Di luar dingin.
Di dalam tenda aku bersembunyi di balik selimut tebal.
Yang sejujurnya tak membantu sama sekali.
Sudah gelap ditambah kabut tebal turun ke tanah menutup pandangan.
Oh, tapi masih bisa ku lihat di ujung sana kobaran kecil api unggun.
Satu-satunya elemen yang bisa kau harapkan di tengah udara yang melumpuhkan tulang tangan dan kaki.
Malam itu orion menampakkan wujudnya.
Telunjukku yang gemetar menunjuk ke atas, seolah menghubungkan bintang-bintang yang sebenarnya tidak kecil itu.
Di balik percikan api ia tersenyum, matanya mengikuti telunjukku yang bergerak kaku kesana kemari.
Dapat ku lihat dari ekor mataku.
Ia,
Tersenyum.
Hangatnya mengalahkan si merah yang masih setia manyala di antara kami.
✨빌✨
YOU ARE READING
Senja, Kopi, & Sakit Lambung
PoetryMereka hanya cerita super pendek. Mereka bukan sajak. Karena sebutan sajak terlalu indah untuk segala kata, frasa, dan klausa yang tumpah ruah di ruang jingga yang satu ini.
