~Tajamnya kenyataan yang aku rasakan setiap hari, memadamkan cahaya masa depanku menjadi lebih gelap lagi~
♠♠♠
Awan hitam mendung menghiasi langit, alunan petir pun menyambar saling bersautan. Sungguh memekak kan telinga. Juga jutaan rintik air deras berjatuhan membuat hamparan bumi menjadi basah tak karuan.
Aku benci situasi ini.
Ini membuat aktivitasku terhambat, meski aku tak pantang menyerah dengan keadaan apa pun, tetapi ini sungguh menyebalkan.
Aku masih berdiri di sini, berteduh di tepi caffe yang sudah tutup demi menghindar dari raungan derasnya hujan.
Bukan hal yang besar juga. Ini hanyalah hujan deras dengan di penuhi kabut putih kelam. Aku bisa melewatinya dengan mudah toh, ini hanya air yang berjatuhan dari langit.
Jika saja aku tidak menolak tawaran Zentha untuk pulang bersama menaiki mobil putih nya, mungkin aku tak kan sesial ini.
Jam terus berdetak di tangan kiri ku menunjukan pukul 22.34 malam. Itu cukup menyakinkan ku bahwa sudah satu jam lebih aku berdiri mematung di tepi caffe ini tanpa di temani siapa pun.
Aku tak peduli.
Lagi pula sudah tak asing lagi bagiku. Kesendirian ini sudah melekat dalam diriku, semenyeramkan apapun kesunyian dan kesendirian ini, sudah tak sebanding lagi bagiku.
Kau bertanya apakah aku sangat lelah dengan kehidupan ku ini?
Ohh ayolahh.. apa kau bercanda? Bahkan aku sudah beberapa kali mencoba bunuh diri karena sudah sangat lelah dengan kehidupanku. Tetapi hasilnya nihil, aku masih bisa hidup.
Dan setelah percobaan bunuh diriku gagal lagi entah kesekian kali nya, aku pun mulai lelah juga melakukan hal itu. Aku berpikir itu sudah tak ada gunanya lagi. Memang benar, semua takdir itu di tentukan oleh Tuhan. Hanya Dia-lah yang bisa melakukan apapun terhadap takdir kita.
Jadi, apa kau sudah tau jawaban dari pertanyaan mu itu?
Tersesat dalam pikiran kelam membuatku berubah menjadi sosok dingin dan misterius, itulah mengapa aku tak mempunyai teman bahkan sahabat.
Hahaha.. lagi pula mana ada orang yang mau berteman dengan ku? Bahkan mendekat pun tidak akan ada yang sudi.
Dunia ini sangat kejam kepada ku, tak peduli pada penderitaan ku. Aku muak dengan perlakuan orang orang terhadapku, aku muak dengan tatapan-tatapan itu. Apa kau ingin merasakan apa yang aku rasakan? Atau kau sedang merasakannya saat ini? Bagaimana rasanya, menyakitkan bukan?
Menurutmu apa Tuhan adil? Entahlah.. aku pun bingung akan hal itu.
Kau tau? Hanya Zentha lah yang memperlakukan ku layaknya manusia. Zentha bukan temanku, dia kakak laki-laki ku. Hanya dialah satu-satunya kakak yang ku punya.
Semenjak insiden itu, kami hidup mandiri berdua tanpa adanya kasih sayang orang tua. Miris bukan? Tetapi dari semenjak itu pula aku dan Zentha berubah menjadi sosok yang kuat menahan perih nya kehidupan yang harus kami pikul.
Jadi semuanya tak sebanding dengan ku. Tak akan ada yang pernah menyangka penderitaan ku ini. Siapa peduli?
=•~•=
Masih dengan kelam nya hujan. Diriku mempermasalahkan keadaan, meski tau ini bukan salah sang insan manapun.
Di balik derasnya hujan aku melihat sorot lampu dengan cahaya remang, semakin mendekat cahaya itu semakin pekat mengkilat. Mataku pun ikut menyipit ketika cahaya itu menyorot ke arah ku.
Sebuah mobil terparkir tepat di pinggir depanku. Siapakah gerangan yang sudah berani menyakiti mataku dengan cahaya mobilnya itu.
Tak lama setelah aku berpikir seperti itu, tibalah seseorang yang menampak-kan wujudnya. Dengan elegan sosok itu menginjakan kaki ke aspal yang terbasahi oleh hujan. Dia mengibaskan rambut coklat pirang yang indah terurai.
Dia menatap dan tersenyum manis ke arahku. Ohh tidak Tuhan.. aku enggan melihat senyumannya itu!, diriku membatin.
Dengan tatapan tak suka aku mengambil ancang-ancang untuk pergi meninggalkan apa yang telah aku lihat saat ini, sungguh memuakkan.
Seolah dia tahu apa yang akan aku lakukan, senyuman manis itu seketika berubah menjadi seringaian yang menyeramkan lalu dia bersandar di pinggir mobil dan melambaikan tangan ke arahku, menyiratkan makna 'Sampai bertemu lagi'.
Lagi?!
Seketika aku merinding di buatnya, Dasar perempuan gila. Tak habis pikir aku olehnya.Memangnya dia siapa, berani membuatku ketakutan!
Hah.. dan yaa, inilah hidupku. Banyak hal yang tak terduga mendatangi kehidupanku.
Orang-orang berkata bahwa mereka tak mengerti dengan ku. Aku pun sesungguhnya tak mengerti dengan diriku sendiri.
Jadi, Siapa yang akan mengerti?
Dan..
Siapa diriku ini??
.
.
.
.
To Be Continue
Votmen nya ditunggu!!
Mrln.fbrini_24
YOU ARE READING
_INTERLUDE_
HorrorI Can See You~! Aku tau kau di sana, melihatku dengan tatapan tajam yang tersirat di mata merah kelam. Sepenggal kisah yang sulit diartikan, mempengaruhi sebuah pikiran yang dalam akan penantian. Kekejaman yang menghantam dinding pertahanan, tak ku...
