Diamku renungan ku...
Secangkir pekat nya kopi hitam dengan rasa asam yang menghantam.
Hanya menyisahkan pahit yang terjahit suasana, terlilit kondisi, dan terikat mati.
Gelap malam...
Membawa angin malam yang seolah mengingatkan bahwa malam ini gelap, dingin, dan kelam.
Bersama secangkir kopi hangat tadi pun ikut dingin, entah dingin karena sikap ku yang semakin dingin? Atau seolah membuat dingin suasana malam yang menjadikan nya sangat dingin
Entah lah...
Kini seolah-olah mati.
Mati dengan tubuh dan fikiran yang bergerak-gerak, kesana dan kesini membawa perih.
Menunjukan bahwa luka itu dalam, pekat dan menganga!
Hati yang masih menunjukan arah jalan, tapi di tolak mentah-mentah oleh otak yang enggan menggerakan tubuh ini.
Kenapa?
Kenapa aku begini?
Apakah ini rindu? Sepertinya bukan!
Kecewa?
Mungkin iya, ku kecewa.
Kecewa dengan diriku yang baru kali ini menyesali kekecewaan.
Jakarta, 27 Desember 2018
YOU ARE READING
Witisisme
PoetryCoretan perasaan yang tersakiti atas oknum yang mengatas namakan "CINTA" Kumpulan "SAJAK" yang terbentuk dari luka. Kumpulan "PUISI" yang tercipta karena sayatan di hati. Tak ada kebahagiaan dalam tulisan ini, hanya ada perih yang berubah menjadi ka...
