Warmth

16 0 0
                                        

Tema : keluarga

Drrrt..drrt.. Ponselku bergetar, drrt..drrt.. Sepertinya, ada yang meneleponku. Kugerakkan tanganku untuk mencari keberadaan ponselku itu, tapi tidak juga kutemukan. Drrt..drrt.. Sekali lagi benda itu bergetar, kemudian kurasakan seseorang melempar ponselku ke perutku.

"Makasih," ucapku masih dengan mata terpejam.

Mulai kubuka mataku yang masih ingin mengatup itu, terpampang jelas nama 'Tara' di layar ponselku. Kusentuh lambang berwarna hijau untuk menghentikan getaran itu.

"Halo?" Sapaku dengan nada bertanya apa tujuannya meneleponku.

"Hey, ke mana aja si, Tes? Dicariin juga dari tadi! Ditelepon lama banget lagi ngangkatnya," cerocos orang di telepon tanpa jeda sedetikpun.

"Apaan sih, Kak?! Pagi-pagi udah marah-marah. Aku di rumah Kania, aku aman, gak usah nyariin, aku gak mau pulang. Titik," ucapku tak kalah cepat dari ucapan kakakku tadi.

Tut..tut..tut.. Kakak menutup teleponnya. Baguslah, aku tidak perlu lebih lama lagi bercakap dengannya. Aku juga malas.

Oh, ya, perkenalkan, namaku Tessa Xeevara. Kata mendiang nenekku, mama memilih nama itu karena saat mengandungku, ia baru saja diterima di perusahaan tissue besar merk Tessa. Tidak masuk akal. Tidak penting juga.

Dan yang tadi meneleponku adalah kakakku, Tara Alvano. Aku sama sekali tidak akrab dengannya, ia jarang pulang, begitu juga aku. Jadi kesimpulannya, kami jarang bertemu. Hanya saat masih kecil, kami sering bermain bersama di rumah nenek. Tetapi hal itu sudah menjadi kenangan.

Dan yang sedang menatapku tajam saat ini adalah sahabatku sejak beberapa bulan yang lalu, Kania Radinka Putri.

"Apaan lo liat-liat?" kataku dengan ketus.

"Udah bangunin orang, marah-marah pula. Ati-ati, cepet tua ntar," kata Kania sambil terkekeh pelan.

Tak lama kemudian terdengar ketukan pintu kamar. Kania pun membukakan pintu, ibu Kania hanya berbicara sebentar dengan Kania kemudian berbalik dan Kania menutup pintunya kembali. Perasaanku tidak baik, ada apa ini?

Satu kalimat yang membuatku kesal seketika. "Lo dijemput". Duh, apa yang membuat kakakku begitu keras kepala sampai merelakan waktu berharganya untuk menjemput adik kecil tak bergunanya ini.

Akupun segera berpamitan dengan ibu dan ayah Kania yang sedang sarapan, lalu keluar dari rumah 3 lantai dengan kolam renang pribadi dan lapangan basket pribadi itu. Berjalan agak jauh menuju pagar dan akhirnya bertemu dengan mobil sport berwarna hitam mengilap dengan tipe BMW i8 yang mirip dengan milik kakak.

Tak lama kemudian, laki-laki kedua yang paling aku benci setelah papaku itu muncul dari balik pintu mobil tersebut. Seorang Tara Alvano yang biasanya sangat sibuk dengan hal-hal kuliahnya itu menjemputku. Aku cukup terkejut, tetapi wajahku kupaksakan tetap datar seperti tak terjadi apa-apa. Aku juga tidak berniat menggerakkan kakiku seincipun.

Ia kemudian berjalan mendekatiku dan langsung menarik tanganku secara paksa. Akupun secara otomatis mengaduh atas tarikan paksa yang cukup menyakiti pergelangan tanganku itu. Tidak ada belas kasih sama sekali. Tetapi setidaknya ia masih mau membukakan pintu mobil dan mendorongku masuk ke dalamnya, secara paksa. Ia tahu kalau aku tidak akan mau masuk jika tidak begitu.

"Papa kecelakaan," ucap Tara, memecah keheningan selama perjalanan yang entah ke mana tujuannya ini. Aku tidak peduli, sungguh. Kenapa ia bertindak seperti ia peduli. Mungkin hanya pencitraan agar papa mau menandatangani surat-surat pewarisan, sehingga jika ia meninggal, kami bisa menikmati hartanya.

"Aku tidak peduli," jawabku dengan tegas. Benar-benar seperti orang yang sama sekali tidak peduli. Aku tahu dia ayahku, papaku, orang tuaku, apa pun itu. Tetapi ia tidak bertindak sebagaimana mestinya. Jadi kupikir, tidak ada gunanya menganggapnya sebagai ayah. Mungkin dalam seminggu, ia hanya bertemu denganku sekali. Berbicara hanya jika memang diperlukan. Hanya sekadar menanyakan kegiatanku di sekolah saja tidak pernah. Padahal kami bertiga tinggal dalam satu rumah, tetapi hati kami sepertinya sangat jauh satu sama lain. Lebih jauh dari pada jarak bumi dan matahari.

"Kau sudah kehilangan mama, kau tidak mau kehilangan papa," kata kakak, dan sepertinya hal itu diucapkan dengan tulus. Tetapi aku benci pernyataan itu. Siapa yang kehilangan mama? Aku tidak pernah merasa memiliki mama, begitu pikirku. Tetapi sepertinya akan sangat kurang ajar jika aku mengatakannya di depan kakakku yang emosinya sedang tidak stabil ini. Raut wajahnya datar, tetapi aku tahu, ia sedang kalut. Bagaimanapun, aku tetap adiknya, aku mengenalinya.

"Aku benci mama," ucapku dengan santai. Sungguh, aku sama sekali tidak bermaksud mengucapkkannya. Mulutku tidak sejalan dengan otakku. Meski pernyataanku tadi adalah kenyataan, tapi tetap saja itu bukan hal baik untuk dinyatakan.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Sep 10, 2021 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Warmth • Jessica Axeline 9E / 14Stories to obsess over. Discover now