Prolog

43 4 2
                                        

Sudah tiga tahun berlalu, Taehyung masih bertahan dengan keinginannya untuk mengejar Yoongi. Sekejam apapun perlakuan Yoongi padanya, Ia selalu yakin mantan kekasihnya itu pasti akan luluh juga. 

Malam itu adalah hari ulang tahun Yoongi. Taehyung mengemudikan mobilnya, berniat untuk memberikan kejutan kecil-kecilan untuk mantan kekasihnya. Tiga tahun bukanlah waktu yang cukup untuk melupakan Yoongi. Ia bahkan berusaha mendekati Yoongi lagi setelah 4 bulan berpisah.

Jadi, hari ini Taehyung ingin mengajaknya kembali berpacaran. Tidak perduli apakah Yoongi akan menerima ataupun menolak, yang penting ia sudah berusaha dan mencoba.

Hujan lebat mengguyur mobil Taehyung yang ia kemudikan dengan kecepatan sedang. Selain karena gugup, juga tidak ingin mengambil resiko ban tergelincir di jalanan yang licin.

Nada dering telepon menggema ke seluruh bagian mobil. Taehyung mengangkat tanpa melihat siapa yang menelpon.

"Ada apa? Aku sedang sibuk." Taehyung menautkan kedua alisnya sambil terfokus pada jalanan.

"Hei, bodoh! Apa kau tau yang sedang kau lakukan?" Suara Hoseok di seberang sana terdengar melengking panik karena mengkhawatirkan sahabatnya.

"Eeeh? Kalau mau ngomel nanti saja Seok-ah. Aku sedang sibuk memperjuangkan cintaku."

Hoseok terdiam sejenak, kemudian terdengar hembusan napas darinya.

"Kau sadar bukan apa yang akan kau lakukan? Aku hanya ingin yang terbaik untukmu, Tae."

Taehyung tersenyum, tumben sahabatnya yang biasanya ceria seperti matahari sekarang mellow seperti ini.

"Hoseok-ah, aku tahu. Yoongilah yang terbaik untukku"

"Hmm, baiklah. Hwaiting, my friend"

"Tenanglah, sahabatku. Besok, aku akan membawa kabar gembira." Ucapnya dengan senyuman kotak yang masih mengembang di wajahnya.

Hoseok memijat pelipisnya, ia lelah sebenarnya. Lelah dengan apa yang Taehyung lakukan demi mendapatkan mantan kekasihnya kembali, rela mempermalukan diri sendiri didepan orang  lain, dan masih banyak hal lainnya.

Ia tak habis pikir, sebesar apa rasa cinta sahabatnya untuk seseorang sedingin Yoongi.

Apa Taehyung kena pelet?, pikirnya mulai ngawur. Ia langsung menggelengkan kepala kuat-kuat.

***

Hujan tetap turun dengan lebat saat ia sampai di rumah Yoongi. Taehyung berdecak kesal karena tidak membawa payung. Bagaimana nasib kejutannya nanti? Ia takut mereka akan terlihat jelek setelah terguyur hujan.

Taehyung berlari ke depan rumah Yoongi yang tinggal sendirian. Memencet bel beberapa kali, namun tidak ada yang membukakan pintu.

Mungkin Yoongi sedang tidur?, ia mencoba positive thinking.

Mungkin, sekitar 15 menit Taehyung menunggu sampai kedinginan karena terguyur hujan. Untungnya si tuan rumah masih mempunyai hati nurani untuk membukakan pintu. Mata itu melihat tajam kearah Taehyung.

"Bicaralah" Seperti biasa. To the point, dingin, dan tanpa ekspresi.

Sebenarnya Taehyung merasa takut selalu ditatap seperti itu. Tapi demi Yoongi, ia rela melakukan apapun.

"Selamat ula-"

"Kim" Yoongi menurunkan intonasinya dengan tatapan tajam yang mengarah kepada Taehyung.

"A-aku hanya ingin mengucapkan selamat ulang tahun dan memberi sedikit hadiah untukmu." Ucap Taehyung sedikit terbata-bata.

"Tidak perlu"

"Bukankah kau bilang-"

"Cukup, Kim. Berhentilah mengejarku"

Senyum Taehyung perlahan hilang. Tapi ia tahu bukan tanpa alasan Yoongi menyuruhnya untuk berhenti.

"Kenapa?" 

"Karena kau sangat menjengkelkan bagiku."

Langit seakan mengerti perasaan Taehyung, angin kencang yang entah darimana datangnya membuat hujan semakin lebat dari sebelumnya.

"Jangan dekati aku, jangan memberi hadiah padaku, dan kumohon jauhi aku!"

"Tapi selama ini kau tidak pernah menolakku. Aku pikir.."

"Apa yang kau pikirkan tentangku sebenarnya?"

"Kau membalas perasaaku dalam diam.."

"Pikiran macam apa itu, Kim!" Yoongi hendak menutup pintu rumahnya sebelum Taehyung memohon dengan tatapan putus asa.

"Dengarkan aku, dengarkan aku sekali saja. Kumohon, Yoongi.."

Yoongi menghembuskan napas. "Katakan sebelum aku berubah pikiran!"

Taehyung menarik napas dalam-dalam. Ia mengeluarkan buket bunga mawar dan sebuah muffin dengan permen berbentuk lilin yang ia sembunyikan di belakang punggung.

"Selamat ulang tahun, Min Yoongi. Mungkin kau sudah tau bahwa aku masih mencintaimu hingga detik ini.."

Ia menarik napas sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya. "..setelah kejadian ini, aku hanya ingin kau jangan halangi aku untuk tetap mencintaimu. Aku akan mengejarmu tanpa kenal lelah. Jangan merasa terganggu olehku karena untuk sekarang, tolong biarkan aku yang menanggung rasa ini sendirian"

Mata Yoongi berkilat marah mendengar penyataan Taehyung. Ia ingin mengubur manusia penganggu seperti Taehyung dari hidupnya. Meskipun mereka sudah putus, Taehyung tetap membuat hati Yoongi merasa tidak nyaman tiap kali memikirkannya, dan ia tidak menyukai itu.

"Cukup!"

Taehyung terdiam dengan tatapan sendu.

"Aku tidak ingin mendengar dan menerima apapun darimu, Kim! Pergilah! Anggap kita tak pernah bertemu"

Yoongi membanting pintu rumahnya di hadapan Taehyung. Air mata Taehyung lolos. Katakanlah Taehyung cengeng, tapi selama tiga tahun tidak pernah sekalipun ia menangis karena perlakuan Yoongi.

Tetapi, malam ini ada yang berbeda. Taehyung dicampakkan dan Yoongi terlihat sangat muak dengannya. Hati Taehyung seakan disambar petir berkali-kali. Seketika tersadar, sekeras apapun ia berusaha, Yoongi tidak akan mau meliriknya.

Taehyung malu, malu akan semua rasa cintanya untuk Yoongi yang mungkin takkan pernah Yoongi hargai lagi. Ia bahkan tidak mau untuk berharap Yoongi bisa kembali padanya.

Malam itu menjadi malam yang paling Taehyung benci semasa hidupnya. Ia benci hujan, langit, dan dirinya.
.
.
.
.
.
TBC<3

Has llegado al final de las partes publicadas.

⏰ Última actualización: Nov 27, 2024 ⏰

¡Añade esta historia a tu biblioteca para recibir notificaciones sobre nuevas partes!

Cold LoverDonde viven las historias. Descúbrelo ahora