Mawar ini untukmu.
Ia dipetik karena permintaanmu.
Lihatlah peluhku hasil memanjat tebing itu, juga luka-lukaku saat menerobos semak berduri dan jatuh bangun di jalanan berbatu.
Mawar ini untukmu.
Aku memetiknya atas permintaanmu.
Lalu saat durinya menggores ari kulitmu.
Kamu mencampakkannya di depanku.
Lalu meninggalkanku di depan serpihannya berdiri kaku. Membisu.
Mawar ini untukmu.
Ia terpisah dari ibunya karena panggilan hatimu.
Atau suara yang selama ini kudengar bukanlah hatimu.
Ah, mungkin itu hanya debar jantungku saat di depanmu.
Aku menganggapnya bisikanmu dan melibatkan mawar itu hancur bersamaku.
YOU ARE READING
Puisi
PoetryBuah mentah mungkin lebih segar dr ranumnya Pun berkarya, tak perlu matang untuk mencipta
