1

35 6 2
                                        

Sebuah mobil berwarna hitam berhenti di pinggir jalan, kemudian jendela mobil bagian kiri terbuka lalu tampak sebuah tangan mengulurkan sebuah kantong plastik berwarna putih. Kemudian diterima oleh tangan pria tua berpakaian lusuh penghuni jalanan.

Hampir tiap sore seseorang dalam mobil itu mengulurkan sebuah kantong plastik, isinya pun berbeda-beda. Kadang kue, manisan, buah-buahan, tak jarang pula makanan berlogo nama restoran mahal.

Pemilik mobil itu adalah anak salah satu pengusaha di kawasan ibu kota, yang sedang berkembang pesat. Egie, begitu nama sapaan sehari-hari.

Egie yang tak begitu suka makan banyak, ia memilih memberikan pada orang di jalanan.

"Makanan dari siapa lagi yang lo kasih ke orang tadi?" tanya Adrian, teman sekaligus sebagai orang kepercayaan Egie. Selain jadi asisten Adrian juga merangkap sebagai supir pribadi.

"Lo mau?"

"Kaga. Takut ada peletnya, repot nanti."

"Nah!"

"Kalau begitu kenapa dibawa? Mending tinggalin aja, biar dimakan Iwan di kantor."

Egie hanya tersenyum menanggapi. Jika dugaan benar ada pelet, terus dimakan Iwan. Kan bahaya? Iwan orang kantor pasti bisa saja bertemu si pengirim makanan, lalu ....

Egie menggelengkan kepala, membuang pikiran anehnya. Ia tau betul si pengirim itu, pasti perempuan. Kalau bukan anak lawan bisnis, bisa juga salah satu kliennya yang tak terhitung berapa banyak yang pernah Egie jumpai.

***

"Egie, gimana di kantor?" Suara sang ayah di sela sela sela makan malam.

"Aman, Pah."

"Kalau dalam sebulan tidak ada masalah selama kamu di sana, Papah akan segera mengurus pengunduran diri Papah."

"Lah, jangan. Berat, Egie belum bisa kalau megang semuanya."

"Kalau bukan kamu yang pegang, siapa lagi?" imbuh ibunya.

Egie meraih gelas air putih dan meneguknya hingga tandas. Kemudian ia menengok ke arah kanan, dinding putih yang terdapat foto keluarga. Dalam bingkai foto itu hanya tiga orang, papah mamah dan dirinya.

"Iya, Mah." Sungguh berat, masih muda tapi harus memikirkan pekerjaan dan berurusan dengan banyak orang.

***

Esok paginya Egie terbangun karena suara dering hp yang berulang kali. Rasanya ingin memilih mematikan telepon dan melanjutkan tidurnya.

Sudah lebih dari lima kali Adrian menghubungi, entah ada apa anak itu. Masih pagi sudah bolak-balik menelepon. Hal itu membuat calon penerima waris tunggal itu penasaran.

"Gak ada kerjaan, Lo. Pagi pagi juga!"

"Pagi? Bangun, buka jendela. Itu matahari udah di atas."

"Apaan, buru!"

"Liat tik tok, deh!" seru Adrian diakhir kalimat, dan langsung mematikan telepon.

Ada apa pagi-pagi diminta buka aplikasi hitam, aplikasi yang ia sendiri tidak punya.

Egie pun lantas keluar, mencari orang yang memiliki aplikasi itu. Ada satu pegawai rumah tampak menyiapkan sarapan di meja, tanpa basa-basi Egie langsung menanyakan ponsel milik asisten rumah tangga itu.

Yuyun tampak sedikit takut, ketika ditanya aplikasi itu.

"Ada gak?"

"Ada, Mas Egie. Sebentar ambil hpnya dulu." Yuyun langsung menghilang dan tak lama kembali dengan benda pipih kesayangan.

Has llegado al final de las partes publicadas.

⏰ Última actualización: Sep 08, 2021 ⏰

¡Añade esta historia a tu biblioteca para recibir notificaciones sobre nuevas partes!

Akibat ViralHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora