Paranormal experience

37 1 0
                                        


DORR, DORR, DORR. "buka pintunya!" suaranya menggema didalam ruangan hampa berdebu. Pikirannya fokus berusaha mencari jalan keluar dari gudang sekolah yang terkesan menyeramkan ini. Sedangkan Fahira dan Najla tertawa licik diluar gudang setelah berhasil mengunci seorang siswi teladan didalam.

Hana mencoba mendorong bahkan menendang pintu gudang yang sudah keropos itu. Namun usahanya tak membawa hasil. Sampai sebuah ide terlintas dikepalanya. Membuka jendela yang berada diatas dekat langit- langit gudang berdinding putih usang itu. Ia sudah tau pelaku dibalik ini semua, hanya perlu melaporkan dan semuanya selesai. Setelah membuka jendela terlihat seorang laki-laki berambut hitam dibawah sedang merutuki nasibnya. Siapapun disekolah ini bisa mengenali gelagatnya, bahwa laki-laki itu adalah Arjuna. Sering disebut paranormal sekolah karena semua yang dikatakannya berbau mistis dan itu benar terjadi.

Sudah tidak peduli siapa yang akan ditimpanya, Hana hanya berusaha fokus untuk keluar dari gudang sebelum jam istirahat berakhir. "MINGGIR!" teriaknya sebelum melompat dari lantai tiga. Arjuna menoleh karena mendengar teriakan.
Cukup sakit bagi Juna menahan Hana yang jatuh tepat diatasnya, apalagi gadis berambut hitam ini melompat dari lantai tiga. Hana bangun menstabilkan keseimbangannya, bahkan lututnya terluka. Sedangkan Juna terbatuk-batuk karena paru- parunya sedikit tertekan oleh Hana.
"maaf, kan sudah kubilang minggir" Hana mengulurkan tangan untuk membantu. "aduhh kayaknya gue mau mati nih" ucap Juna pura-pura menahan sakit yang sebenarnya sudah tidak sakit. "sakit banget ya?" Hana mengeluarkan ekspresi bersalahnya. Juna mengangguk-angguk memelas. Kapan lagi ia bisa membolos pelajaran tanpa kena ocehan guru. Ditambah jika ia bersama siswi kesayangan guru killer seperti Hana. Namun niatnya berubah setelah melihat lutut Hana.
Ekspresinya berubah lalu segera berdiri, "ck, ayo ikut gue" Juna menarik tangan Hana menuju UKS. Mendudukannya dipinggiran tempat tidur UKS.

"aku baik-baik saja" Hana buka suara.

"luka ini? lo bilang baik-baik aja? Dasar aneh" celetuk Juna sambil mengoleskan obat luka pada lutut Hana. "kalo dipikir-pikir lo emang aneh sih, buat apa lompat dari jendela lantai tiga. Udah bosen hidup?"

Hana mengingat sesuatu, "ah benar, aku harus melapor" ingin bangun namun bahunya ditahan tangan kekar Juna. Sontak Hana terkejut menatap mata kelam Juna yang sangat memikat. Juna mendekatkan wajahnya ke wajah Hana hingga berjarak beberapa centi, "disamping lo ada hantu" ucapnya. Hana memiringkan kepala dan menaikkan alisnya.

"so what?" tanya Hana balik menyilangkan tangan.

"aneh, lo orang pertama yang nggak kabur" Juna terheran dengan pernyataannya sendiri. "orang lain bilang gue paranormal sekolah. Lo nggak takut?"

"dengan jaminan apa aku harus percaya padamu?" tanya Hana, "dengar ya, aku adalah seorang 'disbeliever' jadi aku tak percaya dongeng dan legenda semacam itu tanpa bukti yang konkret" lanjutnya dengan tatapan menegaskan. "sekarang bisakah aku lewat, ada sesuatu yang harus diurus" Hana meninggalkan Juna.

Mata tajam Juna mengekori kemana Hana pergi sampai dikejutkan dengan seseorang yang tidak menapakkan kaki, biasa disebut hantu. "jangan ganggu deh, Prince Louis the 2nd" ucap Juna malas pada hantu yang daritadi mengikuti Hana. Memakai pakaian kerajaan Eropa, namun masih terlihat muda dengan kulit putih pucat dan bekas darah yang mengalir disekitar dahi. Prince Louis the 2nd menunjukkan bahwa ia seorang pangeran yang mati muda akibat benturan keras dikepala. "dia menawan, tapi sikapnya.." Juna melanjutkan dengan tangan yang membentuk huruf X.

Hana berjalan menuju ruang kepala sekolah dan berpapasan dengan Fahira serta Najla yang melihatnya terheran. Mereka panik setelah mendapat tatapan tajam dari Hana. Namun ada yang lebih mengalihkan perhatiannya lagi. Ia melihat buku catatan miliknya berada ditangan gadis berambut merah yang dikepang dua. Bahkan Hana tidak mengenal gadis itu. Namun aneh wajahnya terlihat familiar. Secepat mungkin, menahan tangan rampingnya yang berlilitkan kain hitam dipergelangan tangan. "Bagaimana itu bisa ada padamu?" tanya Hana menunjuk buku catatan yang dipegang gadis itu. Kemudian melirik nametag bertuliskan Vanellope. Si rambut merah melirik dengan mata hijaunya. "teman sekelasmu menjual ini" balas Vanellope singkat.

Kill The Unseen ThingsStories to obsess over. Discover now