Satu

3 0 0
                                        

Latusina atau akrab Sina begitu girang ketika ayahnya pulang membawa bibit tanaman bunga sakura. Gadis cilik 11 tahun itu begitu menyukai berkebun. Halaman belakang rumah seluas 7x9 meter itu banyak ditanami tanaman, mulai dari sayur hingga bunga oleh Sina.

"Nah Sina, jangan lupa untuk rajin menyirami bunga sakura ini, ya ..." kata sang ayah.

"Iya ayah, Sina janji akan menyayangi pohon ini," sahut Sina.

Sina menepati janjinya untuk merawat sakura itu seiring pertumbuhannya yang menjadi gadis remaja dan wanita dewasa. Bahkan ketika ia telah menemukan calon pendamping hidupnya. Berkat ketelatenan Sina, pohon Sakura itu tumbuh subur. Setiap musim semi tiba, bunga Sakura itu bermekaran dengan warna pink begitu sempurna.

"Sakura, kuharap kau tetap mempertahankan keindahan bungamu sampai esok lusa dan seterusnya," bisik Sina sambil mengelus pohon tersebut.

Esok Lusa Sina akan menggelar pesta pernikahannya. Gadis yang kini telah berusia 26 tahun itu ingin mengelar pesta sederhana di belakang rumah. Ia ingin hari bahagianya terekam bersama keindahan bunga sakura yang dirawat selama ini.

***

23 Tahun Kemudian

Sina tidak mempedulikan panggilan melengking yang berasal dari dalam rumah. Ia tetap fokus memangkas tanaman hiasnya yang mulai berdaun lebat. Tidak peduli juga dengan buliran keringat di dahinya.

"Ibu!" teriak seseorang. "Aku memanggil ibu dari tadi, tapi ibu tidak menyahut. Kupikir rumah ini kosong tidak ada orang."

Sina menoleh melihat putrinya yang cemberut. "Kau tahu harus mencari ibu dimana bukan?"

Ya, seseorang itu adalah Sia, lengkapnya Latusia Kim, putrid Sina yang telah berusia 22 tahun. Setahun setelah menikah dengan Kim Seokjin, Sina dikaruniai putri cantik.

"Tapi 'kan tetap saja ibu harus menyahut," protes Sia.

Berbeda dengan Sina yang lemah lembut, putrinya itu justru sedikit tomboi dan memiliki sifat percaya diri luar biasa seperti suaminya. Sia dan Seokjin sama-sama bangga akan kecantikan juga ketampanan mereka.

"Ada apa?" tanya Sina. Ia melihat gurat kesal dari sang putri.

Sia berlari kecil ke arah ibunya. Kemudian menggaet lengan Sina dan mendaratkan kepalanya di pundak sang ibu–manja.

"Ibu ... aku sedih tapi juga kesal. Kegiatan sepeda gunungnya batal," keluh Sia.

"Ibu senang mendengarnya," sahut Sina cepat.

"Kenapa ibu malah bahagia?" Sia sontak menjauh satu meter dari sang ibu.

Sina berpindah posisi untuk menggunting bagian lain.

"Ibu ..."

"Ibu khawatir, sayang. Olahraga sepeda dengan medan gunung itu bahaya."

Sina menurunkan sifat keibuannya dari nenek Sia. Ia tidak menolak ketika putrinya meminta sepeda gunung. Tapi ketika Sia izin ingin mengikuti kegiatan bersepeda dengan jalur pegunungan, ia begitu khawatir.

Bagaimana jika ada lintah, belum nyamuk, jatuh, tergores, dan masih banyak lagi. Memikirkannya saja Sina sudah sedih sampai Seokjin turun tangan menghibur istrinya.

"Kenapa tidak les piano saja ke Paman Yoongi?" celetuk Sina.

Sia berjalan ke arah pohon sakura. "Tidak mau. Paman Yoongi galak."

Sina terkekeh sebentar. Kakak sepupunya itu memang memiliki watak keras juga ekspresi datar. Tapi sebenarnya Yoongi itu baik. Sia saja yang menilai orang sesuka hatinya.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Oct 20, 2019 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

TreeWhere stories live. Discover now