uji. Apa ujiannya? Yang kepo harus baca biar tau, yang nggak minat bisa di skip. Happy Reading...
