Menjadi bintang papan atas itu menyenangkan sekaligus melelahkan. Ketika hati dirundung langit kelabu sementara tuntutan pekerjaan mengharuskan berwajah seperti mentari pagi yang cerah. Terkadang dari banyaknya schedule yang dijalani, kesenangan yang dilalui. Ada terbesit sebuah rasa dalam relung, seperti kosong. Gelap dan pengap. Seseorang, bisakah dimintai tolong? Ini benar-benar membingungkan.
Laju mobil yang Do Kyungsoo (aktor papan atas) kendarai kini semakin kencang di tengah jalanan sepi di pekatnya malam. Bagaimana tidak? Ini jam 12 malam, dimana semua orang tertidur lelap dengan selimut tebal.
Dio tidak tahu kemana ia akan pergi, tapi yang pasti ia akan mencari tempat sepi untuk menyendiri. Mungkin pantai atau sejenisnya.
Dio merasa hatinya terasa gundah. Rasa aneh ini yang baru ia sadari seminggu yang lalu, kian terasa. Ia butuh merenung dalam kedamaian. Keluar dari kota dan hingar bingar dunianya.
Setelah berkendara kurang lebih selama 1 jam, akhirnya sampai dan memarkirkan mobil, ia berjalan dengan pelan seraya merasakan butiran pasir pada telapak kakinya yang telanjang, terus berjalan ke arah tepi pantai yang gelap dan dingin. Tidak apa, mungkin terpaan angin menghalau resahnya? Ia juga suka kedinginan, dingin menyadarkannya bahwa ia kesepian.
Sesampainya di tepi pantai yang berjarak 5-meter dari laut dan kemudian duduk. Ia mulai memandangi lautan dengan tatapan tidak dapat diartikan. Otaknya kini memutar satu persatu momen yang telah ia lalui. Tentang perjuangan menjadi seorang idol hingga aktor, tekanan pekerjaan yang datang bertubi-tubi, hidup yang sesuai kehendak naskah dan kontrak, sampai ia merasa kosong diantara keramaian di sekitarnya.
Dio membuang napas kasar berulangkali, sampai tiba-tiba ia merasakan seseorang duduk disebelahnya.
"Hidup memang sulit yah?"
Dio menoleh, menatap wanita yang kini duduk disampingnya. Ia tidak kenal, tapi entah kenapa tidak ada rasa takut sama sekali jika perempuan disampingnya ini seorang reporter atau penguntit. Dari yang dilihat, perempuan ini tidak seperti orang Korea asli. Ya meski matanya masih terlihat seperti orang Korea, tapi ia yakin bahwa perempuan disampingnya ini bukan orang Korea.
" Mau kita jadi apapun atau siapapun, beban hidup pasti selalu ada. Bukan begitu?"
Lagi-lagi Dio hanya diam, sambil memperhatikan perempuan disampingnya dengan seksama. Perempuan itu menoleh, dan pandangan mereka bertemu sebentar sebelum Dio mengalihkan pandangannya pada lautan kembali. Tidak biasanya diri seorang Do Kyungsoo seperti ini. Tidak menghindar di dekati orang tidak dikenal, bahkan sedari perempuan ini duduk matanya malah terus memperhatikan setiap inci wajah perempuan misterius disebelahnya ini.
"Sudah 4 hari, aku duduk malam-malam disini. Dan baru hari ini aku menemukan orang selain aku."
"Kau tahu? Melihat air dan langit malam berbintang membuat hati sedikit tenang. Walaupun terkadang, resah datang lagi setelah kaki meninggalkan tepi pantai ini"
"Perkenalkan namaku--- panggil saja aku Kay. Itu bukan nama asliku. Kau juga pakai nama lain, tidak perlu nama asli. Siapa namamu?"
Dio memandang tangan yang mengulur padanya, sepertinya perempuan ini tidak mengenalnya. Supaya cepat selesai. Dio membalas uluran tangan itu dengan wajah tanpa ekspresinya. Baginya, semua ekspresi yang ia punya hanya untuk di depan kamera belaka, selebihnya ia tidak suka berekspresi.
"Jeff" Dio sengaja memakai nama panggilan Inggrisnya.
"Okey, senang bertemu denganmu Jeff." Kay memasang senyum paling ramah yang ia bisa "Mmmm kau akan sering kesini?"
"Entahlah" Dio rasa tidak perlu menjawab secara jujur dan detail pada orang yang baru pertama kali ia jumpai. Walaupun enta mengapa ia merasa aman berbincang berdua dengan perempuan bernama Kay ini.
"Bagaimana kalau kita jadi partner?" Gila, Kay rasa ia sudah gila karena kesepian. Sampai mengajak orang asing berwajah datar ini menjadi partner curhatnya. Memang sebelumnya ia sudah berjanji pada dirinya sendiri jika menemukan seseorang yang sama kesepiannya dengan Kay akan ia ajak untuk menjadi partner berbagi cerita. Dan sekarang ia tidak menyangka akan seberani ini melontarkan kalimat ajakan itu.
"Maksud mu?"
"Kita kan saling menyembunyikan identitas asli, aku ingin kita jadi partner dalam mencurahkan keresahan hidup. Sebelumnya aku belum pernah bercerita pada siapapun, sahabat atau keluarga bukan pilihan tepat untuk tempat bercerita. Tapi orang asing, adalah orang yang tidak akan pernah membocorkan rahasia kita kan? Karena asing, kita tidak saling mengenal. Kau jaga rahasiaku dan aku akan jaga rahasiamu. Bagaimana?"
