PRASANGKA BAIK

2 1 0
                                        

Nama ku Zoya. Aku adalah siswi SD pindahan di sekolah ku dulu. Aku pindah ketika aku kelas 2 SD. Pertama kali aku masuk ke kelas baru aku di salah satu SD Negeri Riau, aku di perkenankan untuk memperkenalkan diri di depan kelas. Dan aku pun memulai perkenalkan diriku dengan percaya diri dan ceria.

Lalu aku di arahkan sama guru untuk duduk di bangku kosong di sebelah siswi yang akan menjadi teman sebangku aku, aku pun langsung menuju tempat yang di arahkan tersebut dan langsung mengikuti pelajaran seperti biasa.
Lalu ketika waktu istirahat tiba. Banyak teman teman baru yang mengerubungi tempat duduk aku. Ya biasalah, mereka tanya nama, alasan aku pindah dan lain lain. Tiba tiba ada salah seorang siswi SD yang aku tau bernama Desi mem bisikkan sesuatu sama aku. Dia bilang gini.

"hei Zoya, kenapa kamu duduk di sini? (Merujuk ke bangku yang aku duduki hasil arahan guru).

Lalu aku bingung dong. Gak mungkin dia tadi gak tau kan, kalau guru yang arahkan aku untuk duduk disini tadi, padahal dia duduk tepat di depan aku. Jadi aku tanya balik.

"lah memangnya kenapa? Kan ibu guru yang suruh duduk di sini tadi."

"Kamu tau gak, teman sebangku kamu itu beda agama sama kita." Kata Desi

"Jadi kalau beda agama memangnya kenapa? Gak boleh temenan? Siapa yang larang?" Aku balik tanya ke Desi.

Aku bingung dong. Memangnya kenapa kalau beda agama? Walaupun dulu belum ada pelajaran tentang bhineka tunggal ika waktu aku kelas 1 SD tapi orang tua aku udah mengajarkan aku terlebih dahulu, jangan suka membeda-bedakan orang dari suku, ras, agama, budaya dll. Karna kita semua sama sama manusia yang akan saling membutuhkan dan saling tolong menolong.

"Kalau aku jadi kamu, aku gak mau duduk disitu, dia beda agama dan jorok" kata Desi

"Kenapa dia tega ya bilang gitu sama teman sendiri." Batin ku

"Kan memang bukan kamu yang duduk disini, tapi aku. Kan ibu guru juga gak ada suruh kamu duduk disini kan?" Jawab ku.
Lalu dia langsung pergi sesudah aku jawab.

Dulu aku adalah seorang siswi SD yang ceria dan seorang yang paling tulus dalam pertemanan.. dulu aku pasti takut dan gelisah kalau ada teman dekat aku yang tiba tiba diemin aku. Padahal menurutku aku gak punya salah sama dia.

Pernah dulu waktu bu guru memberi kami latihan matematika, ada teman aku yang bernama yolanda minta jawabannya sama aku karna aku udah siap mengerjakannya. Aku gak mau kasih dong, karna aku selesaikan tugasnya pakai pikiran sendiri (waktu kecil dulu, kalau aku mikir agak keras sedikit , aku pasti merasakan sakit kepala yang amat menyakitkan dan kebetulan aku duduk di dekat samping dinding, kalau udah sakit kepala pasti aku jedotin kepala aku ke dinding sampai berkali kali) gak mungkin kan aku kasih jawaban aku ke dia gitu aja tanpa ada usaha dari dia sendiri.

Tapi karna aku gak kasih jawaban aku ke dia, dia bilang gini

"Awas kau ya, gak mau aku temenan sama kau lagi. Nanti aku ajak juga yang lain supaya jangan temenan sama kau"

Aku langsung panik dong. (Bisa bayangin gak, disitu aku dan dia masih kecil. Tapi kenapa dia sejahat itu.(Tapi Zoya kecil gak pernah nganggap Yolanda itu jahat) Karna aku panik. Aku langsung kasih jawaban aku ke dia.

Setelah latihan dikumpulkan dan dinilai sama ibu guru, ternyata nilai aku lebih rendah dari nilai Yolanda. Padahal jawaban kami sama semua. Lalu aku tanya sama ibu guru kenapa bisa berbeda, sedangkan jawabannya sama.

Lalu di tanya sama ibu guru. Kenapa bisa sama jawabannya? Tempat kesalahan jawabannya juga sama. Dan ditanya Apakah salah satu diantara kami ada yang menyontek?
Aku gak berani jawab, dan juga aku gak tau mau jawab apa. Tapi yang mengejutkan adalah. Teman aku si Yolanda jawab kalau aku lah yang menyotek.

Zoya kecil hanya bisa menahan tangis dan gak berani membantah, karna dia tau pasti gak ada yang percaya sama dia. Lalu ibu guru langsung memberi si Zoya kecil nilai NOL dan disuruh untuk mengerjakan latihan yang soalnya dua kali lipat.
Tapi Zoya kecil tetap menganggap Yolanda teman yang baik, gak tau kenapa masih bisa dianggap baik.

Ketika aku naik kekelas 3 SD, aku pindah sekolah lagi ke Tanjung pinang. Karna orang tua aku membuka usaha. Mereka membuka kedai klontong atau kedai kebutuhan sehari-hari.

Hari pertama aku masuk sekolah SD disana, aku masih terasa asing dengan kebiasaan disana. Karna berbeda jaaauh dari kebiasaan siswa di SD lama aku. Tapi yang aku syukuri adalah. Teman baru aku jaauuh lebih baik dari pada teman aku yang ada di sekolah lama. Mereka gak ada yang menyontek dll. Malah mereka dengan senang hati membantu aku tanpa aku minta. Dan aku senang sekali di sekolah baru aku.

Tapi kesenangan itu gak bertahan lama. Setelah satu tahun aku tinggal di Tanjung Pinang, aku akan pindah lagi ke kota yang sama dan ke SD yang lama. Karna usaha orang tua aku bangkrut, karna di tipu sama keluarga sendiri.

Aku yang masih kecil pun yang gak tau apa apa mencoba membujuk orang tua aku untuk jangan pindah, karna aku udah sangat suka tinggal di situ. Aku memohon sambil menangis, padahal waktu aku mau pindah ke tanjung pinang aku gak ada merasa keberatan, malah senang.

Kami tetap pindah.

Aku kembali ke sekolah lama aku. Dan di kelas yang sama lagi. Tapi ada satu teman yang gak pernah aku temui selama aku sekolah di sana. Dan ternyata dia anak baru yang masuk waktu kenaikan kelas 3, dan sekarang kami kelas 4 SD.
Dia sangat ramah dan baik ketika pertama kali kami mengobrol. Dari situ aku dan dia menjadi sangat amat dekat sampai kami di kelas 5 SD.

Mungin memang benar kata orang. "Kalau berteman jangan terlalu dekat, nanti umur pertemanan gak akan lama" aku dulu gak percaya sama kata kata ini. Tapi dimulai kelas 5 SD aku merasakannya sendiri.

Nama teman aku itu adalah eci dan orang tuanya kaya. Mulai dari awal kenaikan kelas 5 dia memperlakukan aku seperti bukan temannya. Dia mulai sering memerintahkan apa aja kepada aku. Mulai dari menuliskan catatan untuk dia, membelikan jajanan keluar pagar sekolah (menggunakan uang dia), meminta aku untuk memakan makanan bekas dia makan. Untuk yang terakhir, aku gak mau. Karna aku dulu memang dilarang untuk memakan bekas orang lain. Karna aku rentan tertular penyakit.

Dan aku menolak. Selanjutnya kata kata dia yang membuat aku sakit adalah kata kata yang sama yang pernah di katakan oleh Yolanda kepada aku.
"Kalau kau gak mau makan ini, aku gak akan mau berteman sama kau lagi" kata eci.
Setelah dia bilang kata itu. Aku langsung memakannya. Tapi sekali lagi. Zoya kecil tidak mengganggap perbuatan eci itu jahat. Tetapi itu berdampak pada rasa percaya diri aku yang menurun secara drastis. Aku menjadi orang yang pendiam, dan mau disuruh apapun oleh mereka.

Tapi lama kelamaan ada salah satu teman dari kelas sepupu aku. (Oh iya. Sepupu aku seumuran aku dan juga sekolah di sekolah yang sama tapi kelas yang berbeda, maksudnya bersebelahan). Dia lihat aku di gituin sama teman aku sendiri. Dia langsung mengajak aku main sama teman temannya aja. Jangan main di kelas ini lagi. Pertama aku menolak. Tapi ternyata sepupu aku juga bilang main sama dia aja. Jangan main dikelas ini lagi. Dia bilang. Kalau mereka gak mau temanan sama Zoya lagi biarin aja, mereka juga yang rugi. Kan aku masih ada dia.

Jadinya aku mau main sama sepupu ku dan teman temannya. Mereka saaangat baik. Dan sangat menghargai aku. Mereka gak memandang status seseorang. Sejak saat itu, ketika bel istirahat berbunyi, mereka selalu menunggu aku di depan pintu kelas untuk bermain bersama. Dan aku sangat bersyukur. Dengan perlahan rasa percaya diri aku kembali bangkit sedikit demi sedikit..

END

NB: Nama di atas adalah Nama samaran

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Nov 06, 2019 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

LUGUStories to obsess over. Discover now