PAGE : The Fragile Crown Prince 0.1

31 1 0
                                        

Rajata mungkin termasuk salah satu remaja paling beruntung di dunia. Usianya baru tujuh belas tahun ketika sang ayah menghadiahkannya satu persen saham di salah satu perusahaan properti yang dikelola keluarga besar ibunya. Rajata mungkin memang ditakdirkan lahir berada ditengah-tengah kemegahan sebuah rumah serupa kastil dengan taman bunga dipekarangan depan, pagar besi menjulang tinggi, lantai marmer elegan berwarna coklat, serta deretan perabot antik menghiasi sudut-sudut. Sosoknya nampak serasi berbaur dengan semua keanggunan. Tubuhnya tinggi, kulitnya putih bersih, hidung bangir dengan mata bulat jernih. Tidak hanya fisik yang mempesona, kepribadian yang ramah dan memiliki kemampuan akademis yang luarbiasa menjadikan Rajata sebagai lamunan yang diidam-idamkan.

Rajata bersyukur semesta begitu baik padanya. Tapi tidakkah semesta mengerti bahwa keberuntungan-keberuntungan yang diberikan padanya membuat Rajata terkurung dalam sebuah kotak?

Tidak banyak yang tahu.

Tidak orangtuanya.

Tidak teman-temannya.

Tidak pula guru-gurunya di sekolah atau di tempat les.

Pujian-pujian yang mengalir untuknya, serta kata-kata harapan yang secara tidak langsung digantungkan dipundaknya yang kecil, semakin hari menumpuk dan menyudutkan ruang gerak Rajata.

Seperti saat Ayahnya menceritakan bagaimana Rajata di SMP mendapat nilai-nilai bagus kepada kolega-koleganya di sebuah pesta para elitis, dengan yakin sang ayah berujar suatu hari nanti anaknya akan meneruskan profesi turun temurun keluarga besarnya- sebagai dokter. Dengan semangat sang Ayah membagikan rencana besarnya untuk masa depan Rajata.

Saat kolega-kolega ayahnya bertanya untuk mengkonfirmasi Rajata mengangguk, "Aku mau seperti papah."

"Rajata harus jadi jauh lebih baik." Ucapan Ayahnya bagaikan ultimatum.

Rajata tidak mampu mematahkan sorot harapan sang ayah. Meski detik itu hatinya hancur karena mimpinya yang sesungguhnya tidak akan pernah punya kesempatan untuk sekedar ia ceritakan.

Semesta menciptakan Rajata dengan hati yang lemah.

Bahkan hanya dengan kata-kata, "Gue yakin ulangan fisika kali ini juga Rajata yang bakalan dapet nilai paling tinggi." yang diucapkan temannya sambil lalu saat mereka makan bersama di kantin, akan masuk menjadi beban pikiran untuk pemuda itu.

Rajata terbiasa bergulung dengan ekspetasi orang-orang. Dan ia tidak tau caranya berhenti.

*

Tampan, pintar, berasal dari keluarga terpandang, namun berkepribadian baik membuat Rajata bagai kutub magnet yang mampu membuat orang-orang tertarik mendekat. Untuk berteman, atau sekedar membuat adik-adik kelas mengaguminya dari jauh.

Jauh dalam hati, Rajata takut kalau-kalau kesombongan akan menguasai dirinya.

"Menurut lo bagusan yang mana?" Tanya Gerald, teman dekat Rajata yang sama-sama menjadi anggota osis di sekolah mereka. Sore itu hanya tersisa Rajata dan Gerald di ruangan sekretariat selepas rapat rutin bulanan.

Rajata berhenti dari kegiatannya merapikan kertas-kertas proposal, ia melihat ke layar handphone Gerald yang menampilkan tiga foto jaket dari sebuah website pakaian brand ternama dunia.
"Menurut gue bagus semua."

"Ya kan!" Gerald menjentikkan jari semangat merasa opininya mendapat dukungan. "Dari tadi gue nimbang-nimbang, tapi emang keren semua."

Rajata melotot melihat temannya mengklik fitur buy untuk ketiga item barusan, "Serius, lo beli semua? Mahal banget loh itu."

"Keluarga gue emang nggak sekaya lo, tapi ya beli gituan mah mampu kali,"

Rajata mendecak, "Nggak gitu, Ger." Ia tidak suka jika topik siapa lebih kaya dari siapa diungkit-ungkit seperti itu. "Lo minggu lalu bukannya abis beli parfume brand apalah itu? Sekarang udah mau belanja lagi? Bokap Nyokap lo nggak bakal marah?"

"Emang lo kalo pake duit ortu lo di marahin?"

"Ya, tergantung buat apa dulu."

"Susah ah, pangeran baik hati mah nggak pernah foya-foya." Gerald terkekeh mengejek, "Gue cuma self reward dan memanfaatkan apa yang Tuhan kasih."

Gerald selalu punya alasan untuk membela hobi belanjanya. Rajata hanya mengehela napas, melihat temannya malah berpindah ke sofa tunggu sambil melanjutkan browsing.

"Lagian gue butuh persiapan lebih buat party nya Vio. Ogah banget gue kalah kece dari anak-anak kelas sebelas nanti." Gerald menoleh pada Rajata di belakangnya, "Dateng kan lo?"

Rajata mengangkat kedua alis tebalnya dengan bingung.

"Sabtu depan, nyet. Violetta ultah dan ngundang satu sekolah." Gerald memutar bola matanya sebal, tidak puas dengan respon ketua osisnya.

"Oh, gue ada private."

"Ratu MOS sweet seventeen masa raja nya nggak dateng?" Gerald memajukkan bibir bawahnya kecewa.

"Barangkali lo lupa di angkatan kita bukan gue Raja MOS-nya, Ger."

"Tapi lo Raja dihatinya Vio," Gerald berujar dengan nada yang dibuat-buat sambil memeluk tubuhnya sendiri.

Rajata menggeleng bosan mendengar becandaan teman-teman yang selalu menjodoh-jodohkannya dengan Vio karena keluarga mereka sudah saling mengenal lama. Sudah menjadi rahasia umum juga kalau perusahaan keluarga ibu Rajata berafiliasi dengan keluarga Violetta.

"Parah lo, masa nggak inget ultahnya calon tunangan," Gerald kini memutar tubuh sepenuhnya menghadap Rajata dengan dagu bertumpu di sandaran sofa.

Memang benar Rajata lupa. Belakangan Rajata merasa hari-harinya terlalu pendek seakan dua puluh empat jam tidaklah cukup baginya untuk ia bagi ke dalam jadwal-jadwal hariannya. Violetta dan tanggal ulangtahunnya tidak punya kesempatan menyusup dalam ingatan Rajata.

"Gue penasaran sampe kapan lo berdua bakal sok-sok saling cuek." Gerald menyimpan tangannya di dagu berpose berpikir keras, "Pengen bikin heboh media yah dengan ngumumin pernikahan tiba-tiba?"

"Ini bukan sinetron, Geraldi. Nggak ada perjodohan apapun antar gue dan Violetta. Keluarga kita emang saling kenal baik, tapi gue dan dia biasa aja." Tegas Rajata.

Gerald mengangkat tangan menyerah, "So, lo beneran gak bakal dateng, nih?"

"Kita udah kelas 11. Gue nggak mau reschedule jadwal private gue cuma untuk party. Tugas sekolah dan akademi udah bikin gue kurang tidur."

"Yailah, Rajata.. lo nggak perlu effort luar biasa juga masa depan lo pasti cerah. Lo, butuh hiburan sesekali, Bung."

Rajata ingin sekali mendebat setiap mendengar komentar seperti itu. Jalan yang ia lalui sampai hari ini tidak mudah, ia bisa seperti sekarang bukan tanpa usaha, ia bahkan mengorbankan dirinya.

Geraldi tidak tahu apapun.

= PAGE '02 =Stories to obsess over. Discover now