prolog

8 0 0
                                        

Sejak kedatangannya malam itu,entah mengapa aku merasa sesuatu yang buruk akan terjadi. Hujan dibulan september tidak biasanya terjadi,membuat tubuhnya malam itu basah,rambutnya bahkan terlihat lepek karena air hujan yang mengguyur.Matanya sembab seperti habis menangis tapi dia berkata hanya flu biasa,entah benar entah tidak. Yang aku tahu,malam itu menjadi malam terakhir dia menatapku begitu dalam,matanya seolah mengajakku tenggelam disana dan entah mengapa desiran asing itu menyapa sekaligus menamparku. Yang aku tahu malam itu menghancurkan segalanya,semua mimpi indah yang coba kubangun seolah sirna,entah karena perkataannya atau malah karena perbuatanku.

"Moz,kamu kenapa ?" suara Satria memaksaku sadar dari lamunan yang malah membuatku menatapnya lama.

Aku tetap menatapnya,berharap dia memang pilihan yang benar. Aku tetap menatapnya mencoba menenggelamkan diri disana,barangkali ada secuil jawaban disana. Nihil. Aku buntu dalam masalah ini,aku butuh pendengar dan pemberi nasehat yang baik,jika saja masalah ini tidak ada sangkut pautnya dengan Satria maka aku dengan senang hati akan membagi kegelisahan yang kurasakan padanya. Mengenalnya dalam 6 bulan ini membuatku mengerti seperti apa Satria dalam menyikapi masalah dan dia adalah pemberi solusi yang baik. Tapi,ini juga tentang dia,aku sedikit ragu dia bisa memberikan solusi yang subjektif jika masalah ini juga bagian dari dirinya.

"Moz,kamu nggak sakit kan ? maksudku kamu aneh hari ini,tidak seperti biasanya,makanan kamu saja nggak kamu sentuh. Bukannya kata kamu nggak baik nganggurin makanan ?" aku malah menekuri jari-jariku,bingung sendiri dengan perasaan asing ini yang malah bisa saja menjadi Bom waktu untukku.sedikit saja aku salah bertindak maka 'BOOM!',semua yang kukorbankan akan sirna juga.

"Sat,aku ada kelas 15 menit lagi,kayaknya bakal sampai sore deh" aku berbohong,kelasku sudah habis hari ini,sebenarnya aku ada kelas jam 2 siang tapi karena dosennya tidak masuk jadilah aku bisa pulang cepat.

"Kamu mau bilang nggak bisa anterin aku ketemu ibu ? " bukan,bukan tidak bisa tapi aku belum mau. Ketemu orang tua Satria sama saja memasukkan ku dalam jurang yang menganga lebar,maksudku hubungan 2 anak manusia akan lebih naik ke tingkat yang jauh jika melibatkan orang tua. Aku hanya belum siap. Benarkah ?

Bukannya sebelumnya aku yang ngebet sekali ingin bertemu ibu satria ? bahkan sebelum status kami resmi berpacaran aku sudah memberikan kode-kode yang tidak ditangkap baik oleh Satria untuk bertandan kerumahnya ? ahhh kenapa semuanya menjadi Ambigu seperti ini. Menyebalkan.

"Santai saja moz,ini aku Satria. Kamu nggak perlu terlalu memikirkan banyak hal bersamaku " Dia tersenyum menenangkan,mengelus punggung tanganku. Tulus. Aku tahu Satria selalu tulus padaku.

"Ini hanya janji biasa dengan ibu,jika dibatalkan tidak akan apa-apa. Lagian aku belum ngomong sama ibu kamu mau ketemu dia hari ini,jadi dia tidak akan kecewa. Sudah aku bilangkan Moz,sama aku kamu nggak perlu mikirin banyak hal" Dia tersenyum lagi,dan sialnya itu bukan senyum yang palsu. Sudah kubilangkan Satria ini selalu tulus padaku.

Aku juga tersenyum padanya,mengamati tangan kami yang bertaut diatas meja kantin fakultas. Di kedai Ci april yang selalu mengerti dompet mahasiswa seperti kami. Harusnya aku bahagia kan ? aku kekasih seorang Satria Pramuja,Mahasiswa perfeck sefakultas. Bukan saja dari segi tampang tapi juga ditunjang dari segi penampilan dan kecerdasan. Bahkan aku terlihat kecil sekali jika berjalan bersisian dengannya. Aku tahu banyak pasang mata yang melihat iri,kagum bahkan mencibir. Tapi Satria selalu menguatkan,berkata semua akan baik-baik saja asal aku bersamanya. Dulu itu sihir ajaib membangkitkan semangatku tapi mengapa sekarang terasa hambar ? apa benar jika manusia tidak pernah puas ? jika sudah mendapatkan maka selesai sudah dan ingin yang lain lagi yang lebih baik. Ahhh aku juga manusia biasa yang seperti itu. Tidak tahu bersyukur.

Satria memakaikan earphone ku di telinga,lalu memutarkan lagu pilihannya dari spotifyku. Manis sekali. Dan aku hanya bisa tersenyum terpaksa untuk memastikan debaran itu masih ada disana,menatapnya beberapa menit berharap aku memang masih jatuh cinta padanya.atau setidaknya pernah jatuh cinta padanya.

"Biar kamu nggak dengar kalau ada cowok godain kamu" dia tersenyum lagi yang sialnya membuatku semakin bersalah. "Kamu pasti nggak mau aku anterin ke kelas kan ? kamu bilang cuman bakalan nambah orang yang iri,padahal aku suka jalan di koridor kampus cuman buat nganterin kamu ke kelas" Dia masih tersenyum mengatakannya sambil mengusap-usap rambutku yang hari ini kubiarkan tergerai,barang kali angin bisa menghilangkan rasa bersalah dan perasaan asing itu dengan menerpa rambutku.

"Kamu terlalu cantik Moza,bakalan banyak cowok nakal yang godain kamu. Kamu cuman perlu dengarin lagu tanpa dengarin mereka sampai ke kelas" Dia masih Satria yang sama,seseorang yang mengerti diriku tanpa perlu aku minta. Earphone dan lagu agar aku tidak mendengar cibiran mereka. Aku tersentuh sekali sampai membuatku berkaca-kaca,dia semakin membuatku merasa bersalah jika seperti ini.

Apakah aku harus membenci perasaan asing ini yang bahkan baru saja kusadari keberadaanya ? atau lebih tepatnya kupangas habis keberadaannya sedari dulu.

You Know whoWhere stories live. Discover now