That's how we knew each other

21 0 0
                                        

6 bulan yang lalu, saat awal tahun ajaran baru... 

Aku kembali melihat ke daftar nama siswa di kelasku yang baru dan sekali lagi menghela napas. Tidak ada satupun teman dekatku yang satu kelas denganku tahun ini. Mungkin ada Jeremy, teman sebangkuku tahun lalu. Tapi malas rasanya duduk dengan dia lagi. Bisa-bisa aku dikira pacarnya kalau setiap tahun duduk sebangku dengannya. 

Tahun ini, aku memutuskan untuk duduk di deretan kedua dari depan. Aku sudah kapok digusur oleh cowok-cowok yang ingin duduk di belakang seperti yang aku alami tahun lalu. Lagipula, sekarang aku sudah kelas 2 SMA. Sudah saatnya aku mulai serius belajar dan duduk di paling belakang tidak akan membantuku untuk lebih giat lagi belajar. 

"Ra, lu duduk sendiri, kan? Boleh bareng ngga?" tanya Vita, teman sekelasku dulu.

"Boleh, kok. Duduk aja, Vit." Aku tersenyum sambil mempersilahkannya duduk di sebelahku. 

Tepat saat bel berbunyi, seorang guru masuk ke dalam kelasku. Setelah mengucapkan selamat pagi dan memimpin pemilihan pengurus kelas yang baru, beliau mengucapkan kalimat yang dari dulu paling malas aku dengar. 

"Sekarang, saatnya untuk mengatur tempat duduk kalian." Aku langsung menutup mukaku dengan kedua telapak tanganku. 

Setelah selama satu jam sibuk memindahkan para murid, akhirnya guruku itu memutuskan untuk memisahkan tempat dudukku dan Vita. Guruku memutuskan untuk memasangkanku dengan seorang cowok yang sama sekali tidak aku kenal. 

"Hai. Berhubung kita bakal sebangku selama beberapa bulan ke depan, ngga ada salahnya, kan kalo kenalan? Nama gue Evan." Cowok yang bernama Evan itu tersenyum kepadaku. 

"Hai. Nama gue Lira," jawabku sambil ikut tersenyum. 

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Oct 09, 2012 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

I'm sorry, I'm too coward (on hold)Where stories live. Discover now