Masuk Sekolah

16 1 0
                                        

Pembicaraan kali ini tidak habis-habisnya membahas hal liburan kenaikan kelas kemarin. Orang-orang yang di sekitarnya juga tak kehabisan akal menceritakan hal-hal konyol selama gue dan sahabat-sahabat gue  berada di perjalanan menanjak Gunung Lawu. Gelak tawa terdengar antara kami. Setelah membicarakan hal-hal konyol selama perjalanan, kami pun mulai membicarakan tentang efek samping setelah perjalanan panjang itu. Lelah. Namun lelah yang memberi makna bagi kami semua.

Sementara, gue hanya mendengarkan celotehan itu. lebih memilih menjadi pendengar saja. Jauh lebih tenang dibanding teman-teman yang lainnya. Hanya sesekali menanggapi dan tertawa.  dari kelas 10 kami memang sudah menekuni dunia penanjakkan gunung bersama sahabat-sahabat dan sekarang sudah kelas 12 mulai bimbang dan waktu begitu cepat berjalan.

Menurut gue, penanjakkan gunung adalah refleksi dari padatnya kehidupan. Serta, sebagai wadah untuk mensyukuri nikmat Yang Maha Kuasa. Menanjak gunung adalah bagian dari hidup, seperti halnya ia membutuhkan orang-orang untuk ada di sekitarnya. “Jadi, apa kita bakal lanjut menaklukkan gunung atau fokus akademik sekarang?” tanya Vedri. Seketika semuanya diam. gue juga sama. Tapi kali ini, diamnya bukan hanya sekedar diam. Melainkan juga pada berpikir. Apa kita semua harus istirahat dari kegemaran ini? Bagaimana dengan refleksi? Bukankah akan membosankan kalau hidup hanya untuk mengejar target akademik?

Dekap LangkahWhere stories live. Discover now