Candy Boy (Chapter 18)

533 146 61
                                          

     Sebenarnya bukan karena mengantuk, tetapi Yoona memang sudah terbiasa tertidur ketika berada di dalam sebuah mobil yang sedang melaju. Dirinya seakan terhipnotis dengan perjalanan panjang itu hingga membuat kantuk mulai memberatkan kelopak matanya. Tapi hebatnya, mata indahnya masih terbuka lebar—walau nyatanya semua itu ia lakukan penuh dengan perjuangan.

     Suaminya tetaplah berlaku seperti biasanya. Tak peduli meski ia sudah mengetahui, bahwa istrinya sudah sangat ingin terlelap. Sepertinya Yoona berusaha untuk tidak merepotkannya.

     Sehun menyalakan musik. Ia merasa perjalanan itu mulai terasa membosankan. Mengapa? Tentu saja. Karena tidak ada obrolan diantara mereka. Dengan adanya musik, ia berharap sedikit mengisi kekosongan yang ada disana. Namun musik yang tengah melantun malah mengacaukan pertahanan Yoona. Musik itu terlalu tenang sampai-sampai tanpa sadar kelopak mata Yoona tertutup beberapa saat.

     Sehun mengumpat didalam hati. Baru kali ini ia mengakui bahwa dirinya sangat tidak becus dalam mengatasi kondisi seperti ini. Keinginan untuk berkomunikasi tentu ada, tapi dirinya terlalu gengsi untuk memulainya. Mungkin juga karena faktor kebiasaan. Kebiasaan membuat suasana menjadi tidak nyaman.

     Ketika itu Manager Ji meneleponnya. Segera Sehun hubungkan ke speaker mobilnya. Membuat Yoona yang tadinya termenung menahan kantuk menjadi sedikit tenang usai mendengar suara pamannya.

     [Presdir, kau sedang dimana?]

     “Aku sedang menyetir. Ada apa?”

     Manager Ji tak dulu menjawab. Mulanya Sehun mengira bahwa dirinya akan dimarahi managernya itu—karena tadinya telah meninggalkan rapat begitu saja. Tapi sepertinya tidak.

     “Halo? Manager Ji?” tegur Sehun karena sang manager tak juga mengeluarkan suara.

     [Aa, aku hanya mau katakan. Rapat sudah selesai. Hasilnya akan aku kirim ke email anda.] Sehun masih diam, karena sepertinya managernya itu akan kembali berbicara.

     [Presdir, tolong hubungi aku jika kau sudah pulang. Aku tunggu telepon darimu.] dan panggilan itu terputus saat itu juga.

     Secara reflek Sehun dan Yoona saling melempar pandangan. Mereka merasa keheranan dengan sikap tak biasa dari Manager Ji. 

     “Apa kondisi di rumah pamanmu baik-baik saja?”

     Yoona terdiam sejenak memikirkan itu. “aku sudah lama tidak kesana.” Jawabnya apa adanya.

     Tunggu. Kenapa perasaanku mendadak resah seperti ini?

     Batin Yoona yang langsung melayangkan pandangannya ke pemandangan yang ada di balik kaca mobil. Sama resahnya, Sehun paksa dirinya untuk tetap fokus menyetir. Mobil pun terus meluncur kencang menuju tempat tujuan.

--

     Sehun tak menyangka bahwa tempat yang tengah mereka tuju akan sangat ke pelosok. Ia bahkan tak pernah membayangkan akan pergi ke sebuah desa terpencil seperti ini. Bahkan jalanan yang kini tengah mobilnya lalui terbuat dari bebatuan. 

     Yoona memintanya memarkirkan mobil itu disebuah lahan luas—tepat dibawah sebuah pohon yang rimbun. Untuk menuju panti asuhan itu, mereka harus lanjut berjalan kaki. Tidak jauh, hanya berjarak 125 meter saja. Karena kondisi jalan yang sempit tidak memungkinkan untuk dilewati sebuah mobil.

     Dari jalan sempit yang lurus itu tampak keberadaan bangunan panti di ujungnya. Rumah bertingkat itu dikelilingi pepohonan yang terhubung ke persawahan. Pepohonan rimbun tumbuh besar di perkarangannya. Ditemani lapangan bola basket dan taman bermain yang apa adanya.

Candy Boy (Ongoing)Where stories live. Discover now