Aku memutuskan untuk berjalan kaki setelah selesai melalui wawancara kerja yang kurasa akan gagal kembali. Mengingat suaraku yang bergetar menahan emosi saat menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan kepadaku. Tapi karena aku menjawabnya sebagaimana hal yang aku rasakan dan aku harap dari diriku. Hal itu membuatku sedikit lebih baik. Setidaknya aku benar ingin berubah menjadi lebih baik walaupun akhirnya tidak mendapatkan pekerjaan ini.
Aku memutuskan untuk berjalan-jalan karena hari masih begitu panjang jika hanya kuhabiskan untuk langsung pulang dan menghabiskan waktu dirumah seperti hari-hari biasanya. Waktu pun berjalan bersamaku menuju kedai kopi yang tak jauh dari tempatku berada. Menyusuri jalan mengikuti petunjuk map. Meskipun biasanya dengan jarak yang sama akan aku lewati mengunakan ojek online.
Hari yang cerah, kendaraan pun tidak begitu bising. Belok memasuki jalan setapak sebagai jalan pintas. Mataku menikmati birunya langit dan jalanan dengan bayanganku yang nampak di tanah. Seiring musik yang mengalun di telinga tak terasa tinggal sedikit lagi jarak yang tersisa hingga menuju kedai kopi itu.
Benda hitam kecil terlihat jelas di atas tanah yang coklat, menghentikan gerak langkahku. Sebuah alat perakam tergeletak, terpisah dengan pemiliknya. Namun tak terlihat seorang pun di dekat sana. Maka, aku ambil dan kumasukkan ke dalam tasku.
***
Pagar rumput setinggi satu setengah meter dengan plang putih bulat bergambar bunga berwarna ungu bertuliskan - Cosmos Coffee -. Aku pun masuk ke dalam kedai kopi itu. Jam 10:14 kedai itu diisi dengan beberapa pelangan ditemani pesanan mereja, ada juga yang duduk dikursi tunggu dekat pintu masuk sedang menunggu pesanannya untuk dibawa pergi. Kedai kopi itu masih memiliki beberapa ruang kosong yang bisa kutempati, tanpa merasa risih karena aku sendirian. Ice americano dan sepotong carrot cake menemaniku di kedai itu. Jendela kayu besar terbuka, membiarkanku melihat indahnya bunga yang terdapat di luar jendela, cahaya matahari membuat sisi itu semakin cantik. Aku menikmati kopi sambil sesekali menuliskan pikiran yang terlintas di benakku ke dalam buku catatan yang ku bawa.
"Enjoy coffee to stop feeling bitter about yourself."
Hal itu yang terlintas dipikiran ku setelah meneguk kopi sambil memikirkan lagi proses wawancara yang baru saja aku lakukan.
Kembali teringat dengan alat perekan suara yang aku temukan lagi. Aku mencari ke dalm tasku dan mengeluarkan alat rekam itu.
