"Tik tok tik tok" bunyi jam mengisi kesepianku. Hanya ada aku dan tembok putih ini. Aku tidak tahu mengapa akhirnya begini. Aku hanya mencintai, apakah itu salah? Semua karena perempuan itu. Salah perempuan itu.
"Permisi pa, boleh tanya? Kalau tempat les di mall ini ada di lantai berapa?" tanya seorang perempuan sambil menghampiriku.
Parasnya cantik sekali. Pandanganku tidak dapat beralih darinya.
"Mas?" katanya kembali.
"Oh iya, di lantai 1," jawabku. "Terimakasih," katanya sambil tersenyum.
Senyumannya sangat indah, lebih indah dari apapun. Inikah yang dinamakan cinta pandangan pertama? Aku tidak akan melupakan hari itu, tanggal itu. Kamis, 26 September 2019, pertemuan pertamaku dengannya.
Seminggu telah berlalu, aku bertemu dengannya kembali di tempat yang sama dan waktu yang sama. Dia adalah seorang pelajar dan tampaknya anak itu sangat rajin. Rambutnya yang hitam, kulitnya yang putih, lesungnya yang manis sangat cocok dengan seragam SMA yang selalu dia pakai ke tempat les. Rasa penasaranku bertambah. Kutunggu dia sampai keluar dari tempat les. Setelah dia keluar, kuikuti dia dari belakang, memastikan dia pulang dengan selamat.
Kamis, 3 Oktober 2019, seperti biasa, aku menunggunya kembali di tempat les. Tapi hari ini dia terlihat berbeda. Dia sangat terburu-buru sampai menjatuhkan dompet miliknya. Aku pun mengambil dompet itu. Tidak terpintas dalam pikiranku sama sekali untuk mengembalikan dompetnya. Kupeluk dompet tersebut erat-erat. Wangi sekali seperti wangi bunga.
Sejam berlalu...
Kulihat perempuan itu keluar dari tempat lesnya. Dia melemparkan senyumannya kepadaku sambil berjalan meninggalkan mall. Senyumannya seakan-akan mengatakan bahwa dia cinta padaku sama seperti aku cinta padanya. Aku harus memilikinya. Dia harus jadi milikku selama-lamanya.
Kamis, 10 Oktober 2019. Aku kembali ke dalam mall sambil memeluk dompet miliknya, mencari keberadaanya, tapi tak juga kutemui dia.
Gelisah... Sangat gelisah...
Seminggu tanpa bertemunya sama sekali? Aku tidak akan kuat. Aku mulai mengelilingi mall yang besar itu. Menunggunya di depan tempat les, tapi dia tak kunjung keluar.
"Mas? Ada yang bisa saya bantu?" seorang resepsionis berkata kepadaku.
"Hmmm anu pa, saya nyari... pacar saya," jawabku.
"Pacarnya namanya siapa?" katanya dengan ramah.
Aku berpikir sejenak. Aku baru ingat bahwa kami tidak pernah berkenalan. Kubuka dompetnya dan kulihat kartu pelajarnya.
"Rain," jawabku
"Oh Rain, gamasuk mas hari ini katanya sakit. Mas yang suka nungguin yah tiap minggu?" tanyanya kembali dengan nada penasaran.
Aku hanya menatapinya tanpa menjawab apa-apa. Aku pun langsung keluar dari tempat les tersebut menuju ke rumah.Sepanjang perjalanan aku terus memikirkan Rain. Sakit katanya? Aku harus menjenguknya. Kuambil sebuah bunga silver yang telah kusiapkan dari dapur rumahku lalu membuka dompetnya, mencari alamat dalam kartu pelajarnya. Sudirman No 16 adalah tujuanku selanjutnya. Tak lupa kubawa sebuah bunga silver sebagai buah tangan.
Sejam kemudian aku sampai ke tempat tinggal Rain.
"Rain, Rain, Rain?" panggilku sambil mengetuk.
Tidak ada jawaban. Aku panggil dengan suara yang lebih keras.
"RAIN BUKA PINTUNYA RAIN!"
Masih tidak ada jawaban. Aku tidak tahu mengapa dia menghindariku. Tidak seperti Rain yang dulu, ketika dia melemparkan senyuman kepadaku. Aku sangat gelisah karena seminggu itu belum bertemu dengan Rain sama sekali. Aku coba mendobrak pintu rumahnya.
"BRAK" percobaan pertama gagal.
"BRAK" percobaan kedua juga gagal. Aku terus mendobrak pintunya sambil memanggil namanya, "RAIN RAIN RAIN RAIN!"
"kriekkk" pintu pun terbuka.
"Rain dimana kamu?" kataku sambil membawa bunga silver. Rumahnya tampak kosong. Kucari di seluruh pelosok rumah sambil memanggil namanya, tapi dia tak kunjung muncul. Hanya satu ruangan yang belum aku masuki. Sebuah kamar yang sangat besar. Kudengar suara tertawa dari dalam sana.
"Rain, kamu ngajak main petak umpet yah? Tau aja mainan kesukaanku,"kataku,"Rain ayo keluar!"
Ruangan itu kosong, tapi di dalam sana ada sebuah lemari besar dan aku yakin Rain bersemnbunyi di dalamnya. Kuketuk pintu lemari dan membukanya, lalu kulihat Rain sedang tertawa kecil sambil memegang handphonenya.
"Selamat ulang tahun, Rain. Semoga di tahun ini kamu selalu menemaniku," kataku sambil mengarahkan bunga kepadanya. Rain tidak menjawab apapun dia hanya terharu mengeluarkan air mata. "Rain?" kusentuh dagunya secara perlahan.
"Sa..saya ga ulang tahun mas, dan bagaimana mas...mas tahu nama dan alamat sa..saya?" ucap Rain sambil mengeluarkan air mata.
"JANGAN SEMBARANGAN NGOMONG KAMU! Aku cinta sama kamu, aku tahu segalanya tentang kamu," kataku sambil menepuk pipinya.
Tiba-tiba
"BRAK!" dua orang laki-laki masuk ke dalam kamar.
Siapa mereka ini? Apa Rain memiliki laki-laki lain selain aku? Kulempar bungaku ke arah mereka. Namun melesat. Dengan sigap, seorang laki-laki memborgol tanganku dan laki-laki lain menghampiri Rain.
"Anda baik-baik saja, nak?"
"To...tolong saya pa," jawab Rain.
"Kamu sudah aman. Tenang nak, jangan menangis," kata laki-laki itu kembali.
Menangis katamu? Sudah jelas dia sedang tertawa bahagia karena aku. Laki-laki itu kemudian menghampiriku.
"Anda ditangkap atas tuduhan penguntitan, pencurian dan percobaan pembunuhan dengan pisau. Anda akan dimasukkan ke dalam ruang isolasi."
Aku tidak menjawabnya dan hanya tertawa, "HAHAHAHAHA!"
Rasanya lucu sekali ketika dia berkata akan menghukumku. Aku tidak pernah bersalah.
Kamis, 10 Oktober 2019. Aku ditangkap dan dimasukkan ke dalam ruang isolasi. Itu juga adalah hari terakhir aku bertemu dengan Rain.
Namaku Fou. Dalam Bahasa Perancis artinya......
YOU ARE READING
F O U
Short StoryAku kesepian, terkurung dalam ruangan, sendirian. Semua salah perempuan itu. Dia yang aku sayangi, membuatku terkurung.
