Bagian 1

85 6 2
                                        

Angin Bulan Desember terasa lebih dingin dari pada bulan-bulan sebelumnya. Rintikan air hujan tak berniat untuk berhenti. Genangan air mampu membuat orang-orang tetap berdiam diri di halaman parkiran yang masih berada di area gedung kampus. Berteduh dan memilih untuk berbincang-bincang dengan teman sebaya.

Aku menyenderkan kepala dan memilih untuk membungkam, menyendiri. Aku menikmati udara hari itu dan tenggelam pada pikiranku sendiri. Bagiku, tak ada yang perlu dibicarakan selagi aku bisa menikmati cuaca sekaligus bulan yang paling aku suka. Tak menjadi masalah jika aku harus berdiri di sini hingga matahari tenggelam.

Hari ini cukup melelahkan. Benar-benar melelahkan. Tapi melegakan. Semua perihal pementasan drama sudah selesai. Artinya semester tiga telah usai pula. Begitu bahagianya diriku. Aku tinggal menunggu Hari Natal dan merayakannya bersama keluarga kecilku. Sepertinya cuma itu yang aku harapkan di tahun ini. Tak lebih dan tak kurang. Oh ya, tak lupa aku juga ingin tetap bahagia. Jika aku bahagia, maka hatiku akan baik-baik saja. Jika aku baik-baik saja, belum tentu aku bahagia. Aku merasa bijak sekali.

Satu-persatu, orang-orang melangkah keluar. Ada yang pulang menggunakan motornya dan tak lupa untuk membalutkan tubuhnya dengan jas hujan. Ada yang menggunakan payungnya seraya berjalan ke parkiran mobil. Perlahan mulai sepi. Tapi hati ini hanya ingin tetap berada di sana dengan posisi yang sama. Menyender.

Percikan air hujan yang semakin deras membasahi kakiku, bahkan bagian bawah dress hitamku. Pertama kalinya aku menggunakan dress berwarna hitamku. Semua karna keseragaman kostum pemain drama. Mungkin pakaian berwarna hitam adalah warna yang pasti dimiliki semua orang di muka bumi ini.

"Ternyata kamu masih di sini. Apa kamu butuh tumpangan?" tanya seseorang yang berdiri di sampingku. Suaranya cukup terdengar berat.

Aku segera memperbaiki postur tubuhku. Berdiri tegap dan segera menyalami tangannya. Dengan senang aku tersenyum dan menerima tumpangannya. Aku pun ikut berada di bawah payungnya. Hujan hanya jatuh di bagian pinggir payung. Aku mengikuti langkanya yang amat pelan dan hati-hati. Aku maklum karena ia sudah tak muda lagi.

Ia membukakan pintu penumpang. Aku pun segera masuk.

Butuh beberapa menit, hingga ia duduk di kursi pengendara. Kemudian aku melepaskan tas ransel dari punggungku. Aku meletakkannya di bagian kakiku dan segera memasang sabuk pengaman. Ia segera menghidupkan mesin mobil dan mobil keluar dari area parkiran mobil.

"Bagaimana dengan tulisanmu?"

"Sepertinya, saya akan mengurungkan niat untuk menjadi penulis pak. Begitu rumit menghabiskan waktu untuk memikirkan kehidupan orang lain di dalam fiksi. Pemilihan diksi. Bagi saya Bahasa Indonesia itu sulit sekali. Tapi jujur, saya ingin sekali menjadi penulis."

"Kalau begitu bapak sarankan, kamu menulis hal-hal yang sederhana saja. Kamu bisa tulis cerita berdasarkan pengalamanmu sendiri. Akan lebih baik lagi jika kamu menulis dengan hati tanpa memikirkan hasilnya akan menjadi seperti apa. Lebih baik fokus pada prosesnya dan cara kamu menikmatinya."

"Iya juga sih pak, coba saja saya punya pengalaman cinta yang luar biasa. Pengalaman cinta yang tak biasa, sepeti kisah-kisah romansa klasik yang sudah dibukukan bahkan dibaca sampai sekarang. Romeo and Juliet, Pride and Prejudice, dan masih banyak lagi kisah cinta yang tak biasa. Kisah cinta sepanjang masa lebih tepatnya. Sayangnya, kisah cinta saya tak seluar biasa tokoh-tokoh fiksi dalam cerita, jadi untuk menulis pun saya tak selera. Kisah cinta saya menyedihkan."

"Bapak harap kamu bisa menulis dengan gayamu sendiri, dengan caramu melihat dunia, dengan caramu memandang kehidupan, dengan caramu menilai orang lain, dengan caramu menikmati satu gelas kopi di pagi hari, dengan caramu bersyukur atas keindahan dan kebaikan semesta, dengan caramu merasakan kasih di setiap detiknya. Banyak cara yang bisa kamu lakukan. Berhenti membandingkan dirimu dengan penulis yang lain. Kamu bisa menjadi penulis untuk dirimu sendiri."

Aku tersenyum mendengar anjuran yang cukup membangun niatku untuk menulis kembali. Banyak hal yang bisa aku tanya padanya mengenai kehidupan bahkan cita-cita. Aku bersyukur mengenal dirinya. Ia memang sosok yang sudah aku kagumi sejak memasuki bangku kuliah. Aku senang karena ia pernah menjadi pengajar di salah satu mata kuliah semester satu dan dua. Aku senang semesta mempertemukan diriku dengannya. Aku tak menyangka akan bertemu dengannya. Ada banyak rekoleksi hal mengenai cinta dalam kehidupan bahkan pengalaman hidup yang sudah ia bagi kepadaku. Cukup mengagumkan.

Mobil pun terhenti di salah satu pagar berwarna coklat. Sedikit berdecit. Aku sangat memaklumi. Aku berada di mobil tua yang penuh kenangan seseorang. Ia pernah berkata tak akan pernah menjual mobil ini. Katanya, 'There is romance in every place, this old car is one of them'.

Aku iyakan saja. Ketika aku mendengar seseorang berkata seperti itu, aku merasa seseorang itu sangat sentimental. Tapi ketika ia yang berbicara seperti itu, aku merasa ia tidak seperti apa yang aku artikan. Mungkin setiap orang punya tempat romantis di dalam hidupnya. Tempat yang sudah menjadi kenangan, Tempat yang akan selalu ingin dikunjungi untuk tetap merasakan semua romansa yang pernah dirasakan. Tempat yang memiliki makna bagi seseorang.

"Thank for your kindness, sir. Such a pleasure to sit in special seat in your old car."

Ia hanya tersenyum. Walaupun ia sudah tua, tapi caranya berpakaian membuatnya seperti lelaki yang masih muda. Tapi bungkuk tubuhnya tak bisa dibohongi. Ia memang sudah berumur. Tapi hari ini, gambaran dirinya dengan kemeja putih meyakinkan diriku, bahwa waktu muda ia tampan.

"Pak sebelum saya turun, ada dua hal yang ingin saya sampaikan."

Sorot matanya sangat tajam. Dahinya sedikit mengkerut. Kaca matanya sedikit menurun dari tulang hidungnya. Ia pun mengangguk.

"Pertama, ada pesan dari bibi, ia ingin bapak datang di Hari Natal. Sepertinya akan ada acara makan-makan pak. Bapak juga bisa mengajak cucu-cucu kesayangan bapak."

Ia menganggukan kepala. Ia menyetujui. Hening. Hanya suara rintikan hujan.

"Yang kedua?"

"Yang kedua, bapak bilang menulis itu mudah dan kita bisa menulis untuk diri sendiri. Dan menurut saya pribadi, bapak punya kisah cinta yang indah dan manis. Jadi kenapa bapak tidak mencoba menulis kisah cinta bapak. Saya yakin bapak akan lancar menulis tentang istri bapak. Apalagi bapak sudah menjadikannya gambar wallpaper di laptop. Saya yakin semua akan berjalan dengan lancar. Kata demi kata. Jadilah novel. Dan saya yang akan menjadi pembeli pertama buku itu."

"Bapak tak mampu menceritakan kembali kisah bapak dengannya." Ia menundukan kepalanya.

"Ia terlalu manis untuk diingat kembali."

Aku ikut prihatin. Apa aku sudah membuatnya terenyuh. Apa aku sudah salah bicara dengannya. Aku tidak ingin membuatnya semakin runyam. Aku segera meminta maaf padanya.

"Maaf, saya tak bermaksud pak."

"Tak apa nak, kamu benar. Saya akan mencoba," seraya ia mendongak kembali.

Aku melepas sabuk pengaman dan mengambil tas ranselku. Aku segera menyalami tangannya. Aku pun memberikan senyuman kecil sebelum keluar dari mobil. Saat aku berlari kecil menuju pagar, mobil tua itu menghidupkan klakson dan pergi.

Aku mengurungkan niat untuk membuka selot pagar. Aku biarkan diriku terkena air hujan yang semakin deras. Aku rindu air hujan. Aku rindu bermain air hujan. Aku menikmati kenangan masa kecilku seorang diri. Ternyata air hujan bisa membuat aku sebahagia ini. Aku tersenyum sendirian.

Sampai akhirnya ada mobil kencang dari arah utara yang melintasi genangan air.

Aku terciprat genangan air itu, tidak hanya bagian kaki, tapi seluruh tubuhku. Aku pun tersadar. Ternyata bermain hujan tak seromantis adegan-adegan film. Aku hanya seorang Jane dengan dress berwarna hitam dan wajah yang sudah tak karuan. Aku pun segera membuka selot pagar dan masuk.

•••

Jika mampir, tolong berikan vote ya kawan. Dan komen jika ingin berkawan.

Cinta,
Vonny 🖤

Darcy & JaneWhere stories live. Discover now