Di sebuah desa yang sangat primitif, bising, kumuh, orang-orang berjalan lalu-lalang. Beberapa terlihat membawa banyak sekali tembikar dalam sebuah bakul. Aku tidak tahu dimana, tapi entah kenapa aku tidak merasa panik seolah aku mengenal tempat itu dan pernah hidup disana. Beberapa saat setelah memperhatikan lingkungan sekitarku, seorang gadis dengan kebaya merah menghampiriku. Dia terlihat berusia sama denganku. Lagi-lagi ada perasaan aneh. Aku seperti sudah mengenal dan sangat dekat dengannya.
Gadis Itu menggandeng tanganku dan kami menyusuri berbagai macam tempat. Duduk di bebatuan tepi sungai, berjalan melewati kerumunan, menyusup di tengah pertunjukan wayang kulit, lalu memasuki sebuah rumah kecil yang di dalamnya cukup gelap. hanya ada penerangan lampu teplok. Di dalam rumah itu aku kehilangannya.
Sayup-sayup suara gamelan dari pertunjukan wayang di luar masih terdengar. Aku masuk ke dalam rumah untuk menemukan gadis itu. Entah ada berapa banyak ruangan disana, selama itu aku hanya bisa memasuki dua ruangan karena yang lain pintunya seperti terkunci. Aku belum bisa menemukan gadis itu. Hingga di bagian rumah paling belakang, aku melihat cahaya yang lebih terang dari sela pintu sebuah ruangan. Aku menghampirinya dan mencoba memasuki ruangan itu. Aku sangat berharap gadis itu ada disana. Tapi setelah pintu ku buka, tidak ada siapa-siapa disana. Hanya ada meja berbentuk persegi dengan sebuah laci. Di atasnya terdapat sebuah kertas dokumen yang usang, dan sebuah buku. Semua tulisannya nyaris tidak bisa ku mengerti. Tulisan di dalam buku itu berisi aksara jawa, dan halamannya beberapa sudah terlepas. Sementara dokumen itu ditulis dengan aksara latin. Sepertinya menggunakan bahasa Belanda. Aku tidak bisa mengenali arti setiap katanya. Namun hanya satu yang bisa ku mengerti, dan satu-satunya yang bisa aku ingat. Tertulis angka di dokumen itu, "1924". Begitu kuat keinginanku untuk menemukan gadis tadi.
Aku bergegas keluar dari rumah itu, namun betapa bingungnya diriku ketika melihat seluruh desa sudah dilalap api. Semuanya sudah hancur. Orang-orang berlarian panik, terlihat seperti sedang melarikan diri dari sesuatu. Di tengah keramaian itu aku mencoba menemukan si gadis. Sayangnya kesadaranku mulai kembali.
Tubuhku penuh dengan keringat ketika membuka mata. Nafasku terengah-engah seperti habis berlari belasan kilometer. Aku melihat jam dinding di kamarku hampir menunjukan pukul 5 dini hari.
"Sial. Mimpi apa aku barusan." Umpatku dalam hati.
Aku masih mencoba mengingat mimpi tadi. Aku penasaran dengan gadis dalam mimpiku. Kenapa aku merasa sangat kehilangan. Dan lagi, tempat aneh macam apa di dalam mimpiku itu.
"Sial, padahal dia sangat cantik." Umpatku kembali.
Aku kesal karna ingatanku tentang paras si gadis dalam mimpi menjadi samar. Aku hanya tau kalau dia sangat cantik.
Ku biarkan tubuhku merebah dengan kaos yang sedikit basah. Aku masih mengatur nafas, sembari mencoba mengabaikan ingatanku tentang mimpi tadi. Hingga beberapa menit kemudian, "Turkish March" terdengar begitu nyaring dari ponselku.
-Pertemuan-
"Oh, mungkin hari ini akan turun hujan." Kata ibuku sambil membawa tumpukan pakaian kotor dari ruang tengah.
Aku hanya mengacuhkannya dan langsung melompat ke sofa memeluk adikku yang sedang menonton film kartun di televisi.
"Tumben hari minggu kamu bisa mandi sepagi ini?" Lanjut ibuku.
"Arya gerah mah." Tukasku.
"Dingin kayak gini kok gerah. Ini Jogja lho, bukan Jakarta." Ujarnya kembali sambil berlalu ke arah dapur.
Memang sangat jarang aku mandi di hari minggu. Biasanya aku sangat malas dan bisa tidak mandi seharian. Tapi aku sangat risih karna keringat sisa tidur semalam.
"Vio, jalan-jalan yuk sama kaka." Ajakku kepada adikku.
Dia hanya menggelengkan kepala. Memang sepertinya mustahil mengalihkan adikku yang masih balita dari acara kartu kesukaannya. Akhirnya kuputuskan untuk pergi sendirian.
Baru saja aku bangkit dari sofa, seseorang mengetuk pintu rumah. Biasanya hanya pelanggan ibuku yang datang pagi-pagi untuk mengambil hasil jahitan. Tapi kami baru tiga hari pindah, dan ibu sama sekali belum membuka usaha jahitnya disini. Aku hanya terdiam tak melakukan apa pun. Hingga suara mesin ketik yang sejak tadi terdengar mendadak diam. Ayah keluar dan membukakan pintu.
YOU ARE READING
Ritual #1: Karnival Arwah
HorrorTahun ini Arya memasuki sekolah barunya. Setelah naik ke kelas 2, dia harus berpisah dengan teman-temannya di Jakarta, dan memulai kehidupan barunya di Yogyakarta. Namun si bocah pecinta horror ini harus terjebak dalam serangkaian kasus aneh di seki...
