Here we go again. Seharusnya aku sedang berada di kasur empukku dan memainkan ponsel saat ini, seharusnya. Realita yang terjadi aku malah berada di mobil untuk perjalanan menuju kota Bandung. Batalkan apa yang dipikiran kalian jika jika aku ke sana untuk berlibur, karna sepenuhnya salah, tujuanku ke sana adalah untuk bekerja. Yap. Kerja.
Perkenalkan, namaku Khalisa Zoe, mahasiswa kedokteran semester 5 di salah satu universitas yang tidak terlalu terkenal di jawa barat. Dan aku juga bekerja sebagai graphic designer freelance dan cukup terkenal dikalangan teman-temanku yang ingin membuat sebuah usaha. Dan kali ini aku harus merelakan liburanku, lagi, dan menetap kurang lebih sebulan untuk bekerja di kota penuh memori tersebut.
Tak terasa perjalan kali ini cukup singkat. Terima kasih Tuhan telah mempermudah jalan untukku agar cepat sampai tempat. Setelah keluar dari gerbang tol ku belokkan arah stir menuju tempat yang nantinya akan ku urus. Lantunan lagu Rini yang berjudul 'After The Sun' menemani perjalananku yang diiringi dengan rintik hujan. Jika saja kali ini tidak untuk bekerja, maka alan ku waktuku hari ini dengan berleha-leha di apartement yang ku punya dan menikmati coklat hangat atau secangkir kopi dengan sepuntung rokok yang biasa ku hisap, ah, sudahlah, itu takkan terjadi.
Tepat waktu menunjukkan angka 4 dan aku sudah berada di sebuah tempat dekat salah satu kampus dengan hiruk -piruk mahasiswa yang datang dan pergi. Ku parkirkan mobilku tepat di sebelah tempat yang nantinya menjadi pekerjaanku. Sebuah tempat yang nantinya menjadi sebuah café sederhana yang akan menemani para mahasiswa ini kala sedang ingin beristirahat atau hanya mengobrol dengan temannya.
"Permisi." Satu kata yang harus kau katakana jika berkenjung ke suatu tempat yang belum bisa dibilang tempat umum, "Ya? Cari siapa? Eh Zoe, gue kira lo bakal sampe nanti malem." Perkenalkan ini Gabriel Chayton, salah satu owner tempat ini sekaligus teman yang dulu dikenalkan oleh abangku, singkatnya dia adalah teman abangku. "Lah Zoe. Barusan gua telfon abang lu, nanyain lu udah balik apa belom, udah di sini aja si kampret." Ladies and gentleman, ini adalah Claudio Chaiden. Dan yap, mereka kembar dan mereka berdua adalah yang akan menjadi bosku. "Dari balik kuliah gua langsung ke Bandung, ngga liat nih lo pada gua masih pake rok, udah ah, misi gua mau ganti pakaian dulu. Misi bos." Balasku pada mereka dan melenggang menuju tempat yang akan ku tuju, kamar mandi.
***
"Soft openingnya gua sama Iel sih mikirnya lusa, buat tried and tasted sekalian lo ambil gambar dan mulai kerjaan lo sih Zoe, gimana?" aku terdiam sambil memainkan i-pencilku menandakan bahwa diriku sedang berfikir dan membayangkan apa saja yang akan ku kerjakan. "Bisa sih, sebenenrya gua udah ada konsep, plan A and plan B as usual, tapi gua mau gua rombak dikit dulu, baru gua presentasiin besok sih. Soalnya gini, lo pada ngga bilang sama gua kalau tempatnya bener-bener dibuat senyaman mungkin buat belajar, maksud gua, yang gua pikirin ya café yang enak buang hangout ampe malem aja sih. Tapi tenang, konsep gua masih masuk sih." Mereka pun mengangguk setuju dengan apa yang ku jelaskan tadi, setelah mendapat persetujuan aku pun mengikat rambutku, membuatnya menjadi cepolan kecil dan menghabiskan secangkir kopi hangat yang dibuat oleh mereka.
Tak terasa jika matahari sudah terganti oleh bulan. Jika sudah membahas tentang pekerjaan maka seperti biasa jika diriku lupa akan waktu, beda dengan apa yang ku pelajari di kampus, walaupun sampai detik ini nilaiku tak ada yang di bawah B namun setiap jamnya terasa sangat berat.
Lamunanku buyar kala pintu masuk terbuka di iringi suara lembut laki-laki, "Bang Iel, ka Io, Bima pulang." Di sana sudah berdiri laki-laki dengan balutan pakaian celana hitam dan kemeja putih dengan perlengkapan khas ospek.
Kulit putih, ramput sedikit berantakan, kancing baju 2 dari atas terbuka dan keringat sedikit terlihat jelas bercucuran. Belum selesai ku perhatikan manik mata kami berdua bertemu. Damn, that honey brown eyes. "Kok baru balik sih Bim? Kemaren ngga semalem ini." Io membuyarkan tatapan memujaku pada mata itu, "Oiya, ini Zoe, adeknya Kavin, yang waktu itu ikut liburan ke Lombok itu." Okay, aku di kenal dengan adek Kavin Bagaskara, but, wait, what⸺ "Kapan bang Kav ke Lombok? Kok kaga ngajak gua sih anjir." "Minggu lalu pas lu ujian, apa, oski, osci, os⸺" "OSCE, anjrit, tai lo semua ngga ngajak gua. By the way hi, gua Zoe." Tetap dengan menatap matanya aku mengulurkan tangan, "Ah, Bima ka Zoe." Sial, tangannya sangat lembut, dan saat tangan itu tidak lagi menjabat aku merasa sedikit kehilangan. Dengan sekejap aku langsung beralih kepada Io. Menutupi rasa kecewaku. "Sepupu lo?"
"Bukan."
"Ponakan lo?"
"Nope. Lo kira Iel udah buntingin perawan kali ah."
"Terus? Apa anak lo?"
"Tid⸻bangsat! Ya kaga lah."
"Ya terus?"
Io mengaitkan tangannya ke bahu Bima dan tersenyum kecil. "Kenalin, namanya siapa dek?" "Bimasena Partha Narayana." Ucapnya dengan suara kecil sambil melihatku sedikit, mungkin, malu? "Dan dia adek gue sama Iel. Nyokapnya dia nikah sama bokap gua, jadi ya, kita sodara. Akhirnya Iel merasakan punya adek." "Apa-apaan bangsat, lo yang adek Io" dan yang terjadi selanjutnya adalah pertengkaran yang biasa mereka lakukan, merebutkan posisi kaka dan adek. Dengan jengah aku aku hanya memutar bola mata dan menarik kecil tangan Bima.
Ku tarik tangan itu menuju dapur kecil yang nantinya menjadi dapur untuk membuat semua makanan yang di sedikan di café ini. "Ka Zoe?" ah, si kecil ini bersuara. Ku tengok dirinya yang tepat di belakangku karna tangannya masih ku genggam. "Yap?" "Itu, tangannya..." "Oh iya. Sorry. Bim gua minta pendapat lo deh, ngga apa-apa kan? Soalnya kakak-kakak lo lagi mode ngga jelas. It,s okay?" Bima menggangguk kecil tanda ia setuju. Aku mengambil contoh gelas yang nantinya akan ku buat design gambar yang akan tertera di gelas tersebut. "Btw, lu kuliah jurusan apa?" ku coba membuat percakapan agar tidak terlalu sunyi sambil membuat design dalam gelas tersebut menggunakan spidol permanen. "DKV ka." Jawabnya sambil melepas astribut ospeknya. "Kebetulan kalau gitu, gua minta saran menurut lu, mending ini atau yang ini?" obrolan kami pun berlangsung tentang apa yang sedang ku kerjakan, berganti menjadi obrolan santai yang akhirnya membuat dia nyaman dan tak kaku lagi. Lambat laut, aku merasakan nyaman itu tidak saja pada obrolan ini, namun nyaman dengan kehadiran yang cukup singkat.
Tak terasa obrolan kami mengundang si kembar itu mendekat dan memberi tahu jika pertemuan hari ini berakhir. Aku masuh tidak puas dengan kehadirannya yang singkat. Muncul sebuah ide kecil yang membuat aku mengulas senyum.
"Bim, besok jam ampe jam 12 doang kan kampus lu? Gua jemput. Jangan nolak. Gua butuh elu."
⸻TBC
A/n: Hi semuanya! this is my first story in wattpad, comment dan vote kalian sangat berpengaruh untuk berkembangnya cerita ini!!
DAN BERKEMBANGNYA KE UWU AN BIMA YANG MANIS BANGET GEMES ASDFGHJKL INI
Jadi jangan lupa vote and comment yaa!! biar Zoe bisa semangat deketin Bimanyaaaa, thank you!
STAI LEGGENDO
different
Teen FictionIni kisah seorang perempuan bernama Zoe yang sangat jauh untuk dikatakan sebagai seorang perempuan dan laki-laki bernama Bima yang jauh dari kata laki-laki tulen. Apakah mereka tetap bisa bersama? "Tapi aku beda ka." -Bima "Ya gua juga beda kalo lo...
